
...~ Happy Reading ~...
...___________________...
...*...
...*...
...*...
"Ngapain aja di luar? Lama banget sih," gerutu Alvino begitu melihat adiknya masuk.
Reza menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Sorry, Bang, tad ...."
"Gue mo makan." Reza melongo. "Lo budeg yah?"
"Ah, eh ... i-iya, Bang." Tapi masih berdiri di tempatnya. Ia tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Lah ngapain masih di situ?" teriak Alvino dengan kesal.
Reza pun segera tersadar dan menyiapkan makanan untuk kakaknya.
Apa ini? Tau begini dari tadi kita gak usah repot-repot gantian keluar-masuk. Nyebelin banget sih jadi orang.
Gerutu Reza dalam hati. Ia lalu membantu Alvino untuk duduk dan bersandar agar bisa makan dengan baik.
"Lo keluar aja, nanti gue panggil kalo dah selesai."
Tanpa basa-basi, Reza keluar dari sana dengan rasa lega bercampur kesal. Lega karena abangnya mau makan, dan kesal karena sikap bossy lelaki menyebalkan itu.
"Hah, akhirnya ...," ucap Reza sedikit menggantungkan kalimatnya.
Melihat keantusiasan paman dan bibinya, Reza pun memberitahukan apa yang terjadi di dalam sana. Kedua orang tua itu tampak senang.
"Syukurlah!"
Sementara di dalam sana, Alvino tengan makan dengan pandangan yang jauh menembus kaca jendela ruang rawat inap.
Mulutnya mengunyah dengan pelan, sedangkan pikirannya berkelana mengikuti jejak langkah kepergian Jenn.
"Aku tahu ... kamu ke sini karena permintaan mami. Makasih." Bermonolog sambil tersenyum perih. "Aku tahu, mami baru nyesel sekarang." Terkekeh sendiri. "Dia nyesel karena baru tahu kalau perempuan yang ia benci, ternyata jauh lebih baik dari dia yang disanjungnya selama ini." Menatap makanan yang sudah berada di sendoknya selama beberapa detik. Ia tersenyum bersama setetes air mata yang ikut terurai. "Kedatanganmu tidak sia-sia. Aku mau menghabiskan makanan ini karena usahamu, bukan karena permintaan mami." Memasukan sendok ke mulutnya. "Semoga setelah ini, raga serta hatiku segera pulih. Dan aku bisa dengan mudah menghapus ingatan tentang kita."
Sedikit demi sedikit, Alvino pun menghabiskan makanannya. Ia kembali menghubungi Reza untuk masuk. Setelah membereskan peralatan makan Alvino, Reza lalu menceritakan tentang kedatangan Jenn sesuai perintah abangnya itu.
Flashback on.
Pukul 2 siang, Reza mendapatkan telepon dari Kenn bahwa dia dan Jenn akan ke rumah sakit. Tentu saja dia senang mendengar itu.
Sedangkan Kenn, ia sendiri bisa menemani Jenn di saat itu karena izin dari teman baiknya. Kenn berusaha membujuk istrinya agar mau menemui ibu dari mantan kekasih wanita kesayangannya itu. Beberapa alasan Jenn berikan sebagai bentuk penolakan, tapi Kenn terus memaksa sampai Jenn menyerah dan menyetujuinya.
Bukan apa-apa, hanya saja Kenn ingin memperjelas dan mengakhiri semuanya dengan baik.
Setelah tiba di rumah sakit, Jenn begitu tidak nyaman dengan situasi yang ada. Ia enggan untuk menatap ibu dari mantan kekasihnya. Hingga tiba-tiba wanita tua dan elegan itu hendak bersujud ke lantai di depan ruang VIP tempat Alvino di rawat, tapi Jenn dengan cepat menunduk dan menahannya.
"Jangan seperti ini, Tante. Jenn berdosa banget kalo sampai Tante lakukan itu. Tidak pantas untuk seorang ibu melakukannya." Jenn menahan pundak wanita paruh baya itu dan mengusapnya lembut.
Sepersekian detik, wanita itu sesegukan dalam pelukan Jenn.
"Maafkan tante, Nak. Ternyata Vino benar, kamu gadis yang baik. Tante menyesal pernah menolak hubungan kalian. Maafkan tante, Sayang." ucapnya sambil terus menangis. "Tante dibutakan dengan keangkuhan Tante sendiri. Bahkan tante tidak menyadari kebodohan tante yang menyia-nyiakan kamu, dan malah menyetujui Vino dengan perempuan yang tidak baik." Wanita cantik di usia senja itu meratapi kesalahannya.
Jenn membimbing wanita itu untuk duduk.
"Gak papah Tan, Jenn sudah memaafkan Tante jauh sebelum ini. Jenn gak berhak untuk marah apalagi dendam. Gak sama sekali, Tan. Sungguh." Ucapannya terdengar tulus dan itu bagai angin segar di telinga kedua orang tua Alvino.
Wanita paruh bayah itu melepaskan pelukannya dan menatap Jenn begitu dalam. Ia meraih tangan Jenn lalu menggenggam lembut.
"Benarkah kamu sudah memaafkan tante?" Jenn mengangguk dan wanita itu tersenyum bahagia. "Kalau begitu, tante boleh minta sesuatu dari kamu?"
Jenn terdiam untuk beberapa detik, dan sesudah itu ia mengangguk.
Wanita itu semakin erat menggenggam tangan Jenn. "Maafkan Alvino juga yah, dan kembalilah bersamanya."
Jenn tersentak dengan refleks melepaskan tangannya dari wanita paruh baya itu. Ia bangkit sambil menggeleng kepalanya beberapa kali.
"Tante sudah mersetui kalian, Nak," ucap maminya Alvino mendongak menatap Jenn.
Jenn semakin menggelengkan kepalanya kuat. Sementara Kenn tetap tenang. Ia memaklumi situasinya. Berbeda lagi dengan Reza yang malah justru tidak enak terhadap Kenn.
"Benarkan, Pi?" Meminta pendapat yang menguatkan dari suaminya.
Jenn berat untuk mengatakan kenyataan yang sudah pasti akan melukai hati sepasang suami istri itu. Melihat wajah bahagia dan penuh harap di hadapannya, membuat Jenn tidak tega untuk berucap.
"Jenn sudah menikah." Beber Reza meneruskan perkataan Jenn yang tidak mampu terucap. Dan hal itu sangat mengejutkan bagi kedua orang tua Alvino.
"Omong kosong apa yang kau bicarakan, Reza?" tanya maminya Alvino menolak untuk percaya. Seperti anaknya, ia pun seolah tidak rela.
"Itu kenyataannya, Tante. Dan lelaki yang berdiri di sampingnya itu adalah suaminya." Menunjuk Kenn.
Pasangan paruh baya itu beralih menatap sosok lelaki tampan yang sedari tadi berdiri di samping wanita yang dicintai putra mereka.
"Benarkah itu?" tanya papinya Alvino pada Kenn, dan lelaki tampan itu mengangguk sopan dibarengi senyuman tipis.
"Tidak mungkin!" pekik maminya Alvino. Ia bangkit dan mengguncang bahu Jenn sedikit kuat. "Katakan kalau itu bohong. Kamu hanya kecewa sama tante saja kan?"
Kenn dengan cepat menjauhkan istrinya dari aksi kekejutan wanita paruh baya itu.
"Maaf, istri saya sedang mengandung. Dan saya tidak ingin siapapun menyakitinya. Maaf sekali lagi." Kenn lalu merangkul sang istri.
Air mata wanita tua itu kembali menetes. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas kursi tunggu, di depan ruangan anaknya. Jujur ia tertampar dan terluka dengan kenyataan. Seketika itu juga ia membayangkan seberapa hancur putra kesayangannya. Dan ia baru mengerti kekecewaan anaknya sebesar apa.
"Yang saya tahu, kamu sangat mencintainya. Bagaimana bisa kamu berpaling darinya semudah ini?" Menangis dan meronta dalam dekapan suaminya.
Reza dan Jenn tidak tega melihatnya. Jenn meminta maaf atas kekecewaan wanita itu. Dengan besar hati ia mendekat dan menghiburnya. Sulit memang untuk menerima semuanya. Namun menyesal tidak lagi berguna.
Papinya Alvino pun merasakan kehilangan yang dirasakan putranya. Ia menatap gadis cantik yang digilai putranya itu.
Pantas, Alvino begitu mencintaimu. Semoga kelak, Tuhan memberikan kami seorang menantu yang baik hati sepertimu.
Lelaki paruh baya itu juga menatap Kenn. Sebagai seorang lelaki yang telah banyak berpengalaman, ia bisa melihat cinta yang begitu besar di mata Kenn untuk Jenn.
Mungkin dia jauh lebih baik dari kamu, Nak. Papi bisa melihat itu dari matanya. Jodoh itu tidak pernah salah, dan papi yakin, akan ada pengganti Jenn yang lebih baik lagi untukmu.
Melihat istrinya yang sudah bisa ditenangkan oleh Jenn, lelaki paruh baya yang tak kalah tampan dari putranya itu tersenyum dalam sedihnya.
Hah, ternyata bukan kamu saja yang bisa dijinakkan olehnya. Mami kamu yang keras kepala sepertimu juga bisa luluh dengan mudahnya. Beruntung sekali suaminya.
Lelaki itu menyeka ujung matanya yang sedikit basah. Ia terharu dengan ketulusan gadis cantik itu. Ia mendekat dan merangkul istrinya. Sebuah ide terlintas dipikirannya.
"Sudah Mi, bagaimana kalau permintaan yang tadi, ganti saja dengan ...." Sengaja menggantungkan kalimatnya.
"Apa, Pi? Jangan aneh-aneh lagi kek tadi." Suaminya terkekeh.
"Dari tadi kan papi sama Reza gagal nih, ngebujuk Vino buat makan. Gimana kalo si cantik ini saja? Pasti dia mau. Bolehkan, cantik? Kali ini saja, bantuin Om dan Tante yah," ucapnya sedikit memohon.
Jenn menatap suaminya. Kenn dengan besar hati mengangguk mengizinkannya. Jenn lalu bangkit dan masuk ke dalam ruang rawat Alvino.
Flashback off.
..._____πππππ_____...
...Tidak semua orang dipertemukan untuk jadi teman hidup. Namun, ada juga yang dipertemukan hanya untuk jadi pengalaman hidup....
..._Adipati Dolken_...
...###...
...To be continued ......
...__________________...
...*...
...*...
...*...
Hay semuanya π Maaf telat lagi hehe π€
Makasih banget loh, buat semua yang selalu setia dikapal ini ππ€
Spesial thanks buat kak @indah_setyaaa yang udah follow Ig otor receh ini π Ma'aciih buat semangatnya kak ππ€
Jangan pada bosen yah π
Tinggalkan jejak yang bisa menyemangati otor. Plissssss like dan komen aja, gak mulukΒ² kok π€ππ
Sampai jumpa di episode berikutnya π€
Follow Ig author : @ag_sweetie0425