Simple But Perfect

Simple But Perfect
Jangan Rubah Takdirku



...~ Happy Reading ~...


...___________________...


...*...


...*...


...*...


Waktu menunjukkan pukul 24.00, dan sepasang suami-istri baru saja tiba di kediaman mereka. Siapa lagi kalau bukan Jenn dan Kenn.


Berbeda dari malam-malam sebelumnya, Kenn nampak lain di mata istrinya. Lelaki yang sering memulai drama romantis sebelum tidur, malam itu terlihat biasa saja. Tidak ada obrolan hangat ataupun candaan receh yang selalu ia lakukan untuk membuat istrinya tertawa.


"Selamat tidur, Sayang."


Hanya terdengar ucapan sederhana yang memang sudah menjadi rutinitas dari bibirnya. Setelah itu, tidak ada lagi suara manis yang selalu ingin Jenn dengar. Sekedar basa-basi pun tidak. Kenn bahkan tidur membelakangi wanita kesayangannya.


Apa aku salah?


Jenn mulai merasa tidak tenang. Meskipun rasa lelah dan kantuk mulai merayunya tanpa celah, tetap saja ia tak bisa terpejam. Mata sayunya tertuju pada punggung lebar sang suami. Ingin sekali meraih dan menyentuhnya untuk berbalik, tapi Jenn begitu berat melakukan itu. Ingin rasanya bertanya, tapi bibirnya seolah merekat tak bisa berucap apapun.


Di tengah kekalutannya, tiba-tiba sang suami berbalik menghadapnya. Tatapan datar lelaki itu menebarkan perih di mata indah Jenn yang nampak kelelahan.


"Kemarilah," ucap Kenn sambil membuka tangannya. Lelaki itu sangat memahami kegelisahan istri kecilnya. Tidak menunggu lama, Jenn pun bergerak mendekat ke arah sang suami. Kenn langsung membawa tubuh kecil itu ke dalam pelukannya. "Kok belum tidur? Ini sudah larut, Sayang." Mengelus kepala istrinya, menyalurkan ketenangan.


"Kamu diemin aku," ucap Jenn begitu pelan menahan sesak di dadanya. Bumil cantik itu hampir menangis karena merasa diacuhkan suaminya.


"Gak kayak yang kamu pikir, Sayang." Mengangkat wajah cantik istrinya untuk ditatap. "Udah, sekarang tidur yah. Kita bahas ini besok. Aku emang sengaja gak mau ngomong apa-apa biar kamu bisa cepat tidur." Tatapan datarnya berubah senyuman manis. "Aku gak mau kamu kelelahan, Sayang. Istirahatlah, jangan mikir yang gak-gak." Kembali menyandarkan kepala Jenn di dadanya yang bidang lalu menepuk pelan. "Aku mencintaimu." Memberikan kecupan di kepala istrinya.


Jenn tersenyum dalam dekapan hangat suaminya. Ia pun membalas pelukan itu dengan erat.


Aku pun begitu. Sangat mencintaimu. Good night sayangku.


Kehangatan dan kenyamanan yang menjadi candunya, membuat bumil cantik itu akhirnya tertidur dengan damai. Tidak ada kenyamanan senyaman pelukan seorang Kenn bagi Jenn. Sentuhan lembut dan aroma maskulin dari lelaki itu adalah penenang bagi jiwa Jenn.


Hembusan nafas yang terdengar mulai teratur, meyakinkan Kenn bahwa istrinya sudah lelap dalam dunia mimpi.


"Mimpi indah, Sayang." sekali lagi memberikan kecupan di kepala Jenn. "Maafkan aku yang sudah mendiamkan kamu. Entahlah ... mungkinkah takdir kita yang salah? Jika iya, kenapa Tuhan mempertemukan kita dengan aku yang tidak bisa mengendalikan perasaan cintaku barang sedikitpun? Haruskah aku mempersalahkan semesta yang dengan sengaja selalu mempertemukan kita pada waktu yang tepat? Aku yang tidak pernah jatuh cinta pada wanita manapun, aku yang selalu menutup hati dari semua perempuan, pada akhirnya semua itu hilang dan tidak berlaku ketika bertemu denganmu. Apakah semua ini hanya sebuah kebetulan? Apakah takdir hanya mempermainkanku? Apapun itu, aku tidak lagi peduli, aku mau egois, dan aku mau mempertahankan takdir yang mungkin saja salah. Biar saja semesta terus bercanda dengan kejamnya, dan aku akan terus mempertahankanmu dengan naif sampai takdir dan semesta mengalah pada besarnya cintaku." Kenn bermonolog panjang lebar sambil mengeratkan pelukannya. Tidak ada hal yang menakutkan baginya selain kehilangan wanita cantik yang tertidur dalam dekapannya itu. Sebelah tangannya terulur meraih ponsel yang berada di atas nakas. Ia memutarkan sebuah senandung yang mewakilkan hatinya malam itu, sekaligus menjadi pengantar tidurnya.


Di setiap doaku


Di setiap air mataku selalu ada kamu


Di setiap kataku


Ku sampaikan cinta ini cinta kita


Ku tak akan mundur


Ku tak akan goyah


Meyakinkan kamu mencintaiku


Tuhan ku cinta dia


Ku ingin bersamanya


Ku ingin habiskan nafas ini berdua dengannya


Jangan rubah takdirku


Satukanlah hatiku dengan hatinya


Bersama sampai akhir


[ Jangan rubah takdirku - Andmesh ]


Ini yang membuat Kenn diam sedari tadi. Ingin berbagi tanya pada istrinya, tapi ia tidak ingin mengganggu waktu tidur Jenn.


"Maafkan aku yang tidak bisa mengembalikannya padamu. Itu hal yang sangat mustahil aku lakukan. Tidak ada niatan untuk menyakitimu sama sekali. Semoga takdir mempertemukanmu dengan wanita baik selain dia." Harapan Kenn pun sama seperti istrinya. Setelah mengucapkan itu dengan tulus, lelaki tampan itu pun menyusul istrinya dalam mimpi yang damai.


*****


Di rumah sakit.


Reza masih duduk dengan setia menunggu di depan ruang inap abangnya. Sudah setengah jam setelah kepergian Kenn dan Jenn dari sana, tapi ia masih saja betah dalam posisinya. Dia sengaja membiarkan abangnya sendiri dulu menata hati dalam kesendirian. Sebab, terkadang bukan ocehan semangat atau prihatin yang seseorang butuhkan, tetapi sepi yang mampu mengurai semua rasa di hati.


Dalam kesendirian menunggu Alvino, ada sesuatu yang mengusik perhatian Reza. Saat Jenn dan suaminya beranjak pergi dari sana, tidak sengaja ia melihat seseorang yang sangat tidak asing, juga bergegas pergi dari tempat itu.


Berulang kali lelaki itu memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa dijadikan alasan untuk mempercayai keberadaan orang itu di sana, tetap saja ia tidak menemukan alasan ataupun kejanggalan lainnya. Ia lalu memilih masuk ke dalam ruangan VIP tempat Alvino di rawat. Sudah sangat larut dan ia pun butuh mengistirahatkan raganya yang lelah.


*****


Waktu dengan perlahan tapi tepat menggeser gelap dari bumi. Sang fajar dengan malu membiaskan cahayanya dengan perlahan, hingga terang benar-benar berkuasa dan raja siang mulai memainkan peran semangat.


Dua lelaki tampan di sana, masih saja tertidur pulas dalam lelahnya. Yang satu lelah di tubuhnya, dan satunya lagi lelah di hati dan pikiran. Siapa lagi kalau bukan Alvino. Ia baru saja tertidur subuh tadi, saking begitu kacau pikirannya.


Hingga waktu menunjukkan pukul 08.30, keduanya tetap tidak terusik sama sekali dengan kehadiran beberapa orang di sana. Dokter yang ingin memeriksa keadaan Alvino pun diurungkan begitu melihat pasien yang masih menikmati indahnya dunia mimpi.


Setelah kepergian dokter dan perawat dari ruangan itu, tinggalah sepasang suami-isteri yang masih berdiri sambil menatap dua lelaki tampan bak pangeran tidur di sana. Seorang wanita cantik yang telah berusia senja mendekat dan duduk di kursi dekat ranjang Alvino. Ia lalu mengelus dan membelai rambut lelaki tampan itu. Tampak sebutir kristal bening luruh dari matanya.


"Maafkan mami, Sayang. Seandainya mami tidak egois ...." Sesal wanita cantik yang tak lain adalah maminya Alvino. Hati ibu mana yang tidak sakit melihat anaknya sehancur ini? Namun, penyesalan itu sudah sangat terlambat untuk di sesali. Suaminya pun menenangkannya.


Ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Reza yang tertidur di sofa besar, di dekat jendela ruangan itu.


"Za, Reza," panggil wanita itu sambil mengguncang pelan bahu keponakannya.


Tidak begitu sulit yang dibayangkan, lelaki muda itu pun terbangun dengan sekali guncangan. Meskipun masih sangat mengantuk, tapi mengingat keadaan abangnya membuat kantuknya menghilang dalam sekejap. Ia pun bangun dan hendak menghampiri ranjang Alvino tapi sebuah tangan menahan langkahnya.


"Eh, Tante!?" Baru menyadari keberadaan wanita itu. Reza pun menengok sekilas di samping ranjang pasien, dan ia melihat pria tua yang adalah kakak dari ayahnya sedang berdiri di sana. "Om, udah dari tadi yah?" Memandang dua orang tua itu bergantian. Ia yang tadinya hendak berdiri, kembali menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa dengan malas. "Maaf, Reza kesiangan dan gak bisa jemput Om sama Tante." Mengusap wajahnya yang tampak masih mengantuk.


"Tidak apa-apa, justru Tante ngerti. Kalian berdua sama saja, tidur selalu lupa waktu." Reza tersenyum samar mendengar itu. "Makasih, udah jagain abang kamu," ucapnya lagi.


"Apaan sih, Tan. Kayak orang lain aja." Ia bangun dan berjalan menuju dispenser yang tersedia di dalam sana. Mengisi segelas air lalu meneguknya.


Wanita berusia senja itu tersenyum menanggapi ocehan keponakannya. "Tante boleh minta tolong lagi gak?" tanya maminya Alvino dan Reza mengangguk sambil masih terus meneguk air putih.


"Tolong bawa dia kemari. Tante ingin berbicara dengannya." Menatap Reza begitu serius, sedangkan Reza mengerutkan keningnya. Mengerti dengan raut wajah bingung keponakannya, wanita itu berdiri dan menghampiri Reza. "Tente ingin meminta maaf padanya ... dan memintanya untuk kembali pada Vino."


"Bruuufffftttt, uhuk, uhuk." Reza tersedak minumannya mendengar ucapan sang tante yang dikenalnya angkuh dan sangat tidak menyukai Jenn.


Apa dunia sudah mau kiamat?


..._____πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦_____...


...Sekeras-kerasnya hati seseorang...


...laksana karang di tepi pantai,...


...akan luluh juga seiring waktu...


...bersama tetesan air dan keadaan....


...Namun, ketika itu terjadi...


...Antara tepat dan sesal....


...Takdir yang berbicara....


...####...


...To be continued ......


..._________________...


...*...


...*...


...*...


Hai semuanya πŸ‘‹ aku kembali 🀭


Maaf yah, yah, yah πŸ™πŸ™πŸ™


Kemarin2 lagi ngumpulin niat dan semangat lagi, soalnya ... ah sudah jangan dibahas πŸ™ˆ Tapi puji Tuhan udah semangat lagi πŸ˜‡


Terima kasih buat yang masih setia di kapal Jenn dan Kenn πŸ™πŸ€—


Ikuti terus sampai tamat yah guys 😘 Makasih πŸ˜˜πŸ™πŸ™


Sampai jumpa di episode berikutnya πŸ€—


Ig author : @ag_sweetie0425