Simple But Perfect

Simple But Perfect
Beautiful Mistake



Hari masih gelap. Hujan dari semalam masih tak kunjung reda. Angin masih menebarkan aroma dingin yang cukup menusuk sampai ke tulang. Meskipun begitu, sepasang kekasih tidak merasa gigil sedikit pun. Semalam hingga pagi menjemput, kehangatan membalut mereka dalam gairah yang diciptakan bersama.


Didalam sebuah kamar berukuran sedang dengan pencahayaan yang temaram. Disana diatas ranjang, dibalik selimut yang sama, sepasang kekasih tengah tertidur pulas dalam keadaan polos. Setelah kelelahan menjelajahi surga dunia bersama.


Waktu menunjukkan pukul 04.15 dini hari. Kenn terbangun dan merasakan keram pada lengan kanannya. Dan juga terasa hawa panas dipermukaan kulitnya. Perlahan ia membuka mata dan mendapati sosok cantik bertubuh mungil sedang tertidur begitu nyenyak dalam dekapannya. Kenn menatap wajah ayu itu dengan aneka rasa yang bercokol dalam benaknya.


Ada rasa senang tentunya. Senang karena ia merasa beruntung telah menjadi yang pertama. Dan ia berjanji dalam hati, bahwa dialah yang nantinya akan menjadi yang terakhir dan satu-satunya untuk si cantik itu. Ada juga rasa bersalah. Bersalah karena telah mengambil apa yang belum pantas untuk diambilnya. Bersalah karena telah merusak kekasihnya. Adapun sedikit sesal, tapi tak lagi ingin disesalinya. Baginya this is the beautiful mistake yang pernah ia lakukan.


Ditatapnya wajah cantik itu dibawah sinar lampu yang temaram. Kenn mengecup puncak kepala gadisnya dengan sayang. Eh ralat. Dia sudah bukan gadis lagi. Kegadisannya sudah didapatkan oleh Kenn. Si cantik itu kini menjadi seorang wanita. Wanitanya seorang Kennand.


"Panas?" Ia merasakan suhu panas dari tubuh Jenn. Kenn tersentak. "Ya, Tuhan! kamu demam, Sayang." Menempelkan telapak tangannya pada dahi, pipi dan leher wanitanya. "Apa yang sudah ku lakukan semalam? Bodohnya diriku. Bodoh, bodoh" Memukul kepalanya sendiri berulang kali. Mengutuki dirinya yang telah menyakiti sang kekasih hati.


Perlahan Kenn mengangkat pelan kepala si cantik yang masih pulas itu dengan sebelah tangannya. Ia lalu menarik tangannya yang dipakai sebagai bantal, kemudian memindahkan kembali wanitanya dengan lembut. Kenn bangkit dari tidurnya dan membetulkan selimut yang menutupi tubuh sang kekasih. Ia lalu memungut pakaian keduanya yang berserakan di lantai, dan mengenakan kembali pakaian miliknya.


"Sebentar ya, Sayang." Mencium kening Jenn, lalu bergegas keluar dari kamar. Tujuannya saat ini ingin membuatkan sesuatu yang dapat dimakan oleh kekasihnya. Bahkan luka pada tubuhnya sendiri pun sudah ia lupakan.


Kenn berjalan menuju dapur. Membuka kulkas dan mengambil sebotol air lalu diteguknya hingga tandas. Sungguh, dia pun begitu haus karena pertempuran semalam.


"Lelah bener yah" Tiba-tiba saja sebuah suara mengagetkannya.


Byurrrr ...


Kenn yang kaget pun langsung menyemburkan sisah air pada mulutnya tepat diwajah Farel yang berdiri disamping kulkas saat itu.


"Sialan, Lo Kenn. Ini masih pagi. Diluar hujan, dingin, dan Lo udah mandiin gue aja. Ka*p**t, Lo. Mentang-mentang semalam dapet kehangatan" Gerutu Farel sambil menyeka air pada wajahnya.


Kenn melotot. "Nguping, Lo? Kenapa gak pulang aja sih?!" Berbalik dan mulai menyiapkan bahan-bahan untuk memasakkan sesuatu untuk kekasih tercinta.


"Oh, jadi begitu? Pas ada temen buat tidur, Gue diusir? Wah, wah, hebat bener ni orang" Mengikuti Kenn dari belakang. Dan melihat aktivitasnya. "Lagian siapa yang nguping? Orang suaranya kedengaran sampai diluar kok. Kalo udah nikmat begitu mah gak sadar sama sekali" tersenyum mengejek. "Hebat banget sih, Lo. Bikin anak orang melenguh, merintih nikmat begitu" Tertawa dipagi buta.


Benar. Semalam dua sejoli itu terlalu asik dengan petualangan baru mereka dalam menjelajah surga dunia, hingga mereka jadi lupa jika masih ada orang lain disana. Dan Farel yang saat itu menunggu Kenn diruang tamu, merasa bahwa lelaki itu sudah meninggalkannya hampir sejam lebih. Ia beranjak dari duduknya dan hendak mencari sesuatu untuk dimakan. Namun begitu melewati pintu kamar Kenn yang tertup rapat, Farel mendengar suara-suara aneh dari dalam kamar. Lenguhan dan erangan erotis penuh kenikmatan yang tertangkap indera pendengarannya, membuatnya kaget bukan main dan mengutuki temannya itu. Jelas saja dia yang mendengarnya merasa tersiksa sendiri 🀭


Satu buah tomat mendarat tepat pada dahi Farel. Mengagetkannya dari lamunan tentang ingatan semalam. "Jangan bikin dia merasa malu. Gue bunuh, Lo. Ngerti?!" Satu ancaman yang sukses membungkam mulut Farel. "Awas aja kalo sampai yang lainnya tau. Fio sekalipun. Gue gak mau dia malu didepan teman dan sahabatnya." Lanjutnya memperingati.


"Iya, iya. Mana berani, Gue" Selalu bergidik ngeri melihat temannya itu dalam mode marah. "Bay the way, luka-luka Lo gak papa kan? Ah, pasti dah langsung sembuh itu kalo dapet obat kek semalam" Menaik turunkan alisnya menggoda Kenn. Lelaki tampan itu hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan temannya.


"Gak usah banyak omong. Sekarang gue mau minta tolong sama, Lo" Berucap dengan tangan yang sibuk mengolah bahan untuk membuat bubur. "Lo tolong ke apotek sekarang, dan beli obat penurun demam."


"Hah?" Kaget. "Emang Jenn demam?" Mendapat anggukan dari Kenn. Farel pun langsung berdecak sambil menggeleng. "Serius, Lo? Astaga. Berapa ronde, bro? Buas bener. Anak orang sampe kelelahan dan sakit gitu. Gilak, Lo yah"


Kenn melotot tajam. "Bukan urusan, Lo. Sana beli obat dulu." Mengacuhkan pertanyaan temannya. "Eh tapi tunggu" Menghentikan Farel yang hendak pergi.


"Ck, apa lagi sih?" Berdecak kesal.


"Hmm" Sedikit ragu untuk bertanya. "Hmm, gimana cara ngilangin rasa nyerinya yah," Pada akhirnya bertanya dengan suara yang hampir tak kedengaran sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Hahaha" Farel terbahak. "Hah ... Hmmpppp" Kenn langsung membekap mulut temannya.


"Jangan berisik, nyuk. Kalo sampai dia terbangun dan malu gara-gara denger omongan kita, Lo gue habisin sekarang juga" Farel mengangguk sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.


"Hah, hah," Sesak karena bekapan Kenn yang kencang. Sialan, Lo. Nyiksa gue mulu. Gini-gini Lo butuh temen kek gue," Sungut Farel. "Itu di apotek juga ada obatnya. Tapi saran gue gak usah. Banyak efek sampingnya. Gak baik buat dia." tutur Farel menyarankan.


"Jadi? Gue biarin dia sakit gitu aja?" jadi bingung sendiri.


Kenn hanya manggut-manggut. Farel melihat Kenn dengan salut. "Jadi Lo masak jam segini buat Jenn?" Mendapat anggukan dari temannya. "Gue salut sama Lo, bro. Tanggung jawab banget" Menepuk bahu Kenn.


"Ya udah sana beli obat dulu," Mendorong bahu Farel.


"Ck. Iya, iya. Abis berbagi ilmu, langsung diusir. Dasar temen gak ada akhlak" Berlalu dari dapur dengan mulut yang yang tak berhenti mengomel.


Sedangkan Kenn melanjutkan pekerjaan memasaknya di pagi buta. Setelah selesai, ia tak langsung menyiapkannya pada wadah. Kembali ia membuatkan secangkir teh hangat dan membawanya ke kamar. Ia ingin membangunkan Jenn terlebih dulu.


Sesampainya dikamar, ia menyalakan lampu utama agar bisa melihat jelas wajah sang kekasih. Ia lalu menghampiri kekasihnya dan berdiri dibibir ranjang, lalu meletakkan cangkir berisi teh hangat pada nakas. Kenn berjongkok dengan sebelah kaki ditekuk. Tangannya terulur menyibak beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantik kekasihnya. Tak lupa satu kecupan pada keningnya. Sentuhan lembut itu berhasil mengusik ketenangan si cantik yang masih terlelap.


"Hmm" Bergumam kecil lalu bergerak mengubah posisi tidurnya. Kenn tersenyum melihat itu. Ia mendekatkan bibirnya pada kuping Jenn.


"Bangun, Sayang!" Bisik Kenn yang berhasil mengusiknya lagi.


"Aku mencintaimu, Jenn" Lagi bisiknya, dan lagi-lagi Jenn terusik.


Cup!


Dan ulah jahil Kenn yang terakhir setelah mengecup singkat bibir ranum sang kekasih, berhasil membangunkan gadis cantik bak Putri tidur itu.


Perlahan Jenn menggeliat dan tak lama netra indahnya terbuka secara perlahan, setelah berhasil menyesuaikan pandangannya dengan pencahayaan yang ada dalam kamar saat itu. Ia diam sejenak dan mengumpulkan nyawa setelah tidur nyenyak. Dan ketika kesadarannya benar-benar sudah terkumpul, Jenn begitu malu melihat wajah tampan kekasihnya yang begitu dekat. Dengan cepat ia menarik kembali selimut yang dipakainya keatas sampai menutup seluruh bagian tubuhnya. Hingga tak terlihat seujung rambut pun.


Kenn terkekeh melihatnya. "Selamat pagi, Sayangku!"


______________πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•_______________


.


.


.


.


.


to be continued ...


Ah, segini dulu 🀭 maaf digantung terus 🀭


Terimakasih buat yang selalu menyempatkan diri dan waktu untuk berkunjung di karya receh ini πŸ™


Jangan lupa kasih like, komen, rate dan tambahkan ke favorit juga yah ❀️


Dukung STP terus yah zeyeng²ku 😘


Dan selamat membaca πŸ€—πŸ€—πŸ€—


πŸ‘‡


Ig : @ag_sweetie0425