
...~ Happy Reading ~...
...___________________...
...*...
...*...
...*...
...Persis seperti riak gelombang di bibir pantai,...
...Kau datang dengan badai pesona mu....
...Memporak-porandakan hatiku ......
...Menghancurkan jiwaku ......
...Lalu kembali pergi begitu saja,...
...Tinggalkanku dengan kacau....
...Selamat untuk keberhasilanmu dalam hal ini....
..._Alvino Dharma_...
...πππ...
Sebuah Ferrari 488 GTB, melesat dengan kecepatan maksimalnya 340 km/jam, dari sebuah pantai menuju arah ke luar kota. Tampak sang pengemudi begitu frustasi hingga melajukan mobilnya melewati jalanan sepi secara brutal.
Saat itu hari mulai gelap. Reza terlihat begitu panik serta khawatir. Ia memaki dirinya sendiri karena membiarkan abangnya pergi dalam suasana hati yang kacau.
"****!" Bodoh, bego ... arrrgghh." Meninju udara dengan kesal. "Kenapa tadi gak rebut aja kunci dari dia sih? Bego, bego." Memukul-mukul kepalanya sendiri.
Tadi saat ditelepon oleh Kenn, lelaki itu langsung bergegas datang menemui kakaknya di pantai. Tiba di sana, ia kaget dan juga sedih melihat Alvino yang terus berteriak memaki dan menyumpahi Jenn dengan berbagai sumpah serapah.
Kedua kakak beradik itu sempat bertengkar karena Alvino yang tidak mau mendengarkan nasihat adiknya, dan juga tidak mau pulang ke rumah. Hingga akhirnya lelaki menyedihkan itu merebut kunci mobil yang terlihat di genggaman sang adik.
Reza yang ingin menghentikannya, kalah cepat dengan langkah lebar Alvino. Lelaki itu langsung menghidupkan mesin mobil dan meninggalkan adiknya di sana.
Reza memahami hal itu, dimana kakaknya butuh pelampiasan. Namum, ia pun khawatir dengan keselamatan lelaki malang itu. Tak tinggal diam, Reza memesan sebuah taksi. Tak berapa lama taksinya datang dan ia pun meminta sang sopir untuk berpindah, agar ia yang mengemudikan mobil tersebut.
Sang sopir yang telah berpindah posisi di bangku penumpang, secara mendadak mengencangkan sabuk pengamannya dan berpegangan dengan kuat. Lelaki yang terlihat lebih tua dari Reza saat itu, tampak pucat pasi dengan kinerja jantung dua kali lipat lebih cepat. Dengan bibir yang terkatup dan mata yang terpejam kuat, sopir itu merapalkan doa tak putus-putus.
Bagaimana tidak, Reza menjalankan taksinya tak kalah brutal dari sang kakak. Ia berusaha mengejar Alvino yang sudah jauh menghilang dari sana.
...*****...
Sementara itu di kediaman Kenn dan Jenn, tampak berbeda dengan situasi yang di hadapi Alvino. Sepasang suami-istri di sana sedang bercanda hangat, dengan Kenn yang berusaha mengembalikan keceriaan sang istri tercinta.
Jenn begitu sedih dan sakit melihat wajah tampan suaminya yang di penuhi memar. Wanita cantik itu baru saja selesai mengompres wajah dan bagian tubuh lain suaminya yang terdapat memar akibat pukulan Alvino, dengan menggunakan es.
Keduanya kini sedang duduk di ruang keluarga yang sekaligus juga ruang nonton. Meskipun wajahnya di penuhi memar, tapi aura tampan itu masih saja bersinar. Rambutnya yang tampak masih basah sehabis mandi, dan bertelanjang dada dengan hanya menggunakan celana rumahan selutut, lelaki itu terlihat sangat cool dan memesona.
Sejak awal bertemu lelaki itu pertama kali, hati kecil Jenn sudah memujanya. Meski bibirnya tak pernah mengakui hal itu, tapi hatinya terus saja bergetar menyanjung dalam diam. Jenn akui, saat masih bersama Alvino, ia tak pernah tergoda dengan adam manapun. Tapi pada akhirnya kehadiran Kenn mampu meruntuhkan benteng kesetiaannya. Bahkan diam-diam ia mengagumi sosok sederhana Kenn.
Wanita cantik itu dulunya memiliki kriteria khusus bagi mereka yang ingin memacarinya. Salah satu poin utama yaitu, harus dari kalangan elite yang tajir melintir. Namun, nyatanya kehadiran Kenn telah mematahkan segala paham yang dianutnya selama ini. Hingga saat ini, pesona lelaki yang telah menjadi suaminya itu masih saja mampu menggetarkan hatinya, membuatnya semakin dalam mencintai tanpa syarat dan kriteria apapun.
"Apa? Kok liatnya gitu amat?" tanya Kenn begitu memergoki sang istri yang sedari tadi menatapnya.
Kenn ikut tersenyum. "Kalo mau ngeledek juga gak papah. Aku tau ... aku gak setampan d ... auwh," ringis Kenn saat Jenn meninju dadanya. "Ampun, Nyonya. Saya gak ngomong macem-macem lagi." Mengacungkan dua jarinya ke atas.
Jenn melotot marah. Dia tidak suka ketika Kenn membanding-bandingkan dirinya dan Alvino, yang pada akhirnya hanya membuat suaminya itu merasa kurang dari Alvino yang terbilang sempurna.
Kenn menarik tubuh kecil Jenn agar berpindah ke pangkuannya. Lelaki itu lalu memeluk erat tubuh mungil istrinya dengan mata yang terpejam. "Terima kasih sudah memilih lelaki yang tak sempurna ini." Kenn membuka matanya lalu menatap istrinya. "Salahkah aku mencintaimu seperti ini?" Ada rasa sedikit bersalah yang tersirat dari tatapannya. Namun, kembali lagi ia mengingat masa-masa sulit baginya untuk mendapatkan satu-satunya wanita yang pertama kali menyentuh hatinya saat itu. Ia merasa berhak untuk menikmati buah dari kesabarannya selama ini. "Maafkan aku yang egois dan tak ingin melepasmu." Mengusap lembut pipi istrinya.
Jenn menatap netra pekat suaminya begitu lekat. "Jika ada yang menyalahkanmu, aku akan selalu membenarkanmu." Menangkup pipi Kenn dengan kedua tangannya. "Dan egoislah, kamu berhak melakukannya. Kalaupun tidak ... aku memaksamu untuk tetap egois!" Jenn langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Kenn dan ia pun menyatukan bibir mereka. Sepasang suami-istri itu saling menyelami hati masing-masing dan saling berbagi rasa cinta yang besar, yang tersampaikan lewat ciuman lembut bukan *****.
Beberapa menit berlalu dan dering ponsel dengan tidak tahu malunya, menghentikan kegiatan dua insan yang saling memadu kasih saat itu.
Jenn terkekeh melihat wajah kesal suaminya yang merasa sangat terganggu. "Sebentar, Sayang!" Jemari lentiknya menyapu wajah tampan sang suami dari atas hingga ke bawah, lalu ia pun menggeser layar ponselnya dan menerima panggilan.
π± "Halo,"
π± "...."
Tiba-tiba Jenn tersentak dan langsung berdiri dari pangkuan suaminya dengan wajah sedikit cemas. Kenn pun dibuat bingung dan penasaran terhadap sikap istrinya yang berubah mendadak.
"Siapa yang telepon, Yang?"
..._____π±π±π±π±π±_____...
...Aku tidak pernah seegois ini sebelumnya....
...Untuk kali ini saja .......
...Biarkan egoku menjadi perisai,...
...Tuk melindungi hatiku dan hatimu, ...
...Biar cinta ini tetap abadi meski termakan zaman....
..._Kennand Wiradana_...
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
...To be continued ......
...__________________...
...#####...
Hay semuanya π ketemu lagi. Maaf baru bisa up πJujur nih gaes ... aku lagi ngantuk berat ngetik part ini. Kecapean ngurusin dunia nyata soalnya π jadi kalo kurang pas atau gimana, dimaafkan yah gaes π€
Tapi terima kasih buat kalian semua yang selalu setia nungguin Jenn, Kenn, dan Alvino.
Jangan lupa like dan komen yah π
Sampai jumpa di episode berikutnya.