Simple But Perfect

Simple But Perfect
Kesalahan Farel



Secepat kilat Jenn melompat dari tempat tidur menuju lemari pakaian. Ia menyambar jaket kebesaran milik Kenn yang pernah dipakainya. Dan langsung dikenakannya begitu saja menutupi piyama tidurnya yang berbahan tipis. Tak lupa, ia mengganti celananya dan menggunakan celana panjang. Karena bagaimana pun, ia masih cukup waras untuk keluar di malam hari yang hampir larut itu dengan pakaian yang tak senonoh. Seperti yang dilarang kekasihnya selama ini. Cepat-cepat ia melangkah keluar dari kamar.


Sejak tadi, kedua sahabatnya sudah menyarankan untuk gadis cantik itu tidak pergi sendirian. Mereka mengkhawatirkannya. Apa lagi di waktu seperti ini. Berbagai cara sudah dilakukan keduanya. Akan tetapi keras kepalanya si cantik itu tidaklah mudah untuk dicairkan dan ditaklukkan. Pada akhirnya, ia pun keluar sendirian dengan menggunakan gojek yang sudah dipesannya sebelumnya. Baru saja kakinya melangkah keluar rumah, suara petir menyapanya. Seolah menanyainya, ingin tinggal atau tetap pergi.


Gojek yang membawa gadis cantik itupun melaju ditengah pekatnya malam. Membelah jalanan yang mulai lengang, menembus dinginnya angin malam yang menusuk kulit hingga ke tulang. Baru setengah perjalanan, tiba-tiba saja langit tak berkompromi dan langsung mengguyur bumi. Namun tak sedikitpun hal itu menyurutkan niat gadis cantik itu untuk menemui seseorang yang kini sangat dicintainya. Derasnya hujan saat itu tak mampu memadamkan suar kekhawatirannya.


Driver gojek itupun dengan pasti mengantarkan penumpangnya sampai ke tempat tujuan dengan selamat.


Setelah membayar gojek, si cantik itupun berlari kecil dan berdiri tepat didepan pintu kontrakan kecil disana. Terlihat ada dua buah motor yang sudah tak asing lagi. Satunya sudah pasti milik kekasihnya. Dan satu lagi milik teman kekasihnya.


Dengan tangan yang bergetar, Jenn mengetuk pintu rumah itu. Tidak membutuhkan waktu lama. Seseorang yang sudah tahu bahwa siapa yang datang, saat itupun langsung membukakan pintu.


"Dimana dia, Kak?"


"Di kam ... " belum sempat menyelesaikan kalimatnya, si cantik itu sudah menerobos masuk dengan pakaian yang basah kuyup.


Baru saja beberapa langkah, belum juga sampai didepan kamar. Orang yang dicarinya sudah berdiri dihadapannya yang juga begitu kaget dengan keberadaannya disana. Si cantik itu tertegun melihat wajah tampan yang selalu ingin dipandanginya itu dipenuhi memar. Bahkan sekujur tubuhnya kini dipenuhi luka-luka yang telah dibaluti kain has. Hanya dengan melihat itu, tubuhnya pun mendadak terasa sakit dan nyeri.


"Jenn! Ngapain kamu ada disini jam segini hah?" Marah. Seketika seluruh rasa sakit disekujur tubuhnya serasa hilang. Sekali lagi, marah dan khawatir melingkupinya. Apalagi melihat tubuh mungil yang suka dipeluknya itu basah kuyup. Ia memajukan langkahnya dan hendak memegang bahu gadis kesayangannya itu. Namun tangan kecil dan rapuh itu menepisnya.


"Kenapa? Kenapa aku gak boleh tau?" Suaranya meninggi. Matanya mulai mengembun. "Aku udah gak penting lagi buat kamu? Jadi segitu aja rasa sayang Kamu selama ini?" Teriaknya semakin marah.


"Marahnya nanti aja yah. Kamu basah, Sayang. Ganti baju dulu baru kita ngomong" Mencoba meredam emosinya begitu melihat sang kekasih yang sedikit menggigil.


"Biarin basah, sakit aja sekalian. Ini karena Kamu. Tapi Kamu gak mikirin perasaan Aku"


Lelaki tampan itu sekali lagi ingin menyentuh tangan kekasihnya. Namun lagi-lagi ditepis kuat oleh si cantik itu.


"Maafkan Gue, Kenn. Gue yang minta tolong Fio ngasih tau ke Dia. Gue tau, Lo butuh dia" Ucap Farel yang tiba-tiba datang dari depan dan ingin menengahi perdebatan mereka.


Kenn melemparkan tatapan membunuh pada temannya itu. Emosinya seperti tak bisa terbendung lagi. Dengan marah ia menghampiri Farel dan tanpa bisa dicegah.


Bugh!


Jenn terperanjat melihat itu. Rahang Farel menjadi landasan satu kepalan tangannya. Tangannya kini mencengkeram kerah baju temannya itu.


"Lo sadar gak sih? Otak Lo dimana hah?" Pekiknya dengan marah. "Ini bahaya buat dia. Lo sengaja mau nambah masalah buat gue? B*e**s*k, Lo" Kali ini Kenn benar-benar marah pada temannya itu.


"Stop!" Teriak Jenn. Kenn tersadar dan melepaskan tangannya dari Farel. Ia kembali beralih pada kekasihnya. Tanpa menunggu ucapan selanjutnya dari si cantik itu, Kenn menarik tangannya dan membawanya ke kamar. Baru beberapa langkah, ia kembali menoleh pada temannya.


"Lo, tunggu gue disini. Kita belum selesai" Berbalik lagi dan masuk ke kamarnya.


Braakk!


Kenn menutup pintu kamar itu dengan kuat. Sekali lagi Jenn terperanjat dengan apa yang dilakukan kekasihnya. Baru saja mulut kecilnya hendak berucap, namun Kenn sudah lebih dulu membungkamnya dengan satu kalimat.


"Jangan buat Aku marah, Jenn. Ke kamar mandi dan ganti pakaian Kamu. Sekarang!" Ucapnya dengan datar.


"Pakai ini. Cepatlah! Jangan sampai masuk angin" Berucap pelan dan disertai satu kecupan pada dahi sang kekasih. Semarah apapun dirinya, tetap saja dia tak pernah bisa mengasari gadisnya itu.


Jenn tidak bisa berkata-kata lagi. Perlahan ia berjalan masuk ke kamar mandi. Setelah memastikan kekasihnya masuk, Kenn keluar dan menemui temannya diruang tamu.


Direbahkan dengan pelan tubuhnya yang terasa nyeri dengan dipenuhi luka dan perban itu ke sofa. Ia menyandarkan punggungnya, dan kepalanya mendongak sambil matanya terpejam. Terdengar helaan nafas panjang darinya.


"Gue minta maaf, Rel" matanya masih terpejam. "Lo tau gue terlalu takut kalau hal buruk terjadi padanya," Berbicara pelan dan terkesan santai kali ini. "Gue gak mau buat dia khawatir seperti tadi,"


"Gue pikir Lo bakal terobati dengan kehadirannya" Ucap Farel penuh sesal.


Kenn membuka matanya dan menegakkan punggungnya kembali. Ia lalu menatap serius pada Farel. "Ia terobati. Benar!" Mengangguk pelan. "Tapi gimana kalo terjadi apa-apa padanya tadi di jalan? Ini sudah larut. Cuacanya juga gak baik. Lo liat kan? Dia kehujanan! Ini malah buat gue tambah parah, Rel" Ucap Kenn dengan kesal.


"Maafin kebodohan Gue" Farel benar-benar menyesal.


"Untung aja dia bisa tiba dengan selamat kesini. Gimana kalo si peneror itu dan orang-orang br*n***knya nyakitin dia?" Melirik Farel dengan tajam. "Lo orang pertama yang gue habisin" Farel bergidik ngeri.


"Peneror?"


_______________πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•_______________


.


.


.


.


.


to be continued ...


_________________


Haii semuanya πŸ‘‹ sorry slow update 🀭 otor sibuk dengan urusan negara 🀭🀭


Tapi terimakasih buat yang selalu setia nungguin STP πŸ™


Terimakasih untuk waktunya sudah mampir dikarya receh ini πŸ™


Jangan lupa kasih like, komen, rate, dan tambahkan ke favorit ❀️😍


Sekali lagi makasih πŸ™β€οΈ


Dan selamat membaca πŸ€—