Simple But Perfect

Simple But Perfect
Sudah Berubah



πŸ–€ Keanggunan kejujuran tidak membutuhkan perhiasan. Pahitnya kejujuran, jauh lebih bernilai daripada manisnya kebohongan πŸ–€


"Gak ada telepon atau pesan sama sekali yah" gumam Jenn, saat terbangun dan memeriksa kembali ponselnya. Namun tidak ia temukan sesuatu yang dinantikannya sejak semalaman.


Dengan sedikit kecewa, Jenn membuang ponselnya begitu saja di atas kasur dan berlalu menuju kamar mandi.


Didalam sana, gadis cantik itu berdiri melamun dibawah shower, masih lengkap dengan baju tidurnya. Diputarnya keran air dengan pelan. Dia mendongak dan membiarkan cipratan air membasuh wajahnya. Pikirannya masih saja tertuju pada Alvino. Jenn memutar keran air semakin kencang. Berharap kekuatan air yang kencang itu menghapus segala tanya serta gulana yang menyiksanya semalaman. Dipagi buta yang masih begitu dingin, bahkan kedua sahabatnya pun masih tertidur. Namun gadis cantik itu sudah basah kuyup. Bahkan dinginnya air tak mampu menjernihkan nalarnya.


Jam masih menunjukkan pukul 05.15. Rossa terbangun dan mendapati Jenn sudah tak ada diantara dirinya dan Putri. Sayup-sayup tertangkap oleh indera pendengarannya, suara gemericik air dari dalam kamar mandi.


"Apa dia mandi ?" gumam Rossa. Ditengoknya jam dinding yang terpajang tepat dibagian atas meja belajar dalam kamar itu.


"Hah, yang benar saja dia mandi di jam segini ? mau kemana ? jadwal kuliahnya masih jam 9 juga. Aneh" Rossa turun dari tempat tidur dan menyusul Jenn di kamar mandi.


Tok, tok, tok ...


"Jenn, Jenni ... " tak ada sahutan. "Mini, miniiii" sekali lagi Rossa berusaha memanggil dengan suara sedikit kencang. Namun lagi-lagi tak ada sahutan dari dalam.


Jelas saja gadis didalam sana tak mendengar teriakan sahabatnya. Dibawah volume air yang kencang dengan cipratan keras ke lantai, menciptakan bunyi yang lumayan menutupi pendengarannya. Ditambah berbagai tanya yang berseliweran dikepalanya, membuat suasana hingar-bingar tersendiri bagi Jenn dipagi buta itu. Tidak disadarinya sudah sejam berlalu dan dia masih saja betah dengan kegiatannya.


Tak tahan dan saking penasarannya, Rossa mencoba memutar gagang pintu kamar mandi. Benar saja, pintunya tidak terkunci. Gadis itu perlahan masuk dan begitu kaget, mendapati sahabatnya yang tengah duduk meringkung dibawah guyuran air yang kencang.


"Miniiiiii" pekik Rossa dan berjalan cepat memutar keran, menghentikan aliran air. Jenn baru tersadar ketika dirasanya tak ada lagi tetesan air yang menyiraminya. Tubuh mungilnya menggigil. Bahkan wajah cantik dan bibirnya terlihat pucat. Dan semua itu dapat terlihat jelas oleh Rossa.


"Lo udah gila yah, Jenn ? ini masih terlalu pagi. Mana gak pake air panas lagi" begitu marah pada sahabatnya hingga Rossa membentaknya.


"Lo kenapa, Jenn ? ngomong, jangan diem aja" teriak Rossa lalu ikut terduduk dan mengguncang tubuh mungil sahabatnya. Jenn masih tetap diam saja.


Rossa beranjak mengambil jubah mandi Jenn lalu menyelimuti tubuh kecil itu.


"Astagaaa Miniiiiiiii" pekik Putri kali ini. Gadis tomboi itu terbangun karena mendengar teriakan Rossa dari dalam kamar mandi. Penasaran, dia pun menyusul. Dan betapa kagetnya ia melihat temannya yang paling kecil diantara ketiganya dalam kondisi basah kuyup dan menggigil.


"Lo kenapa, bebs ? ada apa ?" tanya Putri. Dia mendekat dan membantu mengeringkan rambut basah sahabatnya.


"Put, Lo temani dia. Suruh dia ganti bajunya. Gue mau bikin teh hangat buat dia" ucap Rossa. Putri mengangguk, dan dia pun berlalu dari sana.


"Sekarang Lo ganti baju dulu Jenn, ntar Lo masuk angin kalo begini terus. Setelah itu, Lo harus cerita, masalah apa yang terjadi" desak Putri.


Gadis cantik itu menggeleng pelan. "Gak ! gak ada apa-apa. Keluarlah ! gue baik-baik aja" berucap sangat pelan sambil berusaha tersenyum meski bibirnya bergetar.


"Gue sama mami nunggu Lo di meja makan" Gadis tomboi itupun keluar dan membiarkan Jenn berganti baju.


________________________


"Udah ganti baju dia ?" tanya Rossa begitu melihat Putri memasuki dapur.


Putri mengangguk. "Ada apa si sebenernya sama dia ?" mengambil gelas dan menuangkan air kedalamnya. Diteguknya air itu sampai tandas.


"Gak tau juga. Tapi sejak kemarin gue liat, dia uring-uringan, gak ceria seperti biasanya. Dan gue liat, sepertinya dia lagi berusaha nyembunyiin sesuatu dari kita deh. Dia beda banget, bebs" tutur Rossa.


"Apa dia ada masalah sama Alvino ?" pikir Putri.


"Masah si ? kita juga tau kan, masalahnya dengan Alvino selama ini gak pernah buat dia sampai segitunya" Rossa berpendapat, membantah pikiran Putri.


"Tau ah, pusing. Tunggu orangnya sajalah" ucap Putri.


Tidak lama setelah itu, Jenn keluar dari kamar dan menyusul kedua sahabatnya.


"Lo baik-baik aja kan, Jenn ?" tanya Rossa sedikit bingung.


Pasalnya beberapa saat lalu dia menyaksikan sendiri bahwa gadis itu tampak kacau dan linglung. Namun sekarang berbanding terbalik. Gadis itu terlihat santai memakai pakaian rumahan. Kaos oblong yang sedikit kedodoran dengan hotpants jeans, ciri khas seorang Jennifer. Dia terlihat biasa saja seperti hari-hari sebelumnya. Bahkan ada senyum manis di wajah cantiknya, meski sedikit pucat. Dia berjalan tanpa beban menghampiri kedua sahabatnya di meja makan.


"Emang gue kenapa ? Lo berharap gue gak baik-baik aja yah ? Lo mau gue sakit gitu ?" duduk dan pura-pura kesal. Padahal itu hanya dalihnya saja untuk menghindari pertanyaan kedua orang didepannya. Jenn tetap dengan pendiriannya. Tidak ingin bercerita pada siapapun.


"Bukan ! bukan gitu, bebs. Gue cuman mau mastiin aja. Soalnya tadi Lo keliatan kacau banget. Ya, gue khawatir" tutur Rossa sambil menyodorkan teh hangat untuk Jenn.


"Apaan si. Otak Lo tu yang kacau" tukas Jenn, menerima gelas yang disodorkan Rossa lalu mulai menyesapnya.


"Iya, Jenn ! Lo aneh tau gak. Jangan-jangan emang sakit sarap beneran, Lo ?" ucap Putri.


"Hadeh, satu lagi. Yang aneh itu kalian. Orang gak ada apa-apa, orang baik-baik aja, dibilang aneh. Heran" Jenn berucap sambil menggelengkan kepalanya. Sekali lagi dia berdalih.


"Astaga, bener-bener sahabat lucknut yah, Lo berdua. Udah ah, gue mau tidur aja" Jenn langsung menghabiskan sisah teh hangatnya, dan berdiri hendak meninggalkan meja makan. "Nanti bangunin gue jam 8 yah. Awas kalo gue telat ke kampus, tanggung jawab kalian" ucap Jenn dan berlalu dari sana.


"Gak, mami aja. Gue mau siap-siap ke kampus sekarang" sahut Putri yang memang beda jurusan dengan kedua sahabatnya.


________________


Didalam kamar, Jenn kembali memeriksa ponsel. Namun lagi-lagi kekecewaan mencubit hatinya. Dihempaskan tubuh mungilnya diatas kasur. Jenn lalu menatap langit-langit kamar. Kesendirian menjadi teman baik baginya saat ini.


"Sesibuk itu kah sampai aku dilupain, bi ? kamu udah berubah" gumam Jenn dalam hati.


"Kan, ngelamun lagi" ucap Putri yang baru saja masuk.


"Ck, ngagetin aja. Sana mandi. Katanya mau siap-siap sekarang. Hussh" Jenn mengusir Putri yang mengganggu lamunannya.


"Ini juga mau mandiiii" seru Putri dan secepat kilat masuk ke kamar mandi.


Lima menitan, dia pun keluar lalu berganti dan berdandan secepat kilat.


"Bye zeyeng, Jangan ngelamun lagi yah. Ingat ke kampus" ucap Putri dan berlalu pergi.


"Iya bawelllll" teriak Jenn sedikit kencang karena Putri yang sudah tak terlihat.


"Ah, lelah sekali" ucap Jenn pelan dam mulai terpejam.


Gadis cantik itu merasa sedikit pusing dan sakit kepala, akhirnya memilih tidur. Mungkin karena terlalu banyak pikiran yang membebani otaknya, serta membuatnya kurang nyenyak. Lupa sudah dengan jam kuliahnya.


Satu jam telah berlalu dengan cepat. Rossa masuk dan mendapati Jenn sudah terlelap.


"Jenn, bangun. Siap-siap ke kampus" tidak ada respon.


"Jenn, ntar kita telat loh. Aku tinggalin baru tau rasa" terdengar gumaman kecil, namun tak juga ada gerakan untuk bangun. Sepertinya dia mengigau.


Rossa yang mulai geram pun, berjalan menghampiri tempat tidur hendak membangunkan sahabatnya. Tetapi dia tersentak begitu menyentuh lengan gadis cantik itu. Panas. Merasa dirinya mungkin salah, Rossa pun mengecek suhu tubuh gadis itu pada bagian tubuhnya yang lain. Disentuhnya dahi dan pipi gadis berparas cantik itu. Benar saja, badannya panas, serta tubuhnya mulai berkeringat dan juga menggigil.


"Ya ampun, Lo demam Jenn. Bagaimana ini ?" Rossa panik.


"Mana mau ke kampus lagi" Rossa dibuat dilema antara ke kampus atau menemani sahabatnya.


"Gue minta bantuan siapa ?" gadis kalem itu terus saja bermonolog mencari solusi.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸


.


.


.


.


.


to be continued ...


________________


Zeyeeengg zeyengku 😘


Kalo dah mampir jangan lupa tinggalkan jejaknya yah πŸ˜ŠπŸ€—


Nanti Jenn-nya tambah sakit kalo gak ada jejak manis kalian πŸ˜…πŸ˜…


Makasih juga buat yang selalu nyempatin waktu untuk mampir πŸ™πŸ˜Š


Thinkyuuuw banget semuanya πŸ™πŸ™πŸ€—πŸ€—πŸ€—


Happy reading buddies 😊❀️