Simple But Perfect

Simple But Perfect
Kirain Pacarnya



Teriknya matahari saat siang menjelang sore, seolah membakar habis rasa marah yang tadi sempat menggebu di hati seorang Jenn. Kesal mungkin lebih tepatnya, karena hampir seharian ini, dia belum menghubungi kekasihnya. Atau mungkin sebaliknya, kekasih yang jauh itu mungkin saja sudah berkali-kali menghubunginya seperti biasa.


Jenn memaklumi. Ini juga bukan sepenuhnya salah lelaki itu, tetapi juga kerena kecerobohannya. Dia masih tetaplah si Mini yang baik hati, yang menjadi kesayangan teman-temannya.


Pemuda tinggi dan tampan itu melangkah meninggalkan tempatnya berpijak. Semakin mendekati Jenn dan yang lainnya, saat dipanggil adik sepupunya. Ia disambut teriakan histeris ke empat teman Jenn yang terpesona padanya.


Tidak dengan Jenn dan Alena. Walaupun tak dipungkiri, hati kecil Jenn mengakui adanya fakta bahwa, karya Tuhan yang satu itu, memang mampu membuat kaum hawa manapun terhipnotis. Tapi, bagi seorang Jennifer Greecya yang mempunyai kriteria-kriteria kekasih idaman, tentunya tidak mudah untuk takluk sembarangan.


"Kak, kenalin ini teman-teman gue, dan semuanya ... ini kakak sepupu gue, kak Kenn!" ucap Reni memperkenalkan teman-temannya pada sang kakak, begitupun sebaliknya.


Lelaki tampan yang bernama Kenn itu, hanya menanggapinya dengan senyum kecil yang menambah pesonanya.


"Hai! Gue Fio, boleh minta nomernya nggak?" Sambil mengedipkan matanya yang disambut tawa kecil Kenn.


"Aakhh Kak, please deh, nggak usah ketawa gitu juga kali. Nggak kuat hati adek. Meleleh, Kak liatnya," gombal Fio, yang sukses mendapat toyoran dari teman-temannya.


"Hai kak, gue Maureen. Kak, emaknya ngidam apa sih? Gantengnya kebangetan deh?" goda Maureen dengan tidak melepaskan tangan Kenn


"Udah ya perkenalannya," Retha menarik paksa tangan Maureen agar terlepas dari tangan Kenn. Orang dia juga mau kenalan, Haha.


"Halo kak, gue Retha ...."


"Gue Yuni, kak!" potong Yuni yang dipelototi Retha.


"Gue belum selesai, Nyuk." geram Retha yang ditanggapi Yuni dengan cengengesan.


Reni hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia sudah tahu kegilaan Jenn and the genk-nya.


Di samping itu, Dion dan yang lainnya yang hanya diam dari tadi, dan memilih menonton para gadis di sana, malah dibuat panas oleh kehadiran seseorang yang seakan-akan telah mengalahkannya dalam ajang kontes ketampanan.


Apalagi ia menangkap mata lelaki itu yang melirik Jenn berulangkali. Oh no! dia tidak ingin ada saingan yang bertambah banyak. Juga ia tahu jika lelaki itu yang sudah merusak ponsel gadis pujaannya, dari pembicaraan-pembicaraan para ladies itu sejak tadi, membuatnya bertambah panas.


"Ehm," Dion berdehem menyita perhatian mereka. "Oh, ini dia orangnya, yang sudah merusak ponsel Lo tadi Jenn?" tanyanya dengan gaya angkuh pada Jenn.


Namun, matanya menatap tajam pada sosok tampan yang dianggapnya saingan itu.


Yang ditatap tetap biasa saja tak juga menanggapi. Dia berpikir mungkin itu kekasihnya, jadi tidak masalah jika dia ingin marah karena sudah merusak ponsel pacarnya. Ken memaklumi.


"Iya kak, tapi maaf! Bukan urusan, kak Dion. Ini urusan gue sama dia. Kak Dion gak perlu repot, gak usah nungguin gue juga, karena teman-teman gue semuanya masih di sini nemenin gue." terang Jenn selembut mungkin, tapi ada ketegasan di sana.


Dion yang seperti ditolak, tentu saja marah. Apalagi Jenn menolak niat baiknya di depan lelaki asing yang belum apa-apa sudah menjadi saingannya itu. Tapi dia tidak ingin menunjukkan kemarahannya di hadapan Jenn, gadis pujaannya.


"Oh, it's oke. Kalo gitu gue dan yang lainnya cabut duluan ya," pamitnya pada Jenn dan para ladies, lalu menatap tajam pada Kenn dengan rahang yang mengeras dan sebelah tangan terkepal di balik saku celananya.


Kirain pacarnya, ternyata enggak. Ah, kok gue ngerasa senang gitu ya? Tapi sepertinya dia menyukai gadis itu. Akh mikir apa sih gue.


Kenn bermonolog dalam hati sambil menggelengkan kepalanya.


"Eh, hah, bagaimana, Ren?" Kenn kaget saat tepukan kecil mendarat di lengan kekarnya, sekaligus malu karena terpergok sedang melamun. Ia baru menyadari jika lelaki yang menatapnya dengan tatapan permusuhan tadi telah menghilang dari sana.


"Hayooo, lagi mikirin siapa? Pacar, ya?" Reni sok tahu menggoda kakaknya.


"Gak ada! Jangan sok tau," jawab Kenn mencubit pelan pipi adiknya.


"Auw, mau dong dicubit kak Kenn yang ganteng," kata Fio dengan gemas.


"Sudah ah. Sekarang mana ponselnya teman gue kak. Sudah diperbaiki kan?" tanya Reni.


"Oh iya hampir lupa," baru teringat misinya beberapa saat lalu. Merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel milik Jenn.


"Emm, ini ponselnya, Nona. Sekali lagi saya minta maaf," mengembalikan benda pipih itu pada sang pemilik, disertai permohonan maaf tulus.


Jenn menerimanya dengan senyum senang karena ponselnya telah kembali dengan utuh.


"It's oke, handphone gue dah kembali dengan utuh, dan udah nggak ada masalah lagi kan? Jadi nggak perlu minta maaf!" balas Jenn ramah dengan senyum khasnya.


"Karena masalah sudah selesai, hari sudah petang, mari kita pulang!" ajak Alena yang sedari tadi sudah ingin back to home.


..._____☘️☘️☘️☘️☘️_____...


.......


.......


.......


.......


.......


...to be continued .......


.......


.......


.......


Happy reading buddies 😊❤️


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yah 🙏🥰🥰🥰