
Mesin waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 waktu setempat. Di hunian tiga gadis cantik, di sana berdiri dua orang lelaki, sambil mengetuk-ngetuk pintu rumah itu. Tidak terdengar apapun di sana. Sepi bagai tak berpenghuni. Dan kedua lelaki itu tahu bahwa penghuninya masih tertidur.
"Ck, dasar pemalas. Anak gadis kok malas bangun pagi, heran deh. Gimana nanti diajak nikah coba? hadew," salah seorang dari mereka menggerutu kesal.
"Coba ditelepon," kata yang satunya sambil terus mengetuk pintu, dan memanggil-manggil nama ketiga gadis di sana.
"Ini tidur apa pada mati sih? Ditelepon gak diangkat-angkat," sungut lelaki itu lagi.
Tak sabar, dia berjalan menuju kamar ketiganya, mengetuk dengan keras jendela kamar itu, sambil memanggil-manggil ketiganya.
"Put, Putriiii, bangun, ai. Udah siang ini," teriak lelaki yang adalah kekasih Putri, Viky. "Miniii, Rossaaa bangun woii!!" teriaknya lagi tak mau tahu.
Mendengar keributan-keributan itu, ketiganya terusik dan terbangun saling menatap dengan tampang yang masih mengantuk dan acak-acakan.
"Siapa sih? Pagi-pagi udah ribut. Ganggu aja," kesal Jenn. Lalu bangun menuju kamar mandi membasuh mukanya. Sedangkan Putri yang mendengar suara pacarnya di sana, langsung melompat dari tempat tidur dan berlari kecil membuka pintu.
"Put, bangun bukain pintunya dong!" lelaki itu terus saja mengusik ketenangan kediaman disana.
"iya, iya bentar!" berlari dan membuka pintu.
"Selamat pagi, ai! Eh ada,kak Rio." Putri tersenyum dengan muka bantal, mendapati pacarnya tidak sendiri di sana tapi ada juga sahabat dari pacarnya itu.
"Selamat siang nona trail pemalas, ini sudah hampir jam 11. Dan kita sudah setengah jam ketok-ketok pintu, teriak-teriak kek orang gila dari tadi," sungut Viky pacarnya.
"Iyah Put, kasihan pacarnya. Hampir minta bantuan se-RT buat bangunin kalian tadi. Untung aja keburu bangun," canda Rio.
Putri hanya cengar-cengir dan mempersilahkan keduanya masuk.
"Kalo minta bantuan se-RT lama. Lain kali gue bangunin pake granat sekalian."
Viky sungguh kesal rupanya. Jelas saja kesal. Tangannya sampe sakit ketok-ketok pintu, jendela, sambil gedor-gedor pulak. Sudah begitu, teriak-teriak sampai sakit tenggorokan lagi. Bangunin pacar gini amat ya, Vik π
"Enak aja pake Granat, kirain di sini markas mafia?" timpal Jenn yang baru lewat menuju dapur, untuk membuat sesuatu yang bisa dimakan.
"Bukan markas mafia, tapi markas pemalas." Rossa ikut nimbrung dari belakang, dan menyusul Jenn ke dapur untuk membuat sarapan. Eh bukan! Makan siang lebih tepat. Karena mereka kesiangan bukan? π
"Ada yang sadar juga, baguslah. Masak yang enak yah mini, kakak dah laper banget ini. Gedor-gedor sambil teriak-teriak bangunin kebo, menguras energi ternyata. Eh ai, sana mandi gih. Pacar datang kok acak-acakan gitu tampilannya," ucap Viky menyindir, lalu menyuruh kekasihnya itu untuk mandi.
Ia lalu mengajak Rio untuk bergabung bersama Jenn dan Rossa di dapur.
"Iyah, yang pacaran sama kebo, cinta mati pulak," ejek Jenn, membuat keempatnya tertawa meramaikan cooking area di rumah itu.
Rumah yang tadinya sepi itu, kini ramai dipenuhi canda tawa ketiga penghuninya, ditambah dua lelaki yang bertandang di siang itu. Mereka memasak dan makan bersama, dan menghabiskan minggu itu dengan bercerita dan bersantai di sana.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Siang itu, terlihat seorang pemuda tampan baru saja memasuki sebuah warung kecil, yang sudah menjadi tempat favoritnya. Karena hampir setiap hari dia mendatangi tempat itu untuk makan. Setelah memarkirkan motornya di depan warung, dia memesan makanan dan minuman. Tak lama pesanannya datang dibawakan oleh pak Uday pemilik warung yang sudah mengenal langganannya yang satu ini.
"Terima kasih, pak!" jawab sopan pemuda tampan yang adalah Kenn. Dia lalu menikmati makan siangnya ditemani pak Uday, karena minggu itu agak sepi.
"Eh, ada mas ganteng. Kemarin kemana aja gak mampir ke sini?" seru istri kang Uday yang baru kembali dari pasar. Membeli bahan-bahan yang kehabisan di warung.
"Iyah nih buk, bapak juga baru mau nanyain. Eh, udah keduluan ibu," kata pak Uday.
"Oh itu, maaf pak, buk. Itu kemarin disuruh Tante, nganterin anaknya lagi ikut kegiatan sampai sore di sana. Pulangnya langsung makan malam di rumah tante. Jadi ya, gak mampir lagi ke sini," kata Kenn menjelaskan.
"Oh, enggak papa kok, mas ganteng. Enggak usah sungkan gitu.Tiap hari juga mas ganteng ke sini kan? Lagian ibu mau bilang makasih. Berkat mas ganteng, warung ibuk dan bapak jadi ramai," kata istri pak Uday pada Kenn.
"Emang apa yang aku lakukan, buk?" tanya Kenn bingung.
"Itu loh mas ganteng, banyak gadis-gadis yang sengaja mampir ke sini katanya mau liat mas-mas ganteng yang sering makan di sini. Kemarin aja banyak yang nanyain," ucap buk Wati, istri pak Uday.
"Ah, itu perasaan ibu aja. Mana ada gadis yang mau sama tukang ojek begini, buk. Lagian, kalau banyak pengunjung itu emang udah rezeki dari Tuhan. Jadi ibu sama bapak terima kasih-nya sama Tuhan, bukan sama aku, buk!" jawab Kenn tersenyum, lalu memasukan suapan terakhir ke mulutnya. Sesudah itu dia meneguk minumannya. Dan berpamitan pada pasangan pemilik warung itu.
"Hati-hati mas ganteng. Lain kali ke sini bawa gandengannya, biar gak ditanyain yang lain terus," kata pak Uday bercanda.
"Mudah-mudahan, doain aja ya, pak!"
Kenn tersenyum lalu melajukan motornya, meninggalkan warung itu. Kembali ke kontrakan untuk beristirahat sebentar dari teriknya panas matahari siang itu.
.
.
.
.
.
to be continued ...
.
.
.
Happy reading buddies πβ€οΈ
Jangan lupa tinggalkan jejaknya yah ππ₯°π₯°π₯°