Simple But Perfect

Simple But Perfect
Menang Banyak



"Ada apa sih, Nak?," tanya mamanya Farel.


"Itu, Tan! Ada Ibu di sini. Ibu gak tau soal ...."


"Uhuk, uhuk, uhuk!" Fio yang baru sadar pun tersedak minumannya.


"Ya ampun! Pelan-pelan aja, by!," ucap Farel sambil menepuk-nepuk pelan pundak sang kekasih.


"Oh ... Ha-ha-ha! Mama tau apa yang kalian berdua pikirkan." wanita paruh baya itu tertawa sambil menggelengkan kepalanya. "Tenang saja, Ibu juga sudah tau kok. Iya kan Bu?," tutur mamanya Farel sekaligus bertanya pada ibu tuan rumah.


"Oalah, itu toh, Neng? Iya ibu mah sudah tau. Sejak kalian tinggal di sini pun ibu sudah tau. Cuman ibu pura-pura tidak tau saja, biar kalian nyaman," tutur ibu tuan rumah, yang membuat Jenn dan Fio terkaget.


"Hah? Serius, Bu!?," seru keduanya berbarengan.


Semua yang ada di sana menertawakan tingkah keduanya. "Serius atuh, Neng! Ibu paham kalian menyembunyikan ini dari semua pihak. Jadi ibu ikut diam saja," jawab sang ibu tuan rumah dengan senyuman.


Jenn langsung memeluk ibu tuan rumah itu dengan senang. "Ah, makasih banyak loh, Bu! Ibu baik banget sama kita berdua. Jenn gak tau mau balas kebaikan Ibu dengan apa?," perempuan cantik itu terharu.


"Sudah, gak apa-apa, Neng. Gak perlu melakukan apa-apa. Ibu senang melihat kalian berdua di sini. Ibu mah ikhlas melakukannya. Ibu hanya minta, kalau sudah kembali ke kota, jangan lupa sama ibu, yah," sahut sang ibu tak kalah harunya.


Fio pun perlahan berdiri dari duduknya lalu menghampiri temannya dan ibu tuan rumah itu.


"Itu sudah pasti, Bu! Sekali lagi makasih banyak, Bu! Fio dan Jenn sayang sama Ibu," kata Fio, dan ketiga wanita beda usia itu berpelukan untuk sesaat.


"Sekarang kita makan dulu yah. Semuanya pasti lapar kan? Ayo kita makan bersama," ucap ibu tuan rumah menyudahi drama penuh haru siang itu, dan mempersilahkan semuanya menuju meja makan.


**********


Di meja makan.


Mereka makan dalam suasana yang bahagia. Namun tersisah satu hal yang belum kelar di sini. Ya identitas Fanya. Jenn yang saat itu tak dapat lagi menahan rasa penasarannya, mewakili Fio, ia pun lantas bertanya.


"Jadi? Dia siapa, Kak? Kok bisa ada di sini juga?," tanya Jenn pada Farel.


"Uhuk!" Fanya terbatuk dan langsung menyambar segelas air dan meneguknya hingga tandas. "Serius? Kak Jenn gak tau gue siapa?," seru Fanya tak percaya.


"Serius! Emang penting banget yah? Yang gue tau cuman sebatas junior di kampus, dan pernah dekat sama ... Kenn," tutur Jenn dengan raut sedikit masam mengingat perlakuan romantis sang kekasih dulu pada gadis itu.


"Aaaa, Kak Jenn tega nganggap gue gak penting, pahit bener. Hiks," seru Fanya berdramatis.


"Emang gak penting kan? Udah deh, gak usah lebay," ucap Farel pada adiknya, lalu beralih pada Jenn. "Emang Kenn gak bilang apa-apa?," tanyanya.


"Katanya dia adik dari temannya, tapi gak tau temen yang mana," jawab Jenn sambil mengedikan bahunya.


"Dasar yah tuh orang." Farel menggeleng kecil. "Dia adik angkat gue," lanjutnya membuat sang mama dan adiknya melotot.


"Aaaa, mama liat dia nyebelin banget deh," Fanya merengek manja.


"Sudah, sudah! Lagi makan kok malah pada ribut. Kamu juga Farel, udah mau jadi ayah juga suka banget ngerjain adiknya. Jaga sikap kalian, malu ini di rumah orang. Ayo! habisin makannya," tegas sang mamah, menyudahi perdebatan kedua anaknya.


"Kalian jangan denger omongan Farel yah. Mereka berdua suka begitu, gak pernah akur mereka."


Jenn dan Fio terbelalak mendengar penuturan mamanya Farel. Malu tentu saja. Fio yang sudah menjalin hubungan dengan Farel selama empat bulan ini, tidak tahu sama sekali kalau juniornya itu calon adik iparnya. Sedangkan Jenn, ia pun malu karena pernah cemburu yang tak beralasan pada gadis itu.


"Maaf yah, dek! Baru tau," ucap Fio.


"He-he-he. Gak papa, Kak. Panggil Fanya aja, biar lebih akrab," sahut Fanya di sela-sela makannya.


"Gue juga minta maaf yah," celetuk Jenn dengan cengengesan.


"Iyah. Gak papa, Kak Jenn. Bay the way, langgeng terus sama Kek Kenn yah, Kak!," ujar Fanya membuat Jenn semakin malu, benar-benar malu pernah cemburu dan sedikit tidak menyukai gadis itu.


"Eh, Iyah. Makasih, Fan!," balas Jenn singkat.


Mereka pun menyelesaikan makan siang mereka dengan penuh damai dan suka cita. Terlihat jelas raut bahagia dari wajah-wajah cerah di siang menjelang sore itu.


Apalagi Fio, dia yang paling bahagia dari semua yang ada di sana.


Tak lama setelah itu, mereka telah selesai dengan acara makan siang. Semua lalu kembali ke ruang tamu, hanya Jenn yang menemani Ibu tuan rumah untuk membereskan meja makan, meski sudah ditolak berkali-kali oleh wanita paruh baya itu namun Jenn tetap kekeuh. Ya dia memang terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah bersama dengan dua sahabatnya. Akhirnya dengan berat, sang tuan rumah membiarkan si cantik itu membantunya di dapur.


*******


Di ruang tamu.


Trio F bersama dengan sang mama sedang berbincang-bincang hangat di ruang tamu. Di sana, terlihat Farel yang tidak mau jauh-jauh dari sang kekasih, terus saja menempel pada wanitanya.


"Ck, diem Lo!," sergah Farel, sembari semakin menempel pada kekasihnya bahkan kini memeluknya tanpa rasa malu pada sang mama yang ada di depannya.


Fio yang malu dengan sikap kekasihnya. "Ih, apaan sih, by! Malu tau sama mama dan Fanya," ucap Fio melepaskan tangan Farel yang memeluk pinggangnya.


Mamanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah putranya. "Sini sama mama, sayang!," wanita itu menepuk-nepuk sisi kosong di sebelahnya, meminta Fio untuk berpindah di sana.


Mengikuti ucapan sang mama, Fio pun berpindah membiarkan Farel yang mendengus kesal.


"Apakah selama ini dia menyusahkan kamu, atau dia jahat sama kamu?," tanya sang mama, sambil menyisipkan beberapa helai rambut Fio ke belakang telinganya.


"Ah, Enggak, Ma! Dia gak nyusahin kok, cuman dia emang sedikit jahat, he-he-he!." Fio terkekeh.


"Apa? Kapan? Jangan ngadi-ngadi, by!," Farel tidak terima.


"Apa yang dia lakukan sama kamu, sayang? Bilang biar mama memberinya pelajaran," seru sang mama.


"Enggak, ma! Mana ada? Mama mesti percaya dong sama Farel, yang anak mama itu Farel,"


"Ha-ha-ha!." Fio dan Fanya terbahak bersama, melihat ekspresi kesal di wajah lelaki itu.


"Fio sekarang juga anak mama. Bahkan sekarang mama lebih sayang sama dia dan calon cucu mama. Kamu, ogah," seru sang mama.


Farel yang kala itu memasang wajah kesal, hanyalah pura-pura saja, yang sebenarnya ia sangat senang melihat kenyataan di mana sang mama yang mau menerima calon ibu dari anak-anaknya itu dengan tangan terbuka. Ia bahagia setidaknya jalannya mulai terbuka, satu bebannya mulai terlepas, pundaknya kini terasa ringan, dan ia sudah siap untuk menapaki langkah-langkah berikutnya.


"Maafkan kesalahannya yang sudah merusak masa depan mu, Nak. Maafkan dia, maafkan mama juga yang tidak bisa mendidiknya dengan baik," ucap sang mama dengan sendu.


"Eh, kenapa minta maaf segala, ma? Ini bukan cuman salah Farel, ini juga salah Fio! Fio mencintai Farel, ma! Jadi mama gak perlu minta maaf. Fio yang nantinya ngerasa lebih bersalah lagi," sahut Fio sambil menggenggam tangan calon mertuanya.


Di tengah percakapan mereka, Jenn muncul dari dapur bersama ibu tuan rumah dengan membawa cemilan-cemilan kecil di tangannya dan ia sajikan untuk mereka di ruang tamu.


"Bebs, sini deh!," Fio meminta Jenn untuk duduk di sampingnya. "Kenapa gak istirahat dulu sih, beb? Lo kan juga capek, mana belum ganti baju lagi. Gue gak enak tau," ucap Fio begitu Jenn duduk di sebelahnya. Ia tak enak hati dengan teman baik yang sangat dia sayangi itu.


Mamanya Farel memandang wajah cantik Jenn dengan takjub. Sedari tadi ia sibuk dengan calon menantunya, namun tak urung perhatiannya sedikit tersita dengan makhluk cantik yang terlihat begitu santun. Senang rasanya, mengetahui bahwa calon menantunya memiliki teman sebaik Jenn.


"Ck, ngomong apa sih, Lo?," sahut Jenn dengan malas. Si cantik itu lalu menyandarkan tubuh mungilnya di sandaran kursi, sejujurnya ia sedikit lelah memang.


"N'tar bantuin dipijitin yah, by! Bisa ngamuk tuh si Kenn sama aku, by!," ucap Kenn membuat Jenn terkekeh mengingat sang kekasih yang selalu garang terhadap temannya.


"Eh iya nih, sedari di meja makan tadi, mama dengar nama Kenn dibawa-bawa terus, emang kenapa dengan anak mama yang satu itu?," tanya sang mama yang sudah penasaran sejak tadi pasal Kenn yang disebut-sebut.


"Oh iya lupa, ma! Dia seseorang yang sangat dicintainya anak mama yang satu itu," Farel menjawab pertanyaan mamanya.


"Benarkah?," seru wanita itu dengan raut bahagia.


"Iya, ma! Kak Jenn pacaran sama Kak Kenn, udah lama juga kok ini," Fanya yang menjawab kali ini.


"Eh, kamu tau juga, Fan?," Jenn yang bertanya pada Fanya.


"Iya dong, Kak! He-he-he!," kekeh Fanya.


"Jadi? Calon mantu mama nambah lagi nih? Wah, mama menang banyak dong ini, sekali dapet langsung dua, udah gitu cantik-cantik lagi," wanita paruh baya itu tampak begitu senang. "Habis balik dari sini mama mau sidang kalian berdua. Gimana sih, gak pernah kenalin kek mama calon mantu cantik-cantik gini," gerutu sang mama.


Semuanya tertawa bahagia di saat siang menjelang sore itu. Tak lama setelah puas berbagi kebahagiaan bersama, Farel bersama mama dan adiknya kembali ke kota sore itu juga, meninggalkan Jenn dan Fio dalam suasana hati yang tenang.


..._____πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•_____...


...To be continued ......


...________________...


Hai, Hay tayangΒ²ku πŸ‘‹πŸ˜˜ nih otor dah ngebut buat sehari ini 2 bab πŸ˜…


Jangan lupa kasih like, komen, rate dan tambahkan ke favorit juga yah ❀️


Thinkyuuuw buat semuanya πŸ€—πŸ€—


Selamat membaca 😊


Love you all guys 😘πŸ₯°


Jangan lupa follow πŸ‘‡:


Ig : @ag_sweetie0425