Simple But Perfect

Simple But Perfect
Liburan?



...~ Happy Reading ~...


...___________________...


...*...


...*...


...*...


Keesokkan harinya di kediaman Kenn dan Jenn. Di depan pagar rumah minimalis itu, Jenn tengah berdiri dengan wajah sendunya. Tak hanya dirinya, ada pula Kenn, Kay dan ibu mertuanya di sana.


Mereka tengah mengantarkan orangtua Jenn yang hendak pulang ke desa.


Sebuah taksi telah terparkir selama beberapa menit di depan sana, menunggu penumpang yang masih malakoni sederet ritual perpisahan.


Tidak ada yang berbelit-belit sebenarnya, hanya saja Jenn yang seolah belum rela berpisah lagi dari orangtuanya. Ia masih mencoba menahan keduanya, tetapi beberapa alasan tertentu membuatnya tidak bisa terus memaksa.


Akhirnya dengan berat hati Jenn harus rela untuk berpisah lagi dengan orangtuanya.


Banyak sudah nasihat dan pesan yang diberikan sang ibu padanya. Begitu juga dengan Kenn yang mendapat pesan dari ayahnya.


"Jagalah putriku dengan baik Kenn. Jangan sampai dia terluka lagi. Satu hal yang harus selalu kamu ingat, ayah yang pertama mencintainya. Hingga kamu datang dan memintanya dengan sebuah janji. Teguhkan janjimu itu. Ayah percaya sama kamu."


Setelah berpelukan dengan anak serta menantunya, sepasang suami-istri paruh bayah itu pun masuk ke dalam taksi lalu segera berlalu dari sana.


Jenn masih berdiri di sana menyaksikan taksi yang bergerak membawa pergi kedua orang yang ia sayangi. Hingga taksi itu semakin mengecil dan menghilang dari pandangannya.


"Udah Kak. Masuk, yuk!" ajak Kay.


Jenn menoleh padanya dan mengangguk. Ia berbalik sembari menarik tangan Kenn agar mengikutinya.


"Duluan aja, Sayang. Aku mau ke minimarket bentar," ucap Kenn sembari menunjuk ke arah seberang jalan.


Tanpa bertanya apa-apa lagi, Jenn melangkah masuk bersama adik ipar dan mertuanya.


Kenn memandang punggung istrinya dengan rasa sayang serta pikiran yang sedikit kacau.


"Kamu pasti sedih, sayang. Apa yang harus aku lakukan untuk melukis senyum indahmu lagi?" gumam Kenn.


Kenn sedang berpikir mencari ide agar dapat menyenangkan hati istrinya lagi. Sedari malam wajah cantik yang selalu dipujanya itu terlihat murung diliputi kesedihan. Sedari malam Jenn sudah berdebat kecil dengan orangtuanya, hanya untuk menahan mereka beberapa hari lagi. Sampai tadi pun masih saja coba ia lakukan. Dan Kenn tahu betul, perasaan rindu Jenn pada kedua orangtuanya, belumlah terobati sepenuhnya.


Untuk beberapa saat ia berdiam diri di sana, dan akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke dalam tanpa mendatangi minimarket.


Jenn memperhatikan tangan suaminya yang nampak kosong. Dahinya berkerut.


"Tadi katanya mau ke mini market, mana belanjaannya?" tanya Jenn pada sang suami.


Kenn menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. "Tadi mendadak lupa mau beli apaan." Berjalan menghampiri Jenn yang sedang menonton bersama Kay. Kenn langsung masuk dan duduk di tengah-tengah dua wanita cantik itu.


"Gak bosen apa nempel terus? Mataku selalu ternodai," keluh Kay begitu ia melihat Kenn memeluk istrinya.


Kay pun langsung bangkit berdiri dari sana dan masuk ke kamar.


"Hahaha," Tawa sepasang suami-istri itu membuat Kay jengkel.


"Kamu sih." Jenn menyikut pelan suaminya. "Lain kali liat-liat dulu tempatnya. Sekarang bukan cuman berdua saja di sini. Udah ada ibu dan Kay. Ingat itu!" Telunjuk Jenn menyentuh dahi suaminya. "Minta maaf sana."


"Iyah nanti." Malah tidur dan membaringkan kepalanya di pangkuan Jenn.


Kenn membalikan wajahnya berhadapan dengan perut Jenn, lalu membenamkan wajahnya di sana. Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Jenn dengan erat.


Perasaan rindu berpadu dengan asa yang bergema dalam hati Kenn. Menyerukan keinginan yang sama terhadap mimpi yang telah menghilang.


"Udah dibilangin jangan gini lagi, Kak. Ada ibu sama Kay ih. Gak malu apa?" Jenn menimpuk punggung Kenn dengan bantalan sofa.


Lelaki itu tak bergerak sama sekali. Ia tak menggubris dan semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Jenn.


Jenn mulai merasakan sesuatu yang sebenarnya ia pun merasakannya. Ia menunduk dengan jemari yang mengusap lembut helai rambut suaminya.


"Kak," panggil Jenn.


"Hmm." Masih terlihat malas belum juga ingin berpindah.


"Liat dulu dong, kok aku dicuekin?" Pura-pura ngambek. Yang sebenarnya, ia hanya ingin mengubah suasana saat itu.


Kenn bergerak mengecup perut Jenn, lalu ia menengadah menatap wajah cantik istrinya tanpa melepaskan rangkulannya.


"Ada apa, Sayang?"


Jenn tersenyum kecil. "Aku boleh minta sesuatu gak?" memasang raut ceria.


"Apapun itu, selama aku masih sanggup memberikannya. Kalaupun tidak, aku akan berusaha mengabulkannya untukmu." Kenn melepas pelukannya. Tangannya terulur membelai pipi mulus Jenn.


"Aku mau ...." Jenn sengaja menggantungkan kalimatnya. Telunjuknya diketuk-ketuk pada bibir dengan bola mata yang bergerak lucu. "Aku mau liburan bersama Kay dan ibu," sambungnya dengan ceria.


Liburan? Sepertinya bukan ide yang buruk.


Batin Kenn. Mungkin hal ini yang ia cari dan pikirkan sedari tadi. Butuh beberapa menit untuk Kenn memikirkan dan mempertimbangkan sekali lagi.


"Baiklah, Nyonya. Tapi, tunggu sebulan lagi yah." Mengelus kepala Jenn.


"Kenapa harus menunggu selama itu?" Tampak ia tidak senang mendengarnya.


Kenn tersenyum lalu menangkup kedua pipi istrinya. "Kamu masih belum pulih, Sayang. Jadi, tunggu sebulan lagi sampai kamu benar-benar pulih. Aku janji akan mengabulkannya, yang penting kamu sehat dulu."


"Iya Nak. Ibu setuju dengan pendapat Kenn. Perbanyak istirahat dulu biar cepat sembuh, yah." Sang ibu ikut menimpali.


Sedari tadi ia mendengarkan percakapan mereka dari arah dapur. Kini wanita paruh bayah itu memilih bergabung bersama keduanya setelah selesai menyiapkan makan siang untuk anak-anaknya.


"Iya deh, Bu." Jenn kembali lesu. Ia membuang nafasnya kasar. "Tapi Jenn boleh ke kampus kan, Kak?" Kembali berbinar.


"Emmmm ... boleh, ditemani Kay tapi." Selalu saja ada persyaratannya.


"Aaaaaaa! Makasih, Sayang." Jenn langsung memeluk suaminya.


Kenn dan ibunya hanya tertawa melihat tingkah menggemaskan Jenn.


*****


Di tempat Rossa dan Putri.


"Lo gak ke kampus, Za?" tanya Putri. Gadis tomboi itu sedang bersiap-siap untuk ke kampus.


"Gak dulu deh. Gue ...."


"Lo kenapa sih?" Putri memotong ucapan Rossa. "Akhir-akhir sering banget menyendiri. Ngumpul sama yang lain pun jarang dan hanya terjadi jika itu momen penting." Putri mendekati sahabatnya. "Gue perhatiin, sepertinya Lo selalu menghindar dari gue. Apa yang Lo sembunyikan?" tuding Putri langsung.


Seperti biasanya yang terlihat di mata Putri belakangan ini. Gadis kalem itu seolah takut dan ingin menghindari dirinya.


"Maksud Lo apa? Jangan ngaco deh, gue lagi gak enak badan aja, Beb." Rossa berusaha tenang dan menguasai diri. "Udah, sana cepetan ke kampus." Hendak beranjak dari bibir ranjang untuk ke kamar mandi.


"Lo beda, Lo aneh tau gak?" Menahan langkah Rossa.


"Perasaan Lo aja kali." Melepas tangan Putri yang menahannya.


Rossa melanjutkan langkahnya. Tepat di depan pintu kamar kamar mandi, langkahnya kembali terhenti karena ucapan Putri.


"Gue gak tau Lo sadar apa gak. Atau mungkin, Lo lagi pura-pura gak tau biar gue gak nanya?" Putri berjalan mendekat.


"Gue tau betul jika sesuatu di diri Lo telah hilang."


Saat itu juga tubuh Rossa menegang dengan nafas yang tertahan. Jantungnya berdebar tak keruan, membenturkan kekejutan yang tak terduga.


Perkataan dengan makna ambigu dari Putri, lantas mengguncang kestabilan yang sedari tadi ia pertahankan.


"Menyangkalah dengan bukti yang mungkin saja menyalahkan dugaan gue."


Putri segera keluar dari kamar meninggalkan Rossa dengan badai yang siap menenggelamkannya.


..._____πŸ’§β˜˜οΈπŸ’§β˜˜οΈπŸ’§_____...


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


...To be continued ......


...__________________...


...###...


Hay semuanya πŸ‘‹ Selamat malam 😍 Ketemu lagi sama Jenn dan Kenn πŸ™‚


Makasih buat kakakΒ² cantik yang menyempatkan waktu ke mari πŸ™


Jangan lupa kasih like dan komen yah πŸ˜πŸ™


Sampai jumpa di episode berikutnya πŸ€—


Ig author : @ag_sweetie0425