
...~ Happy Reading ~...
...___________________...
...*...
...*...
...*...
Tak, tak, tak!
Derap langkah dua pasang kaki yang berlari kecil di sepanjang koridor rumah sakit, terdengar nyaring memecahkan kesunyian malam.
Waktu menunjukkan pukul 21.15. Di depan sebuah ruangan VIP, di salah satu rumah sakit yang cukup besar di kota xx. Di sana tampak seorang lelaki muda sedang terduduk lesu dengan wajah tertunduk. Saat mendengar bunyi langkah kaki yang saling bersahutan nyaring, seolah membenturkan harapan pada lantai rumah sakit itu, ia pun lantas menoleh dan melihat siapa pemilik langkah tersebut.
Begitu melihat siapa yang datang, lelaki itu langsung bangkit dari duduknya.
"Za, gimana keadaannya?" tanya seorang wanita cantik yang baru saja tiba dan berdiri di hadapannya.
"Dia cukup baik, Jenn. Cederanya ringan kok, gak terlalu parah. Sekarang dia belum sadar." ucap lelaki yang tak lain adalah Reza.
"Gimana ceritanya sih, Za?" tanya Jenn sekali lagi. Sejujurnya, ia cukup khawatir akan kondisi lelaki yang pernah singgah di hatinya itu.
Bagaimanapun, Jenn tidak bisa untuk membencinya meski rasa cinta itu tak lagi ada. Tidak cinta bukan berarti harus membenci kan? Walau sekarang semuanya telah berubah, tapi Jenn masih tetaplah Jenn yang dulu. Disenangi banyak orang karena friendly dan kindly.
Reza mempersilahkan pasutri itu untuk duduk dan ia pun menceritakan insiden kecelakaan mobil tadi. Dimana saat itu, Alvino yang melaju dengan kecepatan tinggi dan diikuti sebuah mobil sport lain dari arah belakang, dikagetkan tiba-tiba dengan sebuah truk yang melaju dari arah depan. Karena ingin menghindari tabrakan, Alvino membanting setir ke kenan dan menabrak pembatas jalan. Sebuah mobil sport yang mengikutinya pun ikut menabrak bagian belakang mobilnya. Alhasil, Ferrari berwarna merah metalik itu mengalami kerusakan cukup parah.
Akibat tabrakan pada pembatas jalan, Alvino mengalami benturan keras di bagian dada dan beberapa luka goresan pada bagian tubuhnya yang lain, serta jahitan kecil di pelipisnya. Namun, hantaman keras dari arah belakang, lelaki tampan itu pun mengalami cedera whiplash yang untungnya tidak terlalu parah.
Reza bersyukur karena abangnya tidak sampai mengalami hal-hal yang fatal. Setelah menceritakan semuanya pada Jenn dan Kenn, sepasang suami-istri itu pun turut bersyukur.
Apakah ini semua salah gue? Kenn bertanya pada hati kecilnya. Sejujurnya rasa bersalah itu ada, tapi rasa cinta yang lebih besar memberinya kekuatan hati untuk tetap mempertahankan apa yang sudah menjadi miliknya.
Kenn tersentak dari lamunannya ketika sebuah tepukan persahabatan mendarat dipundaknya. "Gak usah ngerasa bersalah, Bro! Lo gak salah sama sekali. Yang di atas sudah menuliskan skenario ini sejak awal. Tinggal kita lakoni saja dengan bersyukur." Reza berucap dengan bijak dan tulus.
Kenn tersenyum kecil. "Tau aja Lo." Calon ayah muda itu terkekeh. "Thanks, Za. Lo emang the best. Maafin gue, yah. Gue ... gak ada maksud buat nyakitin siapa pun," tutur Kenn dengan wajah tertunduk karena rasa bersalah yang selalu mengusiknya.
Jemari lembut Jenn terangkat dan mengusap lengan suaminya. "Udah, Yang! Kamu gak salah apa-apa di sini. Gak sama sekali! Kalo pun ada yang salah, aku yang pantas disalahkan. Karena aku yang milih kamu, aku yang membiarkan hatiku mencintaimu tanpa bisa dikendalikan." Jenn mengakui hal itu apa adanya. "Ini terakhir kalinya ... aku gak mau denger lagi kamu nyalahin diri kamu sendiri." Memperingati dengan keras.
Kenn mengangguk sambil mengelus kepala istrinya. "Iyah, tapi sebaiknya aku nganterin kamu ke rumah Farel yah." Ucapannya membuat Jenn mengernyit.
"Kenapa? Ngapain aku mesti ke sana?" Ada nada tak suka yang tersampaikan di telinga Kenn.
"Ini udah malam, aku gak mau kamu begadang dan kecapean. Biar aku saja yang di sini, nemenin Reza sampai abangnya siuman." Jenn menatapnya tak percaya. "Ada apa?" tanyanya begitu melihat ekspresi sang istri.
"Kamu serius?" Ada ragu di matanya. "Yakin?" Mencari kejujuran di mata suaminya. "Gak marah atau be ...."
"Gak ada, Sayang!" potong Kenn. "Gak percaya sama aku?" tanya balik. "Sedikit pun aku gak marah ataupun benci sama dia. Tadi itu, aku marah karena kamu dikasarin. Itu aja ... selain itu gak ada alasan buat aku membencinya." tutur Kenn dengan jujur, dan hal itu membuat istri kecilnya takjub.
Jenn tersenyum damai sekali. "Aku mencintaimu!" bisiknya di telinga Kenn.
"Aku dengar loh," ucap Reza membuat Jenn cengengesan. "Bucinnya nanti di rumah. Tolong hargai aku sebagai jomblo." Lebih kepada permintaan disertai gerutuan yang mengundang tawa pasutri itu.
Jenn menimpuk bahu Reza sedikit keras. "Jangan ngelawak ih. Ini rumah sakit." tegurnya.
"Ya udah, sekarang aku anterin yah," tawar Kenn dan Jenn pun mengiyakan.
Kenn berdiri lalu mengulurkan tangannya yang disambut Jenn dengan senang hati. Ia berpamitan sebentar pada Reza dan berjanji akan kembali setelah istrinya tiba dengan selamat.
Baru saja hendak beranjak pergi, dari arah depan terlihat seorang dokter dengan dua perawat yang berjalan sedikit terburu-buru menuju ke arah mereka. Bersamaan dengan itu, pintu ruangan VIP itu terbuka dengan seorang pria paruh baya yang keluar dari sana. Jenn dan Kenn kembali menahan langkah mereka. Namun, Jenn sedikit terlonjak begitu mengenali orang tua itu.
"Eh, selamat malam, Pak!" Jenn memberikan salam pada lelaki paruh baya yang ia kenal.
Pria tua itu ingin membalas salamnya tapi tertahan dengan tim dokter yang sudah ada di depan mereka dan hendak masuk. Lelaki gagah dan berwibawa itu mempersilahkan dokter untuk masuk ke dalam.
Setelah tim dokter masuk, lelaki yang masih saja terlihat tampan di usianya yang tak lagi mudah itu, lantas tersenyum dan bernafas lega melihat kehadiran Jenn di sana. "Ah, syukurlah kamu ada, Jenn. Saya harap dengan adanya kamu, dapat membantu mempercepat kesembuhan Vino," kata pria paruh baya itu penuh wibawa.
Dahi Jenn berkerut. Begitupun suaminya, Kennand. "Maksud, Bapak? Apa terjadi sesuatu yang serius dengan dia, Pak?" tanya Jenn dengan wajah serius.
"Wait! Tunggu dulu. Ini maksudnya ...? Sejak kapan kalian saling kenal? Sepertinya akrab sekali." tanya Reza yang memang bingung melihat interaksi keduanya. "Kalian ... auwwhh." Reza meringis karena cubitan Jenn yang cukup kuat di permukaan kulit lengannya.
"Lo lupa? Dia dekan kita begeee. Yang sopan bicaranya," bisik Jenn sambil menahan geram.
"Ya, gue tau, orang tua ini dekan di kampus, tapi kalian ... arrghh, sakit Jenn!" Erangnya sekali lagi karena cubitan Jenn yang makin kuat dan di tempat yang semula. "Astaga, luka kan jadinya ... Kenn Lo tahan banget dekat sama dia, gak takut disiksa apa?" Sungut Reza.
"Mangkanya jangan kenceng-kenceng suaranya." bisik Jenn lagi pada Reza. Ia berbalik menghadap pria paruh baya yang adalah dekan di kampusnya. Jenn sedikit menunduk meminta maaf. "Maafkan teman saya, Pak. Dia ...."
"Tidak masalah, Jenn. Dia memang tidak sopan dari dulu." Pria paruh baya itu berucap santai dan memasukan tangannya ke dalam saku celana. "Tapi itu berlaku hanya dengan saya. Terhadap orang lain dia sopan kok." Ia terkekeh.
Jenn mengernyit heran. "Lah, kok bisa gitu? Bapak gak marah emang? Itu kan kurang ajar namanya. Mesti dapat hukuman itu, Pak." cerocos Jenn.
"Mana bisa? Yang ada saya dihukum maminya nanti." Pria tua itu tersenyum sedangkan Jenn terbelalak kaget.
"Maksud, Bapak ... dia anak Bapak, gitu?" tanya Jenn dan pria tua itu mengangguk, membuat wanita cantik itu menjadi malu. "Maaf, Pak. Saya gak tau." Kembali melotot pada Reza. "Lo sih, gak bilang-bilang. Tapi kok gue gak mudeng yah selama ini." Menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Di tengah obrolan mereka saat itu, tiba-tiba seorang perawat keluar dan menanyakan nama Jenn. Tentu saja wanita cantik itu bersama suaminya bingung. Perawat itu lalu menjelaskan keadaan Alvino yang sudah sadar, membuat mereka semua bernafas lega.
Namun, satu lagi penuturan perawat itu menghadirkan ketidak nyamanan di hati Kenn, Jenn, dan Reza. Berbeda dengan pria tua yang adalah ayahnya Reza. Ia tampak senang dan berharap banyak dengan kehadiran Jenn.
"Ini yang sedari tadi ingin saya jelaskan. Kamu bisa kan?" Ucapan dekannya membuat Jenn begitu dilema.
Bumil cantik itu menatap suaminya yang diam sedari tadi. Wajah tampan Kenn begitu datar dan tak terbaca.
"Maaf, Pak. Tapi ... saya tergantung izin suami saya." Pria tua itu kaget dengan apa yang baru saja dikatakan Jenn.
"Kapan kamu menikah? Lalu Alvino ...?"
..._____π¦π¦π¦π¦π¦_____...
...Kau pernah melukis pelangi,...
...Lalu kau sendiri menghitamkannya....
...Kita bukan punah ......
...Tapi kita adalah pernah....
...Kisah kita telah usai,...
...Namun, benci tak mesti di hati....
..._Jennifer Greecya_...
...###...
...To be continued ......
...__________________...
Haloha semuanya π Semoga suka dan gak bosen dengan cerita receh ini yah π€
Terima kasih buat yang selalu setia nungguin Jenn dan Kenn ππ€
Jangan lupa tinggalkan like dan komen π
Sampai jumpa di episode berikutnya yah π€
Ig author : @ag_sweetie0425