Simple But Perfect

Simple But Perfect
Self Healing



...~ Happy Reading ~...


...___________________...


...*...


...*...


...*...


Berbeda dengan suasana di kediaman Kenn dan Jenn. Apartemen tempat tinggal Alvino malah berisik dengan kegaduhan dan keributan.


"Apa susahnya sih ngasih tau ke mami? Kenapa gak boleh? Bener-bener kamu yah."


"Apa peduli mami?"


Alvino dan ibunya tengah berdebat perkara Jenn yang masuk rumah sakit sudah beberapa hari, dan ibunya baru saja mengetahui hal itu saat Jenn hendak pulang. Itupun diketahuinya dari Reza.


"Mami peduli, mami sayang sama dia," sergah ibunya.


Alvino tertawa mendengar ucapan ibunya. "Sayangnya itu sudah gak ada artinya lagi. Percuma, Mi. Stop dengan omong kosong mami! Vino muak," tegasnya.


Wanita paruh baya itu bangkit dari duduknya dan berdiri di depan putranya.


"Apanya yang percuma? Gak ada omong kosong di sini, dia dan mami sudah saling memaafkan. Mami tau ini terlambat, tapi apa salahnya mami sayang sama dia? Gak bersama kamu lagi bukan berarti mami harus membencinya kan?"


"Dan aku gak suka hal itu!" teriak Alvino membuat ibunya terperanjat. "Mami sadar gak sih? Hargai perasaan Vino, mi." Kini ia pun bangkit berdiri berhadapan dengan ibunya. "Karena mami, Vino harus berusaha keras ngelupain dia, dan mami tau itu gak mudah. Mami tau seberapa besar Vino cinta sama dia. Dan sekarang Vino mati-matian harus mengubur perasaan Vino. Hargai sedikit saja, Mi. Jangan mami mempermainkan perasaan Vino terus." Alvino menjambak rambutnya frustasi.


Ibunya tidak mampu lagi berkata-kata. Ia masih tetap setia berdiri terbungkam olah penuturan anaknya. Ujung mata yang telah keriput termakan usia, menatap Alvino dengan nanar.


"Jangan lagi mendekatinya. Lupakan dia seperti Vino yang dengan kejamnya mami paksa untuk ngelupain dia." Suaranya terdengar bergetar. Untuk pertama kalinya Alvino menggenggam tangan ibunya. "Ini kan yang mami mau? Ini kan yang mami upayakan selama ini? Maka berupaya sekali lagi agar Vino benar-benar bisa melupakan dia, Mi." Pada akhirnya lelaki tampan itu menangis di depan ibunya.


Hati ibu mana yang tidak hancur melihat air mata anaknya? Menyesal tidak lagi berfaedah. Yang tersisa hanyalah merelakan meski tak disertai ikhlas.


Kedua ibu dan anak itu menangis sambil berpelukan. Siapapun yang melihat itu, pasti akan berderai air matanya. Seperti sang ayah dan Reza yang menjadi saksi pemandangan saat itu.


"Kali ini saja mi, jangan lagi mami jadi penghalang bagi upaya Vino untuk lupain dia. Saat kami saling mencintai, mami memaksa misahin kami. Mami maksain Vino buat ngejauhin dia. Sekarang kami saling menjauh dan Vino sudah siap ngelupain dia, mami malah ingin dekat dengan dia. Di mana perasaan mami? Hati Vino gak sekuat yang mami banyangin." Masih menangis dalam pelukan ibunya.


"Maafin mami, Sayang. Maaf, mami janji gak akan lagi, mami janji." lirih ibunya yang sesegukan, sembari menepuk pelan pundak lebar putranya yang masih berguncang kecil.


Alvino berhenti menangis. Ia lantas berdiri dan menyeka air mata di wajah tampannya. Menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan dengan perlahan.


"Lo juga." Menunjuk Reza. "Selama gue masih di sini, jangan pernah temui ataupun menghubungi dia. Nanti saja kalo gue udah balik dari sini."


Berjalan menuju dapur. Ia membuka kulkas lalu mengambil sebotol air dan meneguknya.


Yah, selalu saja gue kena imbasnya. Terserahlah ...


"Mami sama papi balik gih, Vino mau keluar untuk beberapa waktu." Berjalan menaiki tangga menuju ke kamarnya.


"Mau ke mana emang? Kok kita diusir? Kejam sekali dia, Pi." Sungut sang ibu.


"Siapa dulu maminya, gak heran lagi papi." Sang ayah malah bergegas keluar dari unit apartemen putra semata wayangnya. Meninggalkan sang istri yang masih teguh berdiri di dalam sana. Pria tua itu memang tidak pernah berdebat dengan putranya. Ia tahu betul watak Alvino seperti apa.


Kasih sayang kedua orangtua itu berbeda-beda. Ibunya yang selalu mengatur Alvino, sedangkan sang ayah selalu membiarkan Alvino melakukan apapun yang dia inginkan.


30 menit berlalu dan Alvino kembali turun setelah selesai bersiap-siap. Ia terlihat tampan dengan out fit santai dan juga sebuah ransel di punggungnya.


"Loh, ngapain mami masih di sini?" tanyanya begitu mendapati sosok ibunya masih di sana. Ia menghampiri sang ibu lalu merangkul dan menuntunnya keluar dengan lembut. "Nanti aja yah waktu kunjungannya. Vino mau keluar ini."


"Kamu belum jawab pertanyaan mami." Manahan langkah keduanya sebentar. "Mau ke mana bawa-bawa tas segala? Mana besar lagi, mau ninggalin mami lagi hah?" Ibunya mulai mengomel.


"Kan tadi udah dibilangin, Vino mau keluar untuk beberapa waktu. Kayaknya dua mingguan, tapi masih di kota ini kok. Nanti Vino pulang, baru kita sama-sama balik ke kota xx yah," terang Alvino.


Alvino terkekeh. "Vino butuh self healing, mi. Mami tau kan suasana hati Vino sekarang? Mungkin dengan cara ini Vino bisa melupakan sakit hati Vino selama ini." Menatap ibunya dengan serius. "Atau mami mau tiap hari Vino di club malam aja sama wanita-wanita malam di sana?"


Tanpa menunggu waktu untuk berpikir lagi, ibunya melambaikan tangan di depannya.


"No! Pergilah jika itu yang terbaik untukmu, Nak. Setelah ini, hiduplah dengan baik. Jadi anak mami yang tangguh dan mempesona seperti dulu. Jangan jadi lelaki menyedihkan seperti ini." Tangannya terulur mengusap kepala putranya.


"Gara-gara siapa?" Tak lagi marah, hanya sekedar candaannya. Ibu dan anak itu sama-sama tertawa dan saling memaafkan sekali lagi. Kemudian mereka melanjutkan langkah ke luar.


Reza mengikuti langkah ibu dan anak itu. Setelah menutup pintu, ketiganya lalu berjalan menuju lift dan sama-sama keluar dari sana.


Sepanjang perjalanan ke basemen, Alvino dan ibunya tampak mengobrol hangat. Tangannya tidak pernah lepas merangkul pundak rapuh sang ibu.


Ini untuk pertama kalinya hubungan keduanya membaik, setelah berbulan-bulan lalu saat Alvino harus dipaksa hidup bersama Verlita.


Momen manis itu lalu diabadikan oleh Reza dan papinya.


"Hati-hati, jangan ugal-ugalan, Vin." Sang ibu mengingatnya.


"Siap madam!" Mencium pipi ibunya dan segera masuk ke dalam mobilnya. "Anterin mereka dengan baik." Pesannya pada Reza.


"Siap Bang! Abang juga hati-hati."


Setelah membunyikan klakson mobilnya, Alvino menginjak pedal gas dan segera melesat dari sana.


Entah kemana perginya, ia pun belum memiliki tujuan. Yang pasti ia ingin berdamai dengan dirinya sendiri. Untuk itulah, ia butuh suasana menenangkan yang dapat menginspirasi dirinya agar dapat menyembuhkan luka hati dan menjadikannya pribadi yang jauh lebih baik lagi.


Mungkin saja pantai, gunung, hutan, bukit, air terjun, dan lain sebagainya. Atau mungkin satu persatu dari tempat-tempat itu akan menjadi jejak petualangannya.


..._____πŸ’¦πŸŒΏπŸ’¦πŸŒΏπŸ’¦_____...


...Jika semesta tak cukup baik memperlakukanmu,...


...Setidaknya berbaik hatilah terhadap dirimu sendiri....


...Diam dan menghilanglah dengan tenang, tanpa harus menghancurkan diri sendiri dan orang lain....


..."AG_S"...


...###...


...To be continued ......


...__________________...


...*...


...*...


...*...


Hay semuanya πŸ‘‹ aku hadir lagi πŸ€—


Satu aja dulu yah 🀭 mudah-mudahan ntar bisa lanjut 😍


Terima kasih buat yang selalu hadir πŸ™β€οΈ


Jangan lupa like dan komen yah 😍


Sampai jumpa di episode berikutnya πŸ€—


Ig author : @ag_sweetie0425