
...~ Happy Reading ~...
...___________________...
...*...
...*...
...*...
Kehadiran mereka yang ia sayangi, membuat rasa sedih akan kehilangan semakin berkecamuk. Hingga tak dapat tuk memendamnya, dan ia pun menumpahkan segala rasa pedihnya lewat Isak tangis.
Kali ini ia menangis sesegukan dalam pelukan ibunya.
"Sudah, Sayang. Sedih itu boleh tapi jangan berlebihan, gak baik. Ingat, masih banyak yang membutuhkan kamu. Liat suamimu, akan jadi apa dia jika kamu terus seperti ini?" Sang ibu menasehati putrinya.
Kenn ...
Untuk sesaat Jenn merenung dalam tangisnya. Hingga akhirnya ia melepaskan pelukan sang ibu. Wanita cantik itu sedikit memiringkan kepalanya ingin melihat ke belakang ibunya.
"Kenapa Nak?" tanya sang ibu sembari mengusap kepalanya.
"Kak!" Tidak menjawab pertanyaan ibunya, ia malah memanggil Kenn dengan masih sesegukan.
"Ya Sayang!" Langsung menghampiri istrinya. "Mau sesuatu ... atau mau makan?" Kenn sedikit senang karena ia tahu bahwa istrinya sudah lebih baik dari yang sebelumnya. Meski tangisnya tak kunjung reda.
Jenn menggeleng lemah. Tangannya melambai pelan memanggil Kenn supaya mendekat. Ibunya lalu menepi memberikan ruang bagi keduanya.
Jenn membuka kedua tangannya ingin dipeluk dan Kenn selalu senang menerima hal itu. Dengan hangatnya ia memberi pelukan dengan banyaknya kasih sayang.
Tangannya mengusap-usap punggung kecil Jenn yang masih berguncang karena isak.
"Di sini aja jangan jauh-jauh, jangan ninggalin aku," ucap Jenn dengan sesegukan.
"Aku selalu di sini, Sayang. Gak kemana-mana." Dengan posisi Jenn yang duduk di ranjang, Kenn dapat menunduk dan mencium kepala istrinya.
Suara itu, pelukan itu, wangi khas tubuh tegap itu serta dada bidang itu yang selalu menjadi penyejuk yang membawa kedamaian bagi jiwa Jenn.
"Peluknya gak kerasa," ucapan itu membuat Kenn mengeratkan pelukannya.
Untuk yang kesekian kalinya, ia menemukan kenyamanan dalam rangkulan tangan besar Kenn. Tidak bisa dipungkiri bahwa Kenn adalah kenyamanan sempurna yang selalu mampu menenangkan dirinya. Tempat ternyaman setelah pelukan sang ibu, hanya Kenn satu-satunya. Dan hal itu tidak dapat terbantahkan.
"Maafin aku yang gak pernah hati-hati sampai jadi kek gini," lirih Jenn.
"Gak Sayang, ini salah aku. Aku yang minta maaf karena gak becus jagain kalian. Maafkan aku." Menampik perkataan istrinya.
"Aku yang gak dengar-dengaran sama kamu, aku yang suka ngeyel, ceroboh, aku lemah." Menangis lagi.
"Hei, sudah Sayang. Jelas ini salah aku. Kamu gak salah sama sekali. Kata siapa kamu lemah? Kamu wanita kuat yang aku temukan. Kamu wanita hebat." Kenn menenangkannya.
Melihat sang putri dan menantunya yang begitu saling mencintai, ayah dan ibunya tersenyum bahagia penuh haru. Begitu juga dengan Kay yang kagum melihat besarnya cinta dari kakaknya.
Manis banget sih, berikan mereka kebahagiaan selalu ya Tuhan.
Kay tersenyum bahagia. Ini adalah pemandangan pertama yang ia lihat sepanjang kisah cinta kakaknya. Dan kedepannya hal itu akan ia jumpai setiap saat.
"Udah makan belom?" Menghentikan tangisnya.
Kenn menggeleng.
"Kok belom? Kenapa? Pasti gara-gara aku yah." tanyanya lagi.
"Gak lapar aja, Sayang." Kenn menghapus jejak basah di pipi mulus Jenn. "Lagian gimana mau makan kalo kamu juga gak makan?"
"Aku juga gak lapar, tapi sekarang mau makan demi kamu juga." Perkataan itu membuat Kenn dan yang lainnya bernafas lega.
"Tunggu sebentar yah!" Kenn hendak pergi membeli makanan kesukaan istrinya. Namun, tangan kecil Jenn menahannya.
"Mau kemana, jangan pergi." Menarik Kenn dengan sangat pelan sampai mendekat kembali dan ia bisa memeluk tubuh tegap itu lagi.
"Mau beli makan buat kamu, Sayang." Kenn tersenyum senang melihat tingkah manja istrinya seperti itu. Dalam hati ia berkata, Jenn-nya sudah kembali.
"Bilang yang lain aja, aku gak mau kamu pergi." Semakin erat memeluk Kenn.
Akhirnya Kenn menghubungi Reza dan memesan makan. Sesuai anjuran dokter, mereka pun memesan makanan yang baik untuk pemulihan Jenn.
30 menit setelah itu, Reza dan yang lainnya kembali membawakan pesanan Kenn.
"Ibu ...!!!" Jenn tampak girang melihat ibu mertuanya ada di sana. Mereka lalu berpelukan sebentar melepas rindu.
"Nah, gini dong. Ini baru Jenn-nya kita. Iya gak gaes?" Ucapan Putri membuat yang lain mengangguk menyetujui.
Jenn dan teman-temannya lalu berpelukan beramai-ramai. Si cantik itu merasa beruntung memiliki mereka yang menyayanginya.
"Udah dulu yah, biar Jenn makan dulu. Nanti baru lanjut keseruannya." Putus ibunya.
"Oh iya. Ayo makan bebs, yang banyak yah biar cepet sembuh."
"Kalo gitu kita balik dulu yah beb. Boleh kan? Nanti malam kita balik lagi." Jenn dan Kenn sama-sama mengangguk.
"Janji yah balik lagi." Tatapannya seakan tak rela.
"Pasti bebs. Kalo mau pesen apa-apa, telpon aja. Cepet sembuh yah sayangnya kita."
Teman-temannya akhirnya kembali ke rumah masing-masing. Begitu juga dengan orangtuanya Farel. Ferel sendiri pun mengantarkan orangtuanya, sekalian ia ingin ke rumah mertuanya menjemput sang istri. Tak ketinggalan Reza juga mengantarkan tim para gadis.
Tinggal Jenn dan Kenn, Kay serta orang tua mereka.
"Mau ibu suapin?" tawar ibunya.
Jenn menggeleng. "Gak mau." Tolaknya. Ia hanya ingin Kenn yang melakukannya. Padahal maksud ibunya supaya Kenn pun bisa makan dengan baik.
"Gak papah, Bu. Kenn aja." Kenn sendiri senang akan hal itu. Sepiring berdua seperti yang sering mereka lakukan saat makan bersama.
Kay dan orangtua dia sana hanya bisa tersenyum melihat pemandangannya indah di depan mereka. Dalam hati mereka berharap semoga kebahagiaan selalu menjadi bagian dalam hidup rumah tangga pasangan muda itu.
Kenn dan Jenn tampak asik dengan makanan mereka. Tapi tiba-tiba saja setelah beberapa sendok, mulut Jenn berhenti mengunyah dengan pandangan yang lurus ke luar sana. Sementara tangannya mengelus perutnya. Hal itu pun tak luput dari perhatian Kenn.
"Ada apa Sayang?"
Belum juga berkata-kata, setetes cairan bening itu kembali luruh dari ujung matanya.
"Sayang." Kenn meletakkan piring kembali ke meja. Cepat-cepat ia mendekat dan merangkul istrinya. "Ada apa hm? Makanannya gak enak?"
"Aku merindukannya." Lirih Jenn. "Dia akan makan ketika aku makan. Kita selalu makan yang sama. Aku rindu saat-saat itu lagi," ucap Jenn sembari menahan nafasnya karena tak ingin menangis lagi.
Kenn meraih segelas air putih dan memberikannya pada Jenn. Setelah Jenn selesai minum Kenn kembali merangkulnya.
"Menangislah, itu akan membuatmu merasa lebih baik. Jangan ditahan Sayang, rasanya sesak." Kenn sudah bisa menangani kesedihan istrinya kali ini.
Aku pun sama merindukannya. Andai kamu tau, setiap malam saat kamu terlelap, dialah teman aku bercerita. Dan ceritaku hanyalah tentang kamu. Kenn membatin pilu.
"Dia akan selalu ada di hati kita. Tanpa kita lihat pun dia ada di dekat kita, Sayang."
Tuhan, bolehkah aku memintanya kembali di sisiku? Bahagiaku rasanya terlalu cepat berlalu, aku kesepian tanpanya.
Jenn hanya bisa menangis sembari menuturkan harapan kecil yang sangat tidak mungkin terjadi.
Ia menengadah lalu Kenn menghapus air matanya. "Jangan sedih lama-lama yah, aku dan dia pun sedih melihat ibu ratu kita seperti ini."
Mereka yang melihat itu ikut bersedih. Orangtua mana yang tega melihat anaknya terluka dan menangis? Apalagi kerinduan untuk menimang cucu, hal itu menjadi impian besar setiap orangtua bukan? Namun, orangtua mereka tidak ingin menunjukkan rasa sedih dan kehilangan itu. Mereka tidak ingin membuat Jenn merasa bersalah dan semaki terluka dengan keluhan itu.
Semoga setelah ini diberikan pengganti lagi sama Yang Maha Kuasa.
..._____πΎπΏπΎπΏπΎ_____...
...Terlalu singkat tuk jadi cerita....
...Namun, kuharap tidak terlalu cepat tuk dilupakan....
...Bahkan seumur hidup ku ingin mengenangmu....
...Jadilah bayangan yang setia menghantui setiap mimpiku....
..._Jennifer_...
...###...
...To be continued ......
...__________________...
...*...
...*...
...*...
Halo semuanya π Ketemu lagi π€
Masih pada setia kan ini? Kok makin sepi yah π€ kek hati otornya ππ€
Gak papah deh, makasih buat yang selalu menyempatkan diri tuk mampir π
Makasih juga buat yang selalu ninggalin jejaknya ππ
Jangan lupa tinggalkan jejaknya lagi yah ππ
Sampai jumpa di episode berikutnya π€
Ig author : @ag_sweetie0425