
_Takdir itu lucu. Ada saja caranya mempertemukan dua orang yang tak punya urusan, dengan cara yang seolah kebetulan_ N.L
Malam minggu selalu menjadi momen spesial dikalangan muda-mudi. Bukan hanya bagi mereka yang berpasangan saja. Sebagian jomblo pun sering melewati malam kebangsaan itu dengan teman atau sahabat, maupun keluarga.
Berbagai cara yang dilakukan, beragam tempat yang didatangi. Beraneka rasa yang tercipta. Intinya, malam minggu punya cerita dan kesan tersendiri bagi setiap orang.
Seperti halnya saat ini. Farel mengajak Kenn untuk menghabiskan malam minggu mereka di gemerlapnya dunia malam yang menggiurkan. Awalnya lelaki tampan itu menolak. Namun Farel dengan berbagai cara membujuknya.
"Ayolah, Kenn. Disana Lo nggak bakal kepikiran sama Jenn lagi. Disana tempat yang tepat buat ngilangin rasa yang Lo pendam" bujuk Farel.
Kenn saat itu masih fokus dengan game-nya, tidak menggubris perkataan Farel. Beberapa hari ini, dia sering mendatangi rumah temannya itu.
"Stop it, Kenn !!! gue lagi ngomong sama Lo" Farel mulai kesal.
"Apa ?? gue juga lagi serius nih. Jangan ganggu dulu lah" berbicara namun fokusnya pada benda pipih persegi ditangannya. Sesekali mulutnya berdecak saat jagoannya kalah.
Farel yang tak tahan dengan cueknya Kenn, langsung menyambar ponsel dari tangan lelaki itu.
"Ck, Lo kenapa sih ? gue malas ke tempat begituan" tolak Kenn.
"Lo belum pernah coba kan ? nah, coba aja dulu. Bakal nagih, bro" Farel terus saja memaksa.
"Ok, sini balikin dulu ponsel gue" ucap Kenn. Lalu berdiri, sambil menengadahkan tangan ke arah Farel.
"Let's go" memberikan ponsel Kenn, dan berjalan keluar dari kamarnya yang diikuti Kenn.
Saat keduanya melewati ruang tamu, suara mamanya Farel menghentikan langkah mereka berdua.
"Mau kemana kalian ?"
"Biasalah, Ma. Anak muda, mau malam mingguan" jawab Farel.
"Sebenarnya Kenn males, Tan. Dia nih, maksa banget"
"Ck, anak muda itu, jangan banyak ngelamun. Jangan suka stres. Masa muda itu dinikmati. Iya nggak, Ma ?"
"Nah, benar itu Kenn. Udah sana jalan. Bersenang-senanglah. Tapi jangan kepagian yah" mamanya Farel mendukung anaknya.
"Aku ikut juga kak" rengek Fanya, adiknya Farel.
"Nggak. Kamu masih kecil. Malming dirumah aja sama mama" ucap Farel membuat sang adik cemberut.
"Ya udah, Ma. Kita jalan dulu yah" pamit keduanya.
Keduanya kemudian menaiki motor masing-masing dan bergegas meninggalkan rumah. Tujuan mereka saat itu adalah club.
Farel sengaja mengajak Kenn ke tempat itu, untuk mengalihkan pikiran temannya itu dari seorang gadis. Tanpa disadarinya, hal itu malah justru membuat Kenn gagal move on, dan semakin jatuh dalam rasanya.
Sesampainya didepan club, Keduanya turun dari motor dan hendak melangkah masuk ke dalam sana. Namun langkah Kenn terhenti. Dia kembali merasakan hal yang sama seperti siang tadi di parkiran kampus.
Nggak mungkin dia ada disini juga kan ? dia nggak mungkin ke tempat seperti ini. Enggak !
Farel yang melihat itu pun lantas bertanya.
"What's wrong ?" Farel mengernyit.
"Emm, nggak mungkin ada dia disini kan, Rel ?" tanya Kenn sedikit Ragu.
"Siapa ?" Farel balik bertanya. "Maksud Lo, Jenn ?" Lanjut Farel. Yang mendapat anggukan dari Kenn.
Ya, Kenn memang sedang berusaha untuk nama itu tidak terucap dari mulutnya. Salah satu usahanya dalam melupakan gadis cantik pencuri hati itu.
"Nggak mungkin lah. Ngapain sih, punya pikiran kek gitu ? ngapain juga dia kesini coba ? Jenn cewek baik-baik, Kenn" ucap Farel.
"Tuh" Kenn menunjuk mobil Alvino yang terparkir disana. "Itu mobil kekasihnya. Yang waktu itu kita liat di rumah sakit. Tadi siang juga gue liat dikampus, dia nganter pacarnya" Kenn sama sekali tidak ingin menyebut nama keramat itu.
"Benarkah ?" Farel mempertajam penglihatannya. "Iya benar. Tapi bentar, Kenn"
Farel memandang sekeliling area parkiran, mencari sesuatu disana. Tepat sasaran. Dia melihat mobil sang kekasih juga terpakir tak jauh dari mobil Alvino. Saat itu juga emosinya naik ke ubun-ubun.
"Mau ngapain ?" Kenn melihat Farel yang merogoh saku celananya. Ternyata dia mengeluarkan ponsel dan melakukan panggilan pada seseorang. Kenn hanya diam memperhatikan.
"Shit ! Nggak angkat lagi" emosi Farel karena teleponnya tidak dijawab.
"Lo mau masuk nggak, Kenn ? gue yakin mereka didalam. Gue masuk duluan" ucap Farel yang tidak tahan ingin segera masuk.
"Wait, jelasin dulu kenapa ? mereka siapa yang Lo maksud ?" Kenn menahan Farel.
"Siapa lagi, gadis-gadis nakal itu ada di dalam sana. Itu mobil Fio. Gue nggak suka dia ada ditempat kayak gini" Farel menepis tangan Kenn dan bergegas masuk ke dalam club.
Kenn terpaku mendengar itu. Lelaki tampan itu tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Masuk saja dan melihat kemesraan pasangan itu lagi ? Atau kembali pulang dan tidak perduli dengan apa yang terjadi didalam sana.
Kenn mengusap wajahnya sebentar, dan memutuskan mengikuti Farel masuk ke dalam.
Saat sudah berada didalam club, lelaki tampan itu mengedarkan pandangannya mencari sosok kecil yang selalu mendebarkan hatinya. Dibawah kerlap-kerlip lampu club dengan pencahayaan yang remang, Kenn tak juga menemukannya.
Kenn mendapati Farel yang juga melakukan hal sama dengannya. Farel kembali mencoba menelepon Fio, namun sama saja. Tak kunjung diangkat.
"Dimana sih ?" ucap Farel frustasi.
Meskipun tempat itu asing baginya, Kenn belum juga menyerah. Entah kenapa, perasaannya mengkhawatirkan gadis cantik itu. Kenn kembali berjalan menelusuri setiap sudut bangunan itu. Tanpa sadar langkahnya membawanya memasuki area khusus dibagian dalam. Terkesan layanannya lebih mewah dari yang dijumpainya di awal tadi.
Kenn berhenti sejenak. Sepertinya ini ruang VIP. Kenn membatin.
Lelaki tampan itu mengedarkan pandangannya. Hingga pandangannya jatuh pada sekelompok gadis-gadis cantik, yang sedang duduk disofa berbentuk setengah lingkaran, dengan berbagai minuman beralkohol yang ada di table depan mereka. Di temani dua orang pria asing disana.
Dahi Kenn berkerut. Dimana kekasihnya ?
Kenn tidak melihat lelaki posesif itu disana. Hanya Jenn and the geng-nya bersama dua orang pria asing. Disana, Jenn terlihat begitu gelisah dan tidak tenang. Berbanding terbalik dengan teman-temannya yang justru sangat menikmati suasana gemerlap itu.
Tiba-tiba, salah satu dari pria asing itu mendekati Jenn. Kebetulan terdapat tempat kosong disamping gadis itu. Ya itu tempat Alvino tadi.
Kenn yang melihat itu tentu saja tidak suka. Jika saja itu Alvino yang jelas kekasihnya, Kenn memaklumi. Tapi tidak dengan orang asing. Rahangnya mengeras ketika melihat pria asing itu memaksa Jenn untuk minum. Bahkan, dengan lancangnya menyentuh pipi mulus gadis cantik itu.
Alena yang ingin menghentikan aksi lelaki kurang ajar itu, kalah cepat dengan langkah besar Kenn.
Prraanggg ...
Kenn merebut gelas berisi cocktail dari tangan pria itu dan membanting ke lantai. Minuman-minuman yang ada di table pun dihancurkannya. Gadis-gadis itu kaget dan histeris. Kenn tidak peduli dengan kekacauan yang diciptakannya. Dia kembali menarik kerah baju pria itu dan menghadiahinya sebuah pukulan keras di bagian perut. Lelaki asing itu meringis.
"Berani Lo sentuh dia, hah ?" sekali lagi Kenn ingin melayangkan bogeman diwajahnya, namun di tahan oleh Farel yang barusan datang bersama seorang security.
"Stop Kenn" Farel menarik tangan Kenn. "Lo udah bikin kekacauan disini. Kita bisa kena masalah" ucap Farel pelan.
"Gue nggak peduli" ucap Kenn lalu menghempaskan pria asing itu di atas sofa dengan kasar.
Kenn beralih menatap Jenn dengan tajam. Rasanya ingin marah pada gadis itu, tapi dia tidak mampu melakukannya. Diraihnya tangan Jenn, hendak menariknya keluar dari sana. Namu langkahnya ditahan security.
"Maaf, tapi anda harus membayar dulu kerugian ini" kata security itu.
Kenn menoleh pada orang yang tadi dipukulinya.
"Lo yang bayar semua ini. Ingat, itu belum seberapa" ucap Kenn pada lelaki asing tadi. Dan beralih pada security yang ada disana. "Dan kalian, minuman haram itu bisa diperhitungkan, jika saja tadi terjadi apa-apa pada gadis ini," mengalihkan tatapannya sejenak kearah Jenn. "Bukan cuman gelas dan minuman itu, tempat ini gue bakar. Ngerti ?" lanjutnya dengan garang.
Kenn kemudian menarik tangan Jenn dan berlalu dari sana. Meninggalkan Farel dan yang lainnya bersama kekacauan yang terjadi.
Farel menyuruh gadis-gadis itu semuanya keluar dari tempat itu dan pulang ke rumah masing-masing. Namun matanya menyoroti seseorang disana dengan tajam. Gadis itu ingin sekali kabur dan bersembunyi. Dia ngeri melihat tatapan Farel.
Mampus dah gue ! Batin Fio.
Di parkiran
Kenn melepaskan tangan Jenn sedikit kasar. Ya, Kenn emosi memang. Jenn tersentak dibuatnya, namun tetap diam. Pikirannya sedang berkecamuk. Memikirkan Kenn dengan segala perlakuannya malam ini, dan memikirkan dimana kekasihnya sekarang.
Kenn ingin memberondong gadis itu dengan berbagai tanya, Kenn ingin sekali marah pada gadis itu, namun sepatah kata pun tak mampu diucapkannya. Dia hanya mampu menatap Jenn begitu dalam dan lama. Tatapan yang sulit di artikan oleh Jenn. Karena Jenn pun melakukan hal yang sama. Diam, terpaku menatap wajah tampan didepannya.
Sampai Kenn yang memutuskan acara tatap-tatapan itu.
"Ayo, naik" hanya itu yang keluar dari mulutnya. Kenn setengah mati menekan emosi dalam dirinya saat itu.
Tadi siang cuek, malam ini marah-marah. Gue nggak tenang dengan semua sikap Lo, kak !!! say something please. Batin Jenn menjerit.
.
.
.
.
.
to be continued ...
Happy reading buddies πβ€οΈ
Jangan lupa tinggalkan jejaknya yah guys π
Thank you, yang udah mampir πππ