
Hari masih terlalu pagi. Sang fajar pun nampak masih mengintip dari sebelah timur. Menunggu gelap benar-benar pergi, mempersilahkan waktu dan tempat untuk sang raja siang itu menduduki singgasana semesta.
Dirumah sederhana yang dihuni tiga gadis-gadis cantik itu, tampak sudah ada kesibukan disana. Jenn, Putri dan Rossa tengah bersiap-siap untuk ke kampus. Lebih tepatnya, ke gedung olahraga yang berada di kampus tempat mereka kuliah.
Ini hari dimana, Putri akan mengikuti pertandingan volleyball. Yang akan berlangsung pukul 08:00 pagi ini, bertempat di sport hall universitas xx. Dan kedua sahabatnya akan selalu hadir disana untuk memberinya semangat.
Jenn dan Putri sibuk membuat sarapan, sedangkan Rossa membersihkan rumah, menyapu dan mengepel dipagi buta itu. Sesudah itu mereka bergegas mandi dan sarapan. Dering ponsel Jenn berbunyi, dan dia sudah bisa menebak. Itu pasti Alvino, kekasihnya.
"Ck, jangan bilang mau ngelarang Lo lagi yah" belum apa-apa Putri sudah kesal. Iya, dia takut sahabatnya itu tidak diijinkan untuk menyemangatinya hari ini.
"Nggak baik bebs, berprasangka buruk terus sama orang" sahut Jenn lalu menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponselnya, dan menerima panggilan video disana. Tampak wajah tampan sedikit berantakan, dengan muka bantal memenuhi layar ponselnya. Baru bangun ternyata.
"Good morning, bi" sapa Jenn.
"Good morning, honey ! udah cantik, rapi sepagi ini ?" tanya Alvino dengan suara serak, khas baru bangun.
"Iyah dong bi ! kan mau ke kampus. Aku ijin yah, mau nonton Putri tanding hari ini. Boleh yah, bi" Jenn sedikit memohon.
"Sama siapa aja ?"
"Sama Rossa lah, bi ! paling juga ditemani anak-anak gengs. Yang pasti nggak ada cowok. Cewek semua ini, boleh yah, bi" memasang tampang memelas.
"Emm ... ya udah boleh. Tapi awas kalau macam-macam" Alvino memberi ijin dibarengi ancaman pula.
"Nggak akan, bi ! satu macam aja ini" Jenn tergelak.
"Yah udah. Hati-hati, honey. I love you"
"Love you too, bi" jawab Jenn lalu mengakhiri panggilannya.
Disana Rossa dan Putri sudah selesai dengan sarapannya. Tinggal Jenn yang tersisah sedikit lagi. Dia pun buru-buru menyelesaikan sarapannya.
"Makanya, jangan suka pacaran saat makan" cibir Rossa yang dianggap angin lalu oleh Jenn.
Mereka bertiga kemudian bergegas meninggalkan rumah, dan melaju menuju kampus. Dengan formasi yang berbeda hari ini. Karena dengan tujuan yang sama menuju gedung olahraga, kali ini Jenn dibonceng Putri dengan menggunakan trailnya yang berisik. Dan Rossa yang bersolo dengan scoopynya.
Ketika tiba ditempat tujuan, Jenn menghubungi teman-teman geng-nya. Untuk menyusulnya ke gedung olahraga yang telah dipijaknya saat itu.
Jenn dan Rossa sudah duduk manis di tribune, diantara penonton lainnya disana. Sambil menunggu teman-temannya datang, dan juga menunggu Putri untuk bertanding. Tiba-tiba ...
"Hai Jenn, akhirnya Lo datang juga. Thanks ya" seseorang yang entah dari mana sudah berdiri disebelah Jenn. Betapa kagetnya gadis itu ketika melihat Reza disana.
Ah iya lupa ! tapi kan gue kesini bukan untuk dia, tapi untuk si putri. Ah sudahlah biarkan saja, biar dia senang kali ini.
"Ah iya Za, sama-sama" jawab Jenn kikuk. Dan lelaki itu pun pamit pada Jenn, berlalu dari sana untuk bersiap mengikuti pertandingan hari itu juga.
"Enggak. Cuman pas dia bilang kemarin, gue jawabnya ya nggak tau, liat aja nanti. Dan gue juga udah lupa. Eh, niatnya mau men-support si Putri, malah ketemu dia disini. Jadi ya ... gitu deh" Jenn menjelaskan sambil mengedikkan bahunya.
"Ribet banget sih Lo. Pacar itu satu aja cukup. Nggak usah banyak-banyak juga. Pusing kan jadinya" Rossa mulai menasehati Jenn.
"Lah, emang satu doang mamiii. Dihati aku, Alvino aja. Yang itu-itu gak masuk hitungan mami. Gue anggap mereka cuman teman, kenalan doang. You know ?" Jenn menegaskan kepemilikan hatinya.
"Serah Lo dah" singkat Rossa. Sang mami kesayangan Jenn dan Putri.
Tak lama, datanglah teman-teman geng-nya yang membuat heboh seisi gedung. Rossa begitu risi dengan kehadiran gadis-gadis cantik itu disana. Pasalnya, walaupan sekelas, namun Rossa tidak terlalu dekat dengan mereka. Dan dia bukanlah bagian dari anggota geng the most wanted itu. Lagian Rossa tidak seperti Jenn, yang suka dengan banyak teman dan rada-rada gesrek. Dia orangnya kalem dan tenang.
"Jenn, bilang sama yang lainnya, bisa tenang dikit nggak ? malu diliatin sama yang lain" Rossa sedikit berbisik pada Jenn.
"Biarin aja Sa, ini juga kan mau ngasih support. Pasti teriak-teriak dong. Bakal lebih berisik dari ini" ucap Jenn pada sahabatnya yang sedikit jaim itu.
"Ck, otak Lo emang sama kek mereka. Gadis-gadis bar bar, dasar" Rossa kesal dengan Jenn and the geng-nya. Jenn memaklumi sahabatnya yang kalem itu.
Gedung olahraga itu kini ramai dengan pertandingan yang telah berlangsung. Tribune disana telah dipadati dengan penonton, yang rata-rata adalah mahasiswa dari universitas xx itu sendiri.
Barisan gadis-gadis cantik disana ikut menikmati pertandingan pagi itu. Bahkan teman-teman Jenn yang masih jomblo disana, (Fio, Maureen, Yuni, Reta) menjadikan ini sebagai ajang melirik cowok-cowok ganteng, hanya sekedar memanjakan mata mereka. Dengan kegilaan mereka seperti itu, membuat Rossa yang adalah jomblo terhormat, semakin malu dan kesal berada diantara gadis-gadis pecicilan itu.
Betah banget sih, si mini berteman dengan makhluk cacingan gini, iyuh.
.
.
.
.
.
to be continued ...
.
.
.
Happy reading buddies 😊❤️