
Kenn tersenyum dan mengelus kepala gadis cantik itu dengan lembut. "Kamu mabuk, Jenn. Aku akan mengatakannya saat Kamu sadar. Tidak sekarang dengan Kamu kayak gini." ucap Kenn.
"Aku gak mabuk." seru Jenn kembali kesal.
Kenn membuang nafanya berat. Menghadapi seorang gadis mabuk sungguh merepotkan pikirnya. Kenn harus banyak bersabar. Apalagi ini menghadapi gadis yang dicintainya. Ia masih tetap memeluk tubuh mungil Jenn.
"Sekarang aku anterin pulang dulu yah. Besok saat Kamu sudah sadar, Aku akan mengatakannya. Aku Janji!" tetap tenang menghadapi seorang Jenn.
Tangan yang tadi mencengkeram jaket yang dipakai Kenn, kini beralih memeluknya. "Gak mau. Aku gak mabuk. Ngomong sekarang aja. Aku mau tau alasannya." tetap ngotot.
Aish, bener-bener keras kepala. Tapi tetep aja cinta. Kenn menggeleng lalu terkekeh.
"Baiklah! Aku juga gak akan ngomong apa-apa." sengaja menggoda Jenn. Ia mulai gemas melihat tingkah gadis itu sejak tadi. Kenn takut mendadak gila dibuatnya.
"Ish," cemberut lalu mendorong tubuh Kenn. "Awas, Aku mau masuk lagi aja ke dalam." ngambek lagi.
"Oke! Aku yang nganterin Kamu ke dalam." tanpa ba, bu, dan bi. Kenn menarik tangan Jenn dan kembali masuk.
"Kenapa masuk lagi, Kenn?" Farel bingung.
Bukannya tadi ngelarang Jenn masuk kedalam ? pikiran teman-temannya seperti itu.
"Tunggu sebentar di sini." ucap Kenn pada Farel dan yang lainnya.
Lelaki tampan itu terus menarik Jenn sampai di depan pintu masuk. Di sana ada beberapa penjaga. Sambil menggenggam tangan gadis itu, Kenn menghampiri para penjaga.
"Permisi bang, boleh minta perhatiannya sebentar gak?" ucap Kenn membuat Jenn mengernyit bingung. Sedangkan para penjaga itu mengangguk.
"Ini bang, tolong liat dan perhatikan wajah wanita ini baik-baik. Dia ini istri saya, dan sekarang sedang hamil. Hamil anak saya!" ucap Kenn begitu serius.
Duarrr !!!
Ucapan Kenn seperti kekuatan magnet yang menarik habis pikiran Jenn dari pengaruh alkohol. Rasa mabuknya seolah diterbangkan angin. Jenn limbung jika tidak cepat ditangkap oleh Kenn, mungkin saja gadis itu sudah ambruk ke lantai. Ia dibuat jantungan dengan kata-kata Kenn yang terkesan vulgar. Jenn melotot marah padanya. Namun Kenn santai dan tidak peduli.
Para penjaga itu pun melihat wajah Jenn dengan seksama.
"Ck, liatnya biasa aja, gak usah lama-lama juga." kesal Kenn dengan tatapan mereka pada Jenn. Ia semakin erat memeluk gadis itu.
"Lah, katanya tadi disuruh perhatikan wajahnya. Gimana sih."
"Iya tapi sebentar aja. Jangan kelamaan juga. Udah kan liat wajahnya?" penjaga-penjaga itu mengangguk. "Nah, tolong ya bang, lain kali kalo liat dia kesini lagi sama teman-temannya yang tadi, larang aja Bang. Jangan biarkan dia masuk. Kalo sampai dia masuk dan mabuk di dalam sana, terus anak saya kenapa-kenapa dalam perutnya, saya bakal buat perhitungan sama kalian semua. Saya tuntut Abang semua disini. Ngerti?" ancam Kenn. Sementara Jenn melongo lalu mencubit pinggang lelaki itu.
"Auh," ringisnya.
"Wah, udah gak sabar kali tuh istrinya. Kode itu, Bang." kata salah seorang penjaga di sana. Kenn melipat bibirnya untuk tidak tertawa. Disamping itu, rasanya Jenn ingin sekali menenggelamkan dirinya di dasar laut saja.
Maluuuuu! pekiknya dalam hati.
"Oke, Bang! Kami sudah paham." seru penjaga-penjaga itu.
"Dijaga baik-baik istrinya, Bang."
"Semoga anaknya sehat selalu ya, Bang."
Kenn menahan tawa setengah mati. "Ah, makasih doanya. Dan saya minta kerja samanya ya, bang. Saya permisi."
Ia pun kembali menarik tangan Jenn ke parkiran. Sampai di sana, Kenn sudah tidak sanggup menahan tawanya lagi. Apalagi melihat raut malu bercampur marah di wajah cantik itu.
"Ppffffftttttt ahahaha, hahaha." terbahak sambil memegangi perutnya.
Jenn yang kesal pun memukul punggung Kenn berulang kali. "Nyebelin, nyebelin. Nyebelin bangeeeettttt, Iiiihh." teriak Jenn.
"Maaf cantik, hanya itu cara yang Aku dapet. Hahaha." masih saja terbahak sambil terus menggoda Jenn.
"Caranya ekstrim tau gak. Ih, Aku malu, Kak!" cemberut lagi.
"Gak usah malu. Aku tanggung jawab kok, Hahaha." tertawa lagi melihat wajah Jenn yang merona karena malu. Senang sekali rasanya. Entah kenapa dia jadi ingin menggoda gadis itu terus. Dan seperti sudah terbiasa sebelumnya, tidak merasa kaku sama sekali dengan kedekatan mereka malam ini. Semuanya mengalir begitu saja.
"Kalian kenapa, Kenn?" tanya Farel bingung.
"Ada apa lagi Jenn?" tanya Alena.
"Kenapa kamu marah-marah?" ini Fio.
"Kak Kenn, ngapain teman Gue, hah." kali ini Yuni.
"Ini ketawa-ketiwi lagi." suara Reta.
Sedangkan Maureen, Putri dan Rossa hanya diam dan menyaksikan. Putri dan Rossa sudah menyiapkan banyak pertanyaan untuk Jenn dirumah nanti.
Meskipun wajahmu kesal, tapi jelas terlihat raut bahagia di balik itu, Jenn. Aku gak mungkin salah. Batin Rossa.
Kenn masih saja tertawa, sedangkan Jenn diam dengan cemberut kesal.
"Kalian semua pulang aja yah. Jenn, biar Gue yang anterin." ucap Kenn di sela-sela tawanya.
"Ogah! Gue mau bareng Fio aja." seru Jenn dengan kesalnya.
"Eh, sorry Jenn, tapi Gue ada urusan mendadak." alasan Fio. Sengaja memberi ruang dan waktu untuk kedua orang itu.
"Sama kita aja kalo gitu." tawar Maureen.
"Udah Gue bilang kan? Dia Gue yang anter. Kalian balik aja. Dia akan selalu aman sama Gue." dan entah kenapa mereka percaya saja. Ya, karena selama ini memang Kenn yang selalu menolong Jenn.
"Bebs, Gue sama Rossa nungguin di rumah yah." ucap Putri yang di angguki Jenn.
Dan gadis-gadis itu pun segera menaiki tunggangan masing-masing. Kali ini Rossa bersama Putri dengan menggunakan trail.
Tinggal Fio dan Farel yang masih di sana. Jenn menatap bingung pada Fio.
"Lo kenapa gak pulang juga? Oh mau sama Gue? Ok, ayo!" hendak menarik Fio.
Kenn menahannya. "Ada yang nganterin dia. Tenang aja. Sekarang Kamu ikut Aku yah!" ucap Kenn langsung menarik lembut tangan Jenn menuju motornya.
"Good luck, bro!" teriak Farel. Kenn berbalik lalu melemparkan senyum smirk pada temannya itu. Keduanya masih disana. Ingin terus memantau perkembangan Kenn dan Jenn.
"N'tar dulu," Jenn menahannya. "Kita mau kemana? Kamu gak rencanain buat nyulik Aku kan?" Kenn terkekeh.
"Emang mau Aku culik beneran?" tanya balik membuat Jenn malu dengan pikirannya sendiri. "Ayo, pulang!" lanjut Kenn.
"Aku belum mau pulang, Kak!" rajuk Jenn.
"Ini sudah malem. Gak baik seorang gadis keluyuran di jam seperti ini." Jenn menatap lekat wajah tampan yang kadang membuatnya kesal, namun lebih banyak membuatnya nyaman seperti saat ini.
"Kamu lupa dengan apa yang pernah Aku minta sama kamu?" Jenn menggeleng.
"Terus? Kenapa lakuin ini lagi?" Ah, rasanya Jenn ingin menangis sekali lagi. Mengingat alasannya datang ke tempat terkutuk itu lagi. Jenn menunduk menyembunyikan wajah sendunya.
"Apapun masalah Kamu, Aku minta sekali lagi, Jenn. Ini yang kedua kalinya aku minta sama kamu. Please! jangan pernah datangi tempat ini lagi. Tempat ini gak baik buat Kamu. Aku udah pernah bilang ini kan?" lagi Jenn menggangguk.
"Dengan dateng ke tempat ini, gak bisa nyelesain masalah Kamu. Malah justru nambah masalah. Gimana kalo laki-laki di dalem sana jahatin Kamu? gimana kalo Aku gak ... " Jenn yang tak tahan pun langsung menubruk dada Kenn, memeluknya sambil menangis, memotong kalimat lelaki itu.
"Kamu selalu ada buat nolongin Aku. Kamu selalu ada buat lindungin Aku. Kamu gak boleh ninggalin Aku. Aku gak mau Kamu pergi lagi. Aku nyaman sama Kamu, Kak." ucap Jenn disela-sela tangisnya.
Well. Dia merasa tersakiti oleh Alvino. Tetapi malam ini dia mendapat tempat yang nyaman untuk bersandar. Tempat yang baru yang mendamaikan jiwanya yang sempat terguncang siang tadi. Dan dia tidak ingin melepaskan kenyamanan ini.
Sedangkan bagi Kenn, penuturan Jenn bagai angin surga di telinganya. Menenangkan jiwanya, menghangatkan hatinya. Apa gadis itu sedang mengungkapkan perasaannya? Apa ini hanya mimpi?
Kenn menunduk dan mengangkat wajah gadis itu dengan sebelah tangannya. Di tatapnya netra pekat gadis itu lekat-lekat secara bergantian. Mencari kejujuran disana meskipun samar tertutup air mata.
"Kamu sadar dengan yang kamu katakan?" Jenn mengangguk.
"Katakan sekali lagi!" pinta Kenn ingin meyakinkan telinga serta hatinya sekali lagi.
"Jangan pergi, jangan ninggalin Aku, Aku nyaman sama kamu." malu dan langsung menepis tangan Kenn, lalu kembali menunduk.
"Kamu gak lagi mabuk?" Kenn tidak yakin. Yang realistis saja kan? Pacarnya kurang apa coba? Apa dia hanya ingin menjadikan Kenn pelariannya?
"Aku gak mabuk. Aku udah nyimpen ini lama kak, bahkan ... "
"Bahkan apa? lihat Aku, Jenn." saat itu juga dia mengangkat pandangannya.
"Sejak pertama kali kita bertemu. Aku sering disiksa rasa ini. Aku berusaha untuk membuang rasa ini tapi gak bisa, Kak. Kamu selalu datang dan buat Aku dilema." keluar sudah satu beban rasa yang dipendamnya selama ini.
Terbalik. Harusnya Kenn yang mengungkapkan perasaannya. Kenapa jadi Jenn yang duluan ? namun satu hal yang membuat Kenn senang. Sepertinya dia punya kesempatan untuk memenangkan hati gadis cantik itu. Dia tak harus merasa kalah lagi bukan? karena Kenn percaya, dengan nyaman akan mudah untuk mencintai. Itu artinya, cintanya akan terbalas bukan?
Tersungging senyuman bahagia di wajah tampan Kenn. Lelaki itu langsung membalas pelukan Jenn begitu erat. Menyalurkan rasa bahagianya yang membuncah.
"Tadi kamu bilang mau tau alasan Aku selalu ngelarang Kamu ini itu kan?" Bisiknya di telinga Jenn. Gadis itu mengangguk. Kenn melepas pelukannya lalu menatap Jenn dengan tatapan penuh cinta.
"Aku mencintai Kamu. Sangat mencintai Kamu, Jenn. Dan rasa ini sudah tersemat sejak pertama ngeliat kamu." sama seperti Jenn tadi. Lega karena rasa yang terpendam selama ini tak lagi membebani hatinya.
Di tempat yang tersembunyi dan tidak diketahui oleh kedua orang yang sedang mengungkapkan rasa masing-masing itu. The best couple Mak comblang begitu terharu dan bahagia mendengar itu.
"Maafin Aku yang sudah lancang mencintai Kamu. Maafin Aku yang membuat kamu nyaman dan terlalu pengecut untuk ngungkapin ini. Itu karena Aku gak mau jadi orang ketiga di antara Kamu dan ... " telunjuk Jenn menempel di bibir Kenn, menghentikan ucapannya.
"Tidak perlu merasa bersalah untuknya. Karena Aku sendiri yang membiarkan hatiku nyaman dengan kehadiranmu. Dan kali ini Aku juga mengizinkan cintamu masuk dan diam dalam hatiku. Tapi Berjanjilah untuk tidak akan pernah pergi!"
Kenn terpaku. Bibirnya kelu. Bahagia yang berlebihan membuatnya tak dapat berkata-kata. Bahkan ini lebih dari ekspektasinya.
Jenn menurunkan jemarinya. "Say something, Kak! promise for me!"
❤️❤️❤️❤️❤️❤️
.
.
.
Apa yang akan dikatakan Kenn selanjutnya yah 🤔
tunggu kelanjutannya yah 😁🤭
______________________________
to be continued ...
Jangan lupa like, komen, dan tambahkan ke favorit ❤️🥰🤗
Thinkyuuuw buat semuanya yang selalu nungguin STP.
love you all guys 😘😘🥰🥰🥰🤗🤗🤗