
My Al β£οΈ
Seharian gak ada kabar π
Pesan singkat yang dikirimkan Jenn pada kekasihnya yang tidak ada kabar seharian. Tidak seperti biasanya. Jenn sudah terbiasa dengan ucapan selamat pagi dari lelaki tampan berlesung pipi itu.
Rindu. Itu pasti ! tetapi juga ada hal lain yang membuat gadis cantik itu sangat mengharapkan kabar dari sang kekasih. Kepastian ! kepastian tentang rasa dihatinya. Bukan tentang hubungan mereka. Baginya, hubungan mereka akan baik-baik saja. Jenn hanya ingin memastikan hatinya, serta mengikis rasa nyaman yang pelan-pelan telah melingkupi sebagian hatinya. Untuk itu, Jenn takut tidak ada komunikasi dari kekasihnya. Dan bagi Jenn sendiri, komunikasi itu hal utama dalam sebuah hubungan. Apalagi bagi mereka berdua yang sama-sama pejuang LDR.
"Kenapa wajah Lo kusut gitu ?" Rossa melihat Jenn yang sejak pulang dari kampus tadi mager ( malas gerak ) dan hanya rebahan.
"Gak, males aja" ucap Jenn dengan malas. Diambilnya bantal dan menutupi seluruh wajahnya.
"Ayo makan, dari tadi Lo belom makan, Jenn" ajak Rossa.
Jenn menggeleng dari balik bantal. Menurunkan bantal itu sebentar lalu memperlihatkan wajahnya pada Rossa. "Belom lapar, duluan aja. Gue nungguin Putri deh" menutup kembali wajahnya dengan bantal.
"Ya udah, bertiga aja sekalian" memilih bergabung dan rebahan bersama si Mini.
Drrrtt, drrrrttt, drrrrttt ...
Ponsel Jenn yang tergeletak disampingnya bergetar. Gadis itu belum menyadari.
"Mini, ponsel Lo getar tuh. Ada telepon" Rossa mencubit pelan pinggang Jenn, menyadarkannya.
"Hah," menatap Rossa hendak bertanya, namun dering berikutnya menghentikan gerakannya. "Oh !" tersenyum lalu meraih ponselnya dan menerima panggilan.
"Halo, hon !"
"Kemana aja bi, hampir seharian ini ?"
"Sorry, honey ! bukannya sengaja. Tapi emang lagi sibuk aja"
"Kesibukan apa ? aku udah gak penting lagi yah ?"
"Kata siapa ? kamu yang terpenting buat aku. Semua yang aku lakuin sekarang juga buat kamu, hon"
"Buktinya aku di ab ... "
'Baby, yuk ! aku udah siap'
Perkataan Jenn terhenti ketika samar ia mendengar suara orang lain dibalik teleponnya.
"Bi, itu su ... "
"Hon, udah dulu yah. Ntar aku telepon lagi. I love you, bye"
Tut ... !!!
Jenn bingung. Bahkan dia belum sempat menyelesaikan kalimatnya sudah di potong cepat oleh Alvino. Mengakhiri pun hanya sepihak. Ditatapnya benda pipih persegi yang masih ada di genggamannya dengan datar.
What's wrong with him ? gak biasanya. Kesannya buru-buru gitu yah.
Juga suara siapa tadi ? keknya suara perempuan. Iya, gue yakin banget itu suara perempuan. Kuping gue masih baik kok. Who is she ?
Batin Jenn terus saja bertanya-tanya.
"Kenapa Jenn ?" tanya Rossa melihat Jenn yang kebingungan menatap ponselnya. Namun tidak ada respon apa-apa dari gadis mini itu. Dia masih larut dalam dugaan-dugaannya.
"Jenn !" Rossa sedikit berteriak sambil mengguncang pelan lengan sahabatnya.
"Eh, ya. Ada apa, Sa ?" kaget dan bertanya pada Rossa. Kening gadis kalem itu mengernyit.
"Are you okay ? " tanya Rossa memastikan keadaan sahabatnya.
"Yes ! as you can see, bebs" sahut Jenn seakan tidak ada apapun yang terjadi.
"But i see you are not well, Jenn" Rossa membuat terpaku. "Gue benar kan ? ada apa, Jenn ?" sambungnya lagi.
"Gak ada apa-apa, mami" memperlihatkan senyum terbaiknya. "Lo emang selalu berlebihan" mencubit pelan pipi Rossa. Gadis itu pura-pura tertawa menutupi kejanggalan yang dirasakannya saat ini.
Tiba-tiba Putri masuk dan menginterupsi keduanya.
"Selamat sore zeyeng-zeyeng gue" ucap Putri pada dua makhluk kesayangannya.
"Nah, karena dia udah pulang, sekarang kita makan bertiga. Yuk !" Jenn dengan cerianya mengalihkan perhatian Rossa.
"Loh, emang pada belom makan yah ?" tanya Putri.
"Ho'oh,,, nungguin kamu lah, bebs" jawab Jenn dan Rossa kompak.
"Ya udah, hayukkk !"
Ketiganya pun berlalu menuju meja makan. Menikmati makan bersama disore itu. Dalam suasana itu, Rossa masih sempat memperhatikan Jenn. Dan seperti yang dilihatnya tadi. Gadis itu tidak baik-baik saja.
Apa yang sedang Lo sembunyikan, Jenn ? Baiklah, gue gak akan maksa kali ini. Mungkin Lo butuh ruang untuk sendiri. Batin Rossa.
Sejatinya manusia, dia butuh ruang dan waktu untuk sendiri. Ketika dirasanya sudah tidak sanggup untuk sendiri, maka dengan sendirinya ia akan mencari tempat untuk mencurahkan segala bebannya.
Masih dalam suasana makan. Ketiganya dikagetkan dengan bunyi ketukan pintu dari depan. Mereka saling pandang. Tanpa adanya suara namun ketiganya paham dengan tatapan mata satu sama lain. Siapa yang bertamu di waktu sore menjelang malam seperti ini ? Seperti itu yang terbaca dalam sorot mata penuh tanya ketiga gadis itu.
"Gue aja yang buka. Sebentar," putus Rossa. Dia tahu, Putri pasti lelah baru dari kampus, sedangkan Jenn pasti malas dengan suasana hati yang tidak baik. Gadis itu lalu beranjak dari tempatnya dan berjalan ke depan.
Dibukanya pintu yang sedari tadi di ketuk-ketuk itu. Dilihatnya seorang lelaki yang tak asing lagi sedang berdiri di depannya. Lelaki yang sudah sering mengunjungi rumah mereka.
"Makasih, Sa. Putrinya ada kan ?" tanya Vicky.
"Ada. Lagi makan sama Jenn. Mau ikut ke belakang, atau mau gue panggilin, kak ?" tawar Rossa.
"Ikut aja deh" sahut Vicky. Lelaki itu memilih mengikuti Rossa dari belakang.
"Sia - pphh" Putri yang hendak menanyai siapa, tiba-tiba terdiam dan melipat bibirnya. Begitu melihat seseorang di belakang sahabatnya. Gadis tomboi itu memilih melanjutkan makannya dan mengabaikan yang lain, termasuk sang kekasih.
"Hai kak," sapa Jenn. "Sini kak, makan bareng ma kita" sambungnya.
"Boleh. Tapi kayaknya ada yang gak mau, Jenn. Jadi gimana ini ?" ucap Vicky melirik Putri. Sengaja memancing respon kekasihnya itu.
"Udah gabung aja. Gak usah sok ngaduh" ucap Putri dengan ketus. Namun tetap berdiri dan mengambil piring yang baru untuk kekasihnya.
"Beuh, galak bener sahabatnya, berdua. Tapi makin cantik yah dia, kalo lagi marah" Vicky berusaha menggoda kekasihnya. Diikuti kekehan dari Jenn dan Rossa membuat Putri makin kesal.
"Garing tau gak" lagi jawab Putri ketus, sambil mengambil makanan dipiring untuk sang kekasih.
"Yang garing-garing itu enak loh. Ngunyah-nya berasa seru dimulut"
"Stop ! aaiiiii" geram Putri.
Sedangkan ketiga orang disana yang dari tadi hanya terkekeh, seketika terbahak melihat kegeraman gadis tomboi itu.
"Cie, yang lagi marah tapi masih tetep manggil Ai, masih sediain makannya. So sweet. Manis bener marahnya" goda Jenn disisah-sisah tawanya.
"Ck, apaan si ?" Putri mencebik.
"Udah, udah, abisin dulu makannya. Nanti baru dilanjutin lagi" seru Rossa menyudahi obrolan keempatnya.
Mereka pun menyelesaikan makannya dengan tenang. Sesudah itu, Jenn dan Rossa membereskan meja dan mencuci piring bekas makan mereka.
Sementara itu, keduanya memberikan kesempatan untuk Putri dan kekasihnya menyelesaikan permasalahan mereka.
________________
Langit senja telah berganti gelap. Bumi kini diliputi gulita. Penguasa malam membawa serta bala tentaranya menerangi seisi buana. Satu rahasia alam untuk dijadikan semangat. Bahwa, malam tak selalu kelam pekat. Disana akan ada seberkas sinar yang menerangi. Menandakan bahwa, ditengah gelap sekalipun, masih ada kehidupan dan harapan.
Diteras, depan rumah tiga gadis cantik. Disana salah seorang dari mereka sedang duduk sendirian. Gadis cantik bertubuh mungil itu sedang menatap langit malam dengan berbagai rasa yang tak dapat diartikan. Ada tanya, ada asa, ada cemas, ada gundah, ada rindu. Banyak rasa yang mengubrak-abrik jiwanya. Namun saat ini gadis mini itu memilih menyimpannya sendiri.
Jenn merasa masih sanggup untuk mengatasi sendiri segala beban dihatinya. Dipandanginya benda pipih yang sejak tadi dipantaunya secara berkala. Yang tidak pernah berpindah dari genggamannya sedikit pun. Rupanya gadis cantik itu tengah menunggu, bahkan mengharapkan telepon dari sang kekasih.
Ya, Jenn masih penasaran dengan suara asing dan tingkah tak biasa dari kekasihnya saat ditelepon tadi.
Kamu sedang apa, bi ? gak biasanya aku diabaikan kek gini.
Tadi teleponnya bentar doang, dimatiin gitu aja.
Siapa juga dia yang ditelepon tadi ?
Kamu hari ini aneh, gak kayak biasanya.
Ada apa sama kamu, bi ?
Jenn membatin, sambil memejamkan mata. Dia mengungkapkan tanya pada sang malam. Lelah menunggu telepon yang tak kunjung terdengar, gadis cantik itu pun beranjak dari duduknya dan memilih untuk masuk. Sebelum angin malam menusukkan dingin disekujur tubuhnya.
"Eh, udah pada tidur aja. Pantesan sepi amat" Jenn masuk dan mendapati kedua sahabatnya sudah tertidur.
Dia pun naik ke tempat tidur bergabung bersama Rossa dan Putri. Menarik selimut dan menenggelamkan tubuh mungilnya dibalik kain tebal itu. Berharap esok akan ada jawaban dari pertanyaannya. Dan semuanya akan lebih baik dari hari ini.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈ
.
.
.
.
.
to be continued ...
_________________
Terimakasih buat yang sudah mampir ππ
Jangan lupa Jejak manisnya zeyeng π
plisss komen, like and rate πππ
dukungan kalian sangat penting bagi otor kentang ini ππ€
Terimakasih π€π€π€
jangan lupa follow akun otor yah ππ
Ig : @ag_sweetie0425