Simple But Perfect

Simple But Perfect
Jadi Ini Masalahnya ?



"Makasih banget yah, Za" ucap Rossa tak enak hati, lalu mengambil bungkusan obat dari tangan Reza.


"Buat apa ?" tanya Reza. Mengikuti langkah Rossa ke dapur.


"Udah ngerepotin, Lo" meletakkan bungkusan obat diatas meja. Lalu menghidupkan kompor.


"Santai aja. Ini juga udah jadi tugas gue buat jagain Jenn, seperti yang diminta bang Vino" ucap Reza tulus. Mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan tanpa sungkan.


Beberapa menit lalu. Rossa yang tengah kebingungan saat itu, sendirian mengurus Jenn. Tiba-tiba datanglah Reza yang hendak menjemput Jenn seperti biasanya. Lelaki itu sempat menelepon Jenn tapi tak diangkat. Dia melihat sebuah motor Scoopy yang sering digunakan gadis cantik itu dan temannya untuk ke kampus, masih terparkir disana. Reza sempat bingung. Ingin lanjut saja ke kampus, atau menunggu gadis itu dengan tak pasti. Dia pun mencoba menelepon sekali lagi. Masih sama. Tak ada jawaban. Reza pun membunyikan klakson mobilnya berulang kali. Rossa yang mendengar itu, mengintip sebentar dari dalam. Begitu yang dilihatnya mantan koleksinya Jenn yang kini menjadi bodyguard-nya, Rossa pun keluar dan memberitahukan kondisi Jenn padanya. Saat itu juga Reza langsung melajukan mobilnya. Tetapi bukan ke kampus. Dia menuju apotek. Dan kembali lagi. Disinilah dia dan Rossa menemani Jenn.


"Tetep aja kan, gue mesti makasih. Apalagi Lo gak jadi ke kampus" Rossa tersenyum dan berucap tak kalah tulusnya. Tangannya cekatan memasak bubur.


"Gak papah lah. Buat Jenn, apa si yang gak" Reza tertawa kecil. "Bay the way, kenapa sampai bisa sakit dia ? trus dia udah makan ?" lanjut Reza. Menyandarkan punggungnya dengan kedua tangan diletakkan diatas meja makan.


Rossa menggeleng. "Belom makan dia. Mungkin karena itu, ditambah basah-basahan sejam di kamar mandi. Jadinya sakit dia" tutur Rossa.


"Basah-basahan ? kenapa emang ?" Reza mengernyit heran.


"Hah, pagi buta tadi gue bangun, dia udah gak ada. Gue cariin ke kamar mandi. Gue kaget liat dia lagi duduk meringkuk di bawah guyuran shower gitu aja. Mana masih dengan baju tidurnya. Udah gitu airnya dingin lagi. Gue heran, dia kek orang linglung gitu" beber Rossa pada Reza.


"Apa dia punya masalah yah ?" lagi tanya Reza.


Rossa menatap Reza sebentar seperti ingin menanyakan sesuatu, namun diurungkan. "Itu dia. Kita juga gak tahu pasti. Tapi yang gue liat, keknya emang punya masalah dia. Dari kemarin itu dia uring-uringan. Semalam juga dia gak bisa tidur dengan nyenyak. Makanya pagi buta udah main air" jelas Rossa.


"Udah ngasih tau bang Vino ?" Reza sedikit memiringkan kepalanya.


Rossa terdiam cukup lama, lalu menggeleng sambil membelakangi Reza. Tangannya sibuk mengaduk bubur. Dia berbalik dan menatap Reza dengan datar.


"Sepertinya itu masalahnya, Za" menjawab singkat. Berbalik lagi dan menyiapkan peralatan makan untuk Jenn.


"Maksudnya ?" bingung dan mengubah posisi duduknya menjadi tegak.


"Yang gue liat, dia murung sejak teleponan dengan abang Lo kemarin"


"Beneran ?" Rossa mengangguk. "Coba gue telepon bang Vino dulu" merogoh ponsel dari saku celananya dan melakukan panggilan ke nomor Alvino.


Bunyi sambungan telepon pertama, tak diangkat. Sekali lagi Reza masih mencoba. Kedua kali pun masih sama. Tak ada jawaban. Dia melirik Rossa yang sedang melihatnya juga.


"Gak di angkat ?" tanya Rossa.


Mengangguk. "Masih tidur mungkin. Bentar gue coba lagi" hendak menelpon lagi namun Rossa menghentikannya.


"Gak usah, Za. Kayaknya mereka emang lagi ada masalah. Kalo gak, mana ada Jenn diabaikan kayak gini. Yang biasanya itu, dari pagi buta, siang, malam, sampai larut malam pun, dia gak henti-hentinya ngabarin Jenn. Jadi gak usah, Za. Biarin aja. Mungkin mereka butuh waktu" jelas Rossa.


"Gak ! Gue bakal coba sekali lagi. Dia harus tau, Jenn lagi sakit. Apapun masalah mereka, yang gue tau, bang Vino cinta banget sama Jenn" sekali lagi mencoba menelepon ke nomor yang sama.


Tersambung ! namun dahinya mengernyit.


"Halo ?" bukan Alvino. Suara seorang wanita disana. Reza diam saja tak menjawab. Dia terpaku karena Rossa menatapnya dengan tajam.


"Halo, Alvino-nya lagi sibuk. Kalau ada hal yang penting, ngomong aja. ntar gue bilang ke dia"


Tut ! Reza mengakhiri panggilannya.


Siapa wanita tadi ? Apa ini masalahnya ?


"Kenapa ?" Rossa bersedekap.


"Eh, itu - itu ... gak diangkat juga. Mungkin masih tidur atau lagi sibuk" Reza berusaha menyembunyikan satu fakta baru yang ia ketahui saat itu. Disisi lain, ia tak percaya jika abangnya bersama wanita lain dan menyakiti Jenn. Dia ingin memastikan dulu. Kerena itu dia menutupinya.


Rossa mendekat, mengangkat sebelah alisnya. "Lo pikir gue percaya ? Lo pikir gue gak denger ?" tembak Rossa.


"Emang apa yang Lo denger ?" bersikap tenang.


"Itu suara perempuan kan ?"


"Lo salah denger itu. Sana bangunin Jenn buat makan gih" elak Reza.


"Gak, Za ! gue denger dia bilang Alvino lagi sibuk kan ?" telak.


"Jangan kasih tau buat Jenn. Jangan buat dia tambah sakit" menyerah ! tak dapat lagi menyembunyikan hal itu.


"Jadi bener karena ini ? jadi ini permasalahannya ? bener-bener bre****k itu orang" geram Rossa dengan suara sedikit keras. Reza spontan berdiri dan membungkam mulut Rossa dengan sebelah tangannya.


"Jangan keras-keras juga. Gimana kalau Jenn denger ? Lo mau buat dia kepikiran dan tambah sakit, hah ?" melotot pada Rossa.


Rossa menggeleng. Reza pun menurunkan tangannya. "Lo janji sama gue, ini bakal jadi rahasia kita. Okay ?" tanya Reza dan diiyakan oleh Rossa.


"Nah, sekarang biar gue yang bawain nampannya, Lo yang bangunin Jenn. Ayok" ajak Reza.


Keduanya lalu melangkah meninggalkan dapur dan menuju kamar. Rossa begitu prihatin melihat kondisi sahabatnya. Mereka bukan lagi sekedar sahabat. Tetapi sudah seperti saudara. Mereka bertiga saling menyayangi satu sama lain.


"Tapi, Sa !" Reza berhenti di depan pintu kamar yang sudah terbuka itu dan mengintip sedikit kedalam. "Kayaknya gue diluar aja deh. Gue takut pas Jenn liat gue, dia bakal nanyain soal bang Vino" ucap Reza.


" ????? " Rossa berpikir sejenak. "Hmm, iya juga yah. Oke, kalo gitu Lo tunggu bentar di luar" mengambil nampan dari tangan Reza.


Sesudah itu Reza berjalan ke ruang tamu, sedangkan Rossa meletakkan nampan yang berisikan bubur, air putih, dan obat ke atas nakas.


"Jenn, bangun" Rossa membangunkan Jenn dengan perlahan. Terdengar gadis itu bergumam tak jelas.


"Hei Jenn, bangun. Badan Lo panas banget ini" kembali Rossa memanggil dengan menepuk pipinya pelan.


Perlahan Jenn membuka matanya. "Hmm, udah telat yah, Mami ?" berucap dengan lirih sambil membuka selimut yang tadi sempat dipakaikan Rossa.


"Mau kemana emang ? Lo lagi sakit. Jadi kita gak ke kampus hari ini. Ayo bangun dan makan, setelah itu minum obatnya" mendekat dan hendak membantu Jenn untuk duduk.


"Tuh kan. Ngeyel si. Lo lagi sakit, Jenn. Lo demam. Dan Lo perlu istirahat. Ngerti kan ? sekarang bangun dan makan dulu, ayo" membantu Jenn untuk duduk dan bersandar pada beberapa tumpukan bantal yang sudah disusunnya.


"Tapi Lo juga kenapa gak ke kampus aja si, Mi ?" bersandar dan memejamkan matanya.


"Yang benar aja Lo. Masa gue ninggalin Lo sendirian kayak gini ? ada-ada aja deh. Buka mulutnya" menyodorkan sendok yang berisi bubur ke mulut Jenn.


"Dapet obat dari mana ?" bertanya disela-sela makannya.


"Dibeli si Putri sebelum ke kampus tadi" bohong Rossa. Padahal Putri sudah pergi sebelum Jenn tertidur tadi.


Mengangguk pelan dan melanjutkan makannya. "Udah, Sa. Gue udah kenyang" menjauhkan sendok berikutnya dari tangan Rossa.


"Gak bisa ! pokoknya ini harus diabisin" berucap tegas dan kembali mengarahkan sendok ke mulut Jenn.


Gadis cantik itu cemberut. "Kali ini aja tapi. Gue udah kenyang, Mami" membuka mulut dengan terpaksa.


"Iyah deh" mengalah dan meletakkan kembali mangkuk berisi bubur ke atas nakas. Kemudian mengambil gelas berisi air dan tak lupa obat, lalu diberikannya pada Jenn. Setelah selesai meminum obatnya, gadis cantik itu teringat sesuatu.


"Ponsel gue dimana, Sa ? dari tadi gak ada telepon atau cath gitu ?" matanya sibuk mencari ponsel.


Rossa yang mendengar itu menjadi jengkel. Mengingat suara wanita yang ditelepon Reza tadi.


"Gak ada. Ngapain sibuk dengan ponsel segala ? lagi sakit juga. Udah sana istirahat aja" seru Rossa sedikit ketus.


"Gak usah marah-marah juga, Mami" cemberut imut.


Maafin gue, bebs. Gue harus begini. Kalo gak Lo akan selalu naif dengan cinta Lo ke Alvino bre****k itu.


Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut dari depan. Kedua gadis itu saling menatap.


"Ada apa diluar ?" tanya Jenn.


"Sebentar, gue liat dulu" belum sempat beranjak dari tempatnya, pintu kamar itu sudah terbuka dengan komplotan gadis-gadis pecicilan yang menerobos masuk.


"Miniiiiiiiiiiiii" teriak ke-limanya kompak.


"Astagaaa !!! nyesel tadi gue ngasih tau" Rossa si kalem, menepuk jidatnya sambil geleng-geleng. Sementara Jenn senang dengan kehadiran geng edannya.


"Bebs, kenapa bisa sakit si ? tanya Maureen.


"Eh, dia itu manusia. Sakit itu hal lumrah. Lo pikir dia alien hah ?" Alena menoyor kepala Maureen.


"Please, tenang !" pekik Rossa tak tahan dibuat pusing. "Jenn itu lagi sakit, jangan ribut. Dia-nya tambah sakit nanti" seru Rossa.


"Oppss, sorry !" semuanya nyengir dan langsung diam.


"Tapi itu, ngapain si Reza disini juga ?" tanya Alena yang sejak masuk tadi penasaran dengan kehadiran Reza.


"Hah ?? Reza ? dia disini ? mana, panggilin kesini dong" pinta Jenn. Sedangkan Rossa mengutuki Alena setengah mati dalam hati sambil melotot pada gadis angkuh itu.


"Nanti gue panggilin" Rossa keluar dan memanggil Reza.


Tak membutuhkan waktu lama, keduanya kembali ke kamar. Reza begitu risih karena satu-satunya lelaki ditengah-tengah komplotan para gadis.


"Hai Jenn" sapa Reza dengan kikuk.


"Za, apa abang Lo sibuk ? Kenapa gue gak dikabarin sama sekali ?" tanya Jenn to the point dengan tatapan sendunya.


Astaga, bang Vino ! apa sebenarnya yang Lo lakuin ? tega bener Lo bang. Gue aja gak tega liat dia kek gini.


Reza membatin. Tidak tahu bagaiman menjawab pertanyaan gadis yang pernah bahkan masih dicintainya itu. Reza melirik Rossa dan gadis itu menggeleng pelan sebagai kode.


"Bilang sama dia, gue kangen, Za" ucap Jenn lirih.


Pernyataan Jenn membuat atmosfer ruangan itu bercampur aduk, dengan beragam hipotesa dari masing-masing orang yang berada di dalam kamar itu.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


.


.


.


.


.


to be continued ...


____________________


Selamat Hari Raya Idul Fitri 1442 H, bagi yang merayakan ๐Ÿ™ Mohon maaf lahir dan batin ๐Ÿ™


Terimakasih buat yang selalu setia untuk mampir ๐Ÿค—


Jangan lupa like, komen, dan rate yah zeyengยฒku ๐Ÿ˜˜๐Ÿฅฐ


Selamat membaca ๐Ÿ˜Šโค๏ธ


Ig : @ag_sweetie0425