Simple But Perfect

Simple But Perfect
Termeteraikan Namamu



...Hay'yoo guys πŸ‘‹...


...Jumpa lagi 😍...


...Jangan lupa like dan komen yah 😊...


...Happy Sunday, and ......


...*...


...*...


...*...


...~ Happy Reading ~...


...__________________...


...###...


"Jelaskan sekarang, kenapa sampai rumahku seperti kapal pecah pagi ini, hah? Badai macam apa yang kamu undang datang ke sini semalam? Atas izin siapa kamu mengacaukan rumah ini?" Jenn mengadili suaminya habis-habisan.


Masih di dalam kamar, tampak Kenn baru selesai mandi dan sedang berpakaian. Kini ia berdiri di depan cermin sambil merapikan rambutnya.


"Oh, itu ... semalam aku mencari meterai kecilku yang tiba-tiba menghilang," jawab Kenn dengan santai.


"Meterai? Meterai buat apa? Kenapa bisa hilang? Nyimpen di mana emang? Kok sampai bongkar-bangkir seisi rumah?" cecar Jenn dengan pertanyaannya.


Kenn selesai dengan rambutnya. Lelaki tampan itu sudah siap dan berdiri di depan istrinya. "Meterainya selalu aku bawa ke mana-mana. Semalam baru ditinggal bentar, udah ngilang aja. Aku panik, terus ... seisi rumah aku geledah," ucap Kenn dengan senyuman yang menawan sambil mengedikan bahunya. "Maaf, nanti akan saya bereskan, Nyonya!" Terkekeh dengan kegilaannya sendiri.


"Gak perlu! Aku sudah membereskan semuanya sendiri. Tapi dengan catatan, jangan coba-coba terulang lagi. Kalo sampai terulang lagi ... tempat tidurmu aku pindahkan ke garasi." ucap Jenn dengan galak, sementara Kenn terbelalak dan mengutuk dirinya sendiri.


"Ngapain beresin sendiri sih, Jenn? Kamu ... aaaarrrrggghh!" Rambutnya yang sudah rapi, kembali berantakan karena perbuatannya sendiri. Kenn mengacak-acak rambutnya frustasi memikirkan istri kecilnya yang bekerja sendirian. "Aku dah bilang kan, jangan kecapean, Sayang. Bangunin aku kalo perlu." Ia mengerang kesal. "Maafkan aku, Sayang! Aku janji gak bakal ngulang lagi. Kamu juga janji, gak boleh kerja sampai segitunya. Udah. mulai sekarang, kamu diam aja di tempat, gak usah banyak gerak. Ini perintah!" berucap tegas.


Jenn menunduk menyembunyikan senyum kecilnya.


Setakut itukah kamu jika aku kecapean? Tenang aja, Sayang, dia gak kenapa-kenapa kok. Kami akan baik-baik saja untuk dirimu.


Batin Jenn sambil memandangi perutnya yang masih rata. Sebenarnya ia tak lagi marah. Wanita itu hanya berpura-pura.


Ia mengangkat wajahnya kembali. "Terus, maksud kamu yang tadi, aku kan? Kenapa aku disama-samain dengan meterai, hah?" Melotot pada suaminya sambil berkacak pinggang. Pura-pura mengaktifkan mode macan.


Kenn yang merasa lucu pun langsung terbahak, tak bisa lagi marah.


"Kenapa kamu marah? Yang marah itu aku." Tertawa lagi dan kali ini Jenn ikut tertawa. "Aku marahin kamu jangan kerja-kerja lagi. Lagian nih ... denger, kenapa aku bilang kamu meterai? Karena kamu itu sudah tercantum, tersemat, terukir, terpatri di hati aku. Hati aku udah termeteraikan nama kamu." Mulai serius. Laki-laki itu mendekat dan memeluk istrinya. "Jangan hilang-hilang lagi kaya semalam yah. Kamu buat aku takut." Jenn tersenyum dan mengangguk.


Drama marahan yang pura-pura itu pun berakhir. Keduanya berjalan keluar menuju dapur.


** Di meja makan.


"Sayang, aku ke pasar ... boleh yah!"


Sepasang suami istri itu kini tengah menikmati sarapan. Hari itu sabtu, dan Jenn tidak ke kampus. Ia berinisiatif untuk menghabiskan waktu di rumah dengan memasak untuk suaminya.


"Gak!" jawaban singkat yang tidak ingin dibantah.


"Ih, bentar aja, Yang! Yah, yah." Mengedipkan matanya menggoda sang suami.


Benar, laki-laki itu tergoda. Sesungguhnya ia merasa gemas dan ingin sekali tertawa, tapi sebisa mungkin ditahannya.


"Gak, Sayang! Lagian buat apa, hem?" tanyanya lembut.


"Ya belanja kebutuhan dapur lah. Sayur, daging, rempah-rempah buat masak dong. Boleh yah, yah, gantengku, Sayangku," ucapnya dengan suara ayu yang dibuat-buat merayu sang suami.


"Ha-ha-ha." Tak bisa lagi untuk menahan dan lepaslah tawanya. Makhluk kecil itu selalu mampu meruntuhkan benteng pertahanannya, mengacaukan akal sehatnya. "Ini aku mau kerja, Sayang! Nanti sore aja yah, biar aku temenin." Tersenyum dan mengacak rambut sang istri. Bersamaan dengan itu, ia pun menyelesaikan sarapannya.


Raut cantik Jenn berubah kesal. Ia menghentakkan kakinya di bawah meja makan bak seorang anak kecil.


Kenn bangun dari duduknya dan berdiri di belakang istrinya. Ia menunduk dan memeluk wanita cantik yang sedang mengandung itu. "Maafkan aku, Sayang! Aku gak bisa ngebiarin kamu pergi-pergi sendiri. Aku gak tenang, aku khawatir." Mengecup puncak kepala Jenn. "Sore aja yah, tunggu aku selesai kerja."


"Lah nanti siang kamu makan apa?" Memiringkan kepalanya agar bisa melihat wajah sang suami.


"Gampang itu mah, aku makan apa aja bisa kok. Gak makan juga gak papah, asal ada kamu." Menggoda istrinya sedang kesal.


"Ck, aku serius!" Mencebik.


"Lah aku juga serius, Sayangku! Udah yah, pokoknya aku gak ngizinin kamu ke mana-mana tanpa aku." Entah sudah berapa kali Kenn selalu mengucapkan kalimat wajib itu untuk Jenn. Tapi, bumil cantik itu selalu saja mencoba bernegosiasi, meski keputusan sama yang selalu ia dapatkan.


Menjadikan wanita cantik itu ratu dalam hatinya sekaligus ratu di istana sederhana mereka, itu niat yang Kenn ingin wujudkan setiap hari.


"Terus, aku di rumah ngapain? Bengong sendirian?" Beranjak dari duduknya, menghampiri sang suami. Si cantik itu hendak melayangkan protes.


Kenn mengeringkan tangannya dan berbalik menatap wajah cantik sang istri. "Yang mau ninggalin kamu sendirian di rumah siapa?" Menarik tangan istrinya menuju kamar. "Ganti baju lalu ikut. Aku nitip kamu sama Fanya dan tante aja." ucap Kenn membuat istrinya senang.


"Gak usah ganti baju segala, kek gini aja." Melepaskan tangan Kenn lalu mengambil tas selempang mini miliknya. Bumil satu itu tampak seperti anak kecil dengan baju mini dress berkerah selutut, sandal rumahan berbulu dengan motif kelinci berwarna pink. "Tapi boleh request gak, Yang?" tanya Jenn dengan wajah yang dibuat imut.


"Apa lagi?" Tadinya sudah melangkah keluar kamar, kembali berbalik melihat istrinya yang masih berdiri di belakang.


"Aku boleh sama Rossa dan Putri aja gak?"


Kenn tak langsung menjawab. Ia memikirkan kenyamanan sang istri. Bukan tanpa alasan ia ingin menitipkan Jenn di rumah Farel. Paling tidak, di sana ada orang tua yang ia percayakan menjaga istri kecilnya. Tulisan pada kertas semalam, sejujurnya membuat lelaki tampan itu takut dan ingin lebih berhati-hati dalam menjaga istrinya.


"Boleh. Tapi dengan syarat, di dalam rumah aja yah. Gak boleh ke luar." ucap Kenn yang membuat wanitanya kegirangan. Ingin menolak, tapi ia tak mau kehilangan senyuman cantik istrinya.


"Yeeeeiiiii! Makasih, Sayangku!"


Keduanya lalu bergegas meninggalkan rumah mereka menuju tempat tinggal kedua sahabat Jenn. Tiba di sana, Rossa dan Putri sudah menunggu di depan pagar, karena di perjalanan tadi Jenn sudah menghubungi keduanya.


Kenn menitipkan istrinya pada dua gadis cantik itu. Tentunya dengan sederet pesan dan larangan. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya lagi menuju tempat kerja.


...#####...


"Kak Kenn gak berubah yah? Malah makin protektif aja." Putri menggeleng-geleng kepalanya sambil tersenyum.


"Ho'oh, masa aku dilarang gak boleh ngapa-ngapain. Aneh gak tuh?"


"Gak ada yang aneh, Bebs. Itu wajar. Dia kan cinta sama istrinya. Apalagi Lo sedang mengandung, wajarlah dia protektif. Masih pacaran aja dijagain, apalagi sekarang yang udah jadi ibu dari anaknya. Gak kebayang posesifnya kek apa." Rossa terkekeh.


"Iyah, gue bahagia kok dengan semua aturannya dia. Gue ngerti, dan gue berterima kasih sama Tuhan, udah kasih gue perfect husband kek dia." Jenn berucap dengan tersenyum manis karena rasa syukurnya.


Ketiganya kini sedang rebahan di ruang tengah sambil ngemil dan nonton.


"Lo mau makan apa, Bebs? Biar gue buatin, spesial untuk keponakan gue," tanya Rossa. Hampir jam 12 siang, dan Rossa teringat pesan Kenn untuk memberi makan istrinya tepat waktu.


"Apa aja, Mami. Entah kenapa, pagi tadi aku gak muntah-muntah kek biasanya. Jadi sekarang aku mau makan apa aja." Bahagia sekali rasanya.


Rossa pun beranjak ke dapur dan membuatkan makan siang untuk mereka bertiga. Jenn masih rebahan di sofa dengan sekotak popcorn di tangannya. Sedangkan Putri sedang ke kamar mandi sebentar.


Tiba-tiba bunyi ketukan dari pintu depan mengundang perhatiannya. Jenn memanggil Putri untuk melihat siapa yang hendak bertamu, tapi gadis itu masih sibuk di kamar mandi.


Pintu itu terus saja berbunyi memaksa Jenn bangun dan berjalan ke depan dengan kotak popcorn yang masih ia pegang. Wanita cantik itu dengan santainya membuka pintu.


Saat pintu itu terbuka, seketika ia tersentak dan mematung melihat siapa yang berdiri di depannya. Jantungnya seolah berhenti berdetak, pasokan oksigen di sekitarnya serasa berkurang, dadanya sesak, kotak popcorn itu terlepas dari tangannya, berhamburan di lantai begitu saja.


Di-dia ....


..._____πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚_____...


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


...To be continued ......


...__________________...


...#####...


Halo epribadeeeh πŸ‘‹ segini dulu yah 🀭


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yah. Like dan komen aja kok. Jangan pelit lah genkz πŸ˜…πŸ˜…πŸ€­


Terima kasih buat yang selalu mampir ke karya receh ini πŸ™πŸ˜Š


Sampai jumpa di episode berikutnya yah πŸ€—


Ig author : @ag_sweetie0425