Simple But Perfect

Simple But Perfect
Pantai Kenangan (Memperebutkan)



...~ Happy Reading ~...


...__________________...


...*...


...*...


...*...


Waktu yang ditentukan Alvino telah tiba. Pula tepat di saat itu, Jenn dan Kenn tiba di tempat yang juga telah ditentukannya. Meski sebenarnya Jenn tidak ingin datang ke tempat itu dan sempat menolak, tapi lagi-lagi Kenn meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Kenn menggenggam tangan sang istri, membawanya melewati gang kecil sampai kaki mereka berada di atas hamparan pasir putih. Hembusan angin saat itu menerbangkan Jenn ke masa lalu. Deburan ombak seolah menyerukan kata-kata seseorang yang samar-samar terngiang di telinganya.


"Kenapa, Sayang?" tanya Kenn begitu ia merasakan langkah kaki istrinya terhenti. Ia berbalik dan menatap mata sang istri. Benar saja, Kenn menemukan sesuatu yang berbeda di sana.


"Aku ... tempat ini ... kita pulang saja, Yang!" Bingung sendiri. Ia tidak tahu apa yang harus dijelaskannya.


Ya, saat itu mereka berada di sebuah pantai, tempat yang ditentukan Alvino. Lelaki itu memang sengaja memilih tempat itu, tempat yang menyimpan kenangan manis antara mereka berdua.


Kenn menggenggam tangan istrinya erat. "Punya kenangan bersama dia di sini?" tanyanya kemudian tersenyum kecil. Ia selalu paham apa yang mengganjal di hati wanitanya tanpa perlu penjelasan. "Sekarang aku di sampingmu, kita ukir kenangan baru, Sayang. Ayo!" Menggoyangkan tangan mungil Jenn, mengajaknya kembali melangkah menerobos jejak-jejak kenangan yang mengusiknya.


Setelah melangkah agak jauh dengan banyak gambaran kaki yang mereka tinggalkan di atas pasir pantai itu, Kenn dan Jenn akhirnya berhenti. Pandangan keduanya menyapu sekitar sana mencari keberadaan Alvino, tapi tak mereka temukan.


"Ehm!" Suara seseorang dari arah belakang mengagetkan keduanya. Sepasang suami-istri itu lalu sama-sama membalikkan tubuh, dan mereka pun melihat siapa yang tengah berdiri di sana.


Seorang lelaki tampan yang datang dari masa lalu Jenn. Pesonanya masih sama seperti dulu, dan tak pernah luntur terhapus masa. Sayangnya, semua itu tak lagi berkesan di mata seorang Jennifer. Mata dan hatinya kini semua tertuju hanya untuk suaminya, Kennand.


Alvino menatap sepasang suami-istri itu dengan tatapan yang berbeda. Tatapan lembutnya tampak untuk Jenn, dan ia beralih menatap Kenn dengan tajam. Tampak jelas bahwa ia tidak menyukai keberadaan Kenn di sana.


"Oh ... jadi ini dia lelaki baik itu?" Memindai Kenn dari atas hingga ke bawah, dan begitu sebaliknya. "Sepertinya pernah liat, tapi di mana yah?" Merasa tidak asing dengan wajah Kenn. Ia mencoba mengingat-ingat seraut wajah yang tak kalah tampan darinya. "Ah ... gue ingat. Waktu itu kita ketemu di kampus kan?" Mulai mengingat kepingan-kepingan kenangan yang perlahan menyatu. "Pantes aja, ha-ha-ha." Tertawa hambar. "Ternyata waktu itu Lo beneran ngincar dia? Selamat untuk kesuksesanmu mendapatkannya." Menatap tajam seolah ingin menguliti mangsanya.


Hanya senyuman kecil yang tersungging di wajah tampan Kenn, sebagai respon atas ocehan Alvino. Tangannya tak melepaskan tangan mungil Jenn sedikitpun, dan hal itu sangat mengusik ketenangan hati Alvino. Gejolak di dadanya tak tertahankan melihat lelaki lain berdiri di samping wanita yang ia cintai, bahkan dengan mesra menggenggam tangan yang seharusnya ia genggam.


"Tapi ... boleh tinggalkan kami sebentar? Gue mau ngomong sama Jenn, bukan dengan Lo," ucap Alvino dengan berat menahan emosi yang terus bergejolak sejak tadi.


Kenn tersenyum semakin lebar, dan sangat menawan. "Sebelumnya Lo perlu tau. Dia ada di tempat ini, berdiri di depan Lo saat ini, karena permintaan gue. Dan Gue gak pernah mengizinkan dia berbicara pada lelaki lain selain gue, apalagi meninggalkan dia dengan lelaki asing, itu tidak pernah. Jadi ... maaf, gue akan tetap di sini menemani istri gue." Kenn berucap santai dan penuh penekanan pada 'istri gue' di akhir kalimatnya. Tak tanggung-tanggung ia menunjukkan keposesifannya di hadapan Alvino.


Alvino mengetatkan rahangnya geram. Cemburu? Jelas sekali terlihat di wajahnya. Sementara itu, Jenn dibuat tegang oleh suasana panas yang tercipta antara dua lelaki itu. Ia takut dan khawatir jika terjadi sesuatu. Wanita cantik yang sedari tadi berdiam diri itu lalu melepaskan tangannya dari genggaman Kenn, berganti merangkul lengan suaminya sambil tangannya yang lain mengelus lengan kekar itu, berniat menenangkan Kenn agar tidak terpancing sikap Alvino.


"Kita pulang saja, Sayang!" ucap Jenn sangat lembut pada suaminya. Mata indahnya memandang netra sang suami penuh sayang dan harap. Sesungguhnya ia sangat mengenal dua pribadi di hadapannya saat itu. Alvino yang selalu nekat melakukan apa saja dengan ambisius, dan Kenn yang tidak pernah mengenal rasa takut dan menyerah. Mereka sama-sama keras kepala dan tidak mau mengalah demi sesuatu yang mereka inginkan.


Alvino yang melihat Jenn begitu lembut pada suaminya semakin panas dan terbakar cemburu. "Cih, Apa sih hebatnya dia? Apa yang dia kasih yang tidak pernah aku kasih ke kamu, sampai kamu begitu mudah berpaling dari aku, hah?" Tidak dapat lagi untuk menahan panas di hatinya. "Apa kurangnya aku, Jenn?" Mencecar tanpa henti, tapi dengan suara yang masih pelan dan terkontrol. Jenn menatapnya dalam diam tanpa berniat menjawab satu pun dari pertanyaannya. Sedangkan Kenn tetap bergeming.


"Apa aku benar-benar tidak memiliki kesempatan lagi untuk perbaiki semuanya?" Menatap Jenn begitu dalam. "Kasih aku kesempatan sekali saja, Jenn. Please, ak ...."


"Hentikan!" potong Jenn yang tidak ingin membiarkan Alvino meneruskan kata-katanya. "Aku ke sini bukan untuk memberimu kesempatan atau membahas apapun lagi tentang kita." Semakin mengeratkan rangkulannya di lengan Kenn. "Tapi untuk mengakhiri semua hal tentang kita yang sempat menggantung tanpa penjelasan. Tidak ada apa-apa lagi di antara kita, kisah kita sudah berakhir." Memandang lurus di mata Alvino, dan tanpa ragu mengatakan semua beban di hatinya. Rasa lega menjamah sanubarinya. "Aku harap kamu bahagia dengan dia yang telah membuatmu melupakanku, karena aku pun sekarang bahagia, sangat bahagia. Terima kasih untuk kepergianmu yang telah mendatangkan dia dalam hidupku." Jenn tersenyum manis, beralih menatap suaminya.


"Kata siapa aku melupakanmu? Sampai saat ini aku tidak bisa melakukan itu, Jenn. Tidak bisakah kau lihat itu di mataku?" Wajahnya tampak kacau, tidak mau menerima yang diucapkan Jenn. "Semua rasa di hatiku masih sama seperti dulu. Gak berkurang sedikitpun, Jenn." Nada frustasi terdengar jelas dari suaranya. "Bagaimana bisa secepat itu kau melupakanku? Inikah makna cinta yang dulu selalu kau ucap? Kau bilang tidak ada yang bisa menggantikan posisiku di hatimu, mana? Kau pembohong!" Menunjuk wajah wanita cantik itu dengan tajam. "Kau lihat tempat ini? Jangan bilang kau pun melupakannya." Menggeleng pelan sambil mengharapkan sesuatu yang rasanya tidak mungkin.


Rasanya Jenn tidak tega melihat wajah kecewa Alvino, tapi ia tak ingin lagi membiarkan hal ini terus berlanjut. Yang paling penting, ia menjaga perasaan suaminya.


"Aku minta maaf kalau keputusanku menyakitimu. Tapi kamu harus ingat, kamu sendiri yang memulainya. Dan jangan lupa, luka yang pernah kau torehkan entah sengaja ataupun tidak, itu menjadi titik awal rasa cintaku yang perlahan mulai terkikis. Aku tidak akan bertanya siapa dia yang waktu itu berbicara denganku di telepon. Aku pun tidak ingin bertanya ke mana saja kamu selama ini. Rasanya itu semua sudah tidak penting untuk dibahas. Aku menjadikanmu masa laluku yang indah, dan sekarang dia masa depanku yang bahagia. Biarkan semua berakhir di sini, Al," ujar Jenn panjang lebar, berharap Alvino dapat menerima kenyataan itu.


"Gak Jenn, sampai kapanpun aku gak akan mengakhiri kisah kita. Katakan kamu masih mencintaiku, sama seperti aku yang tidak pernah bisa berhenti mencintaimu, Jenn." Lelaki tampan itu seolah kehilangan harga diri di depan sepasang suami-istri di sana, tapi ia tak peduli. "Kamu harus tau alasannya, aku melakukan semua itu demi kamu, Jenn. Demi melindungi kamu dari orang-orang yang ingin menyakitimu. Aku korbankan waktuku untuk memastikan kau tetap aman dan bahagia. Dan ini balasannya? Kamu malah enak-enakan bermesraan dengan dia sampai ... aaaarrrrggghh." Menendang udara dengan kesal serta marah karena tak sanggup meneruskan perkataannya. "Kamu bilang akan setia menunggu aku kembali. Kamu janji padaku di tempat ini bahwa kamu akan selalu menjadi rumah saat aku kembali ke kota ini. Sekarang aku kembali, Jenn. Mana rumah yang selalu memberiku ketenangan itu? Aku lelah Jenn, lelah jauh dari kamu." Menatap Jenn dengan memelas.


"Carilah rumah yang tak hanya buat Lo tenang, tapi juga nyaman. Maaf, rumah yang dulu Lo tempati, kini sudah jadi milik gue. Dan yang pasti sudah memiliki izin serta sertifikat sah, Lo gak punya hak apapun atasnya lagi. Anggap aja Lo hanya numpang dan merawatnya waktu itu. Sekarang rumah itu memiliki pemilik sah." ucap Kenn yang tidak tahan lagi mendengar istrinya yang terus dipojokkan.


"Bre**s*k!" umpat Alvino seraya melayangkan satu pukulan di wajah tampan Kenn. Jenn kaget dan histeris melihat apa yang dilakukan Alvino pada suaminya.


"Kenn!!!" pekik Jenn langsung berdiri di depan Kenn dan memeluknya.


Kenn tersenyum kecil menatap istrinya yang terlihat panik. "Biarkan dia melakukannya, Sayang. Aku memang pantas menerimanya. Mungkin dengan itu dia puas dan semua ini berakhir damai." Tangannya mengusap pipi Jenn dengan lembut.


"Gak! Gak mauuu." Menggelengkan kepalanya kuat. "Kamu terluka, Kak. Aku gak mau, ayo kita pulang!" ucap Jenn dengan mata yang mulai berembun.


"Aku gak kenapa-kenapa, Yang. Mau akhiri ini dengan baik kan?" Jenn mengangguk dengan air mata sudah meluncur melewati pipinya. "Kalo gitu biarkan aku dan dia menyelesaikan ini." Kenn melepaskan tangan kecil Jenn yang memeluknya. Tapi wanita itu semakin kencang meremas belakang kaos yang dipakainya.


"Sebegitu takutnya kamu jika si bre**sek itu terluka?" cibir Alvino.


Jenn berbalik mendongak menatap Alvino dengan tajam. Tidak ada lagi tatapan iba seperti tadi. "Dia suamiku! Dan aku tidak akan membiarkanmu atau siapapun melukainya." Kenn menarik tangan istrinya dengan lembut, ingin menenangkannya, tapi ditepis Jenn. "Apa yang kamu mau agar semua ini bisa berakhir?" tanya Jenn yang tidak tahan dan cepat ingin pergi dari sana.


"Aku hanya mau kamu. Aku gak butuh yang lain, Jenn. Tinggalkan dia dan kembali padaku. Itu aja! Apa susahnya?" ucap Alvino dengan enteng.


Kenn terkekeh mendengar ucapan lelaki itu. "Jangankan jadi nyata, dalam mimpi sekalipun, tidak aku izinkan wajah cantik istriku hadir di sana." Menarik Jenn ke belakang dan dia berdiri tepat di hadapan Alvino. Dengan berani ia menantang lelaki tampan yang sedang dipenuhi emosi itu. "Lakukanlah, apapun yang Lo mau terhadap gue. Tapi berjanjilah, setelah ini jangan pernah lagi mengusik ketenangan rumah tangga gue. Dan belajarlah untuk melupakan dia mulai saat ini. Jangan pernah mencoba memikirkannya barang sedikitpun." Peringatan keras sekaligus ancaman mematikan dari Kenn.


Mendengar itu Alvino semakin murka tanpa menunggu lama, ia kembali melayangkan pukulan pada lelaki yang dengan berani menantangnya.


"Lo pikir Lo siapa, hah?" Memukul lagi dengan keras. "Gue yang lebih dulu mencintai dia!" Lagi dan lagi. "Dia pun mencintai gue, tapi Lo yang sudah meracuni dia tuk ngelupain gue, bahkan dengan bre**seknya Lo ngancurin masa depan dia." Terus menghujani Kenn dengan pukulan, tapi laki-laki itu tidak berniat membalas ataupun mengelak sedikitpun. Berbeda dengan istrinya yang menjerit seperti orang gila. Namun kedua lelaki itu tidak lagi pedulikan teriakan wanita yang diperebutkan mereka. "Bang**sad, kep**at, setengah mati gue jagain dia, dan Lo nikmatin semuanya dalam sekejap, sialan Lo, brengsek Lo!" Masih menghajar Kenn tanpa jeda disertai bebagai umpatan dari mulutnya.


"Stop Alvino! Lo gila," teriak Jenn dan berusaha menarik suaminya. "Sudah cukup! Hiks, hiks," tangis Jenn tak tahan melihat wajah tampan suaminya yang babak belur oleh Alvino. Mendengar tangisan wanita itu, Alvino berhenti sejenak dan menghempaskan Kenn dengan kuat hingga lelaki itu tersungkur di atas pasir.


"Ngapain kamu tangisin brengsek ini hah? Dia yang sudah merusak hidup kamu. Senikmat itukah sentuhannya hingga kamu begitu tergila-gila? Iya?" bentak Alvino dengan keras membuat Jenn terperanjat. "Sini aku tunjukkan kenikmatan dariku." Menarik tangan Jenn dengan kasar. Belum sempat kakinya melangkah, lelaki itu sudah beringsut mundur beberapa langkah, bahkan tangannya yang sempat manarik Jenn kini terlepas karena hantaman keras dari Kenn.


..._____πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚_____...


...Saat kau pergi sebagai luka, dia datang menjadi penawar. Kau mengundang tangis di musim semi, dan dia tawarkan hujan di saat kemarau. Aku menamakan ini, luka yang manis....


..._Jennifer Greecya_...


...*...


...*...


...*...


...To be continued ......


...__________________...


Halo epribadeeeh πŸ‘‹ jumpa lagi πŸ€—


Maaf telat up πŸ™ˆ


Terima kasih buat yang selalu setia menunggu, dan tetap menyediakan waktu buat mampir di karya receh ini πŸ™


Terima kasih dukungannya guys 😘


Jangan lupa like dan komen yah 😍


Sampai jumpa di episode berikutnya πŸ€—