
π Cinta bukan tentang menemukan orang yang sempurna. Ini tentang menyadari bahwa orang yang tidak sempurna, dapat membuatmu sempurna π
Sebulan berlalu sudah. Sedikit waktu namun banyak yang terjadi. Begitu pun dalam hubungan Kenn dan Jenn. Dalam waktu sebulan ini, Kenn terus saja berusaha menjadi kekasih yang baik untuk Jenn. Dan begitu sebaliknya.
Jenn tidak pernah mendapat kabar apapun lagi dari Alvino. Paling tidak, dia butuh penjelasan tentang hilangnya lelaki yang pernah mengisi hatinya. Bukan mengharapkan untuk ia kembali. Bukan! Tetapi ia butuh pernyataan langsung. Pernyataan yang akan menjadi langkah awal untuk hubungannya yang baru bersama Kenn. Semuanya harus berakhir dengan baik bukan? Tujuannya, agar kelak tidak akan terjadi hal-hal yang perlu dikhawatirkan. Jika saja ia semakin jauh dengan Kenn, dan tiba-tiba Alvino kembali. Tidak! ia tidak ingin hal itu terjadi.
Ia pun kini semakin menyadari perasaannya. Bukan saja rasa nyaman yang melingkupi, namun pelan-pelan seiring berjalannya waktu. Sebuah rasa yang mengatasnamakan cinta telah menyentuh hatinya. Dia telah jatuh cinta meski belum terlalu dalam. Cara Kenn mencintainya dan kehadiran lelaki itu, membuatnya terhanyut dalam buai cinta seorang Kennand. Untuk itulah, ia ingin memantapkan hatinya. Dan memastikan bahwa Alvino tak akan lagi membayangi masa depannya nanti.
Selama sebulan ini pula, banyak sudah yang diketahui Jenn, tentang kehidupan lelaki yang kini menjadi kekasihnya. Keluarga, pekerjaan, dan semuanya.
"Maaf, aku tak sempurna sepertinya. Tapi tak ada yang seperti cintaku."
Kata-kata seorang Kennand kala itu, yang berhasil menggugah bagian terdalam hatinya. Ia tidak masalah dengan semua itu. Yang dia tahu, dia nyaman dengan lelaki itu, dia mulai mencintainya. Bagi Jenn, kemewahan tidaklah selalu menjadi tolak ukur dari sebuah kebahagiaan.
πππππππ
Pagi ini ketiga gadis cantik itu sedang bersiap-siap dengan begitu terburu-buru. Karena hari ini mereka akan mengikuti pembekalan untuk KKN seminggu lagi.
Ketiganya sudah siap dengan pakaian bernuansa hitam putih sesuai aturan dari kampus.
"Cepet selesaikan sarapannya. Jangan sampai telat. Ini penting loh." tegur Rossa pada Jenn yang sedang sibuk dengan ponselnya.
"Iya, iyah. Ini juga dah selesai kok." Jenn dengan cepat menyelesaikan sarapannya. Tadi dia hanya memberitahukan pada kekasihnya agar tidak perlu menjemputnya pagi ini. Karena dia sangat terburu-buru.
"Mudah-mudahan, kita satu lokasi yah." ucap Putri disela-sela makannya.
"Ia, bebs!" sahut Jenn dan Rossa bersamaan.
Setelah menyelesaikan sarapan, ketiga gadis cantik itu langsung berangkat ke kampus.
Sesampainya di parkiran kampus, Jenn bertemu dengan geng-nya. Mereka lalu bergegas menuju ruang auditorium kampus di mana mereka menimba ilmu. Di sana sudah banyak mahasiswa yang siap mengikuti pembekalan hari itu.
Tidak menunggu lama. Kegiatan saat itu dimulai dan dipimpin oleh seorang Nara sumber, yang memberi materi dan pembinaan untuk program KKN tersebut nantinya berjalan lancar dan terarah. Semuanya nampak serius menyimak dan mendengar arahan hari itu. Tapi tidak dengan seseorang yang sedang memandang Jenn dari kejauhan, yang juga sedang mengikuti kegiatan pembekalan hari itu.
Lo udah berubah yah. Lo terlihat lebih baik dan bahagia sekarang dari yang sebelumnya.
Reza membatin.
Selama sebulan hubungan Jenn dan Kenn. Lelaki itu masih saja memantau setiap aktivitas gadis cantik itu. Satu hal yang dia temukan sepanjang itu, Jenn terlihat begitu bahagia. Bahkan beberapa kebiasaannya telah berubah. Salah satunya hal berpakaian. Dia bukan lagi Jenn yang dulu senang mempertontonkan tubuh indahnya. Gadis itu kini lebih sopan dalan berpakaian. Bukan itu saja. Waktu hura-hura dan jalan-jalan bersama geng-nya pun sudah sangat berkurang. Tetapi gadis itu terlihat sangat bahagia dengan kehidupannya yang sekarang. Sungguh, Reza senang dengan Jenn yang sekarang. Tentu saja dia berterimakasih pada lelaki yang sudah banyak merubah gadis itu.
Kegiatan hari itu berlangsung dengan baik. Setelah selesai, Jenn and the geng-nya, juga dua sahabatnya menuju Kantin. Karena ini pun telah melewati jam makan siang. Jadi gadis-gadis itu memilih makanan yang berat. Masing-masing mereka memasan sendiri, lalu mulai makan diselingi obrolan-obrolan ringan.
"Gak kerasa yah, kita udah ada ditahap ini." ucap Reta.
Yang lainnya mengangguk setuju sebagaimana yang mereka rasakan pula.
"Habis ini kita cek lokasinya yah. Semoga aja Gue satu lokasi dengan salah satu dari kalian." ucap Yuni.
"Gue juga berharap gitu. Gimana sama Lo, Jenn?" tanya Fio.
"Hmm, Gue mana-mana aja. Yang penting ada kalian." jawab Jenn.
"Bagaimana dengan Lo, Al?" Fio bertanya pada Alena yang dari tadi hanya diam dan terkesan tidak menghiraukan keberadaan mereka. Bukan. Bukan mereka tetapi lebih tepatnya Jenn.
Setelah seminggu hubungan Jenn dan Kenn, akhirnya Alena dan yang lainnya pun mengetahui hal itu. Jenn sendiri yang membenarkannya. Karena pikirnya hal itu tidak perlu lagi untuk ditutupi. Semula teman-temannya biasa dan senang-senang saja. Tetapi kemudian mereka tahu bahwa Kenn hanyalah kalangan menengah ke bawah, dan bekerja sebagai seorang montir di sebuah bengkel mobil resmi. Dari sinilah, pro dan kontra pun terjadi antara Jenn and the geng-nya. Alena dan Maureen yang kontra. Sedangkan Fio, Yuni, dan Reta sudah pasti sangat pro. Apalagi Fio, jangan ditanya. Ia sebagai orang pertama pendukung garis keras hubungan Jenn dan Kenn sejak awal.
Alena dan Maureen yang memang pada dasarnya angkuh, tidak seperti teman-temannya yang lain. Mereka berteman hanya memandang status sosial seseorang. Bahkan Jenn pun beruntung bisa masuk dalam kelompok gadis-gadis tajir itu. Kelayakannya hanya karena kepintaran, kecantikan, dan ketenarannya.
"Gue ogah sama yang misqueen. Alergi, Gue!" ucap Alena sengaja mengejek.
"Sama. Gue juga. Takut nular selera rendahnya." Maureen ikutan mengejek.
Jenn memejamkan mata, menahan gemuruh di dadanya. Ini bukan yang pertama kali ia dengar dari mulut kedua temannya yang angkuh itu. Ia selalu mencoba untuk sabar menghadapi keduanya. Dia tahu bahwa, emosi hanya akan menghancurkan pertemanan mereka.
Putri berdiri dan mendorong kursinya secara kasar lalu menghampiri Alena dan Maureen. "Maksud kalian apa hah? Otak dan perilaku kalian tuh yang rendah, tau gak? Kalian itu miskin akhlak dan moral." gadis tomboi itu emosi dan menggebrak meja. Mengundang perhatian mahasiswa lainnya.
"Udah, udah, Put. Bikin malu tau gak." Jenn menghentikan sahabatnya.
"Gak bisa dibiarin kek gini, Jenn. Mereka udah keterlaluan. Pokoknya Lo gak boleh lagi temenan sama mereka berdua. Gue gak suka!" Putri masih saja terbawa emosi.
"Siapa juga yang mau temenan sama orang-orang rendahan seperti kalian?" ucap Alena dengan angkuhnya.
Putri yang sangat ingin memberi pelajaran pada Alena saat itu, lagi-lagi ditahan oleh Jenn.
"Biarin aja, Put. Gue juga gak peduli kok dengan omongan mereka. Omongan mereka anggap aja angin yang lewat" ucap Jenn dengan tenang lalu menampilkan senyum manisnya. Membuat Alena dan Maureen begitu kesal.
"Mending kita ngecek lokasi yuk!" lanjut gadis cantik itu dan di ikuti yang lainnya. Mereka pun segera berlalu dari sana, meninggalkan dua gadis angkuh itu.
_____________________
"Yeeiiiii, kita satu tim, bebs." Fio bersorak kegirangan karena mendapatkan satu lokasi dengan Jenn dalam satu tim. Lokasinya bertempat pada sebuah desa yang tidak begitu jauh dari kota.
"Lah, Gue sama si tomboi." ucap Yuni yang melihat ke arah Putri. "Tos dulu dong. Kan sama-sama!" Putri pun senang karena satu tim dengan teman dari sahabatnya. Keduanya lalu ber-tos ria.
Sedangkan Rossa satu tim dengan Reta dan Reni, Sepupunya Kenn. "Eh, si Reni di mana yah nyarinya?" Reta berpikir sejenak.
"Nanti gue minta nomernya sama kak Kenn dulu yah." Jenn menyarankan dan langsung menge-chat kekasihnya. Tak berselang lama ia mendapat balasan dan dibagikan pada Reta dan Rossa.
"Wah, satu tim juga yah kita." seru Reza yang baru saja datang bergabung bersama gadis-gadis cantik yang masih berdiri didepan papan pengumuman.
"Sama siapa, Za?" tanya Rossa.
"Nih, sama si cantik ini." tunjuknya pada Jenn.
"Eh, iya yah? Kok Gue gak liat." Jenn kaget dan kembali melihat pada urutan nama-nama timnya. "Oh iya bener. Asik dong bertiga." Jenn terlihat senang sekali.
"Okay, guys. Kita harus mempersiapkan diri dengan baik. Pertama kita cari tau tentang lokasi yang akan kita tempati. Keadaan di sana kayak gimana. Agar program-program yang kita adakan nantinya berjalan baik dan gak ada kendala. Agar bermanfaat juga." lanjut gadis cantik itu memberi arahan.
"Siap Miss, Jenn!" ucap teman-temannya serempak.
Reza tersenyum mendengar itu.
Beda banget. Kalau begini, pasti jalan-jalan dulu, nongky dulu baru pulang. Hehe. Hebat yah dia, bisa merubah kehidupan Lo yang terkesan cukup glamor selama ini.
Lelaki itu terus saja tersenyum sambil geleng-geleng.
"Di jemput, kak Kenn?" tanya Reta.
Jenn menggeleng. "Gak lah, ini belom jam pulang kerjanya." melihat jam tangan kecil yang melingkar di pergelangannya. "Aku sama Fio aja." sambungnya lagi.
"Mau ke tempat kak Kenn dulu?" Jenn mengangguk. "Kalo gitu Gue sama Putri duluan yah." ucap Rossa dan mereka berjalan bersama menuju parkiran, menaiki kendaraan masing-masing dan berlalu dari sana.
"Ada kak Farel di sana kan?" tanya Jenn begitu keduanya dalam mobil.
"Ada. Dia kan sekarang yang gantiin papanya awasi di sana. Papanya lagi sibuk dengan cabang yang lain diluar" Fio melirik sekilas pada Jenn. "Lagian tuh anak sudah harus bisa meneruskan sebagian usaha keluarganya. Dia kebanyakan santai dan main-main." Jelas Fio.
Jenn hanya manggut-manggut. "Lo udah kenal sama orang tuanya?" tanya Jenn dan Fio menggeleng. "Kenapa?" sekali lagi bertanya.
"Nanti aja, bebs! Gue belom siap buat dikenalin." Fio tersenyum. "Kalo Lo?"
"Gue mau aja. Kalo ibunya di sini. Lagian Gue udah kenalan via telepon." Jenn tersenyum bahagia membayangkannya. Akhir-akhir ini dia sering telponan dengan ibu dan adik dari kekasihnya itu. Mengingat dulu dia sangat tak dianggap oleh maminya Alvino, membuatnya begitu bersyukur untuk kehidupannya yang sekarang.
"Pasti bahagia banget yah, bisa diterima camer kek gitu." Jenn tersenyum mengiyakan hal itu. "Gue berharap bisa seperti Lo juga, bebs."
Tak lama setelah itu, keduanya sampai di tempat tujuan mereka. Setelah memarkirkan mobilnya dengan benar, kedua gadis cantik itu pun masuk kedalam dan memberi kejutan pada pasangan mereka.
Jenn terpaku di tempatnya melihat wajah tampan sang kekasih yang dipenuhi keringat, dan masih fokus dengan pekerjaannya.
Akh, tampan sekali sih, sayangku.
Jenn tersenyum bahagia. Mengingat perkataan Alena dan Maureen tadi, sejenak ia menggeleng.
Gak, aku mencintaimu apa adanya. Dalam keadaan apapun. Aku gak peduli dengan omongan orang. Yang aku tau, aku bahagia bersama kamu.
Jenn memajukan langkahnya menghampiri sang kekasih. Dia berjinjit dan menutup mata Kenn dari belakang. Lelaki tampan itu menghentikan kegiatannya sejenak. Ia sudah mengenal sentuhan lembut itu, dan juga wangi parfum gadisnya.
Kenn tersenyum dengan mata terpejam. "Turunkan tanganmu. Aku gak bisa. Ini kotor, sayang" Kenn mengangkat kedua tangannya.
Jenn cekikikan lalu melepaskan tangannya. "Bisa aja langsung kenal gitu," ucapnya.
Kenn membalikan tubuhnya menghadap gadisnya. "Bisa dong. Cinta selalu kenal sama pemiliknya!" tertawa kecil.
Jenn pun ikut tertawa. "Ada sesuatu di wajah kamu loh, coba sini Aku liat." menggerakkan telunjuknya supaya Kenn mendekat.
Mengikuti perintah sang kekasih, Kenn lebih mendekat dan sedikit menunduk.
Cup!
Satu kecupan di pipi lelaki tampan itu. Membuatnya tersenyum bahagia.
"Makasih, sayang. Mood booster." mengedipkan sebelah matanya, dan kembali berdiri tegak.
Kenn mengajak kekasihnya duduk di sebuah bangku panjang yang ada disana. Jenn memberikan sebotol air mineral untuknya. Tak lupa, ia mengeluarkan sapu tangan dari dalam tasnya lalu menyeka peluh yang mengucur di wajah tampan sang kekasih.
"Udah makan belum?" tanya Jenn.
"Hmm, sudah apa belom yah. Lupa." cengengesan.
"Lah kok lupa sih. Yang bener dong." Jenn mencubit lengannya.
"Aku lupa, sayang. Habis tadi dapet mood booster langsung lupa sama yang lain."
Keduanya lalu tertawa bahagia meramaikan suasana bengkel yang sedikit sepi di siang menjelang sore itu.
Fio dan Farel yang melihat itu pun ikut tersenyum bahagia.
ππππππππ
.
.
.
.
.
to be continued ...
___________________
Hai semuanya π
Makasih selalu dari aku buat yang selalu nyempatin waktunya mampir di karya receh ini ππ
Jengan pada bosen yah π€π
Jangan lupa juga like dan komennya serta tambahkan ke favorit juga yah β€οΈ
Selamat membaca π€π
Follow yah π
Ig author : @ag_sweetie0425