Simple But Perfect

Simple But Perfect
Kay



...~ Happy Reading ~...


...___________________...


...*...


...*...


...*...


Dua jam sudah berlalu dengan cepat setelah sadarnya Jenn di pagi buta tadi. Waktu kini menunjukkan pukul 08.30. Ruang rawat inap itu kembali tenang karena pingsannya Jenn setelah lelah menangis dan mengamuk.


Dokter dan perawat pun telah memasang kembali infus di tangannya.


"Ah, jadi dia adikmu, Kenn?" Suara Reza memecahkan keheningan dalam ruangan itu setelah dokter dan para suster keluar dari sana. "Gak bilang-bilang sih punya adik cakep gini." Goda Reza.


"Pantesan aja gak pernah dikenalin sama gue." timpal Farel membuat Kenn mendengus kesal. "Bidadarinya disimpan ternyata. Pelit banget jadi temen."


"Ck, gue bilangin sama Fio juga nih," ucap Kenn dengan nada pelan tapi mampu mematahkan keganjenan Farel. "Lo juga, jangan macem-macem." Mengancam Reza. "Mending Lo berdua tolongin gue deh."


Reza melangkah mendekat berdiri di samping Kenn. "Apa? Bilang aja, gue siap 24 jam," ucapnya dengan semangat.


Kenn menengadah memandang Reza dengan sinis. "Gak usah lebay. Gue mau mina tolong, dan gak pake imbalan apapun." Ia tahu apa yang ada dalam pikiran Reza. "Anterin om, tante, ibu, dan Kay buat nyari makan gih. Mereka berempat juga." Pandangannya beralih pada keempat gadis yang adalah teman-teman sang istri. "Sekalian kalo ada yang mau pulang, Lo anterin." Titahnya, dan Reza tetap mengangguk patuh. "Makasih udah jagain Jenn semalaman, maaf juga udah ngerepotin," katanya lagi pada teman-teman istrinya.


"Ih, Kak Kenn apaan sih. Kita gak ngelakuin apa-apa kok dari semalam, malah ketiduran. Ya kan gaes?" Putri menepis perkataan Kenn dengan meminta pendapat yang sama dari yang lain.


"Tetap aja kalian peduli sama dia. Dan gue makasih banget dia punya teman-teman seperti kalian." Kenn tulus mengucapkan itu.


Tadinya kebanyakan dari mereka menolak untuk pergi, apalagi ibunya Kenn. Melihat gurat lelah di mata putranya, wanita paruh baya itu menolak dan malah meminta Kenn yang pergi. Ia berinisiatif untuk menjaga menantunya. Namun, Kenn tetap teguh tidak mau meninggalkan istrinya. Dibanding lapar dan lelah, ia lebih memilih menjaga Jenn.


Kenn tidak mau beranjak barang sejengkal pun dari sisi istrinya. Ia tidak ingin meninggalkan Jenn dalam kondisi seperti itu. Lelaki itu tetap setia duduk pada kursi dekat ranjang pasien sembari menggenggam erat tangan istrinya.


Pada akhirnya semua yang ada di sana pergi, dan tinggallah Kenn yang ditemani adiknya menjaga Jenn.


"Kak, udah ngabarin orang tuanya kak Jenn?" tanya Kay dan Kenn hanya mengangguk sebagai jawabannya.


"Nanti kalau kakak iparmu sudah dibolehin pulang sama dokter, kamu sama ibu jangan balik dulu. Biar Jenn gak kesepian di rumah kalau kakak pergi kerja, yah!" pinta Kenn.


"Emang Kay gak mau pulang. Kay kan udah selesai sekolah, jadi mau tetep di sini nemenin kak Jenn. Jadi, Kakak tenang aja." Gadis itu tampak bahagia mengucapkannya.


"Oh iya lupa." Kenn mengelus kepala adiknya. "Gadis baik. Nanti kakak kasih hadiah deh kalo gitu." Kenn tersenyum kecil.


"Ih, gak usah Kak. Apaan sih hadiah segala. Kek anak kecil aja. Kay seneng kok bisa deket-deket sama kak Jenn. Harapan Kay buat punya kakak cewek udah terpenuhi." Gadis itu terkekeh.


"Ya ... tetap aja kakak mau ngasih hadiah. Karena kamu sudah belajar yang rajin sampai lulus, dan juga kakak mau makasih sama kamu sudah jagain ibu dengan baik selama ini."


"Harus dong Kak, itu emang udah tugas Kay. Kakak kan kerja buat Kay sama ibu juga."


Tok,


Tok,


Tok.


Di tengah perbincangan mereka, tiba-tiba ketukan dari pintu menginterupsi obrolan ringan kakak beradik itu.


"Masuk!" seru Kenn.


Ceklek.


Pintu itu terbuka dengan sepasang suami-istri paruh baya yang masuk.


"Ayah, ibu!" Kenn hendak melepaskan tangan Jenn untuk berdiri menyambut tamu yang tidak lain adalah mertuanya. Namun, keduanya sudah lebih dulu memberi isyarat agar ia tetap diam di tempatnya.


Keduanya berjalan menghampiri ranjang pasien agar dapat melihat putri semata wayang mereka. Ibunya langsung menunduk, mencium serta memeluk putrinya untuk beberapa saat. Melepaskan kerinduan serta merasakan kehilangan yang sama seperti putrinya. Begitu juga dengan suaminya.


Lelaki paruh baya itu pun memeluk Kenn sembari memberikan tepukan kecil beberapa kali di pundak menantunya.


"Maafin Kenn karena gak jagain Jenn dengan baik, sampai terjadi kayak gini," ucap Kenn pada kedua mertuanya.


"Benar Nak, apa yang hilang dari kita, Tuhan akan menggantinya dengan yang lebih baik. Jangan kecewa yah. Semua akan baik-baik lagi setelah ini." Ibu mertuanya menimpali. Wanita paruh baya itu melihat ke samping dan ia mendapati seorang gadis cantik di sana. "Siapa dia, Kenn?" tanyanya penasaran.


"Oh, dia Kay adiknya Kenn, Bu. Waktu nikahan Kenn dan Jenn, emang gak ada dia. Masih sekolah waktu itu, Bu." Jelas Kenn pads ibu mertuanya. "Sini Kay," panggil Kenn pada adiknya.


Gadis cantik itu menurut lalu menghampiri sang kakak dan mertua kakaknya. Mereka pun berkenalan.


Tidak lama setelah itu, datanglah dokter yang menolong sekaligus menangani Jenn dari semalam. Ia hendak berpamitan untuk kembali ke tempat tugasnya di luar kota.


Kenn dan kedua mertuanya mengucapkan banyak terima kasih pada sang dokter. Meskipun mereka harus kehilangan salah satu dari dua orang yang mereka cintai.


"Ehem." Kenn pura-pura sedikit terbatuk. Ia tampak sengaja melakukan hal itu ketika pandangannya menangkap tatapan sang dokter yang sedari tadi terfokus pada adiknya.


Dokter itu kaget dan langsung memutuskan tatapannya. "Ah iya, maaf saya tidak bisa berlama di sini karena harus kembali ke tempat tugas. Semoga pasiennya cepat sembuh." Dokter itu berucap dengan sesekali melirik pada Kay. Tampaknya ia penasaran sekali dengan gadis cantik itu.


"Sekali lagi terima kasih sudah menolong istri saya, Dokter. Senang bisa bertemu dengan anda lagi."


Dokter itu tertawa kecil. "Saya juga senang bisa bertemu orang-orang baik seperti kalian semua. Jadi, sudah tidak cemburu lagi kan?" Sengaja mengingatkan Kenn pada awal mereka bertemu beberapa bulan lalu.


Kenn tersenyum simpul. "Maafkan untuk waktu itu. Bukannya cemburu, ya ... cuman tidak suka ada pria lain yang menatap dan menyentuh istriku." Penuturan Kenn membuat kedua mertuanya serta Kay tertawa. Tawa gadis itu benar-benar memikat sang dokter. Dan akhirnya dokter itu pun pergi dengan rasa penasarannya yang tidak mungkin terjawab.


Ruangan kembali hening, Kenn dan yang lainnya masih berdiri di dekat pintu melihat kepergian sang dokter.


"Kak!"


Sebuah suara lembut hampir tak terdengar karena begitu pelan dan samar, menarik perhatian mereka. Bukan suara Kay. Kenn langsung berbalik dan melangkah cepat ke arah ranjang di susul yang lain. Itu adalah suara Jenn yang memanggilnya.


"Sayang, udah sadar?" Langsung duduk pada kursi di samping ranjang dan menggenggam tangan istrinya.


"Selamat pagi Tuan Putri!"


"Hay Kak Jenn!"


Jenn menoleh ke arah belakang suaminya, dan ia mendapati kedua orangtuanya serta seorang gadis cantik yang sudah dikenalnya meski hanya secara virtual selama ini.


Seketika air matanya menetes begitu melihat orang-orang yang ia kasihi.


"Ayah, Ibu, Kay ...." lirih Jenn begitu sendu.


..._____πŸ‚πŸŒΎπŸ‚πŸŒΎπŸ‚_____...


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


...To be continued ......


...__________________...


...###...


Hay semuanya πŸ‘‹ ketemu lagi πŸ€—


Masih pada setia menunggu kan? Ma'aciih gaesss πŸ™πŸ₯°


Jangan lupa like dan komen yah 😍


Jempolnya dimainin dikit, jangan pelit loh πŸ˜…πŸ€­


Sampai jumpa di episode berikutnya πŸ€—


Ig author : @ ag_sweetie0425