Simple But Perfect

Simple But Perfect
Akulah Pemenangnya



...~ Happy Reading ~...


...__________________...


...*...


...*...


...*...


Hari hampir gelap, sepasang suami-istri masih saja betah di kontrakan kecil mereka yang dulu. Sebelum mendengarkan istrinya bercerita, Kenn lebih dulu memesan makanan untuk mereka berdua. Setelah pesanan datang dan mereka pun menyelesaikan makan siang yang sudah sangat terlambat, Kenn lalu meminta istrinya menceritakan apa yang membuatnya sampai menangis siang tadi.


Tidak ingin menutupi apapun dalam rumah tangganya, Jenn lantas mengatakan dengan jujur apa yang sebenarnya terjadi. Kedatangan seseorang dari masa lalunya yang sedikit menyesakkan.


Sama seperti istrinya, Kenn juga terkejut mendengar hal itu. Jujur, dia cemburu memikirkan ada laki-laki lain yang dekat-dekat dengan Jenn. Alvino apalagi, yang jelas-jelas memanggil istrinya dengan sebutan mesra mereka saat masih pacaran dulu. Jelas sekali bahwa Alvino masih mengharapkan istrinya. Kenn tidak suka itu. Dan raut ketidaksukaan terlihat jelas di wajahnya selama mendengar penuturan Jenn.


"Benar dia gak sampai nyentuh kamu?" Datar sekali wajahnya.


Jenn mengerutkan keningnya. "Kamu gak percaya sama aku?" Balik bertanya. "Apa wajahku terlihat berbohong?" tanyanya lagi. Terlihat ia menghembuskan nafasnya pelan. "Demi Tuhan, aku ...."


"Aku percaya, Sayang! Maaf, aku hanya cemburu." Tangannya menempel di bibir Jenn, menghentikan ucapan wanita itu. Kenn lantas mengungkapkan apa yang ia rasakan. "Tapi kenapa kamu menangis? Apa ...."


"Jangan berpikir yang macam-macam, Yang! Aku gak ada rasa apapun lagi buat dia. Aku hanya gak mau liat wajahnya lagi." Meraih tangan suaminya. "Aku nangis karena nyesel, pernah ada rasa yang besar buat dia. Aku nyesel pernah kenal sama dia. Dan ... alasan aku nangis, juga karena aku merasa bersyukur kamu hadir dalam hidup aku. Dengan cintamu, kamu berhasil menghapus namanya dari hidup aku. Aku bersyukur karena saat dia datang, aku udah punya kamu." Matanya indahnya berkaca-kaca lagi.


Kenn lalu membawa wanita cantik itu dalam pelukannya. Mendekap erat dan menghujani kepala istrinya dengan kecupan penuh sayang.


"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu, Kenn!" ucap Jenn begitu lirih membalas pelukan suaminya.


"Terima kasih, Sayang! Aku yang terlebih lagi mencintaimu." Semakin mengeratkan pelukannya.


Seharusnya aku bersyukur, bukannya cemburu. Terkekeh dalam hati dengan kebodohannya. Selama apapun hubungan yang pernah kalian jalani, semesra apapun kalian dulu, sehebat apapun dia dari aku, tapi akulah pemenangnya. Aku yang menang telah mendapatkan kamu seutuhnya. Bahkan kamu telah dengan sudi mengandung anakku. Tak ada yang perlu aku takutkan bukan? Kamu sudah menjadi milikku, hanya milikku seorang!"


Meskipun begitu, khawatir itu tetap ada. Khawatir kalau Alvino akan mencari cara untuk terus mendekati istrinya, juga khawatir dengan teror-teror kecil yang mengganggu pikirannya akhir-akhir ini.


"Yang!" panggil Kenn pelan.


"Hmm?" Melepaskan diri dari dekapan erat suaminya. Menatap netra hitam Kenn dengan lembut.


"Aku rasa ... kalian perlu menyelesaikan ini, Sayang! Aku gak mau dia masih terus mengharapkan kamu, dan ngejar-ngejar kamu, Yang!" Membalas tatapan Jenn dengan serius. "Temui dia dan selesaikan semuanya dengan baik, yah," pintanya pada sang istri. Kenn memikirkan kenyamanan rumah tangganya. Terutama kenyamanan istri tercinta. Dia tidak ingin jumlah orang yang mengincar istrinya semakin bertambah.


"Gak mau!" Memalingkan wajahnya ke tempat lain. "Bukannya kamu cemburu?" Tiba-tiba marah dan kembali menatap suaminya tajam. "Kenapa malah nyuruh aku buat ketemu sama dia? Jangan aneh-aneh kamu, Yang!" Gerutunya.


"Sayang, ini demi kebaikan kita juga. Waktu itu gak ada penjelasan di antara kalian kan? Nah, sekarang harus diakhiri dengan jelas. Mau dia terima atau gak, intinya kamu harus mengakhiri." Menggenggam tangan istrinya. "Percayalah, setelah itu kamu akan merasa tenang gak ada beban atau benci lagi." ucap Kenn dengan lembut.


Tatapan tajam itu perlahan mulai melembut. Jenn mencoba mencerna dengan baik setiap kata-kata suaminya. "Temani aku!" putusnya setelah beberapa saat.


Kenn tersenyum dan mengangguk. "Tentu saja, Sayang! Gak mungkin aku biarkan istriku bertemu dengan lelaki lain sendirian tanpa aku!"


Setelah itu keduanya lalu bergegas kembali ke kediaman mereka, karena bumi telah diselimuti gelap.


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


Di sebuah hunian yang terbilang mewah, tampak seorang lelaki muda baru saja keluar dari mobilnya, setelah memarkir sembarangan di halaman rumah.


Rumah itu tampak sepi. Sepertinya semua penghuni pada sibuk dengan dunianya masing-masing. Hanya terlihat satpam yang duduk di pos jaga depan gerbang tadi sebelum lelaki itu masuk ke dalam rumah besar.


Ia terus melangkahkan kakinya menuju lantai dua. Menaiki tangga dengan tertatih-tatih, menuju sebuah kamar yang sudah ia hafal. Sampai di sana, ia membuka pintu dan langsung masuk.


Lelaki itu tampak mencari-cari seseorang di sana, tapi tak ada. Ia lalu menjatuhkan tubuhnya yang lelah karena mabuk di atas sofa, dan langsung masuk ke dalam mimpi yang mungkin dikatakan buruk. Hanya dinding kamar itu yang dapat mendengar sekaligus menyimpan berbagai macam umpatan dari lelaki itu pada seorang wanita.


Tak lama setelah itu, di rumah yang sama, dari halaman depan, tampak sebuah mobil baru saja masuk. Pengemudinya keluar dan ia mengerutkan keningnya melihat ada mobil yang lain di sana.


"Pak, ada tamu yah?" tanyanya pada satpam rumahnya.


"Ah, itu den Vino, Den," jawab Pak satpam yang langsing membuat lelaki itu terperanjat.


"Apa?? Bang Vino?" Matanya membulat sempurna tak percaya. Tidak ingin menunggu jawaban lagi, lelaki itu secepat kilat berlari masuk ke dalam rumah menaiki tangga menuju kamarnya. Sampai di sana, bener saja ia melihat sosok abangnya yang terbaring di sofa.


Indera penciumannya menangkap bau alkohol dari lelaki yang sedang tertidur tapi masih saja meracau tidak jelas. "Mabuk? Apa dia udah tau status Jenn yang sekarang?" tanyanya pada diri sendiri.


Saat ingin melangkah pergi, langkahnya tertahan dengan belakang jaketnya yang di cengkram. Ia berbalik hendak berbicara dengan orang mabuk itu.


"Kap ...."


Bugh!


"Arrgh, apa-apaan sih, Bang? Datang-datang main pukul aja, sakit tau," geramnya sambil memegangi rahangnya yang terkena bogem.


Bangun dari tidurnya dan menatap penuh amarah pada adiknya.


"Mana janji Lo dulu saat gue pergi? Di mana?" Berteriak dengan emosi. "Lo bilang mau jagain dia, kenapa dia malah pergi dengan laki-laki lain? Kenapa?" Masih saja berteriak. "Bilang sama gue kalo semua itu gak bener, bilang kalo dia masih nungguin gue!" Sekarang malah menangis. "Kenapa dia berubah seperti ****** yang malah memberikan tubuhnya dengan mudah pada laki-laki lain?" teriaknya lagi. "Sejak kapan dia ser ...."


"Cukup, Bang!" Menampik perkataan abangnya dengan keras.


..._____πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”_____...


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


...To be continued ......


...__________________...


...###...


Mari kita lanjutkan perdebatan Kakak beradik di part selanjutnya πŸ˜…


Terima kasih buat yang selalu mampir ke karya receh ini πŸ™


Jangan lupa like dan komen yah 😍


Jempolnya beraksi dong πŸ˜…πŸ€­


Sampai jumpa di episode berikutnya πŸ€—


Ig author : @ag_sweetie0425