Simple But Perfect

Simple But Perfect
I'm Coming Honey !



Malam telah berlalu, ditandai dengan sang fajar yang mulai menyingsing diufuk timur. Seorang lelaki tampan yang sudah rapi sepagi ini, sudah tak sabar untuk segera bertemu dengan belahan jiwanya di kota xx.


Semalam Alvino sudah memesan tiket, dan dia memilih penerbangan pagi. Meskipun harus merogoh kocek yang lumayan besar. Karena dengan pemesanan mendadak seperti semalam yang dilakukannya, sudah pasti harganya melambung tinggi. Tapi Alvino tidak perduli. Yang ada dalam pikirannya hanyalah, Jenn.


Alvino keluar dari unit apartemennya, sambil menarik koper berukuran sedang. Alex dan Diego sudah menunggunya dibawah. Mereka yang akan mengantar Alvino ke bandara.


"Lo berapa lama disana bro ?" tanya Diego, ketika ketiganya sudah dimobil dan menuju bandara. Dengan Alex yang mengemudi.


"Nggak tau juga" jawab Alvino cuek.


"Ingat ! skripsi belom selesai bro" ucap Alex.


"Hmm, gue inget. Tapi sekarang, Jenn yang lebih penting" Alex dan Diego hanya menggeleng-gelengkan kepala.


"Kenapa nggak diajak aja kesini, biar bisa sama-sama, dan nggak capek bolak-balik terus" tanya Diego lagi.


"Rencananya sih gitu"


Kedua temannya hanya mengangguk. Dan tak lama mereka tiba di bandara.


"Vin, gue titip salam yah, sama Jenn" ucap Diego.


"Udah bosen ngunyah nasi Lo hah ? mau langsung nelan bubur aja ?" kata Alvino menoleh malas.


"Wow, santai dong bro. Posesif amat sih. Kalo gitu nggak jadi deh" Diego dibuat ngeri pagi-pagi.


"Sana balik, Gue mau chek in" kata Alvino, dan langsung berlalu meninggalkan kedua temannya begitu saja.


"By Vin, safe flight" teriak Alex. Dan lelaki tampan itu hanya mengangkat tangan dan melambai, tanpa berbalik lagi.


"Dasar, cemburuan banget. Masa nitip salam aja nggak boleh. Ckckck" Diego kesal dengan sifat temannya.


"Kayak nggak kenal Alvino aja Lo. Udah ah balik, masih ngantuk gue"


Dan kedua temannya itupun meninggalkan bandara. Kembali kerumah masing-masing dan melanjutkan tidur.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Dikontrakkan kecil milik Kenn, tampak masih sepi. Lelaki tampan itu tidak bisa tidur semalam. Sampai pagi ini pun, dia hanya berbaring tetapi tidak bisa terlelap. Mencoba memejamkan matanya berulang kali, namun tak kunjung kantuk. Wajah cantik Jenn terus saja menghantuinya. Diujung gelisahnya, dia terkaget dengan suara berat Farel.


"Lo kenapa man, gak bisa tidur ?" tanya Farel yang baru bangun.


"Hmm, nggak ngantuk"


"Gue tau ! Lo kepikiran Jenn kan ?"


Kenn menoleh sebentar ke Farel dan tersenyum kecil. Setelah itu dia kembali ke posisi semula. Memandang langit-langit kamar, dengan kedua tangan dibelakang kepalanya. Membayangkan wajah cantik gadis kecil pencuri hati sedang tersenyum disana. Terdengar hembusan nafas Kenn yang berat.


"Gue prihatin dengan diri sendiri. Pertama kali jatuh cinta, tapi sama pacar orang" Kenn terkekeh, menertawakan diri sendiri. "Ada yang lebih lucu dari nertawain diri sendiri ?" sambungnya lagi.


"Ya, Lo kan nggak tau juga, kalo dia udah ada yang punya waktu itu kan ?" ucap Farel. "Lagian perasaan Lo nggak salah Kenn. Dan itu cuman pacar, bukan istri orang. Artinya, Lo berhak untuk mencintai, dan Lo masih punya kesempatan untuk miliki dia. Mungkin tidak untuk sekarang. But someday Kenn" lagi-lagi Farel menyemangati.


Kenn tergelak. "Bisa aja Lo, tapi sedikit berharap juga sih, semoga" ucap Kenn tersenyum kecil.


"Gitu dong. Lo percaya nggak, cinta selalu menemukan jalannya sendiri"


"Udah kayak pujangga cinta aja Lo" Kenn melempar bantal tepat diwajah Farel, dan beranjak menuju kamar mandi.


Tak lama setelah itu, dia sudah kembali dengan wajah segar sehabis mandi. Kenn dengan penampilan seperti biasanya.


"Mau kemana Lo ?" tanya Farel.


"Nyari obat" jawab Kenn singkat.


"Obat ? emang Lo sakit ?"


"Hmm, semalam gak tidur. Sakit kepala gue"


"Kalo gitu, gue aja yang beli. Lo tunggu disini, gue ke apotek sebentar" Farel hendak berdiri, namun ditahan Kenn.


"Wah gila Lo yah, gue pikir sakit beneran lagi. Tunggu gue ikut. Obat gue juga disana kan" keduanya tertawa meramaikan pagi yang indah, di kontrakan kecil itu.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Seorang lelaki tampan baru saja turun dari pesawat, dan menghirup udara pagi di kota yang berbeda. Senyum manis selalu menghiasi wajah tampannya.


I'm coming honey.


Alvino berjalan menuju ruang tunggu. Disana sudah ada seseorang yang menunggunya. Alvino mencari sosok yang akan menjemputnya pagi itu, namun tak ditemukan. Dia mulai lelah dan hendak berlalu dari sana, seseorang menahan langkahnya.


"Welcome bang Vino"


"Hei Za, dicariin nggak ada. Tiba-tiba nongol" Alvino dan sepupunya itu saling menyapa, dan berpelukan ala lelaki.


"Sorry bang ! abisnya, abang makin cakep, jadi takut salah orang" ucap sepupunya itu tertawa.


"Bisa aja Lo. Cabut ah, nanti abang telat lagi"


"Emang abang mau kemana ? penting banget ya pagi-pagi gini ?" tanya adik sepupunya itu heran.


"Lebih dari penting" Alvino mengedipkan matanya.


"Wah, jadi abang kesini cuman buat ketemu pacar ?"


"Terusss, Lo pikir buat ketemu sama Lo gitu ?"


"Siapa sih, pacarnya Abang ? gue penasaran deh. Sehebat apa tu cewek, bisa bikin abang gue yang playboy ini, rela kesini cuman buat dia"


"Nanti abang kenalin ,,, eh tapi nggak jadi. Entar Lo naksir lagi, nggak ah" Alvino terkekeh.


"Kenalinlah bang, gue pengen ngucapin selamat buat dia, udah naklukin abang gue yang ganteng ini".


"Yoii lah, nanti. Tapi sekarang, Lo balik naik taksi yang lain aja yah. Abang mau pake mobil".


"Terserahlah bang"


Dan keduanya berjalan menuju parkiran, dengan Reza yang mencari taksi lain. Sedangkan Alvino langsung menuju rumah sakit, dengan alamat yang dikirimkan Putri.


Begitu sampai didepan rumah sakit, dan hendak berbelok memasuki area parkiran. Dari arah yang berlawanan, dua motor yang berbeda, juga hendak berbelok ke area yang sama. Ketiganya sama-sama berhenti dan saling menatap. Siapa yang akan mengalah dan memberi jalan terlebih dulu ? Beberapa menit bertahan dengan posisi itu, akhirnya pengendara motor yang satunya memberi kode bagi pengemudi mobil didepannya untuk lebih dulu masuk. Alvino menjalankan mobilnya pelan. Menurunkan kaca mobilnya, menoleh sekilas dan melemparkan senyum pada orang itu.


Tujuannya ingin keparkiran diurungkan. Ketika melihat didepannya, sekomplotan gadis-gadis cantik sedang berjalan hendak keluar dari area itu. Dan salah satu dari mereka adalah orang yang sangat ingin dia temui saat itu juga.


Alvino melajukan mobilnya dan berhenti tepat didepan mereka. Sontak gadis-gadis itu berteriak histeris sambil memejamkan mata. Dengan jantung yang hampir lepas, pikir mereka akan ditabrak mobil itu. Tapi tidak. Sedetik kemudian mereka membuka mata perlahan dan menatap tajam seseorang yang sedang tersenyum bahagia dibalik kemudi.


Ah jangan memasang wajah seperti itu honey, cantikmu akan berkali-kali lipat, dan aku tidak bisa menahan diri.


.


.


.


.


.


to be continued .....


.


.


.


Happy reading buddies ๐Ÿ˜Šโค๏ธ