Simple But Perfect

Simple But Perfect
Liontin Berinisial



...~ Happy Reading ~...


...___________________...


...*...


...*...


...*...


Dua minggu berlalu sudah sejak hari dimana Jenn bertemu dengan orangtua Alvino. Sejak hari itu, tidak ada lagi kabar yang terdengar oleh Jenn tentang kehidupan mantan kekasihnya itu.


Inilah yang diharapkan Jenn dan sang suami. Hidup bahagia tanpa bayang-bayang masa lalu. Dua minggu yang terlewati, nampaknya semua baik-baik saja. Tidak ada gangguan dalam rumah tangga Jenn dan Kenn seperti yang sudah-sudah. Semuanya terasa normal dan malah semakin bahagia.


Waktu dua minggu ini menyadarkan Kenn satu hal, bahwa sejak kehadiran lelaki dari masa lalu istrinya itu, teror-teror yang sering sekali mengusik ketenangan mereka berdua selama ini, seolah hilang begitu saja.


Hal itu menimbulkan kecurigaan di benak Kenn.


Apakah selama ini dia orangnya? Dan sekarang dia sudah menyerah?


Kenn berasumsi sendiri tanpa memberitahukan apapun pada istrinya. Ia tidak ingin terlihat seperti penjahat yang dengan jahatnya mencurigai orang lain. Apalagi itu lelaki dari masa lalu sang istri. Ia sendiri beranggapan bahwa otaknya terlalu kotor untuk berpikir seperti itu.


Sudahlah, bagiku yang penting anak dan istriku baik-baik saja, sudah cukup. Aku memaafkan jika benar itu dia.


...***...


Berbeda lagi dengan Alvino. Waktu dua minggu ini berlalu dengan kebiasaan buruknya seperti dulu. Belum juga pulih sepenuhnya pasca kecelakaan dua minggu lalu, lelaki tampan itu sudah menyakiti dirinya kembali dengan alkohol tanpa cela.


Setiap hari ia lewati dengan menghabiskan waktu di club malam, ditemani minuman-minuman beralkohol, rokok, serta wanita-wanita penghibur. Hanya itu cara satu-satunya yang sedikit bisa menghapus Jenn dari pikirannya. Bahkan waktu untuk makan dan tidur, seringkali banyak ia lewatkan begitu saja.


Tidak seorangpun yang dapat menghentikannya. Kedua orangtuanya sangat sedih melihat keadaan putra semata wayang mereka begitu miris.


Ibu dari lelaki menyedihkan itu hanya bisa menangis setiap harinya. Ia menangisi kesalahannya yang berujung kehancuran sang putra. Tiada hari tanpa penyesalan yang tidak ada habisnya.


Rumah yang menjadi tempat tinggal, sudah bukan lagi menjadi tempatnya untuk pulang. Lelaki tampan itu semakin tersesat dan hilang arah.


Lagi dan lagi, Reza yang direpotkan dengan situasi yang terjadi selama ini. Ia akan selalu mencari abangnya kemanapun, memantau setiap kegiatan lelaki itu dari kejauhan dan memberitahukan pada tantenya. Karena jika Alvino sampai tahu bahwa dirinya diawasi, ia akan menjadi sasaran amukan abangnya itu. Bahkan yang sangat ditakutkan Reza adalah dipaksa minum minuman haram oleh abangnya.


Hingga semalam dari hasil menguntit abangnya, Reza menemukan pemandangan yang ia sendiri tidak ingin mempercayainya.


Ia melihat Alvino yang mabuk berat dan dibopong oleh seorang perempuan cantik yang tidak asing lagi baginya. Meskipun wajahnya sedikit tertutup hoodie, tapi Reza masih sempat mengenali ketika raut ayu itu disorot warna-warni lampu club.


Dibantu seorang penjaga club, gadis itu membawa Alvino masuk ke dalam mobil milik lelaki menyedihkan itu, dan ia sendiri yang mengendarainya.


Reza terus mengikuti mereka dengan rasa yang tidak percaya. Tampak gadis itu membawa Alvino ke sebuah hotel yang tidak terlalu jauh. Ia kesusahan lagi membawa tubuh besar Alvino, akhirnya ia dibantu oleh seorang security.


Itu beneran dia sih, tapi apa maksudnya coba? Semoga aja gue salah, sumpah demi apapun, gue gak percaya kalo itu beneran Lo.


Reza mencoba untuk mencari jawaban atas pertanyaannya, tapi tak jua ia temui. Sejam lebih ia masih menunggu di depan hotel dengan tetap bersembunyi di dalam mobilnya.


Namun, tidak ada tanda-tanda perempuan itu keluar dari dalam sana. Malam semakin larut dan Reza yang sudah mengantuk pun, tidak sadar menunggu sampai tertidur di dalam mobil.


Jarum jam berputar hingga menunjukkan pukul 05.30. Reza terbangun dari tidurnya. Menyadari sudah pagi, Reza bergegas keluar dari mobilnya, dan masuk ke dalam hotel tersebut mencari kamar Alvino bersama gadis semalam.


Awalnya, sang resepsionis tidak ingin memberitahukan nomor kamar tersebut. Namun, dengan memberikan beberapa lembar uang dan alasan yang masuk akal, Reza pun memperoleh nomor bersama kunci cadangannya.


Secepat kilat ia bergerak menuju kamar Alvino yang terletak di lantai tiga gedung yang cukup mewah tersebut. Sampai di sana, ia sedikit khawatir untuk membuka pintu. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang ia sendiri takut membayangkannya, terjadi di dalam sana?


Samar tapi Reza bisa melihat abangnya yang terlelap tanpa baju di sana. Ragu-ragu ia mendekat ingin memastikan wajah perempuan cantik yang sudah sangat dikenalnya. Namun, semakin ia mendekat, yang tampak di matanya hanyalah Alvino, dan tidak ada siapapun di sampingnya.


Penasaran, Reza lalu menyalakan lampu kamar tersebut. Benar saja, di atas ranjang besar itu, hanya abangnya yang tertidur sangat pulas dengan bertelanjang dada, dan bagian bawahnya tertutup selimut.


"Di mana dia? Apa semalam aku hanya berhalusinasi? Iya juga sih, rasanya gak mungkin. Siapapun pasti gak bakal percaya jika itu Lo," gumam Reza.


Namun, sepersekian detik, apa yang tertangkap penglihatannya, menggoyahkan kembali keraguannya. Tidak sengaja, matanya menangkap dengan jelas bercak darah yang sudah mengering di atas sprei berwarna putih di sana.


Reza terbelalak. "Jangan bilang ...." Ia menggeleng kepalanya kuat. "Gak, gak mungkin."


Cepat-cepat ia mengacak sisi ranjang kosong di sebelah Alvino. Bantal dan guling dibuangnya ke lantai, seketika ia menemukan sebuah benda yang semakin menguatkan yakinnya, bahwa benar dialah orang yang semalam ia lihat.


"S**t!"


Reza mengumpat kesal pada Alvino. "Lo emang bener-bener brengsek, Bang! Kapan sih Lo bisa berubah jadi orang baik? Gue jadi bersyukur banget karena Jenn ninggalin laki-laki brengsek kayak Lo." Ia mencaci maki abangnya yang tidak mendengar sama sekali.


Karena kesal dan marah, ia kembali mengambil bantal dan guling yang dibuangnya tadi, dan melemparkannya di wajah tampan Alvino. Tetap saja lelaki tampan itu tidak terusik sedikitpun. Ia masih terjebak dalam pengaruh alkohol, kantuk, serta rasa lelah.


Reza menjatuhkan tubuhnya di atas sofa yang berada di dalam kamar tersebut. Di tangannya terdapat sebuah kalung dengan liontin huruf yang membentuk inisial nama pemiliknya. Dan tentu saja Reza mengenali benda itu milik siapa. Kalung yang sudah terputus itu sering kali ia melihatnya di leher jenjang seorang gadis cantik.


"Kenapa Lo deketin dia sih? Maksudnya apa?" Bermonolog sambil menatap kalung di tangannya, seolah sedang berbicara dengan sang pemilik kalung tersebut. "Jangan-jangan Lo ... arrrrgggghhh." Reza mengeram kesal dan mengacak-acak rambutnya.


Ia memilih menyimpan benda tersebut, dan segera berlalu dari sana, meninggalkan Alvino yang belum sadar dari mabuknya.


"Memalukan! Gue malu jadi adek Lo, bang!!!" teriak Reza begitu ia sudah masuk ke dalam mobil. Tangannya memukul kemudi berkali-kali melampiaskan kekesalannya.


"Apa perlu gue kasih tau ini buat tante?"


..._____πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€_____...


...Hujan dan badai tidak akan tinggal tetap. Ia akan berlalu seiring musim. Demikian pula kehancuran dan kekecewaan. Terkadang kesakitan itu menuntun kita menemukan orang yang tepat. Tergantung kita mau menerima atau tidak....


...###...


...To be continued ......


...__________________...


...*...


...*...


...*...


Hai semuanya πŸ‘‹ aku kembali lagi 😁


Terima kasih sudah setia menunggu πŸ™


Semoga suka yah, 🀭 Jangan bosen loh, hehe 🀭


Plissssss mainin jempolnya πŸ‘ tekan like dan komen yah sayangΒ²ku 😘


Sampai jumpa di episode berikutnya πŸ‘‹


Ig author : @ag_sweetie0425