
Sang surya dengan perlahan menampakkan senyum hangat diufuk timur. Kembali bersiap menyinari bumi tanpa pamrih. Selayaknya kita bersyukur atas kebesaran sang Pencipta. Mengawali hari dengan semangat, tanpa mengeluh. Seperti matahari yang tak pernah lelahnya bersinar.
Suasana dirumah sederhana yang berukuran minimalis, pagi itu begitu tenang. Tidak seperti kemarin, yang diwarnai dengan pertengkaran Jenn dan Alvino via telepon. Setelah membereskan pekerjaan masing-masing. Dengan Rossa yang bertugas membuat sarapan dan membereskan piring kotor, Jenn mengepel seluruh lantai rumah, Putri membuang sampah dan membersihkan halaman rumah. Mereka lalu bergegas mandi untuk ke kampus. Ketiga gadis penghuni rumah itu tampak tenang dalam menyelesaikan sarapan masing-masing, dengan sesekali diselingi perbincangan hangat dan ringan.
"Semalam telponan sama Alvino yah ?" Tanya Putri pada Jenn.
"Hmm, kedengaran yah ?" Jawab Jenn singkat, seraya balik bertanya.
"Iyalah ! berisik. Pake acara nyanyi lagi" Sindir Putri pura-pura kesal.
"Hehe biasalah. Kek gak pernah muda aja Lo, haha" Jenn menanggapi sindiran Putri dengan guyonan receh.
"Lah emang gue masih muda, dasar ya sahabat durjana." Kesal Putri.
"Udah-udah. Cepat ah, selesain makannya. Telat baru tahu rasa" Rossa alias sang mami, menurut Jenn dan Putri. Menegur dan memperingati kedua sahabatnya.
"Siap mamiiii" Jawab Jenn dan Putri kompak.
Dan sesudah itu, mereka bergegas meninggalkan rumah. Dan ke kampus dengan strategi seperti biasa. Putri si nona trail itu sendiri, dan Jenn yang dibonceng Rossa.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Sementara itu dikontrakkan Kenn pun sama. Walaupun sendiri, namun lelaki tampan itu tak lantas bermalas-malasan. Dia selalu menjaga kebersihan tempat tinggalnya. Sederhana namun bersih itu indah bukan ? Sesekali jika ingin makan dirumah, Kenn akan memasak sendiri. Dia memang lelaki mandiri dan pekerja keras. Sejak menuntut ilmu dibangku SMA beberapa tahun lalu, Kenn sudah merantau di kota ini. Meninggalkan ibu dan adik perempuan satu-satunya. Yang kini sudah duduk di bangku kelas tiga SMA.
Saat pertama kali datang ke kota ini, Kenn tinggal bersama dengan tantenya. Yang merupakan adik kandung dari mendiang ayahnya, dan juga yang adalah ibunya Reni. Mungkin karena ditinggal sang ayah, dan merantau sejak itu, hingga waktu mampu membentuk sosok seorang Kenn yang mandiri seperti sekarang.
Awalnya dia bekarja paruh waktu disebuah cafe setelah pulang sekolah. Kenn akan bekerja dari siang hingga malam pukul 09.00 barulah dia kembali ke rumah tantenya. Kadang juga dia bekerja di bengkel temannya. Kenn bekerja keras hanya untuk membiayai sekolahnya. Karena tidak ingin menyusahkan ibunya, yang juga harus menyekolahkan adik perempuannya.
Dari hasil kerjanya itu dia menabung dan bisa menyelesaikan sekolah menengah atas waktu itu. Dan juga, dari tabungannya selama beberapa tahun itu, Kenn bisa membeli motor yang sekarang dipakainya.
Saat baru ingin menjalankan motornya, Kenn dikegetkan dengan suara yang memanggilnya dari arah belakang. Terlihat seorang gadis berlari kecil ke arahnya.
"Kak Kenn tunggu, anterin gue dong kak" Ucap gadis itu sedikit terengah.
"Lah, kakak Lo kemana emang ? kenapa gak ngantarin ?" Tanya Kenn pada gadis yang adalah adik dari temannya, yang pernah memberikannya pekerjaan dibengkel dulu.
"Nggak tahu, gak pulang semalam. Mungkin nginep di rumah pacarnya. Udah buruan kak, telat ini". Kata gadis itu.
"Iyah bawel, ke kampus kan ?"
"Iyah kak Kenn, duh makin telat ini. Nanya mulu"
Sekitar 15 menit diperjalanan, akhirnya mereka sampai di depan kampus. Yang dimana Kenn juga pernah mengantar Reni ke tempat itu. Ken lantas bertanya pada gadis itu yang terlihat begitu terburu-buru.
"Eh tunggu dulu, buru-buru amat sih". Kenn menahan gadis itu sebentar.
"Gak usah. Simpan aja buat jajan Lo. Cuman mau nanya, beneran Lo kuliah disini ?" Tanya Kenn yang mendapat anggukan dari gadis itu.
"Ya udah sana masuk, ntar telat lagi" Kenn mendorong pelan bahu gadis itu.
"Hah ? jadi kak Kenn dari tadi itu, cuman mau nanya ini doang ? Ya ampun, gak penting banget deh. Issh nyebelin, sama kek temannya." Menggerutu sambil berlalu meninggalkan Kenn yang cekikikan.
Berarti Jenn juga kuliah disini kan ? mudah-mudahan bisa ketemu dia lagi. Kenn dalam hati.
Dan seperti harapannya saat itu juga. Mata elangnya menangkap sosok cantik bertubuh mungil, yang baru saja turun dari motor bersama seorang gadis. Mungkin temannya pikir Kenn. Karena belum melihat Rossa sebelumnya diantara teman-teman Jenn, saat pertama bertemu Jenn waktu itu.
Kenn begitu senang. Karena harapan untuk bertemu dengan gadis pencuri hatinya telah terkabul. Saat ingin menyapa gadis cantik itu, seketika niatnya urung melihat seorang lelaki menyapa dan menghampiri Jenn disana.
Terlihat dimatanya, Jenn sepertinya mencoba menghindari lelaki itu. Jenn terlihat terburu-buru. Setelah Jenn berlalu bersama temannya, Kenn melihat wajah lelaki itu penuh kecewa dan amarah. Sambil mengepalkan kedua tangannya.
Ah benar kan ? sudah punya pacar kata Reni. Tapi masih banyak yang taksir juga. mereka aja enggak, apa lagi gue yang butiran debuh ini ? Kenn bermonolog merasa minder.
Tapi tunggu, benarkah tadi itu Jenn ? Apa dia sering memakai pakaian seperti itu ? Gak salah ? Lagi-lagi Kenn dengan pikirannya.
Dia begitu heran dengan tampilan Jenn pagi itu, yang terkesan sexy. Memperlihatkan paha mulusnya yang hanya menggunakan rok jeans di atas lutut, dengan kemeja merah kotak-kotak, dan dilengkapi sepatu All star bengkap putih. Jenn terlihat berbeda dengan tampilan waktu pertama mereka bertemu.
Kenn menggoyangkan kepalanya mengusir pikiran-pikiran aneh yang hinggap diotaknya, lalu melajukan motornya meninggalkan tempat itu.
.
.
.
.
.
to be continued ....
.
.
.
Happy reading buddies πβ€οΈ
Jangan lupa tinggalkan jejaknya yah ππ₯°π₯°π₯°