Simple But Perfect

Simple But Perfect
Sentral Hidup



...Hai Budies πŸ–οΈ...


...Jumpa lagi πŸ₯³...


...Jangan lupa like & komen yah 😍...


...*...


...*...


...*...


...~ Happy Reading ~...


...###...


"Jeennnn?!!!"


Kenn berteriak dengan frustasi di depan pintu kamar tidur mereka. Begitu pintu itu terbuka, matanya langsung tertuju pada sofa dimana istrinya berbaring tadi. Jantungnya berdegup kencang tak karuan kala tempat itu kosong tanpa sosok cantik sang istri.


Tiba-tiba saja badai ketakutan datang menyerangnya tanpa bisa ia hindari. Seluruh tubuhnya mendadak lemas bagai tak bertulang, pijakannya goyah melemahkan tumpuannya.


Tubuh tegapnya limbung, beruntung ia bisa bersandar pada daun pintu yang terbuka lebar kala itu. Pikiran akan hal-hal buruk seolah mencekiknya.


Di tengah ketakutannya, Kenn mencoba untuk tetap kuat dengan memupuk kemungkinan-kemungkinan positif yang terjadi.


Mungkin dia di kamar mandi.


Bisik hati kecilnya, kemudian dengan cepat ia berlari ke kamar mandi mencari istrinya.


"Sayang!?"


"Kamu di mana, Sayang?!"


Lagi-lagi kehampaan yang ia dapati. Rasa takut itu semakin besar menggerogotinya. Ia berlari lagi keluar dari kamar menuju dapur. Pikirannya, pasti Jenn di sana. Tapi, nihil.


Setiap ruangan yang ada pada rumah itu ia masuki sambil berteriak memanggil-manggil nama istrinya. Tapi kenyataan sama yang ia jumpai.


Lemah. Satu kata yang kedengarannya biasa saja, tapi memiliki efek luar biasa bagi seorang Kenn. Ia menjatuhkan tubuhnya dengan kedua lutut yang menyentuh lantai. Bersimpuh dalam keadaan yang begitu kacau.


"Sayaaaaaanggg!!!" pekik Kenn begitu keras seperti orang gila.


"Kamu di mana, Yang?" berucap sangat pelan dan lirih di tengah kesunyian dan ketakutannya. Suaranya yang sedari tadi menggema di seluruh penjuru rumah itu, kini menghilang ditelan sepi. Bahkan dinding pun tak bisa mendengar.


"Sayang, kamu nge-prank aku kan?" Masih mencoba berpikir positif. "Hentikan ini, Sayang! Aku takut ... aku kalah, Jenn! Kamu berhasil," ucap Kenn dengan lemah. Ketakutan itu sungguh melemahkan dirinya, bahkan setitik cairan bening luruh dari pelupuk matanya. Selemah itu dirinya tanpa wanita yang ia cintai.


"Kamu dengar aku kan? Keluar, Sayang! Sudah cukup," teriaknya lagi.


Kenn hampir putus asa ketika suara yang ingin ia dengar saat itu, tidak menyahut panggilannya. Di tengah kekacauan hatinya saat itu, ia terpikirkan untuk menghubungi nomor ponsel istrinya.


Cepat-cepat Kenn merogoh ponsel dari dalam saku celananya dengan tangan yang sudah gemetaran. Karena rasa takut dan lemah yang mengungkungnya, usaha mengeluarkan ponsel saja terasa begitu sulit untuk ia lakukan.


Saat ponsel itu berhasil ia keluarkan dari sakunya dengan susah payah, cepat-cepat ia langsung men-dial nomor ponsel istrinya.


Sayup-sayup terdengar di telinganya, bunyi dering ponsel yang sangat ia kenal.


"Jenn!"


Ia bangun dari duduknya, menoleh ke kiri dan ke kanan mencari sesuatu yang masih berdering di sana. Tangannya terangkat menghapus sedikit basah di ujung matanya, dan berusaha menajamkan pendengarannya. Ada secercah harapan di hatinya begitu mengenali dering ponsel sang istri.


Kenn berlari ke sana kemari di dalam rumah seperti orang yang tak waras. Ia bahkan mengacak-acak seisi rumahnya hanya untuk menemukan bunyi ponsel yang masih terus berdering.


Namun, seluruh penjuru rumah dan barang-barang yang sudah ia hancurkan saat itu, tak kunjung memberinya titik temu. Bunyi itu semakin sayup dan menjauh.


Saat itu ia berdiri di ruang tengah dengan posisi kedua tangan meremas rambutnya, serta deru nafas yang tak beraturan. Tanpa sengaja ia membuang pandangannya ke arah dapur. Matanya tertuju pada pintu keluar menuju area belakang rumah.


Ya, masih tersisah satu tempat di rumah itu yang belum ia periksa. Sesuatu mendorongnya untuk melangkah ke sana. Dahinya mengernyit melihat serangkaian anak kunci yang tergantung dan menempel di lubang kunci pada daun pintu itu.


Ia menoleh pada sisi dinding yang berada di ruang tengah, di samping rak TV. Di sana ada sebuah kotak gantung minimalis berwarna hitam metalik yang menempel pada dinding. Kenn bisa melihat bahwa kotak itu sedang terbuka.


Kenn segera memutar gagang pintu, dan benar, pintu itu tidak terkunci. Harapannya semakin besar untuk menemukan sang istri. Segera ia keluar dari sana dan melihat keadaan ruangan belakang. Itu adalah ruangan dengan konsep terbuka sebagai tempat berkumpul dan bersantai.


Kenn mengedarkan pandangannya di bawah pencahayaan yang remang-remang, karena lampu di area belakang itu tidak terlalu terang. Hingga matanya terhenti pada sesosok mungil yang sedang tertidur meringkuk pada sebuah ayunan gantung rotan, berbentuk seperti sarang burung.


Tiba-tiba saja rasa sesak yang sedari tadi mencekiknya, terluput begitu saja. Ketakutan yang mengungkungnya sirna dalam sekejap. Kecemasan dan kekhawatiran yang menyiksanya, hilang di terbangkan angin. Semilir kelegaan berlimpah ruah menerpanya, memenuhi seluruh jiwa dan raganya dengan rahayu.


Raut tampan yang kusut dan acak-acakan itu, kini berubah cerah. Ia segera berlari menghampiri istrinya yang sedang tertidur di sana.


"Sayang!" Ia berjongkok dan langsung membawa tubuh mungil itu dalam pelukannya. Mendekapnya begitu erat, takut kehilangan. Mencium seluruh wajah cantik itu dengan luapan rasa bahagia.


Kenn memejamkan matanya meredakan gejolak ketakutan yang sempat memporak porandakan dunianya beberapa saat lalu. Menghirup aroma tubuh yang digilainya, bercampur dengan atmosfer damai di sekitar sana. Meresap hingga ke dasar jiwanya. Sungguh menenangkan sekali rasanya.


Tidak ada kedamaian setenang ini, tidak ada ketentraman seindah ini.


Batin Kenn sambil terus mendekap erat tubuh kecil istrinya. Angin malam semakin kuat menebarkan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang, menyadarkan Kenn dari lamunan haru.


Saat ingin membawa istrinya ke dalam, Kenn mendapati earphone yang menempel di telinga sang istri, tertutup rambut. Ia bahkan mendengar alunan musik yang mengalun merdu dari benda tersebut. Sedangkan ponsel terselip di balik punggung sang istri.


Kenn mendengus. "Pantes aja ... dipanggil segitu kenceng, gak kedengaran. Aku udah kek orang gila di dalem, dia malah asik tidur dengerin musik di sini." Menggeleng kepalanya dengan sedikit senyuman sambil memasukkan ponsel dan earphone milik istrinya ke dalam saku celana. Segera Kenn membawa wanita cantik itu masuk ke dalam, sebelum dingin semakin berkesempatan mencumbui raga yang sepenuhnya, milikinya.


Dengan lembut Kenn membaringkan istrinya di ranjang dan menyelimutinya. Ia masih duduk di bibir ranjang menatap wajah cantik nan ayu, yang begitu lelap dalam tidurnya.


"Capek banget yah," ucapnya sambil mengusap pipi sang istri. Tangannya terulur meraih tangan sang istri dan menggenggam lembut serta memberikan kecupan kecil di sana.


"Damai hatiku adalah kamu, tentramnya duniaku karena hadirmu, Jenn! Jika tak ingin melihatku hancur, maka jangan pernah menghilang dari pandanganku. Sebab kamu adalah sentral hidupku." Memberikan kecupan manis di kening istrinya. "Selamat tidur, Ibu dari anakku!"


Sesudah itu Kenn beranjak keluar melihat kekacauan yang ia buat tadi. Ia terkekeh sambil menggaruk tengkuknya. "Nyari makhluk kecil itu aja, rumah sampai hancur begini." Ia bermonolog. "Biarin ah, besok aja beresnya. Capek!"


Kenn mengunci semua pintu rumahnya dan hendak menyusul sang istri untuk tidur, tapi ia teringat satu hal.


"Belanjaan?" Secepat kilat ia kembali membuka pintu dan hendak berlari ke seberang jalan, tetapi ia tak sampai melakukan itu. Semua belanjaan tadi sudah berada di depan pintu rumahnya. Kenn sedikit terkejut.


"Siapa yang membawa barang-barang ini ke sini? Perasaan tadi gue tinggalin di depan mini market deh." Mengerutkan keningnya mencoba mengingat-ingat. "Ah, bodoh amat. Yang penting ada." Memilih tidak menggubris hal itu. Baginya, Jenn ada dan baik-baik saja di sisinya, sudah lebih dari cukup, dan lebih penting dari apapun.


Kenn memasukkan belanjaannya lalu menutup pintu, dan bergabung bersama istrinya di kamar. Melewati malam yang cukup membuatnya hampir hilang kewarasan.


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


..._____πŸ’€πŸ’€πŸ’€πŸ’€πŸ’€_____...


...To be continued ......


...__________________...


...###...


Segini dulu yah gaes 😊 maaf telat lagi πŸ™ˆ


Makasih buat yg selalu setia mampir di sini πŸ™


Jangan pada bosen yah 😍


Jangan lupa tinggalkan jejaknya juga πŸ™πŸ€—


Sampai jumpa di episode berikutnya πŸ€—


Follow Ig author : @ag_sweetie0425