Simple But Perfect

Simple But Perfect
Enigma



...Holaaaaaa Budies πŸ‘‹ jumpa lagi 😊...


...Jangan lupa like dan komen yah!...


...Please! ramaikan kisah ini, biar hati otor juga jadi ramai πŸ˜…πŸ€­ kalo ramai, kan jadinya semangat 🀭...


...~ Happy Reading ~...


..._________________...


Gelap perlahan-lahan mulai menghilang, tetapi kabut masih dengan setia membentangkan selimut menggelugut, bahkan embun pun masih bermanja di balik dedaunan, menebarkan aroma segar basah yang membelai setiap makhluk tuk terus terbuai dalam lelap.


Meskipun begitu, waktu tetap saja bergulir tak mau tahu, memanggil sang surya tuk memainkan perannya di singgasana semesta. Dengan gagahnya raja siang itu mulai menyemburkan kilatan hangat mengusir gelap serta dingin yang tersisah.


Hari seketika menjadi cerah. Mau tak mau, manusia harus bangun dari mimpi indahnya dan bersiap menapaki hari, menyusuri labirin kehidupan yang penuh teka-teki.


Sama halnya dengan Jenn. Wanita cantik yang tengah berbadan dua itu terbangun dengan suasana hati yang masih saja sama seperti kemarin. Hati yang merindu di tengah kegelisahan, ketakutan, serta dipenuhi tanya yang tak kunjung jua ada jawabnya. Waktu yang terus berganti, tidak sekalipun mampu mengubah perasaannya bahkan sekedar untuk mengalihkan atensinya pun tidaklah mempan. Enigma itu belum terpecahkan, dan Jenn masih stuck di titik itu.


Masih di tempat tidur, Jenn melihat ke samping kiri dan kanannya bergantian, nampak kedua sahabatnya masih juga terlelap damai. Perlahan ia turun dari tempat tidur dan menengok pada jam dinding yang terpajang cantik pada dinding bagian atas meja belajar di dalam kamar.


Waktu menunjukkan pukul 06.00. Jenn tersentak.


"What? Yah, kesiangan dong," ucap Jenn sedikit kaget tapi pelan.


Ya, semalam ketiga makhluk cantik itu bercengkerama melepas rindu hingga larut.


Jenn pun cepat-cepat keluar dari kamar dan menuju dapur. Di dapur, ia terlebih dulu menuangkan sejumput air putih ke dalam gelas lalu diteguk olehnya hingga tandas. Kemudian ia menarik kursi di meja makan dan ia pun duduk di sana, sambil tangannya cekatan mengoles roti dengan selai strawberry. Hanya membutuhkan waktu sebentar untuk Jenn menghabiskan dua lembar roti tawar itu dengan air putih.


Sayang! Jangan nakal yah. Jadi anak baik dulu kali ini. Jangan buat yang lain tau keberadaanmu. Belum saatnya. Tolong ibumu ini yah!


Batin Jenn sambil tangannya mengusap-usap perutnya yang masih rata. Konon kata orang, saat kita berbicara seperti ini, hal tak terduga itu akan terjadi. Dan entah aneh atau hebatnya, hal itu benar-benar sangat menolong. Morning sickness yang selalu dialami Jenn setiap pagi selama seminggu lebih ini, untuk pagi ini bisa dikatakan absen.


Setelah sarapan kecil tanpa teh hangat, maupun tanpa dua sahabatnya, si cantik itu segera kembali ke kamar dan langsung menuju kamar mandi. Ia bergegas melepaskan pakaiannya lalu berpindah, berdiri tepat di bawah wall shower, dan membiarkan tubuh mungilnya diguyur cipratan air hangat dari saringan berbentuk bulat itu.


Jenn mempersingkat waktu mandinya. Secepat kilat ia menyambar handuk kimono yang disampirkan pada gantungan di belakang pintu kamar mandi. Setelah itu ia membuka pintu kamar mandi dan keluar dari sana dengan mengendap-endap, bermaksud untuk tidak membangunkan kedua sahabatnya yang masih tertidur pulas.


"Ckck, kelelahan banget kayaknya. Baguslah," gumam Jenn sambil berjalan menuju lemari pakaian.


Ia mulai memilih pakaian dan secepat kilat mengenakannya. Si cantik itu hanya menggunakan kaos oblong berwarna putih dengan celana panjang jeans. Tak lupa ia memoleskan sedikit bedak pada wajah cantiknya dan lip balm di bibir ranumnya, tanpa menyisir rambut lagi. Karena biasanya hal itu akan ia lakukan di perjalanan nanti, jika timing-nya terburu-buru seperti sekarang.


Setelah itu, ia mengambil sling bag dan memasukkan ponsel bersama dompet kecil berkarakter, serta minyak angin yang akhir-akhir ini selalu dibawanya ke mana-mana, menjaga apabila sewaktu-waktu ia mual mendadak.


Masih tetap mengendap-endap, Jenn membuka pintu kamar dengan pelan dan sesudah itu ia menutupnya kembali. Ia berjalan ke ruang tamu sambil menjinjing sepasang sneaker di tangannya. Perlahan ia membuka pintu utama rumah itu, dan ia pun melangkah keluar dari sana, tak lupa menguncinya kembali dengan kunci cadangan yang dipegangnya. Cepat-cepat, Ia mengeluarkan ponselnya dan memesan taksi online, lalu memasukan kembali benda pipih itu ke dalam sling bag-nya.


Sambil menunggu taksi, ia memasang sneaker berwarna putih yang dijinjingnya dari dalam tadi. Tak lama setelah itu, taksi yang dipesannya pun tiba, dan ia pun segera melangkah masuk ke dalam taksi itu dan melaju dari sana.


**********


Setelah kepergian Jenn beberapa saat lalu, Rossa baru saja terbangun.


"Hoam! Eenggg!"


Gadis itu menguap beberapa kali dan meregangkan otot-ototnya. Ia lalu melihat ke sebelahnya, sudah tidak aja Jenn di antara dirinya dan Putri. Di sana hanya Putri yang masih tertidur. Rossa pun menengok pada mesin waktu, seperti yang dilakukan oleh Jenn tadi.


"What?" Rossa terperanjat melihat waktu saat itu hampir jam 8 pagi. "Akh, bisa-bisanya bangun kesiangan begini. Pantes aja si mini udah bangun," ucap Rossa dan ia pun bergegas turun dari tempat tidur.


Gadis itu langsung keluar dari kamar bermaksud melihat apa yang tengah dilakukan sahabatnya yang sudah bangun terlebih dahulu. Tetapi sampai di dapur, ia tidak menemukan siapapun di sana.


"Jenn!" panggil Rossa tapi tak ada jawaban.


"Bebs! Where are you?" panggil Rossa sekali lagi. Tetapi tetap sama tak ada jawaban.


Penasaran, Rossa pun mencari ke ruang tengah dan ruang tamu, tapi nihil. Gadis itu segera membuka pintu dan mencari lagi ke luar, tetap sama. Tidak jua ia jumpai sosok mungil itu. Kembali Rossa berlari kecil menuju kamar.


"Put, Putri!" panggil Rossa sambil mengguncang tubuh Putri.


"Emm," gumam Putri masih terpejam seolah berat tuk membuka matanya.


"Putri! Bagun dulu ih," ucap Rossa dengan keras.


"Jenn gak ada," ucap Rossa.


"Hmm," gumam Putri yang belum juga tersadar dari tidurnya.


"Ya ampun, Putri!" teriak Rossa kali dengan sangat keras.


"Ish, apa sih? Berisik!" sahut Putri dengan malas dan terpaksa bangun.


"Astaga! Lo denger gak sih, hah? Jenn gak ada!" Rossa menatap Putri dengan kesal.


"Oh ... Kirain ...." Gadis itu hendak kembali merebahkan tubuhnya, tetapi suara Rossa berikutnya membuatnya benar-benar tersadar dari tidurnya.


"Kita harus cari Jenn sekarang! Dia gak ada. Gue udah keliling ini rumah tapi tetap gak nemu juga." Rossa sudah tidak tahan dengan sikap Putri. Ia pun mengacak-acak rambut gadis itu dengan kesal.


"Hah?"


**********


Di tempat lain, Jenn yang sudah turun dari taksi, ia berjalan memasuki sebuah tempat yang biasa ia datangi bulan-bulan sebelumnya. Tempat biasa yang ia kunjungi sekedar menunggu dan menjahili seseorang yang sangat ia rindukan. Tempat kerja sang kekasih.


Jenn melangkah pasti tanpa canggung menuju area yang sudah sangat ia hafal, berharap dapat menemui sang kekasih yang seminggu ini tiada kabar. Tapi sekali lagi, getir yang ditelannya.


Rasanya ia tak sanggup lagi untuk berdiri. Tetapi hati kecilnya masih mau bertahan, logikanya masih dapat merenung dengan bijak, bahwa ia harus tetap kuat berdiri di atas pijakannya yang pelan-pelan mulai merapuh. Ada hal lain yang masih menyemangatinya, sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya dan harus ia jaga dengan nyawanya sendiri.


Kamu di mana sebenarnya? Setidaknya katakan alasanmu meninggalkanku, seenggaknya tunjukkan jalan yang harus ku tuju untuk dapat menemukanmu. Jangan biarkan aku hilang arah tanpamu, kak!


Jenn masih terpaku di tempatnya, diam dalam lamunannya hingga seseorang menghampirinya.


"Jenn!"


Wanita cantik itu tersadar lalu perlahan berbalik melihat siapa yang memanggilnya.


"Kak! ...," ucap Jenn dengan wajah sendunya, tetapi berusaha untuk bisa tersenyum. Di sana ia melihat Farel yang berdiri dengan senyum seolah menyambutnya.


"Sejak kapan di sini, Jenn?" tanya Farel berbasa-basi.


"Ah, barusan aja kok, kak. Belum lama ini," jawab Jenn dengan wajah datarnya. "Kak! Dia ke mana sih? Kok gak kerja? Katanya sibuk, gak bisa jemput gue kemaren. Kalau gak kerja, terus dia di mana kak? Kenapa dia ngilang gitu aja? Kenapa dia ninggalin gue? Kenapa?" tanya Jenn dengan rentetan pertanyaan yang sudah tidak dapat dipendamnya lagi.


Farel tersenyum lalu tangannya terulur mengusap kepala Jenn dengan lembut.


"Dia memang lagi sibuk, Jenn. Percayalah!" ucap Farel begitu santai.


"Gimana mau percaya kak, dia gak ada kabar sama sekali. Kak Farel juga gak bisa bilang dia di mana kan? Please! Kalo kakak tau, bilang ke gue kak. Biar gue gak perlu repot-repot nyari dia kek gini. Gue udah biasa ditinggalin kok, gue ...."


Jenn tidak mampu lagi meneruskan kata-katanya. Suaranya kini tercekat menahan sesak di dadanya. Netra indah itu kini tergenang lalu meluruhkan sebutir kristal bening, menyisahkan seutas garis basah yang berjejak di pipi mulus nan cantiknya.


Lagi Farel tersenyum melihatnya. "Lo hanya perlu bersabar, Jenn. Dia juga ...."


"Bebs! ...."


Ucapan Farel terputus begitu suara yang sangat familiar bagi keduanya terdengar memanggil Jenn dengan lembut.


..._____πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€_____...


...To be continued ......


..._________________...


Hah, segini dulu yah 🀭 otor lagi gak mood banget tapi maksa aja nih 🀧🀧


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yah guys. Biar semangat up akoh 🀭


Dan terima kasih sudah mampir πŸ™


Sampai jumpa di episode berikutnya yah πŸ€—πŸ€—


Follow juga Ig otor : @ag_sweetie0425