Simple But Perfect

Simple But Perfect
Tentang Mengikhlaskan



...~ Happy Reading ~...


...___________________...


...*...


...*...


...*...


"Cukup, Bang!" Menampik perkataan abangnya dengan keras. "Jangan salahkan dia, salahkan diri Abang sendiri!" Membalas abangnya dengan teriakan.


Alvino terkekeh. "Ah, rupanya Lo lebih ngebelain ****** itu dari pada abang Lo sendiri."


Prok, prok, prok!!!


"Udah ngerasain juga? Nyicip berapa kali?" Bertepuk tangan dan kembali dengan pertanyaan yang membuat darah adiknya mendidih. Adik yang tak lain adalah Reza.


Bugh!


Satu balasan bogeman di rahang Alvino. "Jaga mulut Abang! Dia gak seperti yang Abang pikir. Dia wanita baik-baik! Seharusnya Bang Vino yang lebih kenal sama dia dibanding gue."


"Ha-ha-ha." Terbahak. "Wanita baik-baik yang ninggalin kekasihnya, lalu hamil dengan laki-laki lain? Ya, dia baik, baik untuk dinikmati sebelum menikah, begitu? Ha-ha-ha." Tertawa hambar. "Dia bukan Jenn yang gue kenal!"


Reza geram mendengar kata-kata Alvino yang terus memaki Jenn, tapi sebenarnya ia juga kasihan melihat kondisi kakaknya itu. Lelaki tampan dengan sejuta pesona yang selalu memikat hati banyak kaum hawa, bahkan dengan sudi melemparkan tubuh mereka untuknya, kini terlihat menyedihkan dan kacau. Pesonanya seakan hilang ditelan kekecewaan dan sakit hati, hanya karena seorang wanita.


Dia yang tidak pernah berbicara kasar pada abang nya, apalagi sampai menyakitinya seperti tadi, tapi situasi memaksanya melakukan hal yang tidak pernah ia lakukan.


"Lebih baik Abang tidur. Kita bicarakan ini setelah mabuk Abang benar-benar hilang." ucapnya dan hendak berlalu pergi dari sana, tapi suara Alvino menahannya.


"Lo masih mencintai dia juga? Sebesar itukah?"


Reza menghentikan langkahnya. "Level cinta gue tentang mengikhlaskan, Bang! Gak tau sama Abang, tapi yang pasti, dengan membenci akan terasa jauh lebih sakit." Berucap tanpa berbalik menatap abangnya. Ia pun segera keluar dari kamarnya.


Entahlah, orang mabuk itu mendengar dan memahaminya atau tidak, Reza tak lagi peduli. Ia keluar dan mencari angin malam yang begitu dingin agar dapat meredakan emosinya.


Lelaki itu memilih duduk pada sebuah bangku yang berada di taman samping rumahnya. Ia merogoh ponsel dan hendak menelpon Jenn. Ia ingin menanyakan apa yang terjadi hari itu, serta ia pun ingin meminta maaf atas apa yang dilakukan kakaknya.


Belum juga untuk menelpon karena ia merasa tidak enak hati dengan Kenn, tiba-tiba ponselnya berdering dan di sana tertera nama Jenn. Segera ia menerima panggilan itu.


πŸ“± "Halo, Jenn!"


πŸ“± "Ya halo, Za! Gue ...."


πŸ“± "Mau ngomong tentang bang Vino kan?"


πŸ“± "Lo udah tau yah? Gue mau minta tolong sama Lo!"


πŸ“± "Iyah, gue kaget dia udah ada di sini. Gue minta maaf atas namanya. Maafkan gue yang gak bisa menghentikan ini semua, Jenn!"


πŸ“± "Hei, gak usah ngerasa bersalah gitu. Ini bukan salah Lo sama sekali. Dalah, stop nyalahin diri Lo dalam masalah ini. Ok?"


πŸ“± "(Terkekeh) baiklah, Nyonya Kenn. Mau minta tolong apa tadi?"


πŸ“± "Oh ya, gue mau ketemu sama abang Lo, gue perlu bicara sama dia. Jadi gue minta, Lo sampaikan ke dia. Dan tanyain mau lokasinya di mana? Lalu kabarin gue, yah."


πŸ“± "Lo yakin? Lo gak takut dia ...."


πŸ“± "Tenang aja, suami gue bakal temenin kok. Tolong yah, Za!"


πŸ“± "Ok! Siap laksanakan!"


πŸ“± "Thanks before, Za!"


Sementara di tempat Jenn dan Kenn, drama sebelum tidur selalu saja dimulai. Kenn dengan perhatiannya akan membuatkan susu untuk sang istri, dan wanita itu selalu saja beralasan untuk menolak. Kenn tidak pernah menyerah, dia selalu memiliki sejuta cara untuk membujuk, merayu, dan meluluhkan wanitanya. Drama kecil itu menjadi momen indah untuk Kenn, dan dia sangat menikmati perannya sebagai seorang suami.


Sang waktu saling berlomba mengejar hari, meninggalkan malam dan meraih pagi. Sang fajar mulai menyingsing di ufuk timur, mengusir gelap. Burung-burung bersenandung ria memberi semangat tuk memulai hari baru.


Kenn lebih dulu terbangun. Seperti biasa, ia selalu menyiapkan sarapan untuk calon ibu dari anaknya itu. Setelah menyiapkan segalanya, ia baru akan membangunkan sang ratu dalam hidupnya.


"Selamat pagi, Sayangku!" Membanjiri wajah Jenn dengan kecupan. "Bangun ... udah kesiangan ini." Mencubit hidung bangir istrinya gemas.


Jenn menggeliat merasa terusik. Perlahan ia mulai membuka matanya setelah menyesuaikan dengan cahaya yang ada dalam kamar.


"Hoaam! Pagi, Sayang!" ucapnya dengan suara serak dan sangat pelan. "Maaf, aku telat lagi." Memandang wajah tampan suaminya yang sedang duduk di sampingnya.


Kenn tersenyum dan mengusap kepala wanitannya. "Gak papah, Sayangku. Ayo! Sekarang bangun, mandi, sarapan, setelah itu kita ke pasar. Mau gak?" tawar Kenn pada istrinya.


Tidak menunggu lama, Jenn langsung bangun dan terduduk. "Mauuuu." Bergelayut manja di lengan suaminya. "Tapi gendong." rengeknya dengan kedua tangan yang terangkat.


Lelaki tampan itu terkekeh dan dengan senang hati, ia mengabulkan permintaan sederhana dari istrinya. Membawa wanita cantik itu menuju kamar mandi dan keduanya pun mandi bersama. Setelah itu mereka sarapan, kemudian langsung ke pasar.


*****


Sejam kemudian mereka sudah kembali dari pasar. Keduanya kaget mendapati Putri dan Rossa yang tengah menunggu di depan rumah. Ternyata keduanya gadis itu khawatir karena belum mendapatkan kabar tentang Jenn yang menghilang kemarin. Kenn lupa untuk mengabari mereka. Melihat Jenn dalam keadaan baik-baik saja, kedua gadis itu bernafas lega.


Keempat orang itu lalu masuk ke dalam, dan Kenn membiarkan tiga perempuan di sana berkutat dengan alat masak di dapur, sementara ia memilih menonton TV. Saat itu, ia mendapat pesan masuk di ponsel istrinya dengan nama kontak Reza. Terlihat di sana, Reza memberikan alamat yang harus mereka datangi sesuai permintaan Alvino, serta waktu yang ditentukan yaitu sore nanti. Kenn lalu memberitahukan hal itu pada istrinya. Rossa dan Putri kaget.


"Lo yakin, Bebs?" tanya Putri setelah Kenn menghilang dari area dapur.


Jenn tersenyum kecil menanggapi pertanyaan sahabatnya. "Suami gue yang minta, dan dia yang temenin, jadi tenang aja. Tau kan, kalo ada dia di samping gue berarti ...." Sengaja menggantung kalimatnya.


"Semuanya amannnnnn!" jawab kompak ketiganya. Setelah itu mereka pun tertawa bersama dan menyelesaikan kegiatan memasak.


Jenn menyajikan makanan di atas meja, lalu memanggil Kenn. Mereka berempat lalu menikmati makan siang bersama. Setelah itu Putri dan Rossa kembali ke rumah mereka, sedangkan Jenn dan Kenn beristirahat sebentar sambil menunggu waktu sore untuk bertemu dengan Alvino.


..._____πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦_____...


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


...To be continued ......


...__________________...


...###...


Hay semuanya πŸ‘‹ maaf telat up 2 hari πŸ™ˆ


Terima kasih buat yang selalu menunggu dan uang sudah mampir πŸ™


Jangan lupa like dan komen yah 😍


Sampai jumpa di episode berikutnya πŸ€—


Ig author : @ag_sweetie0425