
...Hai, hai, jumpa lagi ποΈ...
...Jangan lupa...
...π...
...Like dan komen...
...*...
...*...
...*...
...~ Happy Reading ~...
...___________________...
...####...
"Astaga! Keeeeennnnnn!!!"
Suara pekikan seorang wanita di pagi buta, pukul 06:00, menggema di seluruh ruangan kamar tidurnya, bermaksud membangunkan sang suami yang masih betah di alam mimpi. Siapa lagi kalau bukan Jenn. Si cantik itu terbangun dan kaget mendapati dirinya kesiangan. Ia begitu kesal ketika melihat sang suami yang masih terlelap dengan damai.
Bagaimana tidak kesal? Pagi ini ia harus ke kampus, sementara mereka belum kembali ke kontrakan. Janji Kenn semalam bahwa game-nya hanya sebentar, nyatanya hanya janji semu.
Lelaki tampan itu membawa istri kecilnya berpetualang hingga lelah dan tertidur. Bukan sekali saja perjalanan itu. Dengan semangat Kenn mengulang rute yang sama, dan Jenn tidak bisa menolak, sebab logika dan hasratnya sudah dikendalikan sepenuhnya oleh Kenn.
Di tengah malam istrinya terbangun karena merasa lapar, dan yang bisa mereka lakukan adalah delivery. Setelah pesanan tiba, keduanya makan bersama di jauh malam, dan kembali lagi ke kamar melanjutkan tidur hingga pagi menyapa.
"Hmm ... ada apa, Yang?" tanya Kenn begitu pelan hampir tak terdengar dengan suara serak khas baru bangun, pun dengan mata yang masih terpejam.
"Bangun dulu, aku bisa telat ke kampus ini." Mengguncang punggung lebar suaminya yang tanpa baju.
"Masih ngantuk, Yang! ... napa telat sih?" Masih juga terpejam.
"Ya Tuhan, dia tanya kenapa?" Jenn mengusap wajahnya kasar. "Hei, ini gara-gara kamu. Ayo! Bangun sekarang juga, dan kita balik ke kontrakan. Cepeeettt!" titah Jenn dengan tegas. Si cantik itu menyibak selimut yang menutupi setengah dari tubuh suaminya, menampakkan tubuh gagah sang suami yang hanya menggunakan celana jeans panjang tanpa baju.
"Iya, Sayang! Lima menit lagi yah," ucap Kenn dengan malas sambil menarik guling dan memeluk benda empuk itu dengan manja.
"Keeennnnnnnnnnn!!!"
Tidak tahan melihat suaminya yang seolah tak menggubris ocehannya dan masih belum juga beranjak dari tempat tidur, terpaksa Jenn meneriaki nama lelaki itu dengan kencang.
"Iya, iya. Siap, Nyonya!"
Kenn langsung bangkit dari tidurnya tanpa bantahan ataupun alasan lagi. Kantuknya mendadak hilang ditelan suara istrinya. Ia meraih baju yang semalam di lemparnya ke sembarang arah, dan cepat-cepat memakainya. Ia menghampiri istrinya yang sedang berdiri sambil berkacak pinggang di kaki ranjang.
Cup!
Kenn memberikan ciuman singkat di bibir mungil istrinya yang sedari tadi tak henti-hentinya mengomel.
"Bangun pagi itu, ngasih kiss dulu kek gini. Bukan malah marah-marah." Langsung beranjak ke kamar mandi.
"Ck, cepetan! Awas kalo lama-lama." ancam Jenn dengan galak.
Kenn terkekeh melihat sikap sang istri yang dianggapnya semakin menggemaskan jika sedang marah dan kesal. Setelah membasuh wajahnya, secepat kilat ia keluar dan mengajak istrinya untuk segera berangkat.
"Kita berangkat, Nyonya!"
Keduanya keluar dari rumah dengan menaiki motor, kemudian segera melesat dari sana menuju kontrakan.
Sepanjang perjalanan, Jenn masih terus saja menggerutu dan mengoceh tiada henti. Sesekali ia akan memukul punggung Kenn karena kesal. Apa lagi yang dapat dilakukan Kenn? Lelaki itu hanya terkekeh menerima semua yang dilakukan Jenn terhadapnya.
Dua puluh menit berlalu dan kini mereka tiba di kontrakan. Cepat-cepat Jenn turun dari motor lalu berjalan sambil menghentak-hentakan kakinya, membuka pintu dan masuk meninggalkan Kenn yang geleng-geleng sambil tersenyum melihat tingkahnya.
"Lapar."
Kenn baru saja masuk dan dikagetkan dengan keberadaan istrinya di balik pintu. Wanita itu berdiri dengan wajah lesu disertai rengekan.
"Astaga, Sayang! Bikin kaget aja deh." Kenn mengelus dadanya.
Jenn memasang wajah cemberutnya. "Lapar, Yang!" ucapnya sekali lagi.
Tadi marah-marah, sekarang manja!
Batin Kenn sambil tersenyum. Ia menatap wajah cantik istrinya penuh cinta. "Mandi dulu, nanti aku buatin sarapannya yah." Mengusap kepala wanita cantik di depannya. Kenn menunduk ingin mencium istri kecilnya, tapi wanita itu dengan cepat menghindar.
"Makasih, Sayangku!" Jenn tersenyum langsung berbalik dan berlari kecil menuju kamar membiarkan Kenn dengan aksinya yang gagal.
"Jangan lari-lari, Sayang!" Sedikit berteriak mengingatkan istrinya. "Menggemaskan sekali," gumamnya dan langsung menuju dapur hendak membuatkan sarapan untuk wanita cantik yang tengah mengandung anaknya.
Lima belas menit sudah berlalu dan Kenn sudah menyiapkan sarapan untuk istrinya, tapi wanita itu belum juga keluar dari kamar. Kenn merasa hal biasa yang sering dialami isterinya mungkin saja terjadi lagi, membuatnya segera berlari menuju kamar.
"Sayang! Kenapa gak panggilin aku sih?" Benar saja dugaannya. Wanita cantik itu sedang mengalami morning sickness seperti biasa. Kenn memijat tengkuk istrinya sekaligus membantunya untuk mandi.
"Yakin mau ke kampus?" Memperhatikan sang istri yang sedang sibuk berganti pakaian.
Jenn mengangguk. "Iya, Sayang! Aku gak papah kok, itu hal biasa."
"Ya udah kalo gitu ... hati-hati tapi. Kalo ada apa-apa langsung hubungi aku."
Wanita cantik itu lagi-lagi mengangguk dan menyelesaikan dandanannya. Keduanya keluar dari kamar menuju meja makan dan memulai sarapan bersama.
Bubur oatmeal ditambahkan segenggam buah strawberry yang sudah dipotong-potong. Itu yang yang dibuatkan Kenn untuk istrinya.
"Langsung ke tempat kerja aja, Sayang! Aku biar naik taksi aja," ucap Jenn di sela-sela makannya.
"Gak ada aturan kek gitu. Kemana pun kamu pergi, harus aku yang anterin. Aku gak izinin kamu pergi sendirian atau dengan orang lain, gak ada." Menyeruput secangkir kopi latte.
Kenn langsung beranjak dari duduknya begitu kopi dalam cangkirnya habis. "Kalian yang menjadi prioritasku." Menunduk dan mencium puncak kepala Jenn. "Tunggu aku sepuluh menit."
Lelaki itu segera berlalu ke kamar untuk mandi. Sambil menunggu suaminya, Jenn membereskan meja dan mencuci piring serta gelas kotor bekas sarapan mereka. Setelah itu ia mengeringkan tangan dan kembali ke kamar mengambil tas.
Tak lama setelah itu, Kenn pun sudah siap dan keduanya bergegas menuju ke kampus.
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Tiba di parkiran kampus, Jenn turun dari motor dan ia berdiri tepat di dekat suaminya. Tahu apa yang diinginkan wanita itu, Kenn langsung melepas helm yang ada di kepala sang istri.
"Hati-hati, Sayang! Pelan-pelan saja jalannya, jangan lari-lari." Mengelus pipi istrinya, kemudian tangannya beralih turun ke perut wanita itu. "Jangan nakal yah, Sayang! Jaga ibumu yang cantik ini, jangan sampai dilirik cowok lain, auuhh." Kenn meringis karena cubitan Jenn.
"Ngomong apa sih? Udah sana kerja ... udah telat ini." Tidak senang dengan ucapan suaminya.
Tiba-tiba sebuah suara yang tak asing di telinga Jenn, mengusik kemesraan dirinya dan Kenn.
"Wah, wah, makin lengket aja nih. Apa kita melewatkan sesuatu, Reen?" Suara gadis cantik yang pernah menjadi temannya, kini berdiri tak jauh di belakang dirinya dan Kenn.
Jenn menoleh dan mendapati dua sosok angkuh, Alana dan Maureen sedang berdiri dengan melipat tangan di dada, memandanginya dengan tatapan mengejek.
"Sepertinya begitu, Bebs! Liat deh, tangannya di taroh di mana tuh?" Maureen menunjuk tangan Kenn yang masih berada di perut Jenn. "Jangan, jangan ...."
"Hamidun?!" Kedua gadis itu berteriak kompak. Penasaran, Alana semakin maju ingin menyelidiki lebih jauh lagi.
"Lo beneran ... wait," Ia memicingkan matanya dan menemukan sesuatu yang membuatnya kaget. "What??? Mereka bahkan udah menikah, Reen!" Ia bertambah heboh begitu melihat cincin yang melingkar di jari manis Jenn, sama
persis dengan yang dipakai Kenn.
"OMG! Really?" Maureen pun terperanjat kaget. "Wah, sejak kapan? Kok ... kita gak diundang sih, Al. Ha-ha-ha!" Keduanya tertawa keras.
"Gue ogah diundang ke acara kaum misqueen, sorry!" ucap Alena dengan angkuhnya.
Jenn tidak menggubris ocehan kedua ex temannya. Ia menatap suaminya dengan perasaan tak enak. Kenn tersenyum dan menggenggam tangannya erat, seolah mengatakan bahwa jangan pedulikan mereka, semua baik-baik saja.
"Gue gak habis pikir deh, Al. Kok ... ratu penakluk banyak hati dari kalangan sultan semua, mau-maunya sih, nikah sama laki-laki gak punya, yang bukan kriteria dia selama ini? Lo mikir gak sih, Al?" Maureen mengingatkan Jenn dengan kehidupannya yang dulu.
Jenn memutar bola matanya malas, sementara Kenn membuang pandangannya ke tempat lain.
Kedua gadis itu tertawa karena merasa berhasil telah menjatuhkan Jenn.
Alana menatap Jenn dengan tatapan sinis. "Gue penasaran ... apa sih yang Lo liat dari dia? Istimewanya dia apa coba?"
Dari semua temannya, hanya Alana dan Maureen yang paling tidak menyukai hubungannya dengan Kenn.
Pertanyaan kali ini membuat Jenn tersenyum manis. Tangan kecilnya terangkat memutar wajah Kenn yang tadinya menoleh ke tempat lain, agar beralih menatapnya.
Wanita cantik itu menoleh ke kiri dan kanan, memastikan keadaan di sekitarnya. Begitu ia melihat tidak terlalu ramai orang di sana, ia pun mengalungkan kedua tangannya di leher Kenn.
"Apa tadi yang Lo tanyakan?" Gantian, kali ini Jenn yang bertanya tak kalah angkuh dan sinis. "Apa yang gue liat dari dia?" Wanita cantik itu tertawa kecil. "Maka jawaban gue, semua hal yang tidak pernah kalian lihat. Semua hal yang tidak pernah gue dapatkan dari siapapun. Hanya dia yang bisa memberikannya." ucap Jenn dengan bangganya. Ia menatap ke dalam manik hitam suaminya. "Dan ya ... dia istimewa, sangat istimewa. Keistimewaan dirinya, gak bakal ada duanya." Ia beralih menatap kedua gadis angkuh yang masih berdiri di sana. "Dan Lo berdua gak akan pernah tau hal itu seperti apa. Karena ... stoknya udah habis. Tuhan nyiapin satu dan khusus cuman buat gue, alias limited edition!" Setelah mengucapkan itu, Jenn langsung mengecup bibir Kenn sekilas.
Alana dan Maureen terbelalak melihat itu dan mendadak malu dengan sendirinya. Mereka seolah tak percaya, Jenn yang mereka kenal baik, friendly dan tidak suka menanggapi omongan orang, bisa melakukan hal itu di depan mereka.
Kenn sendiri pun tidak percaya dengan keberanian istri kecilnya.
Melihat raut kekalahan kedua gadis itu, Jenn menurunkan tangannya dari leher Kenn dan melangkah berdiri tepat di hadapan Alana.
"Dengar! Jika dulu Lo ngehina dia di depan gue, dan gue diam aja, sekarang gak bakal lagi. Karena sekarang dia adalah suami gue, dan gue gak akan ngebiarin siapapun ngehina atau ngerendahin suami gue. Lo berdua sekalipun. Ngerti?!"
Kata-kata telak yang diluncurkan Jenn sukses membungkam kedua gadis itu. Jenn tersenyum puas telah membuat dua gadis angkuh itu kena mental.
Ia beralih pada Kenn dan meminta suaminya untuk segera berangkat kerja.
Meski masih ingin berduaan dengan sang istri, tetapi Kenn ingat untuk menafkahi istri dan anaknya nanti, membuatnya bersemangat untuk bekerja. Ia pun segera berlalu dari sana, di ikuti Jenn yang juga meninggalkan area parkir itu, meninggalkan kedua gadis angkuh yang terpaku malu di sana.
..._____βοΈβοΈβοΈβοΈβοΈ_____...
...*...
...*...
...*...
...To be continued ......
...__________________...
Segini dulu yah gaes π€
Jangan lupa tinggalkan jejaknya yah π
Plisss, like dan komen ππ¬
Terima kasih buat yang selalu mampir ππ
Sampai jumpa lagi di episode berikutnya π€π₯°
Follow Ig author : @ag_sweetie0425