
Apa yang mesti gue bilang ? Reza.
Apa mereka bertengkar ? Maureen.
What ? Alvino hilang kabar ? Yuni.
Rasanya ini gak mungkin ! Reta.
Apa gue harus seneng ? Alena.
Sorry, bebs ! mungkin ini yang gue harapkan ! Fio.
Semua yang ada disana masih larut dalam pemikiran mereka. Sebagian dari mereka mungkin saja senang dengan kabar itu. Bagaimana tidak. Bagi mereka, Alvino adalah sosok kekasih yang menyebalkan. Ketidakbebasan, dan ketidakberdayaan Jenn selama ini, yang selalu tunduk dan mengikuti semua aturan lelaki tampan itu, sudah cukup membuat mereka jengkel.
Beda lagi dengan Rossa yang sangat menyayangi Jenn. Meskipun dia juga tidak begitu menyukai hubungan Jenn dan Alvino, namun kebahagiaan sahabatnya itu jauh lebih penting dari ego-nya. Dan sungguh, Rossa berharap secepatnya Alvino mengabari Jenn.
"Kenapa diem, Za ? Lo gak mau bilang buat abang Lo ? atau Lo nyembunyiin sesuatu dari gue ?" lagi Jenn bertanya dengan lirih.
"Gak bukan gitu, Jenn. Bang Vino emang lagi sibuk sama skripsinya. Ya ... mungkin dia ngejar buat cepet-cepet selesai biar bisa dateng lagi liat Lo, ya kan." Reza beralasan, mencoba mengusir pikiran negatif yang mungkin saja bersarang di kepala Jenn, yang membuatnya sakit seperti sekarang.
Gue harap Lo percaya.
"Setidaknya ngasih tau. Gue juga gak bakal ngeganggu urusannya dia. Gue cuman mau denger suaranya dia sebentar aja" suaranya terdengar parau dan bergetar.
Ya, Tuhan ! jangan sampai Lo nangis, please. Gue mesti gimana ? pengen banget bisa meluk Lo, tapi itu gak mungkin. Aarrrgghh, bre****k, Lo bang !
"Hm, nanti gue coba ngubungin Bang Vino. Gue bakal usahain. Lo cepet sembuh, yah. Gue mau balik dulu. Kalo perlu apa-apa, hubungi gue aja. Gue selalu siap bantu Lo." Ucap Reza ingin segera pergi. Karena tidak sanggup melihat kesedihan diwajah cantik yang pucat itu.
"Girls, gue balik yah" pamit Reza pada komplotan gadis-gadis disana.
"Bentar yah, gue anterin Reza ke depan dulu" keduanya lalu berjalan keluar dari kamar.
"Thanks ya, Za. Udah nolongin gue dari tadi. Udah repot-repot ke apotek, bantu buat bohong sama Jenn" tertawa kecil di akhir kalimatnya.
"Hehe" ikut terkekeh. "Biasa aja, Sa. Titip Jenn yah. Jagain dia. Gue bakal berusaha buat nelpon bang Vino terus." ucap Raza serius.
"Ck, Lo kira sahabat gue barang ? main nitip-nitip gitu" melotot pada Reza. Lelaki itu kembali terkekeh. "Tanpa perlu Lo bilang, gue sama Putri selalu jagain dia. Dia itu si bungsu gue sama Putri. Satu lagi, bilang sama Abang Lo, jadi laki-laki jangan pengecut. Taunya nyakitin hati perempuan terus" ketus Rossa yang benar-benar marah sama Alvino.
"Iya, Iyah. Gue balik yah, bye" berlajan menuju mobilnya lalu membunyikan klakson pada Rossa yang masih berdiri di teras. Sepersekian detik, lelaki itu sudah menghilang dari sana.
Rossa kembali ke kamar. Dilihatnya makhluk-makhluk cacingan menurut sebutannya, sudah memenuhi tempat tidur. Bahkan ada yang sambil berbaring disana. Rossa mendekat pada Jenn.
"Lo butuh apa lagi, bebs ?" tanya Rossa sambil mengusap pelan kepala sahabatnya.
Jenn menggeleng. "Gak ada" tersenyum. Senang dengan perhatian dari sahabat dan teman-temannya.
"Kalian kalo mau sesuatu, ambil aja sendiri. Udah biasa kan ? Dan temani Jenn bentar yah. Gue mau masak, nanti kita makan bareng" beralih pada makhluk-makhluk yang sering kali membuatnya pusing.
"Ashiiiaaappp" menjawab kompak.
Rossa keluar dan menuju dapur. Membiarkan Jenn bercengkrama dengan gadis-gadis pecicilan itu. Mungkin saja dengan kegilaan mereka dapat membuatnya terhibur dan melupakan Alvino. Begitu yang dipikirkan Rossa.
"Bebs, emang benar yah, Alvino gak ngasih kabar ?" tanya Maureen kepo. Tapi tak ada jawaban.
"Kalian ada masalah apa si sebenernya ?" Alena ikutan kepo. Namun masih tetap sama, tak ada jawaban.
"Ceritalah bebs, sama kita-kita" rengek Yuni. Kali ini Jenn tersenyum. Mungkin terhibur dengan wajah sok imut yang dibuat-buat temannya.
"Udah ah, gak usah bahas yang itu. Bikin bad mood tau gak. Tuh, Si Mini makin sedih jadinya kan ? bahas yang lain napa ?" potong Fio. Gadis itu tidak suka membahas tentang Alvino. Katakanlah dia senang dengan berita, tak ada kabar dari lelaki tampan itu. Why ? ada sesuatu yang terancang otomatis dalam sistem otaknya.
"Iyah nih, kalian gak banget deh. Jengukin kok gak ngasih support biar cepet sembuh pasiennya. Ini malah bikin pasiennya tambah sakit" cerocos Reta.
Jenn hanya geleng-geleng melihat perdebatan geng-nya. "Udah-udah, gue gak kenapa-napa kok. Mending pijitin gue aja. Pegal banget ini gengs" ucap Jenn dengan senyum manisnya.
"Aish, kesempatan Lo yah" seru Fio kesal, namun tetap melakukan seperti yang diminta oleh Jenn.
"Hahaha" gadis itu tertawa kecil. "Kapan lagi coba ? ya kan ?" sambungnya masih tertawa.
Apapun itu, yang penting Lo bahagia ! dan gue harap without news dari laki-laki itu, Lo semakin bahagia. Tentunya dengan apa yang gue rencanain.
Fio dan Yuni disibukkan dengan profesi pijit memijit. Sedangkan teman-temannya yang lain asik bermain game online bersama alias mabar.
Jenn yang mendapat pijatan lembut dari dua sahabatnya, begitu menikmati dan terbuai. Tanpa sadar, gadis cantik itu mulai terlelap. Dua pemijat dadakan yang melihat itu pun tersenyum senang.
"Shuuuuttttt,,, ! Jangan berisik. Pasiennya sudah tertidur. Biarkan dia istirahat dengan baik" Fio memperingatkan teman-temannya agar tidak ribut.
"Gue mau nyusul si Rossa di dapur ah" ucap Yuni pelan dan langsung beranjak dari tampat tidur menuju dapur.
Aha, ini kesempatan. Rencana pertama dimulai dari sekarang.
Fio merogoh ponselnya dari dalam tas. Dia mendial sebuah nomor yang sudah ada diluar kepalanya. Mengetik beberapa kata pada keyboard ponselnya, lalu mengirimkannya lewat aplikasi berwarna hijau dengan simbol telepon.
Tak lama setelah itu ponselnya berdering. Ada panggilan masuk dari nomor yang di chat-nya tadi. Fio berjalan menuju kamar mandi dan menerima panggilannya disana.
"Halo"
"Benar yang kamu bilang ?"
"Iyalah. Gimana menurut kamu ?
"Good news, baby"
"Yoi babeh. The First step begins"
"Semangat amat"
"Hahaha, cepat pulang baby. Aku rindu"
"Ck, modus. Udah ah. Nanti ada yang denger lagi"
"Okay, bye"
Tut !
Fio langsung memutuskan sambungan teleponnya, dan kelaur dari kamar mandi. Dia mendekat ke arah tempat tidur. Gadis itu tersenyum manis melihat Jenn yang lelap dalam mimpinya. Ponsel yang masih ada di genggamannya, secepat kilat ia gunakan untuk mangambil foto Jenn yang tertidur begitu lucu.
Mimpi indah bebs.
"Gengs, jagain Jenn yah. Gue mau ke belakang liat Rossa. Awas kalo berisik" ancam Fio dan mendapat anggukan dari tiga orang disana. Gadis itu lalu menyusul Rossa dan Yuni ke dapur.
"Masak apa, Sa ? ada yang perlu dibantu gak ?" tawar Fio begitu sampai di dapur dan melihat dua gadis yang sedang sibuk memasak. Eh tidak ! Rossa saja yang memasak, dan Yuni hanya membantu. Karena pada umumnya, personil geng edan itu rata-rata semuanya tidak tahu memasak. Kecuali Jenn.
"Gak usah. Ini juga udah mau selesai. Ya masak makanan yang bisa dimakan orang sakit biar cepet sembuh, bisa juga buat kita yang sehat. Two in one gitu loh" tutur Rossa.
"Pinter masak juga yah" puji Fio. Memilih duduk.
"Harus dong. Sewajarnya perempuan seperti itu. Lagian kita bertiga udah terbiasa. Gak kayak kalian yang pada punya ART" sibuk mengetes rasa supnya.
Fio hanya manggut-manggut. Bebs, Lo itu satu dari seribu gadis yang terbaik. Lo sempurna. Udah cantik, baik, pinter otaknya, pinter di dapur, gak ada yang kurang dari Lo. Gak salah, banyak yang jatuh cinta sama Lo. Hehehe dia akan jadi lelaki yang sangat beruntung jika dapetin hati Lo.
"Hei ngelamun apa si ? senyam-senyum sendiri gak jelas, dah gila kali yah" Yuni menyadarkannya.
"Ck, ganggu aja" mencebik lalu berdiri membantu Rossa menyajikan makan pada wadah masing-masing.
"Ok, selesai. Ayok panggil yang lainnya buat makan. Gue mau bawain ini buat Jenn dulu." Rossa yang ingin membawa nampa itu ditahan oleh Fio.
"Gue aja. Lo dari tadi kan dah kecapean, kali ini biar gue aja yah. Lagian dianya masih tidur" seru Fio.
"Benarkah dia lagi tidur ? syukurlah, biar dia istirahat dulu. Semalam tidur gak bener dia" menaruh kembali nampan ke atas meja. "Kalo gitu panggil gih yang lain biar makan bareng, abis itu baru bangunin Jenn" lanjut Rossa.
Fio kembali ke kamar dan tak lama, ia sudah kembali dengan geng-nya. Mereka lalu makan bersama, dengan menu makan sederhana ala chef Rossa. Nasi putih, sop ayam, perkedel kentang, plus tempe goreng dan sambal bagi pecinta pedas tentunya.
Keenam gadis-gadis itu makan bersama dengan penuh nikmat. Tanpa obrolan sama sekali. Beberapa menit kemudian, mereka selesai makan. Giliran Reta, Alena, dan Maureen yang membantu Rossa membersihkan meja dan bekas piring makan mereka. Jika dirumah mereka adalah Tuan Putri, maka setiap kali kesini mereka akan di traning untuk menjadi calon ibu yang baik di masa depan.
Sementara Fio dan Yuni membawa nampan berisi makanan untuk Jenn, ke kamar. Tanpa sepengetahuan Yuni dan yang lainnya, Fio diam-diam mengambil video Jenn. Dengan meletakan ponselnya ditempat yang aman.
Ditepuknya pipi gadis itu dengan sangat pelan.
"Bebs, ayo bangun" panggil Fio tepat di telinganya.
Gadis cantik itu sadar dari mimpi indah. Memegang kepalanya yang sedikit terasa berat. "Hmm, kenapa bebs ?" tanya Jenn dengan suara serak pelan hampir berbisik.
"Makan dulu yah, ntar gue pijitin lagi baru tidur" menyodorkan mangkuk pada Jenn.
"Suapin" rengek manja.
Fio tersenyum lebar melihat ekspresi lucu sahabatnya.
Sakit pun cantiknya gak berkurang.
"Dengan senang hati, Nona" Fio dan Yuni tertawa renyah. Sedangkan Jenn hanya tersenyum dan menerima suapan demi suapan dari Fio.
Seseorang pasti akan sangat senang dengan hanya melihat video Lo, bebs.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈ
.
.
.
.
.
to be continued ...
_________________
Halo zeyengΒ²ku π selamat membaca yah πβ€οΈ
jangan lupa kasi like, koment, dan rate kalian buat Jenn and the geng-nya yah πππ
Dan untuk semua yang selalu mampir, Thinkyuuuw banget π€π€πππ₯°π₯°
Lop yuuw pull gessssss β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ
π
Ig author : @ag_sweetie0425