
Farel yang saat itu terlalu larut dalam kekhawatirannya, serta suara sang kekasih yang menenangkannya dari seberang telepon, membuatnya tidak menyadari bahwa seseorang dari tadi tengah berdiri di belakangnya dan melihat setiap geraknya juga mendengar semua percakapannya saat itu.
"Anak? Ibu dari anakmu? Apa maksudnya, Farel? Jelaskan! Sekarang!"
Farel terperanjat mendengar suara bariton dan mendapati sosok yang tengah berdiri di hadapannya sekarang. Tubuhnya terpaku saat tatapan tajam itu menandainya dengan intens, seolah ingin mengulitinya.
"Kenapa diam? Jawab Farel!," suara berang bernada dingin itu membuat Farel tidak berani berucap sepatah kata pun, bibirnya kelu.
"Jawab?!" Bentak orang itu yang membuat Farel pun bersuara dari kebisuannya sejak tadi.
"Kekasih Farel hamil, Pa. Hamil anak Farel!" Ungkap Farel dengan jujur dan tak gentar lagi. Ia sudah siap dengan segala konsekwensinya.
Duar!
Tubuh sang ayah seketika bergetar menahan amarah yang sudah hampir meluap-luap sejak mendengar percakapan putranya via telepon tadi. Ia hanya ingin memastikan apakah benar atau hanya candaan sang anak. Dan begitu mendengar penuturan dari anak lelakinya, lelaki yang telah berusia setengah abad itu naik pitam dan tak dapat lagi menahan emosinya.
"Apa?" Tanya sang ayah dengan suara rendah. "Katakan sekali lagi, Farel!," lanjutnya sambil melangkah maju mendekati putranya yang tengah berdiri menatap lurus ke arahnya tanpa takut sedikit pun.
"Kekasih Farel sedang mengandung anak Farel, Pa," ucapnya dengan lantang.
Plak!!!
Satu tamparan keras dari sang ayah membuat wajah tampan Farel memerah dengan memalingkan wajahnya secara refleks.
"Ini kah yang Aku ajarkan padamu?" Teriak sang ayah dengan murka.
Plak!!!
Sekali lagi sisi wajahnya yang lain pun terukir telapak tangan ayahnya di sana. Lelaki itu hanya diam tak membantah apa pun, bahkan sekedar melindungi diri pun tidak ia lakukan.
"Sejak kapan Kamu jadi lelaki tidak bermoral seperti ini?"
Bugh!!!
Kali ini bukan lagi tamparan, melainkan pukulan yang begitu keras dari sang ayah tepat di rahangnya. Farel sedikit bergeser dari posisinya sambil mengelap ujung bibirnya yang sedikit ternoda, ia menggerakkan rahangnya yang terasa keram.
"Papa?!" Histeris sang ibu melihat putranya di hajar oleh suaminya.
Saat mendengar ribut-ribut dari dalam kamar putranya yang berada di lantai dua rumah besarnya, wanita paruh bayah itu dengan langkah tergesa-gesa menaiki anakan tangga satu per satu menuju kamar putranya.
Setibanya di ambang pintu yang sedikit terbuka itu, ia mendadak histeris begitu melihat sang suami yang sedang menghajar anak lelakinya.
"Cukup, Pa! Apa-apaan ini?" Wanita itu langsung menahan tangan sang suami yang masih ingin memberikan pelajaran pada putra sulungnya.
Tangan besar itu refleks melepaskan kaos sang putra yang baru saja di cengkeramannya. Pria paruh bayah itu pun langsung mendorong tubuh Farel dengan kuat dan langsung berbalik menatap istrinya dengan nafas yang masih memburu.
"Tanyakan saja pada putramu, Ma!," seru Pria itu lalu berjalan keluar dari kamar itu, meninggalkan sang istri dan anak lelakinya.
Wanita itu pun dibuat bingung dengan situasi yang tengah terjadi, antara ingin mengejar suaminya, atau melihat keadaan putranya. Beberapa saat ia hanya berdiri mematung di tempatnya, hingga kakinya melangkah menuju sang anak yang masih berdiri memegangi bibirnya yang terasa perih.
"Jelasin sama Mama, Rel! Ada apa ini? Kenapa papamu sampai marah begitu?," tanya sang mama dengan sedikit memaksa.
Lelaki muda itu lantas menggenggam kedua tangan sang mama, dan menatap wajah yang mulai keriput itu dengan penuh sesal sambil memohon.
"Maafin Farel, Ma. Papa emang pantes marah, Mama juga boleh marah sama Farel. Bahkan mama juga boleh pukul Farel, Ma," ucap Farel sambil mengarahkan tangan sang mama ke pipinya.
"Tapi kenapa? Ada apa sebenarnya, nak?," tanya mamanya sambil menahan tangan Farel yang masih berada di pipinya, dengan mendongak menatap anak sulungnya.
Sambil masih menggenggam tangan mamanya dengan tatapan penyesalan, Farel pun menjatuhkan kedua lututnya ke lantai, dengan masih tetap memandang wajah mamanya.
"Farel sudah buat salah besar, Ma. Farel minta maaf, tapi Farel mohon sama mama untuk mau nerima dia," ucapnya masih menatap sang mama.
"Salah besar apa? Nerima dia? Dia siapa, Rel?" pertanyaan beruntun dari mamanya.
Sejenak lelaki itu terdiam dengan menundukkan pandangannya. Matanya terpejam untuk sesaat, sekedar menyiapkan hati untuk menerima respon mamanya terhadap ucapannya kali ini. Jika sang papa tadi begitu marah lalu menghajarnya, bagaimana dengan mamanya kali ini? Apakah sama seperti sang papa?. Apapun keadaannya, yang pasti Farel sudah siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.
"Dia,,, dia kekasih Farel, Ma. Sekarang ... dia sedang mengandung. Mengandung anak Farel."
Braakkk!!!
Pintu kamar yang sedari tadi hanya terbuka setengah, kini benar-benar terbuka lebar. Seseorang berdiri di ambang pintu dengan mata membulat serta mulut yang menganga, mendengar penuturan dari Farel.
Bunyi hantaman pintu yang begitu keras, serta kehadiran seseorang di sana, tidak lantas membuyarkan suasana tegang di antara dua orang, ibu dan anak itu. Baik Farel maupun mamanya, sama-sama terpaku dan membisu. Farel yang diam menunggu respon sang mama, sedangkan wanita paruh baya itu terdiam mencoba mencerna perkataan putranya.
Bertahan beberapa menit dengan kebisuan itu, perlahan suara sang mama yang terdengar sedikit bergetar menahan gemuruh di dadanya, memecahkan keheningan di antara mereka.
"Benarkah itu? Kau tidak sedang membohongi Mama, Rel?," tanya sang mama dengan nada rendah hampir tak terdengar.
Wanita paruh baya itu seolah tak dapat berkata-kata. Suasana hatinya mendadak kacau tak menentu.
"Bener, Ma. Farel ngomong apa adanya. Mama boleh marah sama Farel, pukul Farel, Ma. Ayo pukul! Tapi Farel minta dari Mama ... tolong terima dia, Ma. Farel mohon!," ucap Farel dengan wajah sendu penuh permohonan, sambil mengatupkan kedua tangannya, mendongak menatap wajah keriput yang telah menghadirkannya ke dunia.
Wanita itu menunduk memandangi wajah putranya, tergambar jelas kesungguhan di sana. Perlahan ia mengulurkan tangannya dan mengusap kepala sang anak yang masih berlutut di hadapannya.
"Siapa dia? Apakah dia wanita baik-baik?," tanya mamanya ingin memastikan wanita seperti apa yang katanya tengah mengandung benih dari putranya itu.
"Dia wanita baik-baik, Ma. Farel yang sudah merusak dirinya. Farel mohon, tolong terima dia, Ma. Gak masalah kalau Mama benci sama Farel yang sudah ngecewain keluarga kita. Tapi jangan benci dia, dia gak salah, di sini Farel yang bersalah," tutur Farel dengan besar hati, menyalahkan diri sendiri.
Tesss!
Setetes butiran bening meluncur dari mata wanita tua itu. Untuk sejenak ia tak mampu berucap. Sekuat tenaga wanita itu menahan haru melihat kesungguhan serta kedewasaan anak sulungnya. Kecewa itu pasti. Di mana apa yang ia ajarkan dan tanamkan selama ini, tidaklah menjadikan anaknya seseorang yang baik. Namun ia masih bersyukur, karena kesalahan itu, mengubah putranya menjadi pria dewasa yang mulai mengerti tentang arti sebuah tanggung jawab dan pengakuan.
Tangannya menyapu jejak basah di pipinya yang mulai keriputan. Setelah dapat menguasai perasaannya kembali, wanita itu menggenggam tangan putranya lalu mengucapkan kata-kata yang tidak terpikirkan oleh Farel sedikit pun.
"Berdirilah! Dan pergi bawa dia ke sini. Mama ingin melihat dan mengenal menantu Mama. Dia pun akan menjadi bagian dari keluarga ini," tutur mamanya dengan besar hati menerima semua yang terjadi.
Farel tersentak dan tak percaya. Ia lantas bangkit dari posisinya yang berlutut, menatap wajah mamanya penuh tanya, mencari kebenaran.
"Apa Kau tidak percaya dengan perkataan Mama?," mengerti tatapan Putranya. "Mama serius, sayang. Bukankah dia sedang mengandung cucu Mama? Mama menerima mereka berdua dengan tangan terbuka, Nak!"
Grepp!
Lelaki itu langsung memeluk tubuh mamanya penuh haru. Ucapan terimakasih berulang-ulang terucap dari bibirnya. Seseorang yang masih setia berdiri di depan pintu dan hanya sebagai penonton, ikut terharu menyaksikan pemandangan di depannya.
Tangan mamanya bergerak mengelus punggung putranya yang nampak sedikit bergetar.
"Sudah tidak usah menangis. Udah mau jadi ayah kok cengeng," kata mamanya mencairkan suasana haru saat itu. Mereka pun terkekeh bersama.
"Asiiikk,,,, Fanya mau punya ponakan, yeiiiiiii, Fanya mau jadi aunty," Fanya yang dari tadi berdiri di ambang pintu kamar kakaknya pun bersorak kegirangan, stelah lama menyaksikan drama melow itu.
"Ck, anak kecil gak usah nguping. Belajar sana," ucap Farel pada adik perempuannya.
"Sudah, sudah, jangan di teruskan." Sang mama yang melihat akan terjadi keributan di antara anak-anaknya, langsung menengahi sebelum hal itu berlanjut. "Sekarang pergi dan bawa menantu Mama ke sini, sekarang!" lanjut mamanya.
Farel menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Dia belum bisa ke sini, Ma," sahut Farel sedikit kikuk.
"Loh, kenapa?" tanya mamanya bingung.
"Dia sekarang masih di tempat KKN, Ma. Dia seorang mahasiswa,"
"Fareeeeeelllllllll!!!"
..._____☘️☘️☘️☘️☘️_____...
To be continued ...
Hay Hay 👋 Moon maap reader tersayang 🙏
Baru up lagi nih 🤭
Terimakasih buat yang selalu nungguin 🤗
Jangan lupa kasih, like, komen, tambahkan ke favorit ❤️ mo kasih bunga 🌹 atau kopi ☕ juga boleh 🤭
Kebetulan ini hari Senin, kasih votenya sekalian yah 🤭😅
Nantikan bab selanjutnya, malam nanti yah 🤗
I lope yuuuuw all 🥰🥰🥰
👇
Ig : @ag_sweetie0425