
π "Halo,"
π "Halo, Kak! Jenn ada di sana kan?"
π "Iya. Maaf semalam hujan. Jadi Gue gak izinin Dia pulang,"
π "Dia gak papa kan, Kak? Soalnya nomernya gak bisa dihubungi,"
Kenn melirik sang kekasih yang juga sedang menatapnya dengan isyarat. "Lowbath." Ucap Jenn tanpa suara.
π "Ah iya. Dia gak papa. Cuman, dia sedikit demam karena kehujanan semalam. Ponselnya juga mati,"
π "Hah?! Demam? Dia udah makan? Udah minum obat? Aku boleh kesana kan, Kak?"
π "Iya boleh. Tenang aja, Dia aman kok di sini. Gue mau minta tolong! Sekalian bawain baju gantinya yah!"
π "Ok, Kak!"
Tut!
Sambungan telepon itu pun berakhir bersamaan dengan suara gaduh dari depan yang menyita perhatian keduanya. Kenn tahu bahwa yang datang itu adalah Farel. Tentu saja itu karena Ia tahu betul bunyi motor temannya itu.
Penasaran, Kenn berjalan ke depan ingin melihat apa yang terjadi sebab yang ia dengar sepertinya Farel tidak sendirian. Benar saja, Ada Fio yang datang bersamanya. Akan tetapi, Kenn dibuat bingung dengan apa yang dia lihat, dimana Farel yang tengah kesusahan menopang tubuh kekasihnya, Fio, yang terlihat lemas dan tak berdaya.
"Dia kenapa, Rel?" tanya Kenn.
"Eh ... Kenn!" Farel terkejut saat melihat Kenn datang. "Aku juga gak tau nih? Tiba-tiba ngeluh pusing dan lemes gitu. Padahal waktu Gue jemput, dia masih seger buger." Lanjut Farel menjelaskan. Sambil membopong tubuh kekasihnya, Fio, masuk ke dalam dan diikuti Kenn dari belakang.
"Eh, ini ada apa?" Jenn baru saja datang dari dapur dan bergabung bersama ketiganya di ruang tamu.
"Hais," Kenn berdecak kesal begitu melihat kekasihnya di sana. "Udah dibilangin kan? Panggil Aku kalo mau apa-apa," berbalik dan hendak menggendong kekasihnya.
Jenn menepis cepat tangan kekasihnya. "Apaan sih. Aku cuman demam. Bukan sekarat! Jangan lebay deh, Kak!" Jenn melotot pada Kenn. Ia tidak mau sampai Fio dan Farel berpikir yang macam-macam dengan perhatian sang kekasih yang berlebihan. Apalagi sampai membahas cara berjalannya yang memang agak sedikit aneh dari biasanya.
Kenn menghembuskan nafasnya kesal sambil menggeleng pelan. "Keras kepalanya minta ampun," bergumam kecil.
Perempuan cantik itu tidak menggubris dengan apa yang dilakukan kekasihnya. Dia berjalan menghampiri temannya dan hendak duduk di sebelah temannya itu. Namum baru saja ingin duduk, suara berat Kenn menghentikan gerakannya.
"Gak boleh duduk, Sayang!" Langsung bergerak menarik tangan kekasihnya. "Fio, kamu di sini aja dulu yah, sama Farel. Ini Jenn juga lagi sakit. Dia harus minum obat dulu," ucap Kenn pada Fio, kemudian ia berbalik lagi pada Farel. "Mana obatnya?" Menengadahkan tangannya pada Farel.
Setelah Farel memberikan bungkusan obatnya, sepasang kekasih itu pun berlalu dari sana, meninggalkan kedua teman mereka di ruang tamu. Kenn membawa kekasihnya kembali ke kamar.
"Kenapa ke kamar lagi sih?" Protes Jenn. Si cantik dan mungil itu perlahan mendudukkan tubuhnya di ujung ranjang dengan wajah ditekuk.
"Kamu gak sadar? Itu baju kalo Kamu duduk, langsung keangkat, Jenn!" Ucapnya dengan lembut. "Kalo si Farel liat gimana coba? Aku gak rela lah, Sayang!" Berjongkok di depan sang kekasih dengan sebelah lutut ditekuk. Menggenggam dan mengusap lembut kedua tangan mungil Jenn. "Jangan nunjukin ke orang lain lagi yah. Cukup Aku aja. Meski cuman liat doang, Aku gak suka. Gak sudi, Yang!" Menatap Jenn dengan tatapan sarat akan cinta.
Si cantik itu tertegun dan memandangi kekasihnya dalam diam. Sedetik kemudian ia melepaskan tangannya dari genggaman laki-laki itu. Menangkup wajah tampan yang kini sangat dicintainya. "Aku ngerti, Sayang! Maaf yah, tadi aku gak sadar emang," tersenyum kecil. "Kedepannya gak akan lagi kek tadi. Aku milik Kamu. Ya, hanya milik Kamu, Kenn!" Mendekatkan wajahnya pada wajah kekasihnya, lalu ia mendaratkan satu kecupan manis pada bibir lelaki tampan itu.
"Terimakasih, Jenn!" Merasa bahagia dengan apa yang dilakukan wanitanya. "Sekarang waktunya minum obat," bangkit berdiri. "Tunggu sebentar yah. Jangan coba-coba bergerak dari tempatmu sampai Aku datang," memberi peringatan. Sesudah itu ia keluar dari kamar menuju dapur dan membawakan segelas air putih untuk kekasih tercinta.
Senyumnya terbit tat kala ia masuk dan melihat perempuan cantik itu masih duduk ditempatnya, tanpa mengubah posisinya sedikit pun. "Gini kan manis," memberikan sebutir obat yang langsung ditelan oleh kekasihnya, serta segelas air putih yang juga diteguk hingga tandas oleh perempuan cantik itu.
"Nah, Gadis pintar," mengacak rambut sang kekasih.
"Iss,,, lupa atau pura-pura lupa? Ini udah gak gadis lagi dari semalam." Mendengus kesal.
Seketika Kenn tergelak. "Hahaha, becanda, Sayang!" Menaruh gelas pada nakas. Kenn lalu duduk di samping kekasihnya. Dengan lembut, ia memindahkan kekasihnya itu ke atas pangkuannya. Dipeluknya tubuh mungil itu dengan sayang. "Maafkan Aku, yah. Aku akan bertanggung jawab. Sekarang aku minta alamat orang tua Kamu," ucap Kenn dengan serius.
Jenn tersentak. "Eh, mau ngapain? Gak! Gak boleh! Aku belum boleh menikah. Masih mau selesain kuliah dulu. Pokoknya gak boleh!" Menggeleng kuat.
"Jadi, Kamu anggap ini main-main? Kamu anggap yang semalam itu hanya insiden gak penting? Kesenangan belaka?" Pertanyaan beruntun dari Kenn membuat Jenn bungkam tak mampu menjawab sepatah kata pun.
"Aku mohon, Jenn. Biarkan Aku bertanggung jawab untuk kesalahanku," pinta Kenn dengan sungguh.
"Hei, Aku gak lagi hamil, Sayang! Ini juga bukan salah Kamu doang. Aku juga bersalah. Udahlah gak usah bahas ini lagi yah," seru Jenn yang membuat Kenn tidak percaya dengan apa yang ada di pikirannya saat itu.
"Ini penting buat Aku, Jenn! Iya, sekarang Kamu memang gak hamil. Tapi bagaimana dengan sebulan kedepan ini? Tanpa Kamu harus hamil dulu, tetap Aku mau tanggung jawab dari sekarang. Titik!" Sahut Kenn yang tidak ingin ada bantahan.
"Aku mohon jangan, Sayang! Please!" Seru Jenn dengan cepat, dan mengatupkan kedua tangannya di depan wajah sang kekasih sambil memelas. "Kamu gak tau ayah seperti apa. Dia akan pisahin Kita. Dia akan nyakitin Kamu juga, Kenn. Dan Aku gak mau itu sampai terjadi. Aku mohon, jangan lakukan itu. Yah, Sayang yah." Mohon Jenn dengan sungguh-sungguh.
Kenn menatap kekasihnya dengan tatapan tak percaya. "Sungguh? Kamu tidak sedang mencari alasan untuk menghindariku kan?" Kenn sangsi.
"Kamu gak percaya sama Aku?" Balik bertanya. "Lalu untuk apa Aku memberikan segalanya untuk Kamu? Aku mencintai Kamu, Kenn! Kamu masih ragu dengan cintaku kan?" Menggenggam erat tangan besar kekasihnya. "Listen! Aku udah gak ada perasaan apa pun lagi sama Alvino. Semua rasa dihati Aku sekarang hanya untuk Kamu seorang. Semua ruang dihati Aku sudah terisi penuh dengan cinta yang Kamu kasih selama ini. Nama yang dulu terukir di hati Aku, udah terhapus dengan kehadiran Kamu," membawa tangan Kenn dan menempelkan pada dadanya. "Sekarang yang di dalam sini cuman nama Kamu. Kennand Wiratmaja. Dan di sini, hanya bergetar untuk Kamu," ungkap Jenn dengan tulus sepenuh hati.
Selama ini Jenn memang belum pernah mengungkapkan perasaan cintanya pada Kenn. Yang selalu dia katakan adalah, dia yang merasa nyaman di dekat laki-laki itu. Karena rasa cintanya masih besar untuk Alvino. Namun sepanjang ini pun Kenn berusaha agar membuat perempuan cantik itu bisa mencintainya meski sedikt saja. Tanpa dia sadari bahwa perjuangannya berbuah manis. Pelan tapi pasti, si cantik itu telah melupakan Alvino, dan mulai mencintainya. Rasa nyaman yang selama ini Jenn rasakan, telah menuntunnya bermuara pada samudera cinta Kenn yang luas dan begitu dalam.
Pengakuan cinta dari sang kekasih membuat tubuh Kenn terpaku, jantungnya berdebar indah. Ibarat dentingan musik yang mengalun merdu memanjakan jiwa. Rongga dadanya bergemuruh ria laksana angin surga yang berhembus menebarkan aroma kebahagiaan.
Jenn tersenyum manis. "Aku sudah mencintaimu, Kenn!" Bisik Jenn dengan lembut. Hangat nafasnya menerpa wajah tampan Kenn. "Sangat mencintaimu. Trust me, Kenn. Aku tak mau yang lain lagi. Aku tak mau sentuhan yang lain lagi. Hanya Kamu, sekarang dan selamanya." Lelaki tampan itu langsung menarik tengkuk Jenn dan menyatukan bibir mereka.
Don't wanna feel another touch
Don't wanna start another fire
Don't wanna know another kiss
No other name falling of my lips
Don't wanna give my heart away
To another stranger ...
[ Never Love Again - Lady Gaga ]
Mereka berciuman begitu lama dan sangat dalam. Saling menyalurkan rasa cinta yang sama besar dihati keduanya.
"Terimakasih, Jenn!" Ucap Kenn menyatukan kening mereka. "Terimakasih karena sudah mau menerimaku dengan segala kekuranganku. Tanpa perlu Aku mengatakannya, Kau pun tau seberapa besar rasa cintaku." Ucap Kenn dan Jenn mengangguk.
"Aku tau itu, Kenn. Maka dari itu Aku mohon, jangan datangi orang tuaku dulu yah. Tunggu Aku selesai kuliah dan lamarlah Aku. Aku menunggu saat itu tiba, Sayang. Sekarang cukup kamu jagain Aku. Mau kan?"
"Tanpa perlu Kamu minta, itu yang menjadi prioritasku. Dan baiklah, aku turuti kemauanmu," sahut Kenn.
"Trim ... " belum sempat menyelesaikan ucapannya, suara dari luar menginterupsi percakapan hangat mereka berdua kala itu.
"Ada apa dengan mereka berdua? Coba kita lihat dulu, yuk!" Jenn mengajak kekasihnya keluar dari kamar, melihat kegaduhan yang tercipta di ruang tengah kontrakan kekasihnya itu.
Begitu keluar, keduanya berjalan menuju arah sumber suara. Dan ternyata suaranya bersumber dari kamar mandi ruang tengah. Begitu masuk, keduanya mendapati Farel yang tengah berdiri di belakang Fio, sambil memijit pelan tengkuk gadis itu yang sedang menunduk di depan wastafel.
"Fio kenapa muntah-muntah, Rel? Tanya Kenn mewakilkan rasa penasaran kekasihnya.
Farel pun bingung dan hanya mengedikan bahunya. Namun sedetik kemudian, ia sepertinya mengingat satu hal. "Baby, Kamu ... sudah datang bulan belum?" tanya Farel yang memang selalu tahu dengan urusan wanita. Dia memang berpengalaman dalam hal itu.
Namun pertanyaannya itu bagai sengatan listrik yang membuat tubuh Jenn menegang seketika.
Fio menggeleng lemah. Dan tentu saja Farel sudah memahami apa yang terjadi dengan kekasihnya itu.
"Ka,, kamu hamil?!" Tanya Jenn tak percaya.
"Siapa yang hamil?!?" Tiba-tiba suara dari luar mengagetkan keempat orang itu.
..._______ππππ______...
.
.
.
.
.
to be continued ...
Segini dulu yah gaes π€ maaf telat up π
Semoga berkenan di hati kalian semua π€π
Jengan lupa tinggalkan jejaknya yah π Plissss like, komen, rate dan tambahkan ke favorit yah β€οΈ
Tinkyuwww buat yang selalu mampir di karya receh ini ππ€π€
Dukung dan nantikan STP terus yah π₯°π₯°π₯°
Lop yuuu pullll gaesss ππβ€οΈ
Selamat membaca π€π€
π
Ig : @ag_sweetie0425