Simple But Perfect

Simple But Perfect
Secarik Kertas



...Hola Budies πŸ–οΈ...


...Jumpa lagi πŸ‘‹...


...Jangan lupa like dan komen yah 😍...


...*...


...*...


...*...


...~ Happy Reading ~...


...###...


Penguasa siang perlahan-lahan mulai beranjak ke peraduannya. Cakrawala kini dihiasi warna merah, jingga, dan kuning keemasan yang mendominasi di ufuk barat.


Terpaan angin petang menerbangkan sisah-sisah hawa terik yang menyengat, menghadirkan aroma sejuk nan damai.


Mereka menamai ini senja. Momen estetis ini selalu dinanti-nantikan mereka yang berjiwa seni. Uniknya, sebagian orang yang menggilai fenomena lazim ini, mencap dirinya 'pecinta senja'.


Tampak di sebuah hunian megah, seorang gadis baru saja kembali di waktu petang itu. Dia yang tadinya bersemangat untuk pulang ke rumah lebih cepat, nyatanya baru kembali di hari senja.


Gadis cantik itu langsung menuju kamarnya dengan wajah lesu, tanpa ingin menyapa penghuni rumah yang lain. Ia melemparkan tasnya ke sembarang arah, dan menghempaskan tubuh lelahnya di atas ranjang.


"Ya Tuhan, ternyata dia gak sebaik yang gue kira. Dosa apa gue punya temen seorang ... aaaarrrrggghh," gumamnya frustasi sambil kedua tangan menutupi wajah cantiknya.


"Kasih tau jangan yah?" Berguling ke kiri dan ke kanan di atas ranjang sambil menggigit ujung kukunya. Entahlah kebenaran apa yang hendak ia ceritakan, nyatanya ia memilih bungkam dan menyimpannya sendiri.


Ia bangun dan beranjak ke kamar mandi, memilih menenggelamkan tubuh serta pikiran yang mengganggunya ke dasar bathub. Dua puluh menit berlalu, ia keluar dari kamar mandi dengan wajah segar tanpa beban seperti tadi.


Setelah berganti baju, ia keluar dari kamar dan hendak turun mencari makan.


Nyimpen rahasia yang membebani diri sendiri juga butuh tenaga ekstra, hmm ...


"Fanya!" Sebuah suara bariton menghentikan langkahnya, begitu kakinya menapaki undakan terakhir. "Dari mana saja kamu?" Memutar langkahnya menuju ruang tengah di mana ayah dan ibunya sedang bersantai di sana.


"Ah, tadi dari rumah temen, Pa. Maaf, Anya sunyi di rumah sendirian. Jadinya ... yah gitu, betah di rumah temen." Kini ia duduk bersandar di samping sang Ibu, dengan wajah yang ditekuk mendukung alibinya.


"Tadi ramai di sini. Kakak-kakak kamu pada kumpul. Ada kak Fio, kak Jenn, dan teman-teman mereka juga," ucap sang ibu dengan senyuman kecil.


"Bener, Ma?" Pura-pura terkejut dengan mata yang berbinar, padahal dia juga tahu.


"Bener dong, masa mama boong. Tapi, sayangnya ... kak Jenn nangis minta pulang, padahal barusan datang tadi. Mama aja masih pengen lama-lama sama mereka," ucap wanita paruh baya itu dengan wajah sedih.


"Loh, kok nangis? Diapakan sama siapa, emang?"


Pertanyaan macam apa itu? Siapa pula yang berani menyakiti bumil cantik satu itu? Selama Kenn di sampingnya, makhluk mungil itu tidak akan pernah bisa disentuh oleh siapapun.


"Emang ada yang berani ngapa-ngapain dia? Udah siap mati kali itu orang." Farel menyahut pertanyaan adiknya. Lelaki itu terkekeh.


"Lah, napa nangis coba?" Menegakkan tubuhnya kembali.


"Kamu masih kecil, gak bakal ngerti. Sana makan dan belajar," ucap Farel pada adiknya.


"Cih, mentang-mentang udah mau jadi ayah, sok dewasa." Memasang wajah cemberutnya.


"Jangan diteruskan!" Suara sang ayah menghentikan pembicaraan kedua kakak-beradik yang nantinya selalu berujung debat. "Kamu Fanya, lain kali tidak boleh berlama-lama di rumah orang. Siapapun dia, papa gak ngizinin. Pulang dari kampus, langsung pulang ke rumah. Jangan sampai papa membatasi semua ruang gerak kamu. Sekarang makan dan masuk kamar." Lelaki paruh baya itu berkata dengan suara tegas yang sudah sangat dikenal oleh Farel dan Fanya.


Lelaki yang telah berusia senja itu berucap seperti tadi pada anak gadisnya bukan tanpa alasan. Ia berkaca dari perbuatan kedua anak lelakinya yang tidak bermoral telah merusak anak gadis orang. Maka ia tidak ingin hal itu terjadi pada anak gadisnya.


Fanya langsung bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ruang makan. Dua kakak-beradik itu sangat mengenal kepribadian sang ayah yang selalu tegas. Tidak pernah sekalipun keduanya membantah aturan sang ayah.


Farel masih berada di sana bersama kedua orangtuanya, membahas persiapan pernikahannya dengan Fio akhir bulan nanti.


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


Jam dinding kini menunjukkan pukul 21.00. Kenn dan Jenn baru saja tiba di hunian baru mereka.


Setelah memasak dan makan bersama di sore tadi, Jenn lalu membereskan pakaian-pakaian mereka dan juga beberapa barang yang memang perlu untuk dibawa ke rumah baru mereka.


Berat rasanya, tapi kehidupan harus berlanjut dan ia tak bisa untuk tetap egois.


Tempat ini mungkin saja akan hancur atau dimiliki orang lain. Tapi, kenangan itu tetap milik kita, menyatu dengan waktu, melebur bersama cinta kita dalam keabadian.


Ucapan sang suami yang mendamaikan jiwanya sore tadi. Sungguh, lelaki itu selalu mampu menyajikan kenyamanan dan kedamaian lewat setiap kata maupun caranya. Setiap hari, lagi dan lagi, Jenn dibuat jatuh cinta pada lelaki itu berulang kali.


"Langsung istirahat yah, jangan ngapa-ngapain lagi." Kenn meletakkan semua barang-barang bawaannya di ruang tengah. Ia menuntun istrinya ke kamar untuk beristirahat.


"Lah, kan belom beresin pakaian kita, Sayang." Selalu saja protes. Mencoba melepaskan tangan Kenn yang merangkul pundaknya.


"Aku yang akan beresin semuanya, gampang kok. Kamu gak boleh kecapean, Sayang! Sekarang istirahat yah," ucap Kenn lembut.


Jenn menuruti perkataan suaminya. Ia memilih rebahan di sofa mini yang berada di dalam kamar.


"Tunggu sebentar yah, Sayang! Aku ke mini market depan dulu." Memastikan istrinya sudah diam di tempat, dan ia hendak ke mini market depan rumah, yang ada di seberang jalan.


"Ngapain? Ikut!" Tidak ingin ditinggal sendirian.


"Cuman bentar kok, Yang! Kamu di sini aja yah. Aku gak mau kamu kecapean. Aku gak lama kok." Mencium kening istrinya dan segera keluar dari kamar.


Beberapa menit berlalu, Kenn sudah selesai membeli beberapa perlengkapan untuk kebutuhan mereka berdua dalam jumlah yang cukup banyak. Hal penting yang tidak ia lupakan yaitu kebutuhan untuk ibu hamil kesayangannya.


Setelah membayar semua belanjaannya, Kenn hendak berjalan keluar dari sana, tapi tiba-tiba saja ia bertabrakan dengan seseorang yang juga hendak masuk ke dalam. Untung saja barang-barang di tangannya tidak sampai terlepas.


"Sorry!" ucap seseorang yang menabraknya.


"Tidak apa-apa," jawab Kenn singkat dan langsung berlalu dari sana.


Namun, entah mengapa sesuatu seolah menahan langkahnya. Sebelum menyebrangi jalan, Kenn berbalik dan melihat orang yang tadi menabraknya.


"Kayak gak asing," gumam Kenn dengan kening yang berkerut. Tampak seorang pria dengan pakaian serba hitam, juga topi hitam yang menutupi wajahnya, berdiri membelakangi sehingga Kenn tidak bisa mengenalinya.


Ada perasaan tak nyaman yang mengusiknya. Kenn melihat pada belanjaan yang masih ditentengnya. Ia memicingkan matanya begitu mendapati secarik kertas yang terselip di sana. Cepat-cepat ia melepaskan belanjaannya ke tanah begitu saja dan mengambil kertas tersebut.


Detik itu juga ia berlari dengan kencang menyebrangi jalan menuju rumahnya. Sesuatu di balik dadanya berdentum keras bagai genderang yang bertalu-talu. Ia bahkan meninggalkan belanjaannya di depan mini market begitu saja.


Braakk!!!


Kenn membuka pintu rumahnya dengan tidak sabaran.


"Sayang?!"


"Jenn?!"


Tidak ada sahutan dari suara ayu yang selalu ingin ia dengar. Lelaki tampan itu berlari cepat ke kamarnya, tapi nihil. Sosok cantik yang tadinya rebahan di sofa, di sudut kamar itu, tampak kosong.


"Jeennnnn!!!"


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


..._____☘️☘️☘️☘️☘️_____...


...To be continued ......


..._________________...


Hai semuanya πŸ‘‹ segini dulu yah ☺️


Maaf selalu telat up πŸ™ˆ


Makasih buat yg selalu mampir πŸ™πŸ˜‡


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yah 😍


Sampai jumpa di episode berikutnya πŸ€—


Follow Ig author : @ag_sweetie0425