Simple But Perfect

Simple But Perfect
Lelaki Terhebat



_Sebenarnya emosi, tetapi lebih memilih diam. It's another level of dewasa_


Ini yang sedang diterapkan oleh seorang Kenn. Saat kekhawatiran tengah melanda jiwanya, perasaan gelisah menggerogoti hatinya. Sang kekasih tercinta yang menjadi sumber kekalutannya saat itu, malah berulah. Si cantik itu berhasil mengerjai kekasihnya, di waktu yang tidak tepat dengan situasi yang tak baik.


Flashback on


Kenn sedang menunggu Rossa di parkiran kampus saat siang menjelang sore. Tak lama, sahabat dari kekasihnya itu pun tiba dengan sedikit ngos-ngosan karena jalannya yang terburu-buru.


"Jenn dimana sih? Kenapa gak nungguin Lo aja? Kenapa juga Lo biarin dia pulang duluan? Sekarang Gue harus cari dia di mana?" Memberondong Rossa dengan rentetan pertanyaan.


"Aduh, Kak! Maaf. Katanya tadi Kakak udah nungguin dia di sini. Makanya Aku biarin aja. Gak tau juga dia bakal ngilang gini." Rossa menjelaskan dengan sedikit takut dan bingung. Takut karena wajah Kenn yang terlihat antara marah dan gelisah. Bingung karena tak tahu sahabatnya kemana dan kenapa membohongi dirinya dan yang lain.


Kenn mengusap wajahnya kasar. "Udah dari tadi atau gimana?" Tanyanya memastikan.


"Tadi pas dia nelpon, Kakak itu, dia langsung turun." Ucap Rossa dengan wajah sendu merasa bersalah.


Kenn masih mencoba menghubungi nomor kekasihnya sekali lagi. Tetap masih sama, tak ada yang menjawab.


"Coba kita cek ke rumah aja dulu. Jangan sampai dia lagi gak enak badan atau apa dan langsung pulang." Putri menyarankan.


Kenn mengangguk dan menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya. Mereka bertiga lalu bergegas menjalankan motor masing-masing. Kenn dengan kecepatan tinggi, ingin segera keluar dari area itu. Baru saja sampai di depan gerbang kampus, Kenn mengerem mendadak dengan jantung yang hampir bergeser dari posisinya. Di depannya, tiba-tiba berdiri seorang gadis cantik dengan senyum yang memesona.


Rossa dan Putri yang di belakang pun hampir saja histeris melihat aksi gadis itu yang nyaris tertabrak. Keduanya pun berhenti dan menepi sebentar kesamping.


Flashback off


"Lo udah gila, Jenn?!" Teriak Putri yang benar-benar kesal melihat tingkah sahabatnya.


"Dari mana aja sih, Lo? Bikin takut aja tau gak?" Rossa menggerutu.


Si cantik itu hanya cengengesan melihat reaksi tiga orang di depannya. Tanpa ada perasaan bersalah sedikit pun.


Sedangkan Kenn. Jangan tanyakan lagi. Kekhawatirannya tadi telah berbaur dengan rasa marah dan kesal. Bayangkan saja dengan posisinya saat itu. Teror-teror seperti pagi tadi membuatnya gelisah dan tidak fokus pada pekerjaannya. Dan sekarang malah harus menghadapi ulah kekasih hati yang memberinya senam jantung di tengah hari menjelang sore.


Lelaki tampan itu melepas helmnya secara kasar. Menaruhnya di atas motor sedikit keras, dan menundukkan wajahnya dengan dahi yang bersandar di sana. Kenn sedang berusaha menekan emosinya setengah mati. Ingin rasanya berteriak marah pada gadis cantik kesayangannya itu. Ingin sekali meluapkan segala rasa yang tak menyenangkan dalam jiwanya saat itu juga. Tetapi hebatnya, Kenn tak pernah bisa melakukan hal itu.


Terdengar helaan nafas kasar dari sosok tampan yang masih menunduk di sana. Tangannya masih mengepal menahan gusar yang bergejolak. Perlahan si cantik itu mendekatinya.


"Sayang! Marah yah?" Astaga! Kenn ingin menjatuhkan dirinya dari atas motor, mendengar suara kemayu yang polos dan tak ada rasa bersalah sedikit pun.


Tangan kecilnya terulur dan mengusap kepala sang kekasih yang masih menunduk. "Maaf, Sayang! Ngomong dong." Suara itu, sentuhan itu, yang selalu mampu meruntuhkan kerasnya hatinya. Selalu mampu memadamkan panasnya emosinya. Selalu mampu me-manage seluruh rasa dalam jiwanya. Hanya dia, hanya sosok cantik itu. Jennifer Greecya.


Perlahan Kenn mengangkat kepalanya. "Naik!" Hanya itu yang terucap, tanpa memandang wajah kekasihnya.


"Gak mau! Ngomong dulu." Manjanya kumat.


Kenn mendengus tanpa melihat gadisnya. "Ini udah ngomong. Ayo naik!" Masih cuek.


"Ngomong sama angin?" Mulai merajuk.


Lelaki tampan itu memejamkan matanya sejenak dengan helaan nafas panjang. Setelah matanya terbuka, ia menoleh dan memandangi wajah cantik yang yang selalu mampu memporak-porandakan hatinya itu. Ditatapnya sang kekasih dengan datar. Tak tahu apa yang harus ia ucapkan.


"Sudah kan? Ayo pulang!" Ucapnya singkat.


"Gitu doang?" Cemberut.


"Kita ngomong dirumah!" Mengulurkan tangannya meminta Jenn untuk naik. Biasanya seperti itu. Setiap kali akan naik maupun turun dari motor, tangan Kenn yang selalu menopangnya. Si cantik itu menurut lalu menyambut tangan besar itu dan naik ke atas motor. Mereka pun segera berlalu dari sana, diikuti Rossa dan Putri di belakang.


Sepasang kekasih itu menuju kontrakan Kenn. Tadinya ia ingin mengantarkan gadis itu langsung ke rumahnya. Tetapi si cantik keras kepala itu terus saja berdebat sepanjang perjalanan. Tak jarang punggung Kenn menjadi sasaran amukannya. Dan Kenn yang selalu tak berdaya menghadapi makhluk kecil kesayangannya itu, mengalah.


Tiba di kontarkannya, Kenn membuka pintu dan langsung masuk begitu saja tanpa menoleh atau mengucapkan apa-apa lagi. Dia lelah berdebat dengan gadis keras kepala itu. Melihat itu, Jenn yang mulai menyadari kesalahannya langsung mengikuti kekasihnya dan memeluknya dari belakang. Tanpa menghiraukan pintu yang masih terbuka. Langkah Kenn pun terhenti.


"Please! Jangan diemin Aku," berucap dengan lirih.


Kenn mencoba melepaskan tangan kecil yang sedang melingkar di pinggangnya. Tapi Jenn malah mengeratkan pelukannya.


"Bentar. Pintunya ditutup dulu." Jenn masih tetap tidak mau melepaskan. Dalam posisi yang sama, Kenn memutar tubuhnya dengan sebelah tangan yang menahan gadisnya. Ia maju selangkah sambil mendorong pelan tubuh Jenn agar bergerak mundur. Dengan tangan yang lain, ia menutup pintu rumahnya.


Bruk!


Kenn mendorong pelan kekasihnya bersandar pada pintu. Jenn terhimpit dan terkurung dalam kedua tangan sang kekasih yang bertumpu pada pintu. Kenn menunduk dan menatap manik mata gadisnya dengan tajam. Jenn sedikit takut dengan tatapan kekasihnya saat itu. Ini tidak seperti biasanya.


Apakah dia benar-benar marah?


"Kenapa? Kenapa lakukan hal bodoh itu?" dengan suara pelan seperti biasa, namun tatapannya masih tajam.


"Bagaimana tadi kalo Aku gak ngerem mendadak?" tak ada jawaban dari Jenn.


"Jawab!" terdengar suaranya menahan geram.


Si cantik itu akhirnya bersuara. "Aku cuman ngeprank doang. Dan Aku tau, Kamu gak akan pernah bisa nyakitin Aku." Ucap Jenn sedikit keras.


Rasanya Kenn ingin meledak mendengar jawaban sang kekasih. Ia memejamkan matanya, rahangnya mengeras, tangannya mengepal menahan marah. Kenn membuang pandangannya sejenak ke tempat lain. Setelah dirasanya ia sudah bisa mengendalikan lagi emosinya, Ia beralih menatap Jenn seperti tadi.


"Prank kamu gak lucu, Sayang. Situasinya gak pas!" intonasinya sepelan mungkin. Tangannya kini memegang kedua pundak Jenn. "Kamu tau? Aku gak konsen kerja seharian. Ini aja Aku terpaksa istirahat, karena pikiran Aku cuman ke Kamu. Aku khawatirin Kamu. Apa Kamu lupa pesen Aku tadi pagi?" Jenn menggeleng sambil menunduk takut.


Bugh!


Dengan sebelah tangan yang masih mengepal, Kenn mendaratkan satu pukulan pada pintu yang masih menjadi sandaran Jenn kala itu. Si cantik itu memejamkan matanya kuat dengan jantung yang berdebar kuat.


Tuhan! Dia beneran marah. Akh, Aku takut!


"Kamu bisa buat Aku gila, Jenn!" ia melihat gadis cantik itu yang terus menunduk. Kenn mengangkat wajah cantik itu dengan lembut. Terlihat setitik embun di sepasang netra indahnya. Sekali kedipan maka embun itu akan menetes. Tidak! Kenn tak mau itu terjadi. Dia akan mengutuki dirinya sendiri, jika hal itu terjadi. Perasaan marahnya telah surut oleh besarnya cinta dan rasa bersalah.


Dengan perlahan dan lembut, Kenn membawa tubuh mungil itu kedalam pelukannya. "Maafkan Aku, Sayang! Maafkan Aku." mengelus kepala gadisnya dengan sayang.


"Please! Jangan nangis. Aku minta maaf." Jenn menggeleng.


"Gak nangis. Lagian bukan sedih. Aku ngerasa bersalah aja." membalas pelukan kekasihnya.


Kenn menarik lembut tangan kekasihnya itu. Ia berjalan menuju sofa kecil yang berada diruang tamunya. Kenn yang lebih dulu duduk dan ia menarik Jenn duduk di pangkuannya. Dipeluknya tubuh kecil itu dengan erat. Seperti menyalurkan semua cinta dan sayang yang ia miliki untuk gadisnya itu. Jenn melihat tangan yang tadi meninju pintu.


"Sakit?" Kenn menggeleng dan Jenn terus mengelus tangan besar itu.


"Jangan seperti tadi lagi yah,!" Jenn mengangguk. "Aku beneran takut, Sayang!" mendongak dan menatap gadisnya dengan lembut. Jenn tersenyum kecil.


"Aku yang takut liat Kamu marah kek tadi." memukul pundak kekasihnya.


"Maafkan aku. Ayo! pukul Aku. Ayo! tampar Aku." menaruh tangan Jenn di pipinya. Si cantik itu tersenyum dan menggeleng.


"Marahmu tidak pernah menyakitiku. Marahmu tidak pernah kasar sama Aku. Semarah apa pun Kamu, belum pernah Kamu teriak ke Aku." Jenn menjeda ucapannya. Tangan lembutnya mengelus rahang tegas yang terpahat sempurna di wajah tampan kekasihnya. "Kamu tau? Kamu lelaki terhebat yang pernah Aku kenal selain ayah. Dan aku bersyukur memiliki Kamu" dikecupnya hidung mancung Kenn sekilas.


"Jangan membuatku kehilangan akal, Sayang." Kenn menurunkan tangan kecil itu dari wajahnya dan mengecupnya. "Sekarang aku lapar," berucap dengan manja. Jenn tertawa kecil dan mencubit kedua pipi kekasihnya.


"Mau dimasakin apa?" bertanya dengan antusias.


Sekarang Kenn yang menggeleng. "Tunggu Aku mandi sebentar dan kita makan diluar." Jenn langsung berpindah dari pangkuan kekasihnya.


"Okay! Gak pake lama." seru Jenn.


"Siap komendan!" ucap Kenn langsung menuju kamarnya dan mandi.


Setelah beberapa menit, Kenn sudah siap dan mereka pun keluar dari kontrakan itu. Tanpa mereka menyadari, ada yang memantau setiap pergerakan mereka sejak tadi.


Sepasang kekasih itu pun berlalu dari sana menuju sebuah tempat makan. Setelah menyelesaikan makan mereka, dari sana Kenn mengantarkan kekasihnya pulang kerumah. Ia pun sedikit banyak menghabiskan waktu bersama Jenn dan dua sahabat dari kekasihnya itu disana. Hingga malam hari, dan waktu sudah menunjukkan pukul 21.00. Kenn pun pamit dari sana.


Ketika keluar dari sana, tujuannya adalah rumah Farel. Dia ingin menceritakan kegelisahannya pada temannya itu.


Sedangkan Jenn. Setelah kepergian kekasihnya dari sana, entah kenapa hatinya mendadak gelisah. Si cantik itu memilih bergegas mandi dengan air hangat. Karena memang ia belum mandi sejak sore tadi. Dan juga gadis cantik itu senang dengan waktu mandi malam. Setelah selesai mandi, Jenn menggunakan piyama tidur seperti semalam. Piyama set berbahan tipis dengan atasan tanpa lengan. Dia senang seperti itu, agar tidurnya nyenyak. Si cantik bertubuh mungil itu pun naik ke tempat tidur dan bersiap untuk mengarungi dunia mimpinya.


Terhitung sudah sejam lebih, setelah kepergian Kenn sejak tadi. Waktu pun kini sudah menunjukkan pukul 22.15. Baru saja ingin memejamkan matanya, dering ponselnya menahan matanya agar kembali terjaga. Jenn mengernyit melihat nama Fio pada layar ponselnya.


Ngapain nelepon jam segini?


Batin Jenn. Sedetik kemudian jantungnya berdetak kencang tiba-tiba. Kegelisahan kembali menyerangnya. Perlahan ia menerima panggilan itu.


"Halo, Fio"


" ... "


Jenn langsung bangun dan terduduk ketika mendengar perkataan Fio di seberang telepon. Debaran jantungnya semakin menggila. Tubuh kecilnya mendadak lemas. Ponselnya pun terlepas dari tangannya.


______________🌸🌸🌸🌸____________


.


.


.


.


.


to be continued ...


_________________


Selamat membaca gaess β€οΈπŸ€—


Jangan lupa tinggalkan like, komen, dan tambahkan ke favorit ❀️πŸ₯°


Terimakasih untuk yg selalu setia mampir di karya receh ini πŸ™πŸ™πŸ™


I love u all, gaesss πŸ˜˜β€οΈπŸ€—


πŸ‘‡


Ig : @ag_sweetie0425