
Saat matahari telah selesai dengan perannya yang bersinar hangat dari timur sejak pagi. Kini penguasa siang itu berpamitan pada semesta, dan membenamkan dirinya di ufuk barat.
Bumi kembali diwarnai gelap yang diterangi bulan dan bintang, melukiskan maha karya Sang Pencipta yang tergores indah di kanvas langit, yang terbentang dengan gagahnya. Sungguh, Tuhan pelukis yang sempurna. Bahkan Ia kini menyempurnakan jiwa Alvino yang sempat meredup hari ini, tanpa wajah dan suara yang selalu menyemangati hidupnya.
Jenn sudah menjelaskan semuanya. Tentang menghilangnya seharian ini dari radar Alvino. Tidak! Tidak semuanya, hanya pada insiden retak ponselnya saja. Dia berpikir part lainnya dengan orang lain, tidak penting untuk dibahas dalam hubungannya.
"Lain kali jangan ceroboh, itu kualat karena nggak ngasih tau dan izin dulu sama aku."
Ya, benar. Jenn belum sempat memberitahukan pada Vino, jika ingin menonton pentas seni hari itu. Karena dia sendiri memastikan, kekasihnya itu tidak akan mengizinkan.
"Ck, lagian kalo aku ngasih tau, kamu gak bakal izinin kan?" Jenn mencebik.
"Izin gak izin, tetap harus ngasih tau, hon! Dibilangin itu jangan ngeyel," tegur Vino dengan lembut.
"Iya yang mulia, maafkan hamba yang tidak patuh. He-he-he," Jenn terkikik.
"Nah karena tidak patuh, harus ada hukumannya. Karena jauh ... Hukumannya, nyanyiin aku satu lagu aja. Sekarang, honey!" perintah Vino tak sabar mendengar suara indah sang kekasih. Biasanya mereka seperti itu. Keduanya suka musik, suka bernyanyi, suka bermain gitar. Mereka sering kali saling menyanyikan lagu untuk masing-masing.
"Siap yang mulia, wait a minute," kata Jenn, lalu melompat dari tempat tidur untuk mengambil gitar yang terduduk di sudut kamar, lalu dia kembali dan memposisikan ponsel berhadapan dengannya, agar bisa bermain gitar sambil melihat wajah tampan yang sejak tadi memenuhi layar ponsel itu.
Jenn mulai memetik dawai gitar, hingga terdengar nada-nada indah yang tercipta dari sentuhan jari-jari lentiknya.
Aku kesal dengan jarak
Yang sering memisahkan kita
Hingga aku hanya bisa
Berbincang denganmu di whatsapp
Aku kesal dengan waktu
Yang tak pernah berhenti bergerak
Barang sejenak agar ku bisa
Menikmati tawamu
Ingin ku berdiri di sebelahmu
Menggenggam erat jari-jarimu
Mendengarkan lagu sheila on 7
Seperti waktu itu saat kau di sisiku
Dan tunggulah ku di sana
Memecahkan celengan rinduku
Berboncengan denganmu mengelilingi kota
Menikmati surya perlahan menghilang
Hingga kejamnya waktu
Menarik paksa kau dari pelukku
Lalu kita kembali menabung rasa rindu
Saling mengirim doa sampai nanti sayangku
Jenn bernyanyi dengan penuh penjiwaan. Benar, lagu ini mewakilkan segala rasa rindunya untuk lelaki yang bertakhta di hatinya itu. Ketika dia berhenti memainkan dawai gitar itu, terdengar suara Vino dari layar ponselnya melanjutkan bait lagu tadi, yang tidak diteruskan Jenn.
Kau tahu aku benci khawatir
Saat kau tak mengabari
Aku tak suka bertanya tanya
Ingin ku bakar dia yang sering
Mention mentionan denganmu di ig
Namun kau selalu menyakinkanku
Ku tumbukan rasa percaya
Bukan rasa curiga
Jenn tergelak mendengarnya. Bagaimana tidak, kekasihnya itu bernyanyi dengan sengaja mengeraskan rahangnya, disertai tatapan tajam seperti ingin mengulitinya dengan penekanan pulak. Dan semua itu tak luput dari pandangan Jenn, saat mendengar kelanjutan bait lagu itu, dengan memposisikan dagunya bertumpu pada badan gitar yang sedang dipeluknya.
"Ha-ha-ha, kamu lucu banget sih, bi! Kalo nyanyi dengan mimik kayak gitu, imut-imut gimana gituh. Duh pacar siapa sih ini? Ha-ha-ha," Jenn tak hentinya menertawakan Vino.
Dia tahu betul bahwa, kekasihnya bukan marah. Hanya saja sedang menunjukan perasaannya. Ya jika yang dinyanyikan Jenn di bait-bait pertama tadi, merupakan perwakilan perasaan rindunya. Maka bait yang dinyanyikan Vino, adalah gambaran kekesalannya. Dimana dia tidak suka saat tak bisa menghubungi gadis kecilnya seharian, dan bertanya kesana-kemari.
"Pacar sejuta umat!" jawab Vino tersenyum memamerkan lesung pipinya yang membuat banyak kaum hawa klepek-klepek. Dia bahagia melihat tawa riang dari gadis pujaannya.
"Oh iya, pacar sejuta umat. Lupa kalo punya pacar playboy ternyata," ucap Jenn sedikit ngambek.
"Ha-ha-ha, gitu aja ngambek." giliran Vino yang tertawa.
"Honey! Hei, kayak nggak tau aku aja. Sebanyak apapun wanita cantik di sekeliling aku, sebanyak apapun gadis yang aku kencani, here nothing can change my love for you, honey. Trust me, you'll never be replaced, Jenn." kata Alvino dengan serius meyakinkan Jenn. Dan Jenn tahu sebesar apa Alvino mencintainya.
"I trust you, Al!" sahut Jenn tersenyum mendengar ayat-ayat cinta yang terlafaskan oleh kekasihnya.
"Sudah malam, aku tahu seharian kamu belum istirahat kan? Istiratlah, jangan matikan teleponnya. Good night, honey! i love you." ucap Vino menyudahi pembicaraan, tetapi tidak menyudahi panggilan. Biasanya seperti itu.
"Good night, Bi! And i love you too." tutup Jenn.
Sesudah meletakkan gitar, lalu menarik selimut dan membiarkan tubuh kecilnya tenggelam di balik hangatnya selimut itu, dan mulai berpetualang di dunia mimpi.
Tanpa memutuskan sambungan teleponnya, karena dia tahu di sana Alvino ingin memastikan jika dia benar-benar terlelap. Bahkan berjauhan saja kekasihnya itu masih menunjukan keposesifannya. Ah, Jenn sudah terbiasa dengan semua ini.
.
.
.
.
.
to be continued...
.
.
.
Happy reading buddies πβ€οΈ
Jangan lupa tinggalkan jejaknya yah ππ₯°π₯°π₯°