
_Aku tak pernah menunggumu. Kamu tak pernah sengaja datang. Tapi kita sengaja dipertemukan Tuhan. Entah untuk saling duduk berdampingan, atau saling memberi pelajaran. Entah untuk saling mengirim undangan pernikahan, atau duduk bersama di pelaminan_ RM 1994
______________
Waktu sudah menunjukkan pukul 11.30. Seorang lelaki tampan teringat akan janji untuk menjemput adik sepupunya, yang diantarnya tadi.
Dia Kenn. Tadi sempat mengantar Reni, namun didepan kampus saja. Tidak masuk ke parkiran. Dirasanya sudah waktunya sepupunya itu pulang, Kenn lalu melajukan motornya, kembali menuju kampus. Kali ini dia menuju parkiran dan memarkirkan motornya disana.
Kenn hendak melepas helmnya sebentar, namun matanya menangkap sesuatu yang tidak asing.
"Sepertinya, gue kenal ini mobil" dahinya berkerut.
"Akh ,,, mobil pacarnya. Iya, ini mobil yang sama yang gue liat didepan rumah sakit. Shit !" Kenn mengumpat. Pasalnya dia tidak ingin melihat pasangan romantis itu dalam waktu dekat. Mungkin sampai rasa dihatinya untuk gadis pencuri hati itu menghilang.
"Berarti mereka ada disini. Ck, kirain nggak bakalan masuk kampus, asik pacaran aja. Eh, datang juga ternyata. Balik akh, biarin si Reni marah"
Kenn mengancingkan helmnya kembali. Bergegas ingin meninggalkan tempat itu. Tidak ingin terluka dengan pemandangan menyakitkan nantinya. Namun terlambat.
Dari arah samping, komplotan gadis-gadis cantik dan pecicilan, tengah berjalan menuju parkiran. Tak terkecuali pasangan romantis yang ingin dihindarinya.
Egonya menyuruh untuk tak melihat, namun matanya tak dapat berbohong. Bahkan, detak jantungnya masih tetap bersenandung sama setiap kali melihat sosok itu. Hatinya pun tak memungkiri, betapa dia merindukan gadis itu. Ya, rindu yang tak semestinya.
Kenn terus saja menatap mereka dalam diam. Tapi fokusnya hanya pada satu orang diantara mereka.
"Kak Kenn !!" teriak Yuni sambil melambaikan tangannya pada Kenn. Pecicilan mulai on.
Seorang gadis cantik yang tangannya tak lepas dari genggaman tangan besar kekasihnya, tersentak. Jenn yang sedari tadi asik bercerita dengan kekasih dan teman-temannya, seketika langsung terdiam. Pandangannya lurus tepat pada lelaki tampan yang duduk di atas motor. Jenn selalu merasa seperti kelainan jantung setiap bertemu orang itu. What the hell.
"Hai, kak Kenn ! nungguin Reni yah ?" sapa Reta, begitu sampai di dekat Kenn. Lalu hanya mendapat anggukan dan senyum manis dari Kenn.
"Sekali-kali nungguin gue dong, kak" ucap Maureen dengan centilnya.
Lelaki tampan itu tertawa kecil melihat tingkah teman-teman adiknya. Namun matanya tak lepas memandang Jenn. Lama, sampai dia memutuskan pandangan itu dan berpura-pura melihat ke tempat lain.
"Apa kabar, kak ?" tanya Yuni mengalihkan kecanggungan ini. Dia membaca situasi ini dengan baik. Terlihat, Kenn begitu menahan sesuatu dalam dirinya. Alvino, yang mulai terlihat cemburu dan tidak suka ada yang menatap kekasihnya. Dan Jenn, yang selalu tak berdaya disamping Alvino.
Dia merasa tak enak hati, sejak Kenn menolong Jenn malam itu. Dia tahu, Jenn belum berterimakasih pada lelaki itu.
"Baik, sehat, nggak sakit-sakit" jawab Kenn. Hati aja yang sakit. Batin Kenn.
"Kalian semua ? baik-baik aja kan ?" ucap Kenn yang tak lagi peduli dengan Jenn dan kekasihnya. Dia melihat Alvino yang mulai tak suka dengan tatapannya tadi.
"Lebih baik lagi malah, kalo liat kak Kenn terus deh" Maureen mengedikan matanya dan membuat yang lain tertawa.
Kenapa rasanya tidak terima, saat dia tidak menegurku ? apa dia marah, karena gue nggak terimakasih sama dia ? apa karena ada Alvino disamping gue ? Batin Jenn bertanya-tanya.
"Ok girls, kita balik dulan yah" pamit Kenn pada gadis-gadis itu.
"Bye, kak Kenn ganteng. Hati-hati, see you again" ucap Reta.
"Bye, semuanya" ucap Reni dan beralih pada Jenn.
"Duluan ya, Jenn" Reni tersenyum kecil pada gadis itu, dan berlalu bersama kakak sepupunya. Meninggalkan orang-orang yang masih berdiri disana dengan tanya masing-masing.
Sepertinya ada yang aneh. Jenn dan kak Kenn aneh. Alena.
Gue yakin, kak Kenn menyukai Jenn. Dan Jenn pasti nggak enak karena belum ngucapin terimakasih. Yuni.
Siapa lelaki itu ? sepertinya pernah liat. Hah, tatapan itu, hehe, tatap aja sepuasnya. Jangan sampai sentuh. Dia hanya milik gue. Alvino.
Maaf, kak. Lagi-lagi kita bertemu. Tapi selalu di waktu yang tidak tepat. Tapi kenapa rasanya nggak suka, saat kakak nggak negur gue ? malah sepertinya ngehindar dari gue. Rasanya aneh. Jenn.
"Ini kenapa pada ngelamun ?" tanya Reta.
"Eh, enggak kok. Nggak kenapa-kenapa" jawab Jenn dengan kikuk.
Alvino menundukkan pandangannya, mata elangnya menatap iris hitam Jenn dengan tajam. Mencari sesuatu yang dirasainya berbeda, sejak adanya lelaki tadi. Alvino ingin menyelami hati dan pikiran sang kekasih. Namun tak dapat menemukan apapun disana.
Jenn yang mendapat tatapan tajam dari mata elang kekasihnya, jadi salah tingkah. Gadis itu mulai was-was. Dia tahu persis, apa yang ada di pikiran lelaki itu. Jenn berusaha menguasai diri dan menunjukkan sikap yang biasa saja.
"Ada apa, bi ? balik yuk" ucap Jenn menggoyangkan tangannya yang masih berada digenggaman Alvino.
Lelaki itu bergeming. Masih menatap Jenn dengan tatapan yang sama. Hingga dia mengakhiri sendiri, kala merasa perasaannya mungkin salah.
"Ih, Jenn, masa mau balik sekarang ? nggak asik akh. Ini kan sabtu, jalan-jalan yuk" ajak Fio, yang diam sejak tadi.
"Tau nih, pacaran mulu. Lupa sama teman" cibir Alana.
Alvino terkekeh mendengar omelan teman-teman kekasihnya.
"Ok, kalo gitu kita nonton aja yah, hon" tanya Alvino pada kekasihnya. Jenn mengangguk setuju.
"Udah, ayo. Tunggu apa lagi ? gasssss" ucap Maureen penuh semangat.
Keenam gadis-gadis cantik dan satu lelaki tampan disana pun, bergegas masuk ke mobil masing-masing. Meninggalkan area kampus, menuju bioskop.
πΈπΈπΈπΈπΈ
"Kak, masih suka yah, sama Jenn ?" tanya Reni, saat masih berada diatas motor.
Namun tak juga ada jawaban dari sang kakak, yang masih fokus berkendara. Bukannya tidak mendengar. Hanya saja, Kenn tidak punya jawaban untuk pertanyaan itu.
"Berhentilah kak, sebelum terlalu jauh" saran Reni.
Bungkamnya lelaki itu, cukup untuk dipahami oleh Reni. Gadis itu kemudian menepuk pelan pundak kakak sepupunya.
"Kalo emang jodoh, tak akan kemana kak. Nggak usah terlalu dipikirin" ucap Reni menyemangati. Seolah mengerti perasaan lelaki itu.
Kenn terkekeh mendangar itu. "Nggak mikir kesitu juga, Ren. Mau ngehindar aja dulu. Mungkin sampai rasa ini memudar dengan sendirinya" jelas Kenn.
"Jadi, tadi itu kakak emang sengaja nggak mau negur Jenn ?" Kenn mengangguk.
"Iya kak. Lagian, pacarnya posesif gitu, pasti cemburuan kalo ada cowok lain yang negur Jenn" sambung Reni.
"Yaps, kelihatan banget" Kenn tertawa kecil, mengingat tatapan Alvino tadi. "Wajarlah lah, Ren"
Setelah sampai didepan rumah, Reni pun turun dan memaksa Kenn untuk masuk. Namun lelaki itu menolak ajakan sepupunya. Dan segera berlalu dari sana.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Di bioskop
Alvino dan Jenn duduk di deretan belakang teman-temannya. Alasannya, gadis-gadis itu tidak ingin melihat pasangan yang seperti perangko itu, menunjukkan keromantisan didepan mereka.
Namun tanpa mereka sadari, Jenn begitu gelisah sedari tadi. Jenn pun tidak mengerti dengan dirinya. Padahal gadis cantik itu tengah berada dalam rangkulan hangat lengan kokoh sang kekasih.
Dering ponsel Alvino berbunyi, sedikit mengusik suasana saat itu. Alvino menerima panggilannya dengan nada pelan. Sebentar saja, terdengar ditelinga Jenn, lelaki itu mengiyakan ajakan seseorang. Setelah itu sambungan telepon pun diakhiri oleh Alvino.
"Siapa ?" tanya Jenn.
"Teman, hon"
"Ngajak kemana ?"
"Nguping yah, hm ?" Alvino mengusap lembut pipi Jenn dan mencubit pelan.
"Enggak, kedengaran aja kok" Jenn cemberut.
Alvino terkekeh. "Mau ikut ?"
_Cinta tak berupa tatapan satu sama lain, tetapi memandang keluar bersama ke arah yang sama_
B.J. Habibie
______________________
.
.
.
.
.
to be continued ...
___________
Hai hai, readers tersayang π
jangan lupa lupa tinggalkan jejak yah ππ
Gak perlu vote kok π Like and komen aja cukup π€
Thanks before ππ€
~ Happy reading buddies ~