
Waktu berlalu dengan begitu cepat, tanpa bisa dicegah. Setiap insan menyelesaikan aktivitas masing-masing dihari itu dengan baik dan lancar. Saat malam kembali menyapa bumi, pertanda semua aktivitas selesai dihari itu. Dan saatnya setiap orang kembali ke rumah, berkumpul bersama keluarga. Menghabiskan sisah hari dengan orang-orang tersayang.
Namun tidak dengan seorang Kenn. Setiap kembali ke kontrakan kecilnya itu, hanya angin sepi yang menyambutnya. Bertemu dengan bantal dan kasur, serta ditemani dinding-dinding bisu yang melengkapi kesunyiannya yang hakiki.
Kenn melepaskan jaket dan mengaitkannya digantungan belakang pintu kamarnya. Lalu merebahkan tubuh lelahnya diatas kasur. Dia memejamkan matanya sejenak, menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan kembali. Sedetik kemudian, Kenn teringat sesuatu.
Dia bangun merogoh saku celana, dan mengambil ponselnya dari sana. Lalu mengecek pesan yang dikirimkan kepada seorang gadis, yang dinobatkannya menjadi gadis pencuri hati tadi pagi. Seketika rasa kecewa menghampirinya. Hanya terlihat dua centang biru disana dan tidak ada balasan.
Sibuk kah dia seharian ini ? Apa dia sedang bersama kekasihnya ? lalu mengabaikan hal-hal yang tidak penting seperti pesan Kenn ? Pikiran-pikiran inilah yang berlalu lalang dibenak Kenn. Sempurnalah sudah kesunyian dan kesendiriannya malam itu.
πΈπΈπΈπΈπΈ
"Hah, capek banget. Pegal-pegal ni badan. Pijitin dong bebs" Putri membuang badannya keatas kasur, dan meminta bantuan Jenn memijitnya. Seharian di kampus, gadis tomboi itu berlatih untuk mengikuti perlombaan volleyball antar kampus. Yang akan diadakan beberapa hari lagi.
"Ck, kebiasaan" Jenn mencebik, namun tak urung membantu sahabatnya. Putri tersenyum memejamkan matanya, tat kala merasakan tangan halus Jenn yang mulai bergerak memijatnya.
"Lagian seharian Lo istirahat dirumah aja kan bebs ? jadi gak papah dong, bantuin mijitin badan gue dikit aja" kata Putri, terus memejamkan matanya. Menikmati sentuhan-sentuhan kecil dari tangan mungil sahabatnya.
"Hmm, benar banget tu Put. Sekalian aja, itu hukuman buat yang gak masuk kampus" timpal Rossa, yang baru dari kamar mandi. Dan ikut bergabung bersama dua sahabatnya.
Disana, mereka tidur bersama pada satu tempat tidur yang sama, berukuran besar. Pas untuk tidur bertiga. Dengan Jenn yang selalu ditengah, karena dialah yang terkecil diantara mereka.
"Bebs, kita sahabatan sudah sejak kita SMA. Sebagai sahabat, gue cuman mau bilang sama Lo, kalau Alvino itu bukan laki-laki yang baik. Terserah Lo mau marah karena sudah ngejelekin dia. Gue gak akan minta maaf. Karena yang gue tahu, nggak ada kata maaf dan terimakasih dalam persahabatan yang sejati" kata Putri menasehati Jenn.
"Iya, gue tau. Gue juga tahlu, kalau Alvino dengan segala sikapnya emang nyebelin. Suka seenaknya, suka ngatur-ngatur gue, suka maksain kehendaknya. Tapi semua itu dia lakuin, karena dia sayang sama gue. Dan gue udah terbiasa dengan semua sikapnya. Gue....
"Stop it ! gue tau apa yang mau Lo bilang" Rossa menghentikan ucapan Jenn yang belum sempat diselesaikannya. "Lo terlalu naif dalam mencintai Alvino bebs. Sampai Lo gak bisa melihat kesalahannya dia. Cinta boleh, tapi jangan sampai menyesatkan begini juga" sambung Rossa lagi.
"Ck, iya mami cerewet. Udah ah, pusing dengernya. Lo juga enak banget dari tadi dipijitin. Cukup ya, gue ngantuk mau tidur, bye" kesal Jenn mendengar ceramah dari dua sahabatnya. Bukannya marah. Hanya saja, dia malas mendengar, dan mencari alasan untuk menyudahi pembicaraan yang nantinya berkepanjangan itu.
"Ini anak dibilangin juga. Awas ya, ntar kalo sakit hati sama si Alvino, baru tahu rasa." kata Rossa sambil memukul Jenn dengan bantal, dan menindih tubuh mungil itu. Jenn terbahak dibalik bantal.
Begitulah sebuah persahabatan. Karena sahabat yang baik tidak pernah munafik menutupi kekurangan kita dengan pujian semu. Namun sebaliknya, dia akan selalu menyadarkan kita dengan kata-kata pedas berbalut perhatian tulus.
Malam itu berlalu dengan perbincangan yang saling manesehati. Lalu berujung canda tawa diantara persahabatan tiga gadis cantik itu.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Praangg ...
Bunyi pecahan gelas, berserakan dilantai ruang tamu sebuah apertemen. Pemilik apartemen itu sedang dipenuhi amarah yang meluap.
"Gue kesini atas permintaan mami Lo, Alvino" kata wanita cantik itu tak mau kalah, dan meninggikan suaranya.
"Nggak usah munafik Verlita. Gue tahu niat busuk Lo. Gue minta, sekarang juga Lo keluar dari apartemen gue. Sebelum kesabaran gue habis" perintah Alvino menahan geram.
"Kalau gue nggak mau, Lo mau apa hah ?" tantang wanita cantik dengan bentuk tubuh tinggi semampai bak model itu.
"Gue bisa saja bunuh Lo disini. Tapi sayangnya gue gak mau mengotori tangan gue, dengan menyentuh wanita murahan kayak Lo" seru Alvino dengan senyum merendahkan.
"Lo keterlaluan Alvino. Lo kek gini sekarang pasti gara-gara gadis ingusan penggoda itu kan ?" kata Verlita dengan sengit.
"Tutup mulut sampah Lo itu. Jangan pernah melibatkan dia dalam masalah apapun. Dan jangan pernah mengatainya penggoda, atau mengatakan hal buruk apapun tentangnya. Karena gue gak pernah rela siapapun merendahkannya" Alvino berkata dengan geram, sambil mengarahkan telunjuknya pada Verlita dengan tatapan tajam.
"Kenapa ? kenapa Lo gak rela ? emang bener kan kata-kata gue"
.
.
.
.
.
to be continued ....
.
.
.
Happy reading buddies πβ€οΈ
Nah, mulai ada konflik nih ππ ikuti terus yah guys π
Jangan lupa tinggalkan jejaknya yah ππ₯°π₯°π₯°