Simple But Perfect

Simple But Perfect
Mana Jenn?



...~ Happy Reading ~...


...___________________...


...*...


...*...


...*...


Ballroom sebuah hotel bintang lima di kota xx, tengah ramai dipenuhi manusia serta suasana bahagia. Di tempat inilah, pernikahan Fio dan Farel digelar.


Ruangan dengan kapasitas yang mampu menampung ratusan orang saat itu, didominasi dengan rangkaian bunga dan pita berwarna putih bercampur gold. Mulai dari pintu masuk, dinding, langit-langit, hingga setiap sudut ruangan tersebut ditata dengan rangkaian bunga nan indah. Didukung dengan pencahayaan lampu-lampu kristal keemasan, membuat suasana dalam ruangan tersebut tampak elegan dan mewah.


Aura bahagia terpancar di setiap wajah-wajah yang hadir di sana. Hanya seseorang yang wajahnya terlihat datar, bukannya tidak bahagia. Namun lebih pada kesal dan marah. Siapa lagi kalau bukan Kenn. Jangankan untuk tersenyum, berbicara pun ia malas sekali.


Apalagi saat mereka memasuki ruangan itu, semua mata tertuju pada Jenn penuh kagum. Ah, Kenn tidak menyukai hal ini. Ingin sekali ia menarik istrinya keluar dari sana, tapi itu tidak mungkin. Sedikit pun, ia tidak melepaskan tangan Jenn, seolah memperlihatkan dengan tegas pada semua orang bahwa wanita cantik itu hanya miliknya seorang.


Keduanya berjalan menghampiri sepasang pengantin yang tampak berbahagia di pelaminan.


"Hei Kenn, are you okay?" tanya Farel melihat wajah Kenn yang tampak kusut.


"Aaaaaaaa!!!" Suara pekikan Fio mengagetkan mereka yang berada di pelaminan.


"Kenapa Fio? apa yang terjadi?" tanya kedua orang tuanya panik.


Ia menurunkan tangannya dari mulut sambil menunjuk Jenn. "Ini beneran Jenn temen gue kan? Dia, dia ... aarrgghh! Kenapa berubah cantik seksi amazing begini? Gue speechless, Bebs!" Bangkit dan langsung memeluk temannya itu.


Farel dan yang lainnya pun dibuat menganga.


"Ck, istri Lo ada di samping Lo, nyuk. Dalah, ini hari bahagia Lo, jangan cari masalah ma gue deh yah," ucap Kenn dengan kesalnya.


Seketika Farel tersadar lalu terbahak. "Jadi ini alasan wajah Lo kusut gitu? Ha-ha-ha, Kenn, Kenn, sesekali bolehlah nyenengin mata orang lain napa," ucap Farel di sela-sela tawanya.


Orang tua farel dan orang tua Fio yang melihat itu, ikut menertawakan tingkah keempat anak muda di sana. Terutama Kenn. Lucu sekali mode cemburunya.


"Enak aja Lo." Menepuk bahu Farel lalu merangkulnya memberikan ucapan selamat. "Btw, bahagia selalu, Bro," ucap Kenn dengan tulus, sesudah itu dia beralih pada Fio. "Wah, wah pawang buaya nih. Selamat yah, jinakin terus tuh biar makin bucin." Semua yang hadir di sana tertawa dengan ucapan Kenn.


"Tenang aja Kak, udah jinak banget kok ini, bucin parah lagi." Fio tersenyum lucu sambil menoleh pada Farel.


"Jangan buka-buka aib suami, dosa tauuu." Farel berkata sambil menggaruk tengkuknya. Ia benar-benar merasa malu. Sebagai mantan play boy, Farel menganggap ini seperti sebuah aib yang merusak reputasinya. Semua orang juga tahu bahwa lelaki itu awalnya banyak mempermainkan wanita, hingga pada akhirnya ia takluk pada seorang Fio. Gadis yang penuh kebebasan, centil, dan kocak abis.


Begitulah lelaki, se-brengsek-brengseknya ia dalam pencarian, suatu hari akan akan dipertemukan juga dengan seorang wanita yang benar-benar bisa menaklukkannya.


"Tuh denger kata suami," ucap Jenn sembari memeluk Fio. "Selamat yah, Bebs. Langgeng dan bahagia selamanya."


"Thanks, Bebs. Kamu juga. Tapi sumpah, kamu cantik bangeeeeeetttt malam ini," ucap Fio dengan kagum. "Ngeri, ngeri sama pilihan mama." Menggeleng pelan.


"Jangan dibahas lagi, gak liat apa mukanya? Tadi aja gue nyaris gak dateng kalo gak pake drama nangis dulu," bisik Jenn membuat tangan Fio refleks menutup mulutnya. Ia hampir saja terbahak mendengar cerita singkat itu.


Setelah itu, Jenn berkumpul bersama teman-temannya yang lain. Di sana ada Rossa, Putri, Yuni, dan Reta. Keempat gadis itu pun terkagum-kagum melihat penampilan Jenn malam itu.


Tidak ingin membahas hal itu lagi, Jenn mengalihkan pembicaraan karena tidak ingin membuat sang suami bertambah kesal.


Sementara itu, Kenn sendiri masih bergabung bersama Farel dan orangtuanya.


"Jangan jauh-jauh, di sini aja." Pesan Kenn pada istrinya sembari melepaskan jas yang ia kenakan dan memakaikannya pada Jenn, menutupi punggung serta lengannya yang terbuka.


Dia yang tidak mau egois, sengaja memberikan ruang dan waktu untuk sang istri berkumpul bersama teman-temannya. Tidak pernah ada niat untuk mengekang wanita cantik itu sedikit pun. Hanya saja tampilannya malam itu membuat Kenn bersikap agak protektif.


Sembari asik mengobrol bersama Farel dan orangtuanya, tapi mata elang Kenn tidak lepas mengawasi sang istri. Sesekali ia akan tersenyum kecil begitu melihat tawa bahagia di wajah cantik istrinya.


Tatapannya baru terhenti ketika mendapat ajakan dari ayahnya Farel. Lelaki paruh baya itu sengaja mengajak Kenn untuk berkenalan dengan rekan-rekan bisnisnya.


Ia tampak bangga memperkenalkan Kenn pada mereka. Tak urung ia mengatakan bahwa Kenn adalah anaknya, sama seperti Farel. Kasih sayang lelaki itu sudah sejak dulu pada Kenn.


Lelaki paruh baya itu berharap suatu hari nanti, masa depan Kenn dan Farel akan secerah apa yang ia tanamkan saat itu. Inginnya kelak nanti, kedua lelaki muda itu dapat bekerjasama meneruskan setiap usahanya selama ini.


Sementara itu, Jenn sendiri pun semakin asik bersenda gurau dengan para sahabat dan teman-temannya. Tidak lama setelah itu, Jenn ingin ke kamar mandi, dan akhirnya ia ditemani Putri.


Sudah memakan waktu 30 menit, tetapi keduanya belum juga kembali dari kamar mandi. Mereka yang lain pun tidak menyadari hal itu saking asiknya bercerita.


Namun, dari tempat Kenn berdiri ia teringat akan istrinya. Ia pun menoleh ke arah Jenn dan teman-temannya, tapi mata elang itu tidak melihat wajah cantik istrinya di sana. Tidak menunggu lama lagi, Kenn langsung berpamitan dari sana dan menghampiri tempat istrinya tadi.


"Jenn di mana?" tanya Kenn langsung begitu tiba di depan gadis-gadis itu.


"Eh, Kak! Oh itu ... Jenn lagi ke kamar mandi sama Putri," jawab Rossa yang juga sedikit kaget karena teringat kedua sahabatnya yang sudah cukup lama pergi. "Tapi udah dari tadi belom kembali," terangnya lagi.


"Dari tadi? Udah berapa lama?" tanya Kenn sekali lagi dengan kening yang berkerut.


"Kira-kira ...." Yuni belum juga menyelesaikan ucapannya, Kenn sudah berlalu dari sana.


Rossa pun segera menyusul langkah Kenn yang begitu terburu-buru. Ia bisa melihat raut kekhawatiran di wajah suami dari sahabatnya itu.


Kenn setengah berlari menuju toilet wanita. Dari arah yang berlawanan, ia melihat Putri yang juga sedang berlari sendirian menuju ke arahnya.


Deg, deg!


Detik itu juga jantungnya berdegup kencang tak karuan. Perasaan gelisah mendadak menyerangnya ketika melihat gadis itu sendiri tanpa istrinya.


Ya Tuhan! Semoga tidak terjadi apa-apa pada istriku.


Ia semakin berlari kencang menghampiri Putri, sementara Rossa tertinggal jauh di belakang.


"Mana Jenn?" tanya Kenn dengan panik dan tidak sabar begitu tiba di depan Putri.


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


..._____🍁🍁🍁🍁🍁_____...


...Kamu adalah kekuatan terbesar dalam hidupku....


...Namun, juga kelemahan terberat pada situasi yang ku takutkan....


...Sesungguh itu cintaku....


..._Kennand_...


...###...


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


...To be continued ......


...__________________...


Hai semuanya πŸ‘‹ jumpa lagi πŸ€—πŸ₯°


Terima kasih buat yang selalu menunggu πŸ™


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yah 😍


Sampai jumpa di episode berikutnya πŸ€—


Ig author : @ag_sweetie0425