
Jenn menurunkan sedikit ujung selimut dan mengintip kekasihnya yang masih berada di dalam kamar. Begitu melihat sosok itu masih duduk dengan posisi yang sama dan tak bergeser sedikit pun, si cantik itu lantas kembali menarik selimut dan menyembunyikan dirinya lagi.
Kenn tersenyum dan menggeleng. "Bangun, Sayang! Ini aku buatkan teh hangat. Minum dulu," Mencoba menarik selimut agar dapat melihat wajah cantik kekasihnya.
Jenn mencengkeram selimut dengan kuat. "No! Jangan ditarik. Maluuuuu!" Merengek dengan suara serak dan manja. "Sana keluar dulu, baru aku bangun."
"Kamu lagi sakit, Sayang. Aku gak bisa ninggalin kamu sendirian," Selalu saja khawatir.
"Aku gak papah. Keluar aja dulu iiih," Masih Merengek. "Kalo gak, Aku nangis nih" Tahu kelemahan Kenn.
"Iya, iya, Aku keluar. Tapi gak lama yah. Aku khawatir, Sayang! Jangan lupa tehnya diminum" Ucapnya dengan sedikit berat.
"Hmm" Mendengar langkah kaki yang mulai bergerak menuju pintu. Jenn pun menurunkan selimut dan mengintip lagi.
"Kalo ada apa-apa panggil Aku yah" Berbalik ketika sampai didepan pintu. Dan hal itu mengagetkan Jenn.
"Keluaaarrr" Pekik Jenn yang membuat lelaki itu tertawa bahagia dan langsung keluar.
"Huh" Mengelus dadanya. Si cantik itu lalu mencoba untuk bangun dari tidurnya. "Akh, sshh" Meringis merasakan sedikit pusing dan sakit serta pegal disekujur tubuhnya. Meskipun begitu, ia tetap berusaha untuk bisa duduk dan bersandar pada headboard. Ditariknya selimut menutupi dadanya. Ia menoleh kesamping dan mengulurkan tangannya meraih cangkir berisi teh hangat yang disediakan kekasihnya di atas nakas. Si cantik itu lalu menyesap minuman buatan lelaki kesayangannya. Senyum kecilnya terbit tat kala merasakan teh special itu.
Perlahan, Jenn menurunkan kakinya menyentuh lantai yang begitu dingin. Dililitkan selimut itu dengan kencang pada tubuh kecilnya. Belum juga berdiri, tetapi si cantik itu kembali merasakan pening dan kepala yang semakin berat.
"Sshh ... Pasti gara-gara kehujanan semalam nih." Memejamkan matanya begitu kuat sambil meremas rambutnya. Ia menggeleng pelan lalu membuka matanya kembali. Setelah merasa sedikit lebih baik, Jenn mengedarkan pandangannya pada setiap sudut kamar kekasihnya. Dan ia menemukan pakaian yang semalam dipakainya tersampir rapi pada sandaran kursi yang ada disana.
Perlahan ia mencoba bangkit berdiri dan dengan tertatih ia menuju kursi itu lalu meraih pakaiannya. Dengan gerakan sedikit cepat, si cantik itu mengenakan pakaiannya kembali sebelum Kenn masuk. Namun belum sempat untuk mengancingkan bajunya, si cantik itu terperanjat melihat pantulan dirinya di cermin. Hampir saja ia mememik begitu melihat tubuh mungilnya yang dipenuhi jejak nakal, tanda cinta sang kekasih yang bertebaran disana.
"Dasar!" Jenn tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Untung aja gak dileher. Bisa hancur kalo Rossa dan Putri melihatnya" Mengancingkan bajunya dengan pikiran yang tertuju pada aktivitas semalam bersama Kenn.
Flashback on
Hujan deras yang mengguyur bumi malam itu, membuat dirinya terjebak dalam suasana dan sentuhan-sentuhan Kenn. Ia memejamkan matanya dan membiarkan Kenn menuntun dan mengajarinya tentang dunia yang baru.
Got all this time on my hands
Might as well cancel our plans
I could stay here for a lifetime
Lelaki itu bangkit sebentar dan mengunci pintu kamarnya dan membuang kunci itu ke sembarang tempat.
So, lock the door and throw out the key
Can't fight this no more, it's just you and me
And there's nothing i, i can do
I'm stuck with you
Perlahan tapi pasti, lelaki tampan itu melepaskan kancing bajunya satu persatu. Dan melepas semua penghalang yang ada pada tubuh Jenn. Melemparkan begitu saja ke lantai. Si cantik itu sudah pasrah dengan semua yang dilakukan sang kekasih. Setelah itu, ia merasakan sapuan hangat bibir sang kekasih yang menyusuri leher lalu turun ke dadanya dan meninggalkan beberapa jejaknya disana. Begitu melihat bukit indah yang tersaji didepan mata, tak mau menunggu lama. Lelaki tampan itupun mendakinya. Menenggelamkan wajahnya diantara bukit indah itu. Aroma tubuh mungil yang begitu harum yang menjadi favoritnya selama ini, membuatnya betah disana. Dengan nakal Kenn meremas lembut dua benda kenyal yang terasa pas digenggamnya. Tanpa sadar Jenn mendesah dan mencengkeram apa saja yang bisa diraih tangannya. Si cantik itu semakin dibuat gila saat Kenn menyentuhkan bibirnya pada puncak bukit. Me***l*m, mence**p, dan menggigitnya pelan. Membuat Jenn menggelinjang sambil meremas rambut kekasihnya, dengan mulut yang tak berhenti mengeluarkan desahan. This is crazy bagi Jenn.
So, go ahead and drive me insane
Baby, run your mouth, i still would'nt change
Being stuck with you
I'm stuck with you
Desahan sang kekasih ibarat seruan penyemangat yang membakar jiwa Kenn malam itu. Puas mendaki bukit, ia pun turun menyusuri lembah. Sentuhan demi sentuhan lelaki itu, membuat Jenn tak berdaya dan ingin merasakan lebih dari ini. Saat penyatuan itu terjadi, Kenn berhenti sejenak. Membisikkan ayat-ayat cinta sebagai pemenang bagi si cantik yang sedang kesakitan menahan perih yang menghujam pusat inti tubuhnya. Kenn tidak ingin ini cepat berlalu. Bak esok tak akan pernah kembali, maka ia ingin menikmati sisah waktu dengan hal gila ini.
Kinda hope we're here forever
There's nobody on these streets
If you told me that the world's ending
Ain't no other way that i can spend it
Mereka kembali melanjutkan perjalanan untuk menuju puncak kenikmatan dari petualangan baru malam itu bersama. Sungguh keduanya telah tersesat jauh dalam kendali hasrat. Waktu itu seakan hanya milik berdua.
Baby, come take all my time
Go on, make me lose my mind
Usai sudah permainan mereka dan sama-sama terkulai lemas setelah beberapa kali mengulang permainan yang sama. Dalam kelelahan dan kantuk yang mulai menyerang, Jenn merasakan kecupan lembut dikeningnya serta bisikan terimakasih begitu mesra ditelinganya. Si cantik bertubuh mungil itu langsung terlelap dalam mimpi indahannya. Sampai pagi menyapa, tak sadar ia berbaring nyaman dalam dekapan sang kekasih. Sungguh, kegilaan yang hakiki. Tapi mereka sama-sama tak peduli dengan semuanya. Sama-sama berjanji tak akan pernah untuk saling mengecewakan.
Don't care if i sound crazy
But you never let me down, no
That's why when the sun's up, i'm staying
Still laying in your bad
Flashback off
Setelah selesai memakai pakaiannya, ia melangkah keluar kamar dengan tetap menahan keseimbangan tubuhnya agar tidak terjatuh.
Begitu keluar, ia dikagetkan dengan sang kekasih yang sedang bersandar pada dinding disebelah pintu kamar. Karena keterkejutannya, si cantik itu limbung dan hampir saja ambruk jika Kenn tak cepat menahannya.
"Tuh kan. Kenapa gak panggil Aku aja sih?" Langsung membawa tubuh mungil itu dalam gendongannya. Jenn refleks melingkarkan tangan pada leher kekasihnya. "Mau kemana? Mau apa emang?"
"Lapar!" dengan suara pelan dan manja.
"Astaga! Kan Aku dah bilang. Kalo butuh sesuatu, panggil aja. Susah banget yah dibilangin" wajahnya terlihat kesal. "Lagian bisa jalan emang?" dan pertanyaan itu sukses membuat wajah Jenn merona. Ia lantas menyembunyikan wajahnya didada Kenn disertai satu pukulan keras pada tempat yang kini menjadi sandaran kenyamanannya.
"Auh,,, sakit, Sayang!" Kenn meringis karena memang dadanya masih sedikit terasa sakit.
"Maaf!" Mengusap kembali bekas pukulannya. "Makanya, jangan dibahas yang semalam" Cemberut.
"Iya. Aku tau. Cuman mau mastiin aja. Jadi, mau makan di dapur, atau dikamar aja nih" Menaik turunkan alisnya menggoda Jenn.
"Apa?" Melotot. "Jangan macam-macam" Kenn terbahak dan berjalan menuju dapur. Ia tahu apa yang ada dipikiran si cantik itu.
Kenn mendudukkan tubuh mungil itu pada kursi. Ia lalu menyiapkan bubur yang tadi sudah dimasaknya pada wadah dan menyajikan pada ratunya. Ya, ratu dihatinya. Dan dengan penuh kasih, ia pun menyuapi sang ratu. Setelah kejadian semalam, Kenn berjanji ingin menyerahkan seluruh hidupnya untuk melayani dan membahagiakan perempuan yang sudah memberikan segala yang berharga dalam hidupnya, hanya untuk dirinya seorang. Ia merasa menjadi laki-laki yang paling beruntung.
"Kamu gak makan?" Tanya Jenn disela-sela makannya. Dan lelaki itu menggeleng. "Loh, kenapa? Gak bisa. Sekarang juga Kamu harus makan. Kami juga masih sakit, Sayang!" Menyentuh rahang lelaki itu yang terlihat jelas memar disana. Meski begitu, hal itu tak lantas mengurangi kadar ketampanannya.
"Nanti aja, Sayang! Buat Aku, Kamu yang terpenting" Mengelus surai coklat kekasihnya.
Ditengah obrolan mereka, tiba-tiba suara gaduh dari arah depan mengagetkan keduanya. Bersamaan dengan itu pula, dering ponsel Kenn ikut berbunyi. Keduanya saling menatap bingung.
"Halo!"
___________πΉπΉπΉπΉ____________
.
.
.
.
.
to be continued ...
Hola epribadeeeh π moon maap, baru up lagi ππ€
Maaf juga kalo bab ini tidak sesuai dengan harapan kalian π€π€π€
Jan marah yah zeyengΒ²ku π
Terimakasih sudah mau mampir di karya receh ini ππ
Dan jangan lupa dukung terus karya ini lewat like, komen, rate dan tambahkan ke favorit yah β€οΈ
Sekali lagi makasih semuanya ππ€
Dan selamat membaca πβ€οΈ
π
Ig author : @ag_sweetie0425