
Saat kelas telah selesai, Jenn diinterogasi oleh teman-temannya. Karena ketidak hadirannya kemarin.
"Kemarin ngapain aja dirumah ? sampai gak masuk kuliah ?" tanya Fio
"Tidur lah, ngapain lagi" jawab Jenn santai.
"Eh mini, baru pacaran aja Lo udah kayak tahanannya dia. Gimana kalo nikah nanti ? yang ada, Lo nggak bakal liat matahari lagi mungkin" Alena tak bisa menahan kesal.
"Ck iya iya. Udah yah, ceramahnya. Simpan dulu, nanti aja. Sekarang gue laperrrrr, gue mau makan, dan Lo yang traktir" Jenn mengedipkan sebelah matanya menggoda Alena. Dia sengaja mengakhiri perbincangan yang hanya akan membuat sakit telinganya itu.
"Kebiasaan. Ya udah, ayo ke kantin" dan Alena mengalah.
Saat Jenn and the geng-nya masuk ke kantin, seketika tempat itu ramai dengan siulan kaum adam disana. Dan gombalan-gombalan receh, yang tidak digubris Jenn dan teman-temannya.
Ya, Jenn and the geng-nya memang selalu menjadi pusat perhatian. Bagaimana tidak, mereka terdiri dari gadis-gadis cantik, smart dan memiliki kekompakan dalam segala hal, dan juga mereka dari kalangan cewek-cewek tajir. Hanya Jenn saja yang dari kalangan menengah kebawah. Tapi dia layak masuk geng-nya itu. Karena kecantikan, dan kepintarannya. Sebagian barang-barang mewah yang sering dipakai Jenn, adalah hadiah dari teman-temannya. Dan sebagian lagi sudah pasti dari Alvino. Jenn and the geng-nya itu sering disebut, the most wanted di Universitas xx. Tak jarang banyak kaum hawa yang tidak suka dengan mereka.
Baru saja mereka menduduki kursi-kursi disana, datanglah sekelompok lelaki yang mendatangi mereka. Salah satunya pacar pajangan Jenn.
"Hai Jenn, kemana aja ? baru muncul. Di DM nggak pernah bales. Marah yah ?"
"Nggak juga, biasa aja. Mungkin belom sempet liat aja. Sorry yah" kata Jenn dengan sikap ramah seperti biasa.
"Eh, mau duduk dimana ? move" kata Alena dengan galak. Sambil menggerakkan telunjuknya pada lelaki yang ingin duduk disebelah Jenn. Alena memang anaknya judes mungkin dia yang paling galak dan angkuh dari teman-temannya.
"Santai girl, Gue cuman mau minta sama Jenn, besok temanin gue, sekalian support gue ya. Gue mau tandingan basket di sport hall besok" pinta lelaki itu pada Jenn.
"Em, nggak janji yah. Kiat aja besok" sahut Jenn.
"Oke, kalau gitu gue cabut yah" pamit lelaki yang bernama Reza. Dan mengajak teman-temannya meninggalkan Jenn and the geng-nya.
"Bye girls, sampai ketemu besok yah, jangan lupa" Ucap teman-teman Reza, menggoda Fio dan yang lainnya.
"Huss sana" Maureen mengusir komplotan para lelaki itu.
Mereka lalu memesan makanan masing-masing. Sambil menunggu pesanannya, Alena berbicara pada Jenn.
"Mini, jadi orang itu jangan terlalu baik. Ntar dimanfaatin doang tahu nggak" kata Alena.
"Lo berlebihan bebs. Perasaan gue biasa aja sama mereka" kata Jenn.
"Iyah mini, tapi sekali-kali tegas dikit dong. Nggak usah selalu ramah dan lembek".
"Iyah, serah Lo dah. Ntar gue les private metode-metode galak sama Lo aja yah" canda Jenn.
Pesanan mereka pun datang dan mereka makan bersama dibumbui obrolan-obrolan ringan.
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
"Ada apa, mi ?" Alvino to the poin.
"Anak durhaka kamu ya, ditelepon orang tua tidak ada sopan-sopannya. Ini karena pengaruh buruk dari gadis miskin itu kan ?" sumbur sang mami dari seberang.
"Mami please, Vino males berdebat. Dan lagi gadis itu punya nama. Namanya Jenn, mi. Tolong, jangan mami perkatakan hal buruk tentangnya" ucap Alvino.
"Mami tidak sudi menyebut namanya. Sihir apa yang sudah diberikan gadis itu padamu Vino ? sampai kamu berani melawan mami ?"
"Dia tidak seburuk yang mami pikirkan. Mami saja yang menutup mata dari kebaikannya" kata Alvino tenang.
"Pokoknya mami tidak mau tau tentang dia. Yang mami mau, kamu temui Verlita, dan minta maaf sama dia. Dia itu calon mantu kebanggaan mami"
"Haha apa mi ? minta maaf ? haha, liat wajahnya aja Vino malas, apalagi minta maaf ? ogah banget mi. Mami aja yang minta maaf. Vino nggak akan pernah lakuin itu, mi" Alvino tertawa renyah menanggapi ucapan maminya, disertai ucapan santai. Karena merasa apa yang diinginkan maminya, itu hal yang sama sekali tidak penting baginya.
"Udah ya mi, Vino sibuk ngerjain skripsi. Biar cepat selesai, trus mau lamar Jenn. Buat jadi mantu mami, love you, mi" ucap Alvino mengakhiri sambungan teleponnya.
Disebarang sana maminya kesal setengah mati, dengan kelakuan putra kesayangannya itu. Yang selalu saja membela gadis kecil yang sangat dibencinya.
Sementara Alvino tersenyum mengingat kata terakhirnya tadi. Ingin melamar Jenn ?? tentu saja. Itu adalah salah satu impian terbesar bagi Alvino.
Alvino tersenyum, mengingat masa-masa dimana, dia begitu tergila-gila dengan gadis berseragam putih abu-abu tiga tahun lalu. Kala itu, Alvino tengah mudik dikampung halamannya. Dan bertemu dengan Jenn yang juga berasal dari sana Dan seperti sebuah kebetulan, ternyata disana mereka bertetangga. Hingga membuat mereka sering bertemu. Dengan Alvino yang sudah jatuh cinta lebih dulu. Saat pertama melihat gadis kecil itu, dan selama sebulan disana Alvino berjuang setengah mati untuk mendapatkan hati gadis pujaannya itu.
ยฐ Flashback tiga tahun lalu ...
.
.
.
.
.
to be continued .....
.
.
.
Happy reading buddies ๐โค๏ธ