
...Holaaaaaa epribadeeeh ποΈ...
...Ketemu lagi kiteee π...
...Jangan lupa like dan komen yah π€...
...Salam sehat, dan ......
...*...
...*...
...*...
...~ Happy Reading ~...
...___________________...
...###...
"Ini, Boss! Maaf, tadi hampir ketahuan." Seorang lelaki berkepala plontos terlihat baru saja masuk di sebuah ruangan yang mirip seperti ruang kerja.
Laki-laki itu meletakan sebuah map dan sebuah gawai pada meja kerja di depannya.
Tampak seseorang sedang duduk dengan santai pada kursi putarnya di balik meja itu. Tangannya terulur meraih map itu dan membuka dan membacanya beberapa saat, setelah itu ia mengambil gawai dan melihat lagi isinya. Tampak sudut bibirnya sedikit terangkat.
"Apa aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku sampai membiarkan mereka bahagia secepat ini?" Laki-laki itu bertanya pada dirinya sendiri.
"Sepertinya aku harus menyerahkan pekerjaan ini untuk asistenku yang meng-handle semuanya sementara waktu," ucapnya lagi.
"Terima kasih! Pekerjaanmu memuaskan. Terus awasi mereka, dan kau boleh pergi."
Anak buahnya baru saja berbalik hendak pergi, tapi suaranya kembali menahan langkah lelaki bertubuh kekar itu.
"Jangan lupa menghubungi wanita itu. Kita membutuhkan dia sekarang." Perintahnya pada lelaki yang merupakan anak buahnya.
"Baik, Boss!"
Sesudah laki-laki berkepala plontos itu benar-benar menghilang dari ruangannya, lelaki yang bersantai pada kursi kebesarannya itu mengambil selembar foto yang menampilkan senyum cantik seorang wanita. Ia mengusap foto itu dengan telunjuknya sembari membayangkan wanita itu benar-benar ada di hadapannya.
"Jennifer!"
Lelaki itu membisikan nama wanita cantik yang selalu membayangi hari-harinya.
...******...
Di waktu yang sama, di hunian baru Kenn dan Jenn, tampak sepasang suami istri itu masih melihat-lihat seisi rumah. Lebih tepatnya, Kenn hanya menemani sang istri karena dia yang telah mempersiapkan semua itu jadi dia sudah sangat hafal dengan seluk-beluk rumah baru mereka.
"Terus kamar kita yang mana?" tanya Jenn dengan antusias.
Kenn menuntun istrinya menuju kamar utama yang lebih besar dari dua kamar lainnya. Kamar yang berada pada posisi tengah antara kamar tidur paling belakang dan garasi di depan. Di dalam kamar utama itu terdapat kamar mandi lengkap dengan closet duduk, bathtub minimalis, dan juga ruangan kecil bersekat kaca yang terdapat shower untuk berbilas. Kamar mandi minimalis itu didominasi putih off white yang umum diaplikasikan pada kamar mandi agar terlihat bersih dan nyaman.
"Gimana, suka gak?" tanya Kenn.
Jenn berbalik dan melihat suaminya. "Suka banget, Yang. Perfect!" ucap Jenn dengan senyuman manisnya.
"Syukurlah kamu suka!" Kenn mengacak rambut pujaan hatinya. "Udah kan? Sekarang istirahat dulu yah. Aku pengen masakin sesuatu tapi karena belom ada persediaan bahan-bahan, kita delivery aja dulu yah." Kenn meminta pendapat istrinya.
"Hmm, boleh ... tapi bentar lagi, Yang! Belom laper," jawab Jenn yang kini mulai bergelayut manja di lengan suaminya.
"Udah siang loh ini, kamu gak boleh telat makan. Kasihan anakku juga butuh asupan. Makan sekarang yah," ucap Kenn membujuk istri kecilnya.
"Iya deh, iyah." Jenn pun mengangguk menyetujui dan Kenn langsung memesan makanan untuk mereka berdua. Tentu saja ia memilih makanan yang sesuai dengan selera ngidam istrinya dan sudah pasti kehigenisan itu yang diutamakan.
Selama menunggu pesanan, keduanya membunuh waktu dengan mengobrol ringan sambil bersantai sejenak di ruang keluarga. Obrolan ringan itu sedikit terusik dengan panggilan video call dari dua sahabat Jenn. Kenn yang tidak ingin mengganggu keseruan ketiganya, memilih berbaring di sofa dengan pangkuan sang istri sebagai bantal.
Jenn begitu asik bercerita bersama kedua sahabatnya dengan sebelah tangan memegang ponsel, dan sebelahnya lagi mengusap-usap rambut legam suaminya.
Kurangnya istirahat selama dua minggu belakang ini, membuat Kenn kelelahan dan di tambah dengan sentuhan lembut istrinya, akhirnya laki-laki itu pun tertidur. Dan hal itu tidak di sadari sama sekali oleh Jenn.
Tiba-tiba bel rumah itu berbunyi menginterupsi pembicaraan Jenn dan dua sahabatnya. Wanita itu menunduk dan melihat suaminya.
Senyum kecil tersungging di bibirnya begitu melihat sang suami sudah terlelap. "Kecapean banget yah, maafkan aku yang selalu merepotkan kamu." Jenn lebih menunduk lagi dan mencium kening suaminya sekilas.
π± "Bentar yah, Bebs! Di depan ada yang datang. Kayaknya pesenan makan deh."
π± "Kak Kenn mana emang? Minta tolong liat dulu."
π± "Tuh, tidur. Kasihan suami gue kecapean, Bebs!"
π± "Ya, dia bekerja keras buat Lo bahagia ... udah sana liat siapa yang datang."
Tanpa menyudahi panggilannya, Jenn meletakkan sebentar ponselnya ke atas meja. Ia lalu mengangkat kepala Kenn dan bergeser sedikit dari sana, kemudian ia mengambil bantalan sofa dan memindahkan kepala Kenn di sana. Jenn melakukan itu dengan lembut karena tidak ingin membangunkan sang suami yang tampak pulas dalam tidurnya.
Ia meraih kembali ponselnya kemudian berjalan ke depan dan cepat-cepat membuka pintu. Benar saja, itu adalah layanan delivery dari go food. Jenn menerima pesanan itu kemudian ia kembali masuk tanpa menutup pintu dengan masih setia mengobrol bersama sahabatnya.
Tiba-tiba dari layar ponselnya, Jenn melihat seperti ada seseorang yang berdiri di balik pagar rumah mereka dan sedang mengamati setiap sudut rumah baru itu. Langkah Jenn terhenti dan memicingkan matanya demi melihat lebih jelas siapa di sana. Penasaran, Jenn pun berbalik dan melangkah maju memandangi tempat tadi tapi nihil. Tidak ada siapapun di sana.
"Apa halusi gue aja yah?" gumam Jenn pelan tetapi dapat di dengar oleh Rossa dan Putri.
π± "Gue juga liat kok, Bebs!"
π± "Heh? Lo juga liat?"
π± "Ho'oh, kek ada penampakan gitu. Ada seseorang berdiri di deket pagar tadi kok. Pas Lo balik, dia ngilang!"
Jenn langsung menutup pintunya kembali, kemudian berjalan menuju dapur.
π± "Aneh! Ya udah, Bebs! Gue bangunin kak Kenn buat makan dulu yah,"
π± "Ok! Hati-hati yah. Salam buat kak Kenn."
π± "Iya, bye Bebebs-bebebs gue!"
Panggilan Video itu pun berakhir. Jenn memindahkan makanan pada wadah-wadah yang sudah tersedia di sana lalu menyajikannya di meja makan. Tidak lupa Ia menyiapkan piring untuk dirinya dan sang suami.
Si cantik itu kemudian menghampiri suaminya yang terlihat sangat nyenyak dalam tidur. Jenn memilih duduk melantai menghadapkan wajahnya dekat dengan wajah sang suami, agar ia bisa memandangi wajah tampan yang selalu berhasil mendamaikan hatinya.
Tangannya terulur menelusuri setiap garis wajah lelaki tampan kesayangannya.
"Ganteng banget sih!" Jenn tersenyum dan mengecup bibir suaminya sekilas. Setelah itu ia kembali memandangi wajah tampan itu lagi dan lagi. Tiba-tiba seperti ada yang menyentil hatinya. Perasaannya mendadak tak keruan. "Kok ... tiba-tiba takut kehilangan kamu yah. Takut kamu ada yang ambil," lirih perempuan berparas cantik itu. "Aku jadi penasaran seberapa banyak wanita di luar sana yang menyukai suamiku?" lagi Jenn memberikan kecupan di bibir suaminya. "Wanita seperti apa pula yang pernah jadi kekasihnya?" Ia masih setia bermonolog. "Aku gak percaya kalo aku yang pertama. Apa aku wanita yang paling beruntung di dunia ini?" Tiba-tiba wanita cantik itu terkekeh sendiri. "You make me crazy, my dear husband!" Jenn berbisik dan lagi-lagi ia memberikan kecupan singkat yang terakhir di bibir itu lagi.
Saat Jenn hendak menjauhkan wajahnya, tangan besar Kenn langsung menahan tengkuknya dan melanjutkan cuiman yang ingin diakhiri Jenn. Laki-laki itu memperdalam ciumannya selama beberapa menit sampai tangan kecil Jenn memukul-mukul punggungnya barulah ia berhenti dan melepaskan wanita itu tapi dengan menggigit kecil bibir istrinya.
"Huh, huh ... sakit, Yang! Huh, huh ... jahat banget sih." Jenn merengut kesal.
Jenn tidak sadar jika suaminya itu sudah terbangun saat ia memberikan kecupan pertama tadi.
"Bilang apa tadi hm?" Kenn bangun dan menarik tangan Jenn dengan lembut, membawa wanita cantik itu duduk di pangkuannya. "Sudah aku bilang dari dulu, gak ada wanita lain dalam hidup aku, selain kamu, ibu, dan Kay. Kamu yang pertama dan yang terakhir buat aku. Udah berapa kali aku bilang ini? Masih gak percaya juga?" tanya Kenn dengan lembutnya. "Lagian gak ada wanita yang suka dengan suamimu ini. Hanya kamu yang mau sama aku, dan mau nerima aku apa adanya. Karena itu ... sudah aku katakan berkali-kali, bukan kamu yang beruntung, tapi akulah lelaki yang beruntung itu." Kenn menyingkap sejumput rambut yang terurai menutupi wajah cantik istrinya.
"Jangan tanyakan hal ini lagi yah. Jangan ngomong yang aneh-aneh lagi. Hanya kamu, Jenn! Kita sudah menikah, dan jangan pernah ada keraguan dalam hubungan kita. Percayalah!" ucap Kenn dan Jenn pun mengangguk.
"Maaf! Habis kamu sih, pake acara ganteng segala," ucap Jenn masih dengan wajah kesalnya.
"Ha-ha-ha, kamu ada-ada aja deh. Lah kalo ganteng kan bagus dong, gak terlalu malu-maluin kamu," ucap Kenn sambil tertawa.
"Ish ... ngomong apa sih. Mana ada aku malu? Yang ada aku bangga jadi istri kamu. Sudah ah, makan yuk!" Jenn menyudahi perdebatan mereka.
"Pesanannya udah dateng emang?"
"Sudah, ayo!"
Jenn berdiri dari pangkuan suaminya dan beranjak menuju meja makan diikuti Kenn dari belakang. Keduanya lalu memulai makan siang mereka dengan suasana yang tenang dan damai.
..._____πΊπΊπΊπΊπΊ_____...
...To be continued ......
...*...
...*...
...*...
Segini dulu yah gaes π
Terima kasih buat yang sudah mampir π
Jangan lupa like dan komen π
Sampai jumpa di episode berikutnya π€
follow Ig author : @ag_sweetie0425