Simple But Perfect

Simple But Perfect
Gantikan Saja dengan Nyawaku



...~ Happy Reading ~...


...___________________...


...*...


...*...


...*...


Suara Jenn yang memekik nyaring tak hanya mengagetkan Kenn. Mereka yang masih tertidur di sofa pun tersentak dan seketika terbangun.


Kenn terpaku dengan bibir yang bergetar kelu. Dia hanya mampu menatap Jenn dalam diam yang penuh luka.


Jenn yang merasa memang telah terjadi hal buruk, hendak bangkit dari tidurnya dengan lemah. Namun, Kenn dengan cepat menahannya.


"Kamu lagi sakit, Sayang. Gak usah banyak gerak dulu." Kenn berucap lembut.


"Makanya ngomong!" Menghardik dengan keras. "Apa? Apa yang kamu coba nutupin dari aku? Apa? Jawab aku, Kenn!" Memberontak dan menepis tangan Kenn yang menahannya. "Sejak kapan kamu mulai gak jujur sama aku? Kamu udah gak sayang la ...." ucapan Jenn terhenti.


"Gak!" bantah Kenn. "Mana mungkin? Tidak hanya kamu yang tau, bahkan dunia pun tau kalo aku sangat menyayangimu." Tetap lembut menghadapi Jenn yang sudah mulai tak terkendali.


Jenn menatap tajam ke dalam bola mata Kenn. "Kalau begitu jawab pertanyaanku. Anak kita baik-baik saja kan? Dia aman kan?" Suara Jenn bergetar di akhir kalimatnya.


Kenn hanya bisa menundukkan kepalanya dengan tak berdaya. Tidak sanggup untuk melihat ke dalam netra indah sang istri yang sudah berkaca-kaca. Sedangkan bagi Jenn melihat respon sang suami seperti itu, dalam hatinya itu bukanlah ekspektasinya.


Kenn hendak merengkuh tubuh kecil di depannya, tapi dengan tenaga kecil yang tersisa, Jenn mendorongnya sekuat mungkin.


"Jangan sentuh aku jika kamu masih ingin diam seperti ini." Menjauhkan tubuhnya dari Kenn.


"Maafkan aku, Sayang!" lirih Kenn masih menunduk.


Kata maaf itu bagaikan angin kencang yang berhasil meniup dan menggugurkan genangan kecil di pelupuk mata Jenn. Seluruh tubuhnya bergetar hebat sebab ia memahami makna di balik kata maaf suaminya.


Sekali lagi Kenn ingin mendekapnya tapi kembali ia mendapat penolakan.


"Bercandamu gak lucu. Aku gak mau dengan candaan seperti ini. Anakku baik-baik saja kan? Iya, dia baik-baik saja." Menangis sambil mengelus perutnya berulangkali. Hati kecilnya yang tersayat masih mengharapkan adanya keajaiban. "Kenapa kalian hanya diam? Katakan padaku." Berteriak pada mamanya Farel dan sahabat-sahabatnya.


Sama seperti Kenn, mereka pun hanya bisa terdiam, tertunduk, dan menangis. Tidak tahu apa yang harus mereka katakan untuk wanita yang sedang terluka itu.


"Sayang, kamu harus sabar, kita harus ikhlas." Kenn berusaha untuk menenangkan istrinya. Namun, wanita itu semakin menggila dan histeris.


"Gak!" Berteriak dan kembali mendorong tubuh Kenn. "Gak ada yang harus diikhlaskan. Anakku baik-baik saja."


Jenn semakin histeris. Dengan kedua tangannya ia menjambak rambutnya sendiri. Kenn ingin menghentikannya tapi ia kalah cepat dengan gerakan spontan Jenn yang langsung bergerak mencabut jarum infus di tangannya.


Semua yang ada dalam ruangan itu memekik melihat aksi brutal Jenn. Darah menetes dari tangannya. Farel, ayahnya, dan Reza yang berada di luar ruangan pun berlari masuk begitu mendengar keributan yang terjadi.


"Cukup Jenn!" Kenn tidak ingin mengalah lagi. Ia meraih kedua tangan istrinya, menggenggamnya erat meski Jenn terus memberontak. "Marah sama aku, pukul aku sepuas kamu. Tapi jangan sakiti dirimu sendiri." Kali ini ia berani menatap manik indah istrinya yang terhalang air mata. Keduanya saling menatap penuh luka. Kesakitan, kehilangan, kekecewaan, tersirat di mata keduanya. "Aku mohon, Sayang. Jangan sakiti dirimu seperti ini. Sakiti saja aku, lukai saja diriku." Ia membawa tubuh kecil dan lemah itu ke dalam pelukannya.


Sama-sama menangis dalam perih yang sama. Jenn menangis sekencang-kencangnya dalam dekapan sang suami. Tangannya memukul keras dada Kenn berulangkali. Dan Kenn menerima semua itu dengan tulus tanpa penolakan.


"Aku mau anakku kembali," ucap Jenn tersendat-sendat sembari terus memukul Kenn. "Tolong kembalikan dia," teriak Jenn. Ia berhenti memukul dada Kenn. Kini tangannya menarik kuat kemeja hitam yang dikenakan suaminya, hingga beberapa kancing terlepas. Ia mendongak menatap Kenn dengan sendu seperti seorang anak kecil yang kehilangan permainan berharganya.


Kenn tidak tahan rasanya melihat istrinya dalam keadaan seperti ini. Ia merasa gagal menjadi suami dan ayah yang baik.


"Kenapa ini terjadi padanya? Kenapa gak hukum aku aja? Jangan dia." Masih terus menangis dan berteriak. Kembali memukul Kenn semaunya. Baju yang dikenakan Kenn basah dan acak-acakan, tapi ia tak peduli.


Yang lain pun tetap berdiri dalam diam, menyaksikan pemandangan pilu itu.


"Gantikan saja dengan nyawaku."


"Tidak, Jenn!" Hardik Kenn. "Bicara apa kamu? Bunuh saja diriku jika kamu ingin meninggalkanku." Kenn tampak marah. "Ayo, bunuh aku sekarang. Lakukanlah dengan niatmu." Kenn menangis sedangkan Jenn menggeleng dalam pelukannya.


Ia terus menangis, berteriak, meracau, mengamuk sampai Kenn merasakan pukulan dan pergerakan istrinya melemah. Bicaranya pun mulai pelan, tangisnya perlahan terhenti. Hingga tubuh mungil itu tak berdaya dan benar-benar jatuh dalam dekapan Kenn.


"Jenn, Sayang!" panggil Kenn sembari menepuk pelan pipi mulus istrinya. Tidak ada lagi sahutan maupun pergerakan. Ia menoleh ke belakang. "Tolong panggilkan Dokter."


"Jenn kenapa, Kenn?" tanya mamanya Farel khawatir.


"Pingsan, Tan."


Farel dengan cepat berlari keluar memanggil dokter, di susul Reza di belakangnya.


Farel yang sudah lebih dulu, kaget mendengar suara tabrakan di belakangnya. Ia menoleh dan kaget mendapati Reza yang tengah berdiri berhadapan dengan seorang gadis cantik di depan pintu kamar ruang rawat Jenn.


Ingin bertanya tapi ia teringat dengan kondisi Jenn. Farel pun melanjutkan langkahnya.


"Maaf, gue gak sengaja." ucap Reza. Ia terperanjat begitu melihat raut cantik nan ayu di depannya. Rambut hitam panjang terurai dengan topi hitam sedikit menutupi wajahnya. Lesung di pipi kirinya. Kemeja motif kotak-kotak lengan panjang berwarna merah hitam, dengan jeans kulot. Terkesan sopan dan tertutup.


Gadis manis itu tersenyum sembari sedikit membungkuk.


"Ah, gak papah, Kak. Aku juga minta maaf gak liat-liat." Tingkah santun gadis itu membuat Reza melongo. Ia terpaku memandangi wajah cantik bak bidadari di hadapannya.


Apakah aku bermimpi bertemu bidadari sepagi ini? Oh, sungguh pagi yang indah.


Gadis itu melambaikan tangan di depan wajah Reza. "Kak!" Reza terperanjat merasa terciduk. Ia berpura-pura bersikap dengan normal, padahal jantungnya sedang tidak baik-baik saja. "Maaf Kak, boleh bertanya sedikit?"


"Ah yah, boleh, boleh banget. Ada yang bisa gue bantu?" Berlagak cool.


"Apa bener ini ruang rawat pasien atas nama Jenn Wiratmaja?"


"Eh, Jenn? Ah iya benar. Tapi Lo siapa yah? Sorry gak terima pengunjung sembarangan. Emang kenal sama Jenn?" Reza memicingkan matanya dengan kening yang mengerut.


"Tenang saja, Kak. Aku bukan orang jahat. Aku adeknya kak Jenn." Gadis itu tersenyum ramah. Dan wajah polos itu tentu saja bisa dipercaya.


Bukannya Jenn anak tunggal yah?


Meskipun ragu, tapi keluguan gadis itu meyakinkan Reza untuk mempersilahkannya masuk.


Sebelum masuk, gadis itu melepaskan topinya terlebih dulu. "Selamat siang, permisi!" sapanya lembut. "Eh, maaf." Tangannya refleks menutup mulutnya. Ia merasa kikuk dengan semua tatapan yang tertuju padanya.


Mengenal suara itu, Kenn langsung menoleh dan melambaikan tangan memanggil gadis cantik itu agar mendekat.


Dengan posisi yang masih tetap berdiri, Kenn menyambut gadis itu dalam pelukannya.


"Kak!" Gadis itu malah menangis dan Kenn tampak memenangkannya.


"Gak papah, kita ikhlas yah. Kakak minta maaf gak bisa jagain ponakan kamu dengan baik." Mengusap kepala gadis itu. Ia hanya mengangguk.


Reza dan yang lainnya terperanjat dan terbelalak melihat Kenn yang memeluk gadis lain. Tentu saja mereka ingin protes.


"Siapa dia, Kenn?"


..._____πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ_____...


...Jika ku lemparkan tubuh ini ke pasifik dan kau kutemukan, aku ingin tenggelam dan rela mati dalam dinginnya....


...Kembalilah ... hatiku tak mudah merelakan....


..._Jennifer_...


...###...


...To be continued ......


...__________________...


...*...


...*...


...*...


Hai epribadeeeh πŸ‘‹ Good morning ✨🌟 Selamat berakhir pekan yah guys 😍


Terima kasih bagi yang selalu menyempatkan diri mampir di cerita ini πŸ™πŸ™


Jangan lupa tinggalkan like dan komen yah 😍 Kasih bunga atau kopi juga kek sesekali πŸ˜…


Sampai jumpa di episode berikutnya yah πŸ€—


Ig author : @ag_sweetie0425