
...~ Happy Reading ~...
...___________________...
π Sangat dicintai oleh seseorang, memberimu kekuatan. Sementara mencintai seseorang, memberimu keberanian π
[ - Lao Tzu - ]
Kutipan sederhana ini sangatlah mendalam maknanya, sedalam rasa cinta Kenn dan Jenn. Segelintir kata yang tersusun indah merangkai jejak-jejak kisah perjuangan seorang Kenn, dan semua histori itu terbingkai rapi dalam kanvas kenangan estetik.
Cintanya yang begitu besar pada sang kekasih, memberikan Kenn keberanian untuk menghadapi setiap tantangan. Dan cinta tulus yang ia dapatkan dari wanitannya, memberikan ia segenggam kekuatan untuk mematahkan segala aral, hingga semua perjuangan itu mengantarkannya pada satu titik yang dinamakan bahagia.
Setelah malam dimana Kenn melamar sang kekasih, satu minggu setelah itu mereka akhirnya memutuskan untuk menikah sesuai kesepakatan bersama kedua keluarga. Alasannya, orangtua dari Jenn tidak ingin menunda hal baik itu sebelum lebih banyak orang yang mengetahui tentang kehamilan putri mereka. Pada akhirnya pepatah 'lebih cepat lebih baik' yang mereka ambil.
Hari bahagia untuk Kenn dan Jenn pun dipercepat tanpa adanya serangkaian acara mewah seperti impian kebanyakan wanita di muka bumi ini. Pernikahan mereka hanyalah sebuah pernikahan yang terkonsep sederhana. Sederhana tetapi sempurna (simple but perfect) sesempurna cinta keduanya.
Sejatinya hidup tidak selalu tentang kemewahan bukan? Untuk apa mencari dan mengejar kemewahan, jika yang sederhana saja mampu memberikan kebahagiaan bahkan kesempurnaan. Hal inilah yang tengah dirasakan oleh Jenn. Meski hari bahagianya tidak semeriah pernikahan seorang putri raja, tetap saja hal itu tidaklah mengurangi kebahagiaan wanita cantik itu sedikit pun.
Hari ini, kedua insan Tuhan yang saling mencintai itu melangsungkan pemberkatan nikah di sebuah geraja. Di bawah altar yang kudus, di hadapan Tuhan serta manusia, keduanya mengucapkan sumpah setia dan mengikat janji suci sehidup semati. Prosesi sakral itu di hadiri dan di saksikan oleh keluarga kedua mempelai dan teman-teman serta sahabat.
Tanpa kemeriahan dan kemewahan, tetapi bahagia itu tampak jelas terlukis di wajah setiap mereka yang hadir. Ucapan selamat serta doa-doa dari teman dan sahabat mengalir, memercikkan kebahagiaan tersendiri bagi keduanya.
Di tengah kebahagiaan itu, hanya satu wajah yang menyimpan kesedihan. Siapa lagi kalau bukan ayahnya Jenn. Lelaki berusia senja itu tersenyum di balik sedihnya, telah menuntun tangan sang putri dan memberikannya pada tangan lelaki lain, melepaskan serta merelakan malaikat kecilnya pada seseorang yang akan melanjutkan tugasnya.
Jika dulu kehadirannya untuk melengkapi hidup orangtuanya, kini ia hadir sebagai pelengkap hidup orang lain. Kehidupan memang seperti itu, tidak pernah lepas dari yang namanya merelakan dan mengikhlaskan, menerima dan memiliki. Semuanya mengajarkan bagaimana manusia dapat mensyukuri arti sebuah kebersamaan.
..._____πππππ_____...
Setelah momen penting dan sakral itu selesai, semua orang kembali ke rumahnya masing-masing, dan tentu saja Jenn ikut pulang bersama suaminya. Kehampaan mewarnai perasaan ayahnya. Di samping itu, kesunyian menemani dua sahabatnya, Rossa dan Putri. Mereka harus membiasakan diri tanpa sosok cantik itu, karena dia telah sah menjadi milik seseorang yang kini lebih berhak bersamanya.
Sehari berlalu sudah, dan pagi ini sepasang suami istri yang baru saja menikah kemarin, tengah bersiap-siap untuk ke suatu tempat. Lagi-lagi, Kenn ingin memberikan kejutan untuk wanita cantik yang kini telah menjadi istrinya.
Waktu menunjukkan pukul 07:00, dan Jenn baru selesai mandi setelah dipaksa suaminya. Sejak kehamilannya, wanita cantik itu menjadi sedikit malas dari biasanya. Apalagi saat mengalami morning sickness seperti tadi, tubuhnya akan terasa lemas dan membuatnya malas untuk beraktivitas.
Jenn keluar dari kamar dengan rambut setengah basah dan tampilan ala rumahan, kaos oblong serta hot pants jeans seperti biasanya. Si cantik itu berjalan menuju dapur, di sana ia mendapati lelaki kesayangannya sedang sibuk membuatkan sarapan untuk mereka berdua.
Karena sedikit lemas, Jenn memilih untuk duduk saja menyaksikan pemandangan indah di depannya, dengan bertopang dagu. Ia pun tidak ingin mengganggu aktivitas suaminya.
Beautiful morning view! ... akh, terima kasih Tuhan! Telah memberikan kesempurnaan ini.
Jenn membatin sambil terus menatap kagum suaminya. Beberapa menit setelah itu, Kenn berbalik dan hendak menyajikan sarapan buatannya, dan ia tersenyum bahagia melihat keberadaan sosok mungil yang duduk bersandar pada meja makan di sana.
"Eh, udah dari tadi, Sayang?" tanya Kenn sambil meletakkan sarapan di atas meja.
Jenn menggeleng. "Baru aja kok," jawabnya sambil matanya kini berganti tertuju pada sarapan buatan sang suami. Senyum kecil tersungging di bibirnya begitu melihat sesuatu yang menggugah seleranya.
Kenn membuatkan roti gandum panggang dengan toping telur dan alpukat di sertai segelas susu hangat untuk ibu hamil. Sedangkan untuk dirinya, roti panggang yang sama tapi dilapisi selai cokelat dan secangkir kopi. Menu sarapan sederhana dan mudah.
"Suka?" tanya Kenn begitu melihat ekspresi sang istri, dan wanita cantik itu mengangguk penuh semangat. Kenn pun menyodorkan piring berisikan sarapan ibu hamil untuk Jenn. "Silahkan! Nyonya Kennand," sambung Kenn membuat si cantik itu tertawa renyah mewarnai pagi pertama mereka setelah resmi menjadi sepasang suami-istri.
"Terima kasih, Sayang!" ucap Jenn dengan tulus.
Saat Kenn ingin duduk di kursi sebelah, tangan Jenn menarik ujung kaos yang dipakainya. Kenn berbalik dan menatap istrinya.
"Peluk dulu," ucap Jenn sambil mendongak merentangkan tangannya. Dengan senang hati Kenn memberikan pelukan hangat untuk wanita hamil itu.
"Udah?" tanya Kenn dan sang istri mengangguk.
Keduanya lalu mulai menikmati sarapan mereka di selingi candaan dan obrolan hangat. Setelah itu, Jenn berdiri berniat untuk merapikan meja dan mecuci piring bekas makan mereka, tapi dicegah oleh Kenn.
"Bentar dulu." Kenn menahan tangannya. Lelaki itu memindai istrinya dari atas hingga ke bawah. Setelah itu ia mendongak menatap wajah istrinya. "Kenapa masih pake beginian sih?" tanya Kenn dengan lembut.
Jenn menunduk dan melihat penampilannya. "Ini kan cuman di rumah, Sayang! Gak masalah dong suami sendiri yang liat? Lagian aku keluar rumah udah gak pernah pake yang begini kok," ucap Jenn sambil menarik-narik celana yang ia gunakan.
Kenn membuang nafasnya sedikit kasar, setelah itu tangannya menarik pinggang Jenn agar lebih mendekat. Ia lalu melingkarkan kedua tangannya di sana.
"Emang sih gak papah kalo di rumah. Aku seneng, aku suka kok. Tapi masalahnya kamu sedang hamil, Sayang! Gak boleh pake yang ngepas begini, mana jeans lagi, kasian anakku di dalam sana," ucap Kenn dengan lembut sambil mengecup perut istrinya. "Ya, Sayang yah, diganti yah." pinta Kenn. "Boleh pake yang **** begini, tapi yang luas dan bahan yang nyaman, gak boleh jeans pokoknya. Aku gak ngizinin." sambungnya dengan tegas.
"No! Biar aku saja. Kamu mending ganti pakaian, setelah aku selesai, kita langsung berangkat. Okhay?"
"Hmm, oke deh. Btw, makasih Sayang, pagi ini udah gantiin tugas pertama aku." Jenn terkekeh lalu mencium pipi suaminya.
"Tugas aku juga."
Kenn lalu melepaskan tangan dari pinggang istrinya, ia mulai membereskan meja dan mencuci piring kotor bekas makan mereka. Sedangkan Jenn kembali ke kamar dan berganti pakaian.
Tidak membutuhkan waktu lama, keduanya sudah siap untuk melakukan perjalanan ke tempat yang di janjikan Kenn sebagai kejutan untuk sang istri.
"Kita mau ke mana sih, Sayang?" tanya Jenn penasaran.
"Nanti juga tau." Kenn memasang helm untuk istrinya. "Udah siap?" Jenn mengangguk. "Let's go!"
Keduanya bergegas meninggalkan kontrakan mereka, melesat menuju tempat yang dimaksudkan Kenn. Tidak begitu lama, hanya memakan waktu 20 menit mereka hampir tiba. Tapi sebelum benar-benar sampai, Kenn menghentikan motornya sebentar dan memakaikan kain penutup mata untuk Jenn, setelah itu ia melanjutkan kembali perjalanan selama 5 menit dan akhirnya mereka pun tiba di tempat tujuan.
Kenn melepaskan helm keduanya lalu menggenggam tangan sang istri, menuntunnya berjalan hingga wanita itu merasakan seperti menaiki beberapa undakan, dan langkahnya terhenti bersamaan dengan tangannya dilepas oleh Kenn.
Jenn merasakan hawa sejuk dan adem di sekitarnya. Tiba-tiba telinganya menangkap bunyi-bunyian benda yang tidak asing.
"Sayang! Kamu di sana?" tanya Jenn ragu.
Lagi-lagi Kenn meraih tangannya untuk kembali melangkah, tanpa menjawab pertanyaannya. Lelaki itu perlahan melepaskan kain penutup mata yang membalut matanya.
1
2
3
"Kejutan!!!"
...Jangan hanya ingin memiliki,...
...Tapi harus ingin menjaga....
...Karena yang hanya ingin memiliki,...
...Ia masuk dalam hubungan hanya untuk mengambil sesuatu dari kamu....
...Tetapi yang ingin menjaga,...
...Ia masuk ke dalam hubungan karena melihat engkau sebagai sesuatu yang berharga bahkan ingin memberikan sesuatu yang terbaik untuk kamu....
...[ Gracedepth ]...
..._____πππππ_____...
...To be continued ......
...___________________...
Segini dulu yah gaes π€π€
Besok lanjut lagi π
Terima kasih buat yang selalu mampir π
Jangan lupa like dan komen yah π
Sampai jumpa di episode berikutnya π€
Follow Ig author : @agsweetie0425