
...~ Happy Reading ~...
...___________________...
...*...
...*...
...*...
Keesokkan harinya masih di rumah sakit. Pagi-pagi sekali, Kenn mendapatkan panggilan telepon dari Farel.
Farel memintanya untuk bertemu di luar, tapi Kenn menolak. Alasannya karena Jenn tidak mau dengan yang lain. Ia hanya ingin ditemani suaminya.
Namun, penolakan Kenn sama sekali tidak diterima Farel. Ia mengatakan ada hal penting yang harus mereka selesaikan, dan itu pun mengenai Jenn.
Apapun yang berhubungan dengan istrinya, penting bagi Kenn. Alhasil, ia berusaha mencari alasan supaya bisa ke luar dan menemui Farel.
"Lama gak?" Suaranya seperti tidak rela.
"Gak, Sayang. Bentar aja kok. Boleh yah." Mencoba membujuk istrinya. "Ditemanin sama ibu dan Kay dulu yah." Lanjut Kenn lagi.
Saat itu memang hanya ada ibunya Kenn serta adiknya. Sedangkan orangtua Jenn menginap di rumah mereka.
Jenn mengangguk dengan wajah masam. "Cepat kembali, jangan lama-lama!" Titahnya.
Kenn merasa gemas melihat wajah istrinya seperti itu. Ia terkekeh dan mencubit pelan pipi tirus Jenn.
"Siap yang mulia Ratu." Membuat gerakan hormat sambil tertawa kecil. "Aku pergi yah." Mencium kepala Jenn dan iya pun segera berlalu setelah berpamitan dengan ibunya dan juga Kay.
Baru saja tubuh suaminya menghilang dari pandangannya, Jenn sudah merindukan sosok itu lagi.
"Kenapa Kak, kok mukanya gitu?" Kay melihat raut sendu di wajah kakak iparnya.
"Kangen kakakmu," ucap Jenn dengan cemberut.
Seketika Kay terbahak. "Apa Kak? Kay gak salah denger nih? Hahaha." Masih saja tertawa. "Ya ampun Kakak, itu orangnya baru saja pergi belom sampai 3 menit loh," ucap Kay di sela-sela tawanya.
Jenn semakin cemberut dibuat adik iparnya.
"Kay pikir hanya kak Kenn yang bucin, eh ternyata dua-duanya sama aja." Gadis cantik itu masih saja tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
Ia berjalan menghampiri Jenn yang sedang berbaring sembari memainkan ponsel di tangannya. Gadis itu duduk pada kursi dekat ranjang yang biasa diduduki Kenn. Dengan bertopang dagu pada kasur, ia menatap Jenn dengan rasa penasaran.
"Sebenarnya apa sih yang buat Kak Jenn jatuh cinta sama kakak? Kay penasaran." Bertanya serius
Jenn tersenyum mendengar pertanyaan itu. Namun, ia masih fokus men-scroll layar ponselnya.
"Ya, gak tau. Gak ada alasannya." Singkat sekali jawabannya, dan hal itu tidak memberi kepuasan bagi Kay.
"Masa sih gak ada alasannya, gak mungkin banget. Yang Kay tau, cewek sekarang itu gak mau sama cowok yang miskin kayak kakak. Kalaupun ada, pasti orangtuanya gak setuju. Siapa juga yang mau sama cowok yang gak mapan? Hidup kita itu pas-pasan kak. Kak Jenn liat dari mananya sih?" Gadis itu tampak penasaran sekali dengan kisah cinta kakaknya.
Jenn lalu meletakkan ponselnya. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan secara perlahan. Sekarang ia duduk lalu menatap Kay dengan serius.
"Kamu tau gak? Kakakmu itu punya sejuta kelebihan yang tidak dimiliki lelaki lain. Dia adalah satu dari seribu lelaki baik di bumi ini. Yang mapan belum tentu bahagia. Kadang kesempurnaan itu datang dari sebuah kesederhanaan. Yang terpenting, tanggung jawabnya." Jenn menjeda sesaat dan tersenyum. "Alasan klasiknya sih tentu saja dia tampan, hahaha." Tertawa sendiri dengan pujiannya. "Bahkan di mataku, dia lelaki tertampan di bumi ini." Ia menatap Kay. "Kamu gak tau kan, berapa banyak wanita-wanita centil di luar sana yang menginginkan dia? Hah, aku tidak menyukai itu." Memasang wajah masam. "Intinya, cinta itu tumbuh tanpa kita sadari, tidak ada alasannya. Ia datang begitu saja. Sama seperti aku yang tergila-gila dengan kakakmu tanpa alasan." Jenn tersenyum dan mengedikan bahunya. "Dia selalu membuatku merasa nyaman. Dia tahu cara membahagiakanku. Dan kamu tau? Apa yang ada pada dirinya tidak ada pada orang lain. Dia malaikat pelindungku yang dikirim Tuhan." Jelas tergambar raut bahagia di wajahnya saat menuturkan hal itu.
Kay tersenyum dan terkagum dengan sosok kakak satu-satunya itu lewat cerita kakak iparnya. "Kak Jenn bahagia banget yah?" tanyanya lagi seperti masih ingin mendengarkan banyak cerita lainnya.
"Teramat sangat bahagia, Kay. Dan hal itu gak bisa dijelaskan dengan kata-kata walaupun sepuluh buku aku tuliskan. Gak akan pernah ada habisnya. So, jangan bertanya lagi. Aku mau tidur!" Merebahkan kepalanya dan menarik selimut menutupi seluruh wajahnya. Di balik selimut itu terukir senyum manis seorang Jennifer.
Bahkan sampai detik ini aku masih saja jatuh cinta padanya. Ah, jadi kangen.
Kay hanya geleng-geleng melihat tingkah kakak iparnya. Sedangkan dari depan pintu kamar mandi, ibunya tersenyum haru mendengarkan percakapan anak gadis dan menantunya.
Ada perasaan bangga bahwa putranya bisa bertanggungjawab dan membahagiakan seorang wanita.
Kebahagiaan kalian adalah hal yang selalu ibu bicarakan dengan Sang Pencipta di segala waktu.
*****
Di tempat lain.
Bugh!
Brak!
Seorang lelaki terjungkal dari tempat duduknya karena mendapat pukulan keras di wajah serta sebuah tendangan di perutnya.
Pihak kepolisian yang bertugas langsung bergerak mengamankan lelaki itu. Sedangkan dua orang lagi dengan sigap menahan sang pelaku yang tidak lain adalah Kenn.
Saat itu mereka sedang berada di kantor polisi. Bukan saja untuk memberi pelajaran pada Bastian, tetapi juga melaporkan Verlita, Nayla, dan Maya.
Sebelum ke kantor polisi, Kenn sudah lebih dulu bertemu dua wanita iblis itu atas bantuan Reza dan Alvino. Juga mantan karyawan wanita yang bekerja di bengkel Farel. Ia bahkan kehilangan kendali sampai hampir saja membunuh tiga wanita itu dengan tangannya. Untung saja yang lain menghentikannya. Hingga tiba di kantor polisi dan melihat wajah Bastian, Kenn pun semakin emosi lalu menghajarnya.
"Cukup Kenn! Tahan emosi Lo. Ini kantor polisi, biarkan mereka yang menyelesaikan pekerjaan mereka."
"Biarin! Biar gue habisin dia, dia udah nyiksa istri gue bahkan ngebunuh anak gue. Penjara saja rasanya gak cukup untuk bajingan seperti dia!" Kenn memberontak.
Mengingat wajah istrinya yang dipenuhi air mata kehilangan dan kepedihan sejak kemarin, membuat Kenn ingin sekali menghabisi orang-orang itu.
Menyakitinya mungkin ia maafkan, tapi tidak untuk Jenn. Tidak peduli siapapun orangnya, pria maupun wanita. Bagi Kenn sama saja. Balasannya tetap setimpal.
*****
Jarum jam sudah berada di angka 2:30, dan Kenn baru saja tiba di rumah sakit setelah menyelesaikan urusannya di kantor polisi.
Tok,
Tok,
Tok.
"Masuk!"
Terdengar suara yang selalu ia rindukan. Suara itu terdengar malas dan tak bersemangat. Kenn tersenyum dan membuka pintu secara perlahan dengan sebelah tangannya. Tangan yang satu lagi menyembunyikan sesuatu di belakangnya. Ia mengintip dengan sedikit menyembulkan kepalanya.
"Sayaaaaaanggg!!!" pekik Jenn kembali bersemangat mengenali sosok di balik pintu itu.
Mereka yang lain terperanjat kaget dengan teriakannya, tetapi Kenn malah tertawa gemas mendengar suara istrinya.
Kenn cepat-cepat masuk lalu menutup pintu dan berjalan ke arah ranjang. Di sana Jenn sudah duduk dengan kedua tangan yang direntangkan.
"Ini sebagai permintaan maaf aku karena terlambat." Menyodorkan sebuket mawar putih pada Jenn.
Jenn meraihnya dan menciumnya. Raut cantik yang sedari tadi tidak bersemangat itu kini berubah cerah.
"Thank you, Sayang." Meletakkan bunganya di atas ranjang, kemudian ia kembali merentangkan tangannya.
Kenn segera membawa wanita cantik yang menjadi ratu di hatinya itu ke dalam dekapannya.
"Kemana aja sih, kangen tau. Bilangnya cuman sebentar, padahal lama banget. Aku rindu." Keluh Jenn dan bermanja dalam pelukan suaminya tanpa menghiraukan ibu dan Kay.
Sementara dua orang itu hanya menonton dengan kepala yang bergoyang serta senyum bahagia di wajah mereka.
Arrghh, aku harus menyiapkan mentalku untuk melihat kebucinan ini setiap hari. Menyebalkan tapi menggemaskan.
..._____πΎπΈπΎπΈπΎ_____...
...Laksana angin ......
...Tak terlihat namun siapapun dapat merasakannya....
...Cintaku pun demikian ......
...Tanpa perlu ku ceritakan, namun dunia tahu bersamanya aku bahagia....
..._Jennifer_...
...###...
...To be continued ......
...__________________...
...*...
...*...
...*...
Hay semuanya π Ketemu lagi π€
Terima kasih buat yang selalu setia nungguin ππ
Jangan lupa like dan komen yah π
Sampai jumpa di episode berikutnya π€
Ig author : @ag_sweetie0425