Simple But Perfect

Simple But Perfect
Mendapatkan Restu



...Hola epribadeeeh πŸ–οΈ...


...Nah, double up kan 🀭...


...Jangan lupa like dan komen yah πŸ₯°...


...~ Happy Reading ~...


...__________________...


Detik, menit, dan jam saling berkejaran, berlomba tanpa henti mengusir gulita yang pekat. Kokok ayam jantan menyuarakan pagi telah datang, fajar menyingsing menyemburkan cahayanya yang hangat membakar kembali semangat setiap insan.


Kenn masih di sana, di depan rumah orangtuanya Jenn, dengan keadaan yang sangat memprihatinkan. Lelaki itu tampak sangat kacau dengan pakaian yang kusut, rambut yang acak-acakan, bahkan memar dan lebam menyamarkan raut tampannya.


Dua malam sudah ia tidak bisa tidur. Lelah? Jangan ditanyakan lagi, itu pasti. Tapi seperti ucapannya semalam, ia akan memperjuangkan cintanya untuk Jenn sampai nafas terakhir. Lelaki tampan itu kini menjadi tontonan warga yang berlalu lalang. Tatapan iba bahkan nyinyiran dari orang-orang yang lewat tidaklah ia pedulikan. Ia masih setia menunggu di depan pintu rumah itu, tapi orangtua Jenn tidak perduli sedikitpun.


Tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti di depan rumah, tampak seorang lelaki muda bersama dua orang tua dengan pakaian yang rapi, turun dari mobil dan melangkah melewati Kenn yang masih setia menunggu di sana.


Bagai gulungan ombak yang dihantarkan badai datang menghantam jiwa Kenn, memporak porandakan dunianya, mengobrak-abrik hatinya, begitu ia mengetahui bahwa mereka yang datang itu adalah lelaki yang dipilihkan ayah Jenn untuk menikahi putrinya.


Kenn merasa terhina dengan ini. Orang asing itu dipersilahkan masuk dan diperlakukan dengan baik, bak sultan, sedangkan ia diabaikan seperti butiran debuh yang tak terlihat. Meski hatinya menangis, tapi ia tidak ingin mundur selangkah pun, masih ingin mencoba dan terus mencoba.


Jika semalam ia hanya memohon di depan kedua orangtua sang kekasih, kali ini di depan orang lain pun masih ia lakukan. Harga diri mana lagi yang belum ia korbankan? Tapi semakin ia berusaha, ayah Jenn semakin menolak dengan keras. Kenn sampai memohon pada lelaki yang seumuran dengannya itu untuk menolak permintaan ayahnya Jenn. Apakah ini hina? Apapun itu Kenn tak mau tau, yang ia inginkan hanya Jenn menjadi miliknya.


Dalam usah yang terus mengikis habis kekuatannya, tubuh tegap Kenn semakin melemah. Tubuhnya butuh istirahat sejenak, tapi hatinya belum mau menyerah terhadap apapun. Sekali lagi ayah Jenn menyeretnya keluar dengan paksa dari sana, dan bersamaan dengan itu, sebuah mobil berhenti lagi di depan rumah itu, berjejer dengan mobil pertama yang masuk tadi.


Seseorang yang pertama turun dari sana terperanjat melihat kondisi anak lelakinya yang terlihat mengenaskan. Tidak ada wajah tampan dan tatapan elangnya lagi, yang tersisah hanyalah raut pilu dan menyedihkan.


Seseorang yang tidak lain adalah ibunya, saat itu juga menumpahkan air mata kala melihat pemandangan yang menyayat hati.


"Kenn!" Suara ayu itu memanggil lirih dengan bergetar.


Kenn menoleh, dan ia terkejut melihat sang ibu yang sudah berdiri di depan sana dengan air mata yang terus mengalir di wajah keriputnya. Ia pun melihat Farel dan orangtuanya juga ada di sana.


Farel dan papanya begitu marah melihat kondisi Kenn yang seperti itu. Mereka menghampiri ayahnya Jenn dan berbicara baik-baik, menyampaikan maksud yang sama seperti Kenn. Tapi hati ayahnya Jenn sekeras karang yang tidak mudah untuk diluluhkan, penolakan itu tetap terlontar dari mulutnya.


"Kita pulang, Kenn! Tidak perlu mengemis seperti ini. Kamu sudah berusaha semampu kamu, setidaknya kamu sudah membuktikan bahwa kamu bukan lelaki pengecut. Kamu lelaki hebat, tidak perlu sampai terlihat semenyedihkan ini. Ini sudah lebih dari cukup." pungkas papanya Farel yang tidak tega melihat Kenn dan air mata ibunya.


"Gak, Om! Kenn mau tetap di sini sampai Kenn diterima untuk bisa menikahi Jenn." jawab Kenn dengan lemah.


"Tidak, Kenn! Om tidak mau melihat kamu seperti ini. Kamu tidak lihat mereka bahkan ingin menjodohkan dia dengan orang lain? Pembuktian apa lagi yang ingin kamu tunjukkan? Ini bahkan sudah keterlaluan. Jika mereka tidak mau, tidak masalah. Kamu lelaki dan bisa mendapatkan wanita manapun. Tidak perlu berjuang sejauh ini jika perjuanganmu tak dihargai. Ayo! Kita pulang." Papanya Farel langsung bangkit dari duduknya.


Ibunya Kenn tidak tahu harus mengatakan apa? Begitu juga dengan mamanya Farel. Sementara ayahnya Jenn dengan senang hati mempersilahkan mereka untuk pulang, disertai kata-kata yang terus saja menjatuhkan Kenn. Karena tidak terima dengan kondisi Kenn, Farel dan ayahnya sampai harus bersitegang dan ribut dengan ayahnya Jenn.


Menurut mereka ini sudah sangat keterlaluan. Apa salahnya dengan Kenn yang ingin bertanggung jawab? Bukankah ia telah datang mengakui kesalahannya dan dengan cinta tulus ingin melamar anaknya dengan baik-baik? Ayahnya Farel memahami kekecewaan orangtua Jenn, karena ia pun memiliki seorang putri. Tapi jika seperti ini, bukankah sudahi dan lupakan saja? Kenn berusaha melerai pertengkaran mereka, hingga tubuh lemahnya ambruk ke lantai.


"Kenn!!!" pekik sang ibu dan mamanya Farel bersamaan.


Pertemuan tiga keluarga saat itu pun dibubarkan. Kenn dilarikan di klinik terdekat saat siang menjelang sore. Tidak makan dan tidak tidur selama dua hari, ditambah kelelahan selama perjalanan kesana-kemari dengan jarak yang tidak dekat, belum lagi dihajar sampai babak belur, membuat lelaki gagah itu tumbang dengan segudang beban.


Kenn sampai harus diinfus semalaman, hingga ibunya dan orangtua Farel rela menunggunya. Hanya Farel yang pulang karena harus menemani adiknya serta mengurus pekerjaan.


Sepanjang malam ibunya menangis sambil tetap setia menunggunya terbangun. Wanita paruh baya itu menyadari kesalahan putranya, tapi ia tak menyangka jika harus sampai berakhir seperti ini. Mamanya Farel menemani dan berusaha menghibur hatinya, sementara papanya Farel tidak puas dengan semua ini, hingga ia berniat membuat perhitungan dengan ayahnya Jenn.


"Jangan menyesal dengan keputusan anda. Jangan kaget ketika melihat putri anda mendadak tidak waras jika ia mengetahui hal ini. Anda tidak tau sebesar apa mereka saling mencintai bukan? Putri anda tidak akan pernah bahagia dengan siapapun jika tidak dengan Kenn. Camkan itu!" ucap papanya Farel dengan tegas ketika kembali mendatangi rumah orangtuanya Jenn. Lelaki tua itu lantas ingin kembali ke klinik.


"Dan ... oh yah, ingat ini, Kenn itu lelaki. Dia tampan, dia baik, dia pekerja keras, banyak wanita di luar sana yang menginginkan dia. Tapi sayangnya dia hanya mencintai putri anda. Pikirkan kondisi kejiwaan putri anda kedepannya, juga ingat dengan calon cucu anda. Dia darah daging Kenn, sekeras apapun anda berusaha menjauhkan dan menyangkalnya, hal itu tidak akan pernah bisa menghapus darah yang mengalir di tubuhnya." Lelaki itu langsung meninggalkan rumah itu.


Kejadian ini sedikit menggugah hati nurani ayahnya Jenn. Lelaki tua itu terduduk lesu di sofa ruang tamu dengan linglung. Terlihat jelas bahwa ia tengah merenung apa yang dikatakan papanya Farel.


Sehari lagi telah berlalu, hari baru kembali datang. Kenn terbangun di pagi buta, dan hal pertama yang keluar dari bibir pucatnya, bukanlah meminta minum ataupun makan.


"Jenn!" lirih Kenn.


"Apa yang kamu lakukan Kenn?" Ibunya terbangun dan menghentikan gerakannya.


"Kenn mau ke rumah orangtuanya, Bu!" Lelaki itu langsung mencabut jarum infus yang tertancap di tangannya.


"Kamu sedang lemah, Kenn! Kamu harus istirahat dulu," ucap sang ibu.


"Enggak bisa, Bu! Kenn kalo gak ke sana, gimana sama Jenn? Dia akan dinikahkan sama orang lain. Kenn gak mau itu terjadi, Kenn gak bisa tanpa dia, begitu pun juga dia. Kenn gak mau buat dia sedih dan kecewa, Bu!"


"Kenn! Maaf, tapi kali ini Om mau egois. Om gak ngizinin kamu ke sana lagi. Kita pulang aja sekarang! Cukup sampai di sini aja." ucap papanya Farel.


"Tapi Om ...."


"Benar, cukup sampai di sini saja." Tiba-tiba sebuah suara dari luar menghentikan ucapan Kenn. Tampak orangtuanya Jenn berdiri di ambang pintu. Perlahan ayahnya Jenn berjalan menghampiri Kenn yang masih berdiri di dekat tempat tidur pasien.


"Tidak perlu ke rumah saya lagi, pulanglah!" kata lelaki tua itu sambil menatap Kenn dengan datar.


Saat itu juga Kenn hendak kembali bersujud, "Om saya mohon ...." Ucapannya terhenti bersamaan dengan tangan lelaki tua itu menahan tubuh dan membantunya kembali berdiri tegak.


"Tidak perlu memohon lagi. Pulanglah dengan restu dari kami. Kamu sudah menerimanya." kata ayahnya Jenn dengan senyum kecil menghiasi wajahnya.


Perkataan itu bagai angin surga yang menerbangkan Kenn menembus nirwana, jiwanya melambung tinggi. Ia tak percaya hal ini.


"A-apa Om se-serius? Sa-saya tidak salah dengar, Om?" tanya Kenn terbata.


Lelaki tua di hadapannya menggeleng. "Kamu sudah mendapatkan restuku. Pergilah, dan bawalah dia. Aku mempercayakan putriku padamu. Permintaanku ... jadikanlah dia satu-satunya wanita dalam hidupmu, jagalah dia sebaik-baiknya, berjanjilah untuk tidak pernah menyakitinya, baik fisik maupun hatinya. Jika suatu hari nanti kamu sudah bosan dan tidak mencintai dia lagi, jangan beritahu dia. Datang temui saya dan katakan langsung pada saya. Saya yang akan membawanya kembali. Saya masih dapat membahagiakan dia, karena sebelum dirimu dan siapapun, saya yang pertama mencintai dia, dan sampai kapanpun saya tetap mencintai dia."


Atmosfer ruangan itu dipenuhi keharuan dan bahagia.


"Saya berjanji, akan menjaga dan membahagiakan dia dengan seluruh nafas saya, Om!" ikrar Kenn tegas dengan segenap hati di depan orangtuanya dan orangtua sang kekasih.


Kedua lelaki berbeda generasi itu lalu berpelukan damai, membuat semua yang ada dalam ruangan itu menitikkan air mata bahagia.


"Terima kasih, Om, Tante!" ucap Kenn.


"Mulai sekarang panggil Ayah dan Ibu. Kami sekarang orangtuamu, dan kamu sudah menjadi anak kami," kata ibunya Jenn dengan senyum.


Hari itu berlalu dengan indah. Perjuangan Kenn membuahkan hasil yang melegakan. Ia bersama keluarganya pulang ke kota tetepi berjanji akan kembali menjemput orang tuanya Jenn saat si cantik itu telah kembali dari lokasi KKN-nya nanti. Di samping itu, Kenn masih harus beristirahat dan merawat memar serta lebam pada wajah agar ia dapat mempersiapkan lamarannya nanti dengan baik.


* Flashback off*


...'Setiap kali kamu bersabar,...


...satu kejadian indah sedang dirangkai Tuhan'...


...[ Instagram - Retak ]...


..._____🌻🌻🌻🌻🌻_____...


...To be continued ......


...__________________...


Hai semuanya πŸ‘‹ cape nih double up 🀭


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yah biar makin semangat otornya ini 🀭


Terima kasih buat yang selalu menunggu Jenn dan Kenn πŸ™πŸ™


Sampai jumpa di episode berikutnya πŸ€—


Follow Ig author : @ag_sweetie0425