
"Siapa mereka sebenarnya?" Jenn kembali bertanya dengan pikiran yang ikut menduga-duga.
Kenn lalu menceritakan kejadian setelah dia pulang dari rumah kekasihnya, Jenn. Saat keluar dari sana, ia menjalankan motornya dengan tujuan ingin ke rumah Farel, temannya. Namun baru saja setengah jalan, tepat pada saat ia melewati jalanan sepi, tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depannya, membuatnya kaget dan mengerem mendadak. Kenn mulai memahami situasi seperti apa yang sedang ia hadapi saat itu, kala ia melihat sebuah motor yang juga berhenti tepat di belakangnya.
Dilihatnya tiga orang pria bertubuh kekar keluar dari mobil tersebut. Kenn menoleh ke belakang dan melihat dua orang di sana pun turun dari motor. Tidak mau membuang-buang waktu, lelaki tampan itu pun turun dari motornya dengan gaya cool.
Ah, sepertinya Gue akan sedikit kerepotan.
Batin Kenn, sambil melepas helmnya dan menaruhnya di atas motor begitu saja.
Lelaki tampan itu baru saja melepaskan jaketnya, seseorang dari kelima orang itu sudah lebih dulu menyerangnya. Perkelahian pun tak bisa di hindari lagi. Kenn cukup mampu untuk mengimbangi dan menghadapi kelima orang itu. Ya, sejak kecil Kenn sudah terlatih dengan hal-hal seperti itu, tak heran jika ia terlihat santai dan berani. Karena itu, tidak hanya label tampan dan baik yang melekat pada lelaki itu. Namun stempel pemberani dan pekerja keras juga turut menempel padanya.
Awalnya semua baik-baik saja. Kenn masih dapat bertahan di sana dengan meladeni orang-orang itu. Namun karena terus fokus dengan kelima lawannya, Kenn tidak menyadari seseorang yang baru keluar dari mobil dengan mengambil sepotong kayu yang tergeletak di tepi jalan. Dengan cepat pria itu menghampiri Kenn, dan dari arah belakang ia menghantam punggung Kenn. Saat itulah Kenn lengah dan alhasil ia pun dikeroyok sampai babak belur. Mereka menghajarnya tanpa ampun. Untung saja dari kejauhan, sebuah mobil melintasi jalanan yang sepi itu. Komplotan itu pun segera melepaskan Kenn yang sudah tak berdaya. Sebelum pergi, seseorang yang tadi menyerang Kenn dari belakang, sepertinya dia ketua dari mereka. Ia mendekat pada Kenn yang sudah terkapar lemah, berjongkok dan mencengkeram kerah baju Kenn.
"Sudah Ku katakan untuk menjauhinya bukan? Tinggalkan dia! Jika tidak, Aku akan memaksanya dengan caraku." tutur pria asing yang menggunakan kacamata dan masker saat itu.
Dalam kelemahannya, Kenn berusaha untuk mengenali wajah itu namun tidak berhasil karena tertup masker. Mendengar ucapan pria asing itu, Kenn terkekeh. "Jangan coba-coba menyentuhnya seujung rambut pun! Apalagi sampai menyakitinya. Aku tidak takut dengan ancaman pecundang sepertimu." Ucap Kenn dengan lemah namun masih sempat untuk tertawa kecil. Pria asing itu geram lalu bangkit berdiri dan menendang Kenn cukup keras sebelum ia pergi, karena cahaya mobil semakin mendekat.
Kelompok peneror itu pun cepat-cepat berlalu dari sana. Mobil yang melintas saat itu dapat melihat dari kejauhan, bahwa ada seseorang yang sedang terkapar tak berdaya di pinggir jalan. Pengemudinya pun turun dan membantu Kenn. Ia membawa Kenn masuk di dalam mobilnya dan langsung membawanya ke klinik terdekat untuk mengobati luka-luka dan memar pada tubuh Kenn. Sesudah itu ia berniat mengantar Kenn untuk pulang, namun lelaki tampan yang sedang terluka itu menolaknya. Ia merogoh ponsel dari saku celananya dan menghubungi Farel untuk menjemputnya. Pada akhirnya ia pun pulang bersama temannya. Dan saat itu, Farel sudah lebih dulu menghubungi seseorang untuk membawa motor milik Kenn.
Begitu sampai di kontrakannya, Kenn lalu menceritakan semuanya pada Farel. Awalnya ia ingin menyembunyikan hal ini dari Jenn, namun sudah tak bisa karena kesalahan Farel yang sudah menghubungi gadis itu tanpa sepengetahuan dirinya. Alhasil, ia pun harus jujur pada sang kekasih, yang mana ia pikir dengan berkata jujur, semuanya akan menjadi lebih baik kedepannya.
Kembali pada Jenn dan Kenn.
"Jadi, yang ngirim buket bunga, pesen taksi waktu itu orang yang sama?" Tanya Jenn pada sang kekasih yang masih berbaring di pangkuannya.
Lelaki itu mengangguk. "Aku minta sama Kamu, hati-hati yah saat gak ada Aku. Jangan mau menerima apa pun dari orang asing, jangan pernah jalan sendirian, gak boleh sengaja ngilang kayak kemarin. Kasih Aku kabar terus, biar Aku tau kalo Kamu baik-baik aja, yah!" Pesan sekaligus permintaan Kenn pada kekasih hatinya.
"Terus Kamu? Aku juga khawatirin Kamu, Sayang!" Ucap Jenn sambil menangkup kedua pipi Kenn dengan lembut.
Kenn tertawa kecil. "Terimakasih sudah mau khawatirin Aku. Tetapi Aku akan jauh lebih baik, jika Kamu juga baik-baik saja dan tetap aman." Sahut Kenn sembari mengusap tangan halus yang masih menempel di wajahnya.
"Iya, Aku akan jaga diri baik-baik untuk Kamu," Jenn tersenyum kecil. "Ini semua masih sakit?" Lanjutnya bertanya sambil menyentuh tiap bagian tubuh Kenn yang terluka dan memar.
"Udah gak sakit lagi!" Jawab Kenn singkat.
"Ih, mana bisa? Banyak memar gini kok. Ada-ada saja deh."
"Bisa dong, Sayang! Kan udah dapet obat ajaib semalam. Auwh," Lelaki tampan itu terkekeh namun juga meringis, begitu satu cubitan mendarat di pinggangnya. "Lagian kalo sakit, gak mungkin kan bisa buat kamu mendesah, ah! Haha!" Kenn lengsung bangkit begitu mendapat serangan pukulan dari Jenn.
Plak ... Plak ... Plak
"Auh, ini baru sakit beneran loh, Yang!" Ucap Kenn di sela-sela tawanya.
"Biarin, syukurin!" Si cantik itu terus saja memukul kekasihnya. "Kenapa sekarang jadi mesum banget sih? Kalo didengar mereka berdua gimana?" Mulai cemberut.
"Iya, iya, ampun Ratuku. Gak lagi deh. Maaf!" Menahan tangan kecil Jenn dan membawa tubuh mungil itu dalam pelukannya. "Terimakasih untuk segalanya, Sayang! Tidak ada yang bisa Aku janjikan, tapi Aku pastikan, Kamu akan selalu bahagia disisiku, Jenn! Tidak ada kata-kata indah yang dapat aku rangkai setiap hari, aku hanya dapat mengatakan, Aku mencintaimu, terlalu mencintaimu, teramat sangat mencintai kamu, Jenn!" Ucap Kenn lirih sambil mengeratkan pelukannya.
"Aku tau. Tiap hari Kamu selalu katakan itu," Jenn tersenyum kecil.
"Dan tiap saat Aku akan mengatakannya tanpa bosan, dan tidak akan pernah berhenti sampai kapan pun." Satu kecupan di pipi mulus Jenn.
"Iya, Aku juga,"
"Juga apa?!?"
Jenn tertawa dengan kesengajaan kekasihnya. "Aku juga mencintaimu, Kenn. Selalu dan selamanya. Udah?" Menatap wajah tampan yang sang kekasih dengan tatapan penuh cinta.
"Terimakasih, Sayang!"
"Sama-sama, Sayangku," Jenn tersenyum dan berdiri menarik tangan Kenn. "Ayo, makan dan minum obat juga, yah!" Kenn pun beranjak dan mengikuti langkah kecil Jenn menuju dapur.
Mereka berempat lalu makan bersama. Setelah itu, Jenn memastikan kekasihnya itu minum obat. Begitu juga sebaliknya, sang kekasih dan kedua sahabatnya memastikan Jenn untuk meminum obatnya juga.
Setelah itu Jenn sengaja meminta diri ingin pulang, agar kekasihnya itu dapat beristirahat juga. Kenn ingin mengantarkannya namun dia menolak dengan berbagai alasan dan rayuan. Keras kepalanya membuat Kenn membiarkannya pulang dengan berat hati, di sertai berbagai nasihat dan ceramah panjang lebar. Ketiganya lalu pulang dengan menggunakan taksi, karena Kenn tidak mengizinkan Jenn menggunakan motor.
Begitulah, Kenn mulai banyak menunjukkan keposesifannya pada si cantik bertubuh mungil itu.
Di dalam sebuah ruang pribadi, dari balik kursi putar, seseorang sedang duduk bersandar dengan segumpal asap yang mengepul dari sebatang rokok yang ada ditangannya.
"Bagaimana? Dia masih selamat? Temannya itu yang menolongnya?" Tanya pria yang sedang membelakangi itu, dengan suara berat dan dingin.
"I .. iya, Bos! Sepertinya dia sudah terlatih, dan ... dia bukan lawan yang main-main, Bos. Untung saja kita berlima, kalau tidak ..."
"Tutup mulutmu. Kalian memang tidak pernah becus!" Bentak lelaki asing yang semalam menyerang Kenn dari belakang. "Lalu bagaimana dengan gadis itu, apa dia sudah tau?"
"Ehm, sepertinya sudah, Bos!"
"Teruskan!" Dia tahu bahwa masih ada yang ingin disampaikan anak buahnya.
"Semalam ... Gadis itu bermalam di kontrakannya, Bos."
Braakk!!!
"Apa?" Lelaki itu spontan berdiri dan menggebrak meja. "Keluar!" Teriaknya marah dan menunjuk ke arah pintu.
Begitu anak buahnya keluar, lelaki itu menghempaskan tubuhnya secara kasar pada kursi kebesarannya.
"Bermalam? Apa mungkin mereka tidur bersama?"
"Ahk tidak! Tidak mungkin!"
"Apa mereka melakukan ... "
"Aarrrgghh,"
Lalaki itu bermonolog dengan frustasi. Ia mencengkram sebuah foto yang menampilkan sepasang senyum bahagia dari wajah Jenn dan Kenn.
Belum selesai! Tunggu dan lihat saja kedepannya!
...______ππππ______...
.
.
.
.
.
to be continued ...
Hola epribadeeeh π Maaf baru up lagi ππ€
Terimakasih buat yang selalu setia nungguin Jenn dan Kenn πππ
Terimakasih untuk yang sudah menyempatkan waktu untuk mampir di karya receh ini π
Jangan lupa tinggalkan jejaknya yah π
Plissss, kasih like, komen, rate dan tambahkan ke favorit β€οΈ mau kasih bunga πΉ atau kopi β juga boleh π€
Terimakasih semuanya π€π€
Selamat membaca πβ€οΈ
π
Ig : @ag_sweetie0425