
π Indeed we have much taste. Indeed we are not together. If indeed we are destined to be together forever, love would not be where π
Seorang lelaki tampan sejak sore tadi, hatinya mendadak dibuat kacau balau. Hanya karena sebuah pesan chat dan juga pesan berisi foto dan video, yang dikirimkan temannya. Hal kecil itu saja mampu menyita seluruh perhatiannya. Hingga semua aktivitasnya menjadi terganggu.
Entahlah. Perasaan seperti apa yang mestinya ia nikmati saat itu. Sedih kah ? bahagia kah ? sementara yang lebih dominan dari kedua rasa yang bertentangan itu ialah rasa cemas. Saking cemasnya dimalam itu, lelaki tampan itupun melajukan motornya dan berhenti tepat di depan hunian tiga gadis cantik.
Tidak terlihat apapun disana. Sepi. Hanya terlihat lampu-lampu yang terpancar dari balik tirai, menandakan adanya penghuni didalam sana. Lama ia masih berdiri disana sambil berharap sedikit saja rasa cemasnya berkurang. Dan sepertinya begitu. Semuanya baik-baik saja.
Cepatlah sembuh, pencuri hatiku !
Merasa cukup, ia kembali menjalankan motornya menuju rumah si dalang dari segala cemas hatinya. Yang sudah mengacaukan pikiran dan aktivitasnya sore tadi.
Dan disinilah ia sekarang. Berbaring malas dikasur, dikamar temannya.
"Bukannya Lo harusnya seneng ?" fokus pada layar televisi, memainkan game Xbox.
"Apanya yang harus seneng ? dianya sakit dan gue harus seneng gitu ? ck, sinting Lo yah" berdecak kesal lalu turun dari tempat tidur, dan bergabung bersama temannya.
"Bukan sakitnya bro, tapi alasannya" pandangannya tetap pada layar televisi.
"Apapun itu, gue tetap cemas, Rel. Ya, gak munafik juga. Gue sedikit seneng si. Tapi tetep aja rasa khawatir yang lebih mendominasi" merebut stick dari tangan Farel.
"Ck, serah Lo dah. Gak mau gerak cepat ? nunggu sampai kekasihnya yang perfect itu kabarin dan mereka kembali baik-baik aja, teruss Lo tinggal gitu aja ? Karatan aja dengan cinta dalam diam Lo" mengambil stick satunya lagi dan menggunakan mode co-op split.
Kedua lelaki itu mulai bertanding, dengan Farel yang beralih memainkan game lain. Kali ini balap MotoGp. Sama-sama fokus pada layar didepan mereka, namun tetap mengobrol.
"Itu namanya ngambil kesempatan dalam kesempitan. Orang lagi ada masalah kok, Lo malah nambah masalah, ck" berdecak kesal. Antara kesal karena jagoannya tertinggal dibelakang, atau kesal dengan jalan pikiran temannya. Entahlah.
"Cuman nyatain cinta doang, masalahnya dimana ? yuhuiii" senang karena jagoannya yang memimpin.
"Ya masalahnya, ntar dianya dilema, mau milih yang mana. Nungguin kabar dari pacarnya, atau nerima hati yang baru. Itu juga masalah kan ?" berbicara namun lebih fokus kali ini. Mengejar ketertinggalannya.
"Hahaha udah PD aja Lo njirrr. Emang bisa buat seorang Jenn dilema ?" tersenyum mengejek.
"Gak PD juga sih. Tapi cinta selalu punya jalannya sendiri bukan ? itu yang pernah Lo ngomong ke gue. Inget gak ?" tersenyum karena mulai seimbang dengan Farel.
"Ck, iya gue inget. Aiihh !" kesal karena jagoannya kini tertinggal.
"Dan mungkin sekarang jalannya mulai terbuka. Jadi gak perlu repot-repot, biarkan saja. Ya kan ? Iiiyeeesssss !" mengepalkan tangannya ke udara. He's the winner.
"Aish" membuang stick begitu saja. Kalah dan kesal. "Semoga Dewi Fortuna berpihak sama Lo, dan Lo bakal menang kek sekarang" menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Gue bakal menang, tapi itu bukan keberuntungan. Tapi T A K D I R !" mengedipkan matanya pada Farel.
"Njiirrr jadi Lo berharap nih ?" senang temannya mulai semangat memperjuangkan rasanya.
"Sedikit sih, hahaha" menggoda Farel yang begitu penasaran dengan hatinya.
"Yang jelas dong kalo ngomong" benar-benar kesal. Karena hal itu merupakan planning-nya bersama Fio.
"Kan tadi udah jelas. Cinta punya jalannya sendiri. Mungkin sekarang jalannya. Ya, gue memang menginginkan dia. Tapi bukan dengan cara merebutnya. Dengan statusnya masih jelas pacar orang. Mereka sedang ada masalah, bukan artinya pisah kan ? jadi biarkan saja. Takdir yang menentukan dan waktu yang akan menjawab. Okay ? stop pembahasan ini sampai sini aja" berdiri dan kembali menuju tempat tidur lalu menghempaskan tubuh lelahnya disana.
Semoga jalan takdir segera mempertemukan kalian. Kalo gak, gue dan Fio yang akan merubah jalan takdir itu sendiri.
Dan penghargaan 'The best couple mak comblang' tahun ini akan diberikan kepada pasangan tergila, Double F.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Detik berganti menit, menit berganti jam, dan hari pun berganti hari dengan begitu cepat. Seminggu telah berlalu. Sejak sakitnya Jenn hari itu, sampai sekarang pun tak ada kabar sama sekali dari Alvino. Lelaki tampan itu bak hilang tertelan masa.
Sedangkan Kenn. Sejak mendapat kabar tentang gadis pencuri hatinya yang sedang sakit, dan pembahasannya bersama Farel hari itu. Lelaki tampan itu benar-benar tak membahas apapun lagi. Ia memilih melakukan aktivitasnya seperti biasa. Dan tentunya dengan rasa cinta yang sama dan tak pernah berubah.
Pagi ini Jenn bangun dengan suasana hati yang masih sama seperti hari-hari kemarin. Hati yang penuh tanya dengan segudang rindu yang bertumpuk dan terasa sesak di dadanya. Bersyukur ia masih memiliki sahabat dan teman-teman yang senantiasa ada untuk menemani dan menghiburnya.
"Semangat, bebs" Putri menyemangati Si Mini kesayangannya. "Nih, gue bikin nasi goreng spesial buat Lo" menggeser lembut sepiring nasi goreng, lengkap dengan telur dadar dan potongan-potongan sosis.
Jenn tersenyum kecil lalu menerimanya. Memasukan suapan pertama ke mulut. "Hmmm" merasakan dan menikmati. "Enak, enak banget, bebs" dengan mata berbinar dan penuh semangat kembali memasukan suapan berikutnya.
Pasalnya selama ini, Rossa-lah yang selalu memasak makanan kesukaannya itu. Karena dari mereka bertiga, yang paling jago masak adalah Rossa. Tapi sepertinya kali ini Putri berusaha mengerahkan seluruh keahliannya untuk membuat sesuatu yang dapat menyenangkan hati sahabatnya.
"Yoi dong, bikinnya kan pake cinta" senang karena usahanya tak sia-sia.
"Siap. Apapun buat Lo, bebs" mencubit pipi Jenn terlihat lucu karena penuh dengan makanan.
"Cepetan. Jangan telat" Rossa menyela obrolan keduanya.
Tak membutuhkan waktu lama. Setelah sarapan, ketiganya bergegas ke kampus. Seperti biasanya, Rossa dan Jenn dengan scoopy. Sedangkan Putri selalu sendiri mengendarai trail kesayangannya.
Sudah seminggu ini, Reza tak lagi menjemput Jenn. Dia ingin menghindar dari pertanyaan gadis itu tentang Abangnya. Reza tidak ingin mengecewakan gadis itu. Tetapi dia juga tetap menjalankan tugasnya untuk menjaga gadis itu. Dengan selalu memantaunya dari kejauhan.
Setibanya di depan gerbang kampus, Jenn merasa dejavu. Pemandangan yang sama seperti beberapa waktu lalu. Dia melihat Kenn yang membonceng seorang gadis cantik yang sama seperti hari itu. Gadis yang merupakan adik tingkat, yang sempat membuatnya kesal. Dan lagi rasa kesal itu muncul kembali kepermukaan hatinya, setelah sempat membuatnya ragu dengan hatinya sendiri.
Sampai diparkiran pun, Jenn masih saja melihat pemandangan yang seakan menarik seluruh perhatiannya.
Rossa yang sudah berhenti dan menunggu yang dibelakangnya untuk turun lebih dulu, namun tak ada pergerakan sama sekali. Penasaran dengan apa yang sedang dilakukan oleh gadis itu, Rossa pun mengarahkan kaca spion agar dapat melihat wajah cantik sahabatnya dibelakang.
Apa yang sedang dilihatnya ?
Mengangkat pandangannya lalu mengarahkan sesuai arah pandang Jenn. Kaget dan juga bingung.
Itu lelaki yang pernah nganterin dia pulang dari club malam itu bukan ? yang jaketnya juga masih ada padanya. Bener, yah gak salah lagi. Siapa si namanya ?
Lama, ia pun ikut melamun dan berpikir.
Katanya sepupunya Reni ... Ah, kak Kenn.
"Jenn !" panggil seorang lelaki.
Jenn dan Rossa sama-sama tersadar dari lamunannya. Bahkan dua orang disana pun ikut menoleh. Jenn buru-buru mengalihkan pandangannya ke tempat lain begitu Kenn menatapnya.
Benar dugaan gue. Dia orang yang sama waktu itu yang menyita perhatian Lo. Apa hubungan kalian ?
"Eh, hai Za. Kemana aja seminggu ini ? udah mulai kayak Abang Lo yah, gak mau inget ma gue lagi ? jahat !" Jenn meninju pelan bahu Reza, dengan wajah cemberut.
"Hahaha,,, siapa bilang ? gue gak kemana-mana kok. Gue selalu ada dideket Lo. Gak sanggup jauh-jauh dari Lo" menggoda Jenn lalu mengacak rambutnya.
Pemandangan yang mengusik mata serta hati seorang Kenn.
Ck, lelaki yang sama waktu itu. Dan aku kalah lagi kali ini ? Hah, mudah banget yah berpaling secepat itu.
"Ayo jalan. Nanti telat loh" ajak Reza. Dan ketiganya pun berlalu dari sana, dengan sebelumnya Jenn yang melirik sekilas ke arah lelaki yang masih saja menatapnya.
Aiihs, kenapa juga harus kesal sih. Jelas-jelas dia udah punya kekasih. Ck, perasaan bodoh !
Tanpa ada dari mereka bertiga yang menyadari satu hal. Bahwa Jenn tak lagi menanyakan tentang Alvino. Meski tadi sempat menyinggung namanya, namun itu hanya bentuk menghindari tatapan Kenn.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈ
.
.
.
.
.
to be continued ...
______________________
Huaaa makaciiiih zeyengΒ²ku yang selalu setia nungguin STP πππ
mkaciiihhh udah mampir πππ€π€ jangan pada bosen yah ππ€ππ
jangan lupa tinggalkan like, koment, dan rate. dan tambahkan juga ke favorit β€οΈβ€οΈβ€οΈ
sekali lagi makasih semuanya ππππ
Selamat membaca ππ€π€