Simple But Perfect

Simple But Perfect
Keyakinan Hati



_Dunia tampak lebih hangat, lebih cerah, dan lebih ramah ketika aku bertemu denganmu. Aku harap aku memiliki efek yang sama pada dirimu_


Seperti kutipan indah di atas. Begitu yang dirasakan oleh Nayla pada Kenn. Dan hal itu juga yang dirasakan oleh Kenn pada sosok Jenn.


"Ada yang bisa kakak bantu, Fan ?" tanya Kenn pada Fanya.


Gadis manis itu cekikikan. "Biasa aja dong, kak ! gak usah formal segala" masih terkikik. "Ah iya. Ada yang mesti kakak bantu. Tapi bukan Fanya, temen Fanya. Tuh orangnya" sambungnya sambil menunjuk pada seorang gadis yang masih terpaku dalam mobil.


"Kenapa markirnya disana ? disuruh masuk lah, Fan" ucap Kenn.


Fanya yang tahu bahwa temannya itu masih mematung didalam sana, tak ingin bersusah payah untuk memanggilnya. Fanya merogoh ponsel dari dalam tas punggungnya lalu menelepon Nayla untuk memarkirkan mobilnya dengan benar, sesudah itu segera menyusulnya.


"Hai kak," sapa Nayla dengan senyum manisnya, begitu bergabung bersama Fanya dan yang lainnya.


"Ada yang bisa saya bantu ?" tanya Kenn to the point. Tak lupa senyum ramahnya seperti biasa. Apalagi ini dengan costumer.


Lagi-lagi Nayla terpesona dengan senyuman lelaki tampan itu. Padahal yang dilakukan oleh Kenn hanyalah sapaan formal untuk semua costumers yang datang ke bengkel. Namun Nayla dibuat melayang dengan hal kecil itu.


"Astaga ! hei sadar, Naylaaaa" Fanya meneriaki temannya yang sedang mematung.


"Eh, iya ada apa, Fan ?" tanya Nayla kikuk. Gadis itu malu karena tercyduk sedang melamun menatap Kenn.


Ya ampun, baru liat kak Kenn dalam kondisi capek, kotor begini aja udah klepek-klepek. Lah gimana kalo liat yang pas lagi seger ? et dah, lupa deh dengan segalanya.


Batin Fanya sambil geleng-geleng kepala.


"Kak Kenn itu nanya, apanya yang mau dibantuin, Naylaaaa" geram Fanya.


"Oh, sorry ! mau diservis aja kak" ucap Nayla singkat karena sudah merasa malu.


Kenn mengangguk. "Ok, silahkan menunggu diruang tunggu" ucap Kenn dengan formal.


"Ish, udah dibilangin gak usah formal gitu, kak. Juga Fanya dan Nayla mau nunggu sambil nemenin kak Kenn aja" rengek Fanya.


Nah kan, pasti bikin pusing aja ni anak. Hadew, benar-benar deh.


Batin Kenn.


"Gak bisa gitu, Fan. Ini udah prosedurnya. Lagian kakak kerja gak mau diganggu. Okay ?" Kenn mengacak-ngacak rambut Fanya. Membuat gadis manis itu cemberut. "Sekarang, tungguin di ruang tunggu yah, dek" rayu Kenn.


Haiss, modusss. Pasti mau tebar pesona.


Batin wanita cantik yang sedari tadi menemani Kenn bercerita. Yang juga seorang kasir di bengkel itu.


"Oh iya Kenn, gue juga balik ke meja kerja gue yah. Selamat bekerja" wanita cantik itu berpamitan pada Kenn sambil mengedipkan matanya.


Kenn mengangguk dan wanita itu pun berlalu dari hadapan tiga orang disana. Tak lupa ia melirik sinis pada Fanya dan Nayla.


Ih, ganjen banget sih.


Batin Nayla.


"Ya udah kalo gitu" ucap Fanya sedikit ngambek dan menuju ruang tunggu yang diikuti Nayla.


🌸🌸🌸🌸🌸


Disebuah Cafe


Komplotan gadis-gadis cantik yang tergabung dalam satu geng the most wanted dengan enam personil, sedang nongkrong cantik di sebuah cafe.


Jenn yang sedikit suntuk saat itu, memilih cafe dengan desain yang nyaman dan menenangkan. Mulai dari konsep, tema, serta furniture yang dapat mengembalikan moodnya. Dan di tempat inilah, Jenn bisa merasakan kembali ketenangan setelah kekesalan yang tak berasas sempat menyerangnya tadi.


Gadis cantik itu begitu menikmati suasana menenangkan didalam ruangan cafe itu. Mungkin dengan pencahayaan yang mendukung, serta pemilihan tempat duduk yang strategis tepat menghadap jendela, yang dapat langsung memandang keluar. Dimana ia dapat melihat orang-orang maupun kendaraan yang berlalu-lalang diluar sana. Semua itu memberikan kesan positif dan semangat bagi jiwa Jenn. Lengkap dengan sajian musik yang enak didengar. Sambil menikmati segelas strawberry milkshake. Hilang sudah kekesalannya.


Dalam buaian kenikmatan dengan suasana cafe saat itu, dering ponsel dari dalam tas punggung kecil miliknya sedikit mengusik ketenangannya. Namun melihat nama serta foto yang terpampang dilayar ponsel itu, seketika senyum manis yang dari tadi tersembunyi dibalik wajah cantiknya, perlahan terbit.


Jemari lentiknya menyapu layar ponsel untuk menerima panggilan telepon dari sang kekasih.


"Dimana ?" tanya Alvino dengan cepat begitu panggilannya tersambung.


"Ini lagi di cafe sama teman-teman, bi" jawab Jenn.


Tadi dia sudah mencoba menghubungi kekasihnya itu, namun tidak ada jawaban. Gadis itu pun hanya mengirim pesan chat, yang memberitahukan keberadaannya.


"Ngapain ?" suaranya sedikit menunjukkan ketidak sukaannya. Mungkin perasaan takut dan khawatir.


"Nongky aja, bi. Nyenengin hati. Lagi suntuk, bosen gak ada kamu sih" ucap Jenn.


"I'm sorry, honey." Alvino merasa bersalah karena telah meninggalkan kekasihnya yang cantik itu. "Jangan lama-lama tapi. Cepat pulang, yah" sambungnya dengan meminta.


"Siap komendan" jawab Jenn.


"Jaga diri baik-baik ya. Jangan lupa makan. I love you so much, Jenn" ucap Alvino penuh sayang.


Gadis cantik itu tersenyum kecil mendengar ucapan kekasihnya. "Kamu juga, bi. Jangan lupa makan. And i love you too, Alvino !"


Jenn berucap sambil memejamkan matanya. Meresapi setiap kalimat cinta yang terucap dari bibir mereka. Sembari ia meyakinkan hatinya bahwa hanya Alvino yang ada disana. Hanya Alvino yang bertakhta disana. Karena entah mengapa, gadis itu merasa hatinya sedikit terganggu dengan kehadiran seseorang belakangan ini. Tak memungkiri, terkadang ia didera kebimbangan. Dimana ada perasaan nyaman ketika berada didekat orang itu, ada rasa kesal ketika melihat wanita lain didekatnya, merasa tidak terima jika di abaikan, bahkan kerap jantungnya akan berdebar hebat ketika mendengar nama orang itu. Jenn takut dengan perasaannya. Takut mengartikannya. Oleh sebab itu, berulang kali ia meyakinkan hatinya bahwa Alvino masih satu-satunya.


"Udah dulu ya, hon. Nanti kalo udah nyampe rumah kabarin, biar aku ngubungin lagi. Bye honey !" ucap Alvino.


"Bye, bi !"


Sambungan telepon itu pun berakhir. Namun Jenn masih betah menatap ponsel yang masih ada digenggamnya. Entah apa yang dipikirkannya, namun kemudian ia menggeleng kecil lalu tersenyum dan menyimpan ponselnya kembali.


Jenn menggeleng. "Nothing, bebs" dia tersenyum sambil memainkan sedotan dalam gelasnya.


"Kangen sama Alvino, yah ?" tanya Yuni yang melihat temannya yang selalu ceria itu sedikit tidak bersemangat saat ini.


Jenn mengangguk. "Iya dong, kangen banget malah" ucapnya pelan dengan raut dibuat sedih. Sedetik kemudian, "Aaaa, Lo nanya bikin gue tambah kangen kan jadinya. Tanggung jawab" rengek Jenn dengan gaya manja alay.


"Eh, sorry my dear mini ! Gue kagak tau kalo efek nanyanya kek gini. Gue kan jomblo. Mana tau soal beginian ? maap deh" ucap Yuni sambil nyengir.


"Wait !" tiba-tiba Alena angkat bicara menjeda obrolan teman-temannya. "Yang gue perhatiin, sepertinya bukan karena kangen sama Alvino yang buat Lo agak aneh hari ini deh, Jenn" ucapan Alena membuat semuanya bingung lantas menoleh pada Jenn. Gadis cantik yang ditatap teman-temannya seperti itu menjadi salah tingkah.


"Maksud Lo apa, Alena ?" tanya Reta.


"Kayaknya dia punya masalah lain deh gengs, benar kan, Jenn ?" pertanyaan telak dari Alena membuat Jenn kelabakan. Namun gadis cantik itu berusaha terlihat anteng.


Jenn tertawa kecil. "Mikir apa sih Lo ? emang ada apa sama gue ?" kembali meneguk milkshake miliknya. "Gue kangen aja sama Alvino. Dia baliknya terlalu cepet, gak kek biasanya. Jadi gue ngerasa belum puas hati gitu ngelewatin hari ma dia. Itu aja bebs. Gak ada masalah kok, Lo ada-ada aja" sambung Jenn meyakinkan teman-temannya.


"Beneran ?" Alena sekali lagi ingin memastikan.


"Ya elah,,, kagak percaya banget sih. Serah Lo dah" jawab Jenn dengan malas. Tidak ingin meladeni Alena lagi.


"Ok, kalo gitu gue percaya !" ucap Alena.


"Masih mau disini, apa balik sekarang ?" tawar Maureen.


"Gue mau balik. Ntar Alvino marah lagi kalo gue kelamaan diluar" Jenn menyelesaikan minumannya dan menyampirkan tas punggung kecil dipundaknya.


"Ok. Let's go, gengs !" Alena mengajak semuanya untuk pulang.


Setelah sampai didepan cafe, mereka saling bertanya untuk siapa yang akan mengantarkan Jenn.


"Jenn pulangnya sama gue aja" ucap Fio yang mendapat tatapan tajam dari Jenn.


Nah kan, gue di pelototin. Masalahnya sama gue nih. Gue yakin banget. Batin Fio.


"Oke kalo gitu. Sampai ketemu besok yah, gengs" ucap Alena dan semuanya bergegas ke mobil masing-masing dan meninggalkan cafe itu.


___________________


Saat ini Jenn dan Fio sudah berada di dalam mobil. Fio mulai menghidupkan mobilnya dan bergerak keluar dari area parkiran cafe, membelah jalanan menuju rumah Jenn.


"Lo ada masalah apa sama gue, Jenn ?" tanya Fio membuka obrolan mereka, memecahkan kebisuan yang tercipta di antara mereka. Sambil tetap fokus mengemudikan mobilnya.


Jenn melirik sinis padanya, "Gak ada." jawab Kenn ketus.


"Gak Jenn. Lo kalo ada masalah sama gue, please ngomong biar gue tau. Gue gak mau ada masalah antara kita." ucap Fio memaksa.


"Ck, gue malas ngebahas ini. Lagian gak penting juga kok. Dan ... lupain aja. Gak ada masalah apapun diantara kita." Jenn enggan membahasnya.


"Pokoknya gue mau Lo ngomong sekarang, kita selesaiin s e k a r a ng !" Fio ngotot.


"Udah gue bilang lupain aja. Ini gak penting sama sekali. Ngerti ?" Jenn sedikit emosi, nadanya mulai tak terkontrol.


"Tapi sikap Lo memaksa gue buat gak bisa biarin ini semua," Fio juga mulai emosi.


"Makanya jadi orang itu jangan suka ngasih kabar yang nggak bener. Jangan suka bohongin teman" tidak sadar Jenn mulai mengeluarkan unek-uneknya.


"Emang gue kapan bohongin Lo, Jenn ? bahkan Lo satu-satunya orang yang tau rahasia gue" Fio tak habis pikir, apa salahnya.


"Lo bohongin gue soal Kenn" dan kata-kata yang ingin dipendamnya lolos begitu saja dari bibirnya.


Ciiiiiitttttt ...


Fio tersentak dan mengerem mendadak.


"Bilang apa tadi, Jenn ?"


_______________


.


.


.


.


.


to be continued ...


_______


Hola epribadeeeh πŸ‘‹


Terimakasih buat selalu setia nungguin STP πŸ™πŸ˜˜


Dukung STP terus yah, jangan lupa tinggalkan jejak manis kalian guys πŸ˜šπŸ˜šπŸ€—πŸ€—


Thinkyuuuw banget buat kalian semua πŸ™πŸ™πŸ₯°πŸ₯°


Dan selamat membaca πŸ˜πŸ’•