
...~ Happy Reading ~...
...___________________...
...*...
...*...
...*...
Sementara itu di waktu yang sama, Kenn baru saja memberhentikan mobil yang dikendarainya di sebuah basemen apartemen. Lelaki itu keluar sembari membanting pintu mobil dengan sangat kuat.
Ia segera berlari masuk ke dalam dan menuju lift. Beberapa menit kemudian ia kembali berlari menuju sebuah unit yang belum pernah didatanginya sama sekali.
Tidak menunggu lama, Kenn membunyikan bel apartemen itu berulang kali dengan tak sabar. Begitu pintu itu terbuka, Kenn langsung menyerobot masuk dan tanpa basa-basi ia meraih kerah baju pemilik apartemen tersebut yang tak lain adalah Alvino.
"Mana istri gue?" tanya Kenn tanpa tedeng aling.
"Lo?" Kaget dengan kehadiran Kenn yang tiba-tiba. "Maksud Lo apa hah? Punya etika dikit kalo bertamu, brengsek." Alvino menghempaskan tangan Kenn yang mencengkram kerahnya.
"Gue gak peduli! Istri gue mana anj***? Lo yang udah bawa dia kan, breng***!"
Kenn yang tidak dapat lagi menahan dan mengontrol emosinya, melayangkan satu pukulan di wajah tampan Alvino.
Alvino meringis memegang sisi wajahnya yang kesakitan sambil memicingkan mata menatap Kenn.
"Apa Lo bilang? Gue bawa Jenn? Maksud Lo apa hah?" cecar Alvino dengan rasa penasaran.
"Gak usah pura-pura bego Lo. Gak ada orang lain yang begitu menginginkan istri gue sebesar diri Lo, breng***!" Kenn kembali ingin Alvino tapi kalah cepat dengan Alvino yang lebih dulu memukulnya.
"Jadi maksud Lo, ada yang membawa kabur Jenn gitu?" Giliran Alvino yang meraih kerah baju Kenn. "Kalo Lo gak becus jagain dia, kembalikan dia buat gue." Kembali Alvino memukul Kenn.
Kenn meludahi dari segar yang terasa asin dari ujung bibirnya. "Jangan mimpi." teriak Kenn sambil membalas pukulan Alvino tadi. "Jangan membuang-buang waktu gue. Di mana Jenn?"
Kedua lelaki itu malah berkelahi saling membalas pukulan, dan saling menuding.
"Lo denger ya ba**sat, gue emang cinta sama dia. Saking cintanya, gue gak mau maksain kehendak gue buat dia ikut sama gue. Gue bahkan bisa memaksanya dengan cara gue. Gue bisa menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Gue bisa bawa dia pergi sejauh mungkin dari hidup Lo," ucap Alvino berapi-api menyudahi perang di antara keduanya. "Tapi gue gak bisa lakuin semua itu. Lo tau kenapa?" tanyanya sambil menatap Kenn dengan tajam. "Kebahagiaan dia jauh lebih penting dari segalanya buat gue. Apapun gue lakukan, apapun gue korbankan untuk dia, perasaan gue sekalipun. Percuma gue maksain dia tetap di sisi gue dengan segala kemewahan yang gue berikan, tapi nyatanya hal itu tidak bisa membahagiakan dirinya."
Kenn tampak seperti orang bodoh begitu mendengar kata-kata Alvino. Kali ini Alvino kembali mencengkeram kerah baju Kenn.
"Dan gue gak mau mengatakan hal ini, tapi sepertinya Lo mesti dengarkan. Alasan gue ninggalin dia selama berbulan-bulan lalu ... itu hanya untuk kebahagiaan dan keselamatan dia. Gue terjebak dan dihantam berbagai tekanan serta ancaman yang gak main-main. Gue terpaksa ninggalin dia, hanya demi senyum diwajahnya tidak meredup. Gue rela menderita menahan rindu berbulan-bulan lamanya hanya demi dan untuk dia. Gue berjuang sendirian untuk terlepas dari jebakan waktu, saat itu gue kembali dihantam kekecewaan yang paling menyakitkan. Kecewa terhadap kenyataan bahwa semua yang gue korbankan, gue perjuangkan sia-sia. Dia berpaling gitu aja tanpa tahu apa yang gue lakuin selama ini. Dan asal Lo tau, gue sudah menyerah untuk mengharapkannya, saat melihat dia bahagia bersama Lo."
Alvino menghempaskan tubuh Kenn yang sedang terpaku dengan kenyataan yang ia beberkan. Kenn terjatuh dilantai begitu saja. Alvino sedikit menjauh dan merapikan pakaiannya.
"Tapi kali ini sepertinya tidak. Kenyataan bahwa Lo gak bisa jagain dia, dan gue akan meraihnya kembali."
Mendengar itu Kenn tersentak dari lamunannya. Ia kembali menyerang Alvino.
"Jangan harap, jangan bermimpi untuk mendapatkan dirinya." Kenn melepaskan semua emosi dalam dirinya lewat pukulan-pukulan yang ia layangkan pada Alvino.
Pergulatan kembali terjadi di antara kedua lelaki itu, hingga kedatangan Farel dan Reza menghentikan keduanya.
"Kalian apa-apaan sih? Kek bocah tau gak?!" Reza menarik abangnya, sementara Farel menahan temannya. "Dengan kalian begini apa Jenn bisa ditemukan? Apa kalian sudah dapat jalan keluar dengan berkelahi seperti ini?" Bentak Farel pada dua lelaki yang tengah berdiri dengan nafas yang tersengal-sengal dan tampilan yang acak-acakan. Keduanya saling melempar tatapan tajam dalam diam.
"Lanjutkan saja, ayo lanjutkan lagi, sampai Jenn semakin tersiksa entah di mana. Tunjukan lagi kehebatan kalian di sini dan biarkan Jenn menjerit di tem ...."
"DIAM!!!" Teriak Kenn dan Alvino berbarengan membuat Farel dan Reza terlonjak.
Hening beberapa detik.
"Sorry, Rel. Lo tau gue emosi, gue gak tenang, gue lagi kacau," ucap Kenn sambil tertunduk dan meremas belakang rambutnya dengan kuat. Lelaki itu tampak frustasi.
Farel menepuk pundak temannya, dan baru saja hendak berkata, dering ponsel Kenn sudah lebih dulu menahannya.
Kenn segera merogoh ponsel dari saku celananya. Seketika wajah tampannya yang sedikit memar menjadi cerah, begitu melihat nama kontak yang tertera di layar ponselnya. Cepat-cepat Kenn menjawabnya.
π± "Sayang, kamu di mana? Kamu baik-baik saja kan? Gak kenapa-kenapa kan? Katakan di mana, Yang? Aku ke sana, aku jemput sekarang."
Kenn yang tidak sabar langsung menyambut panggilan telepon dari nomor istrinya dengan penuh semangat dan berbagai tanya yang menggebu-gebu tanpa jeda.
π± "Ha-ha-ha!"
Tawa menggelegar dari suara asing yang terdengar dari seberang, membuat tubuh Kenn menegang dengan jantung yang kembali bertalu-talu.
Mendengar teriakan Kenn, Farel memintanya mengeraskan volume ponsel agar dirinya dan yang lainnya turut mendengar.
π± "Tenang saja, istrimu aman bersamaku. Aku tidak mungkin menyakiti makhluk cantik seperti ini."
π± "Baji**an, kep**rat, jangan sekali-kali menyentuhnya! Lo lakik kan? Selesaikan ini sama gue sekarang, tapi kembalikan istri gue."
Bukan hanya Kenn yang emosi, tiga lelaki yang sudah berdiri di sampingnya pun ikut tersulut emosi.
Sepertinya gue kenal suara ini. Batin Alvino.
Tanpa peduli lagi bahwa dirinya dan Kenn adalah musuh dalam memperebutkan satu wanita, Alvino meminta ponsel Kenn dan berbicara dengan orang di seberang.
π± "Katakan apa yang Lo mau? Apapun, berapapun, gue kasih, tapi kembalikan Jenn terlebih dulu tanpa lecet sedikitpun."
π± "Ouuww, Tuan Dharmawan yang terhormat, tapi sayangnya sekarang begitu menyedihkan. Ha-ha-ha, gimana? Udah selesai bertarung? Siapa yang menang? Ha-ha-ha ... kebetulan sekali ada kamu aku jadi bisa mengatakan secara langsung, aku tidak tertarik dengan tawaran apapun. Aku hanya ingin mantan kekasihmu ini, istri dari musuhmu itu, ha-ha-ha! Sudah terlalu lama aku mendambakan si cantik ini."
Kenn marah dan hendak menarik ponselnya tapi Farel menahannya, membiarkan Alvino berbicara dengan tenang.
π± "Cih, rendah sekali cara Lo sebagai laki-laki. Anggap saja Lo nantangin gue, baiklah! Dalam lima menit, gue pastikan gue bakal temukan keberadaan Jenn. Selama itu, jangan pernah Lo sentuh dia."
π± "Dan jika dalam lima menit kau gagal, dia milikku."
Panggilan telepon itu pun terputus, dengan darah Kenn yang mendidih mendengar negosiasi Alvino dan orang di seberang.
"Lo gila yah? Maksud Lo apa hah? Lo sengaja, iya?" cecar Kenn kembali ingin menyerang Alvino, tapi Farel menahannya.
Alvino menatap Kenn begitu serius. "Nyawa gue taruhannya."
.
.
.
.
.
..._____πΎπΎπΎπΎπΎ_____...
.
.
.
.
.
...To be continued ......
...__________________...
...*...
...*...
...*...
Selamat sore semuanya π Ketemu lagi π€
Tinkyuw banget buat kalian yang selalu setia menunggu cerita receh ini ππ
Maaf yah udah buat nunggu lamaΒ² π€π€
Nih up 2 bab sebagai bonus π€ Semoga suka yah zeyengΒ² akoh π€
Sampai jumpa di episode berikutnya π€
Ig author : @ag_sweetie0425